Bagi orang lain, mendapat warisan adalah jalur cepat menjadi kaya. Namun, berbeda dengan Budiman. Warisan yang ia dapat, malah membuat hidupnya nelangsa karena mendapat warisan toko kelontong yang mau bangkrut karena hutang warga yang tak kunjung dibayar.
Lelah menagih dan kesal setiap hari ditipu janji manis, Budiman justru berharap warung itu bangkrut saja. Ia ingin menutupnya dan bekerja sebagai karyawan biasa, hidup tanpa pusing memikirkan hutang orang lain.
Namun, takdir berkata lain.
Saat ia benar-benar mencoba menghancurkan warung peninggalan orang tuanya dengan menjual murah semua, menolak pembeli, bahkan membiarkan stok habis, sebuah suara aneh tiba-tiba muncul di kepalanya:
[ Sistem Kompensasi Finansial 'Makin Bangkrut Makin Kaya' Resmi Diaktifkan! ]
Bagaimanakah kisah Budiman yang berusaha bangkrut tetapi tak kunjung sukses? Ikuti alur cerita ini yah ....
#kehidupandidesa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Menggeliat Bersama
Akhirnya, kendaraan patroli Korps Bhayangkara yang telah resmi menjadi pelindung bagi Budiman Mart, pergi juga. Alih-alih mendapatkan ketenangan untuk memikirkan cara membakar uang, ruko Budiman Mart kini malah berubah menjadi markas komando "Gerakan Pamer Ketulusan" yang diorganisasi oleh kubu lokal.
Mila, dengan statusnya sebagai akuntan yang baru saja mengalami pencerahan spiritual akibat salah paham pembukuan, langsung mengambil tindakan ekstrem. Tanpa meminta izin atau bayaran sepeser pun, gadis itu memboyong laptop, papan jalan, dan tiga kalkulator ilmiah cadangan langsung ke meja kasir utama. Ia mengambil alih singgasana Roni begitu saja.
"Uda Diman, mulai hari ini, Mila akan menjadi sukarelawan dua puluh empat jam di sini," cetus Mila dengan mata berbinar-berbinar saat Budiman baru saja melangkah masuk toko dengan wajah kusut.
"Mila memang tidak bisa menyumbang saham mall seperti Cece Pondok itu, tapi Mila punya ilmu. Mulai detik ini, Mila akan menjaga setiap pergerakan rupiah di toko ini agar tidak ada kebocoran modal sekecil apa pun!"
Budiman seketika menghentikan langkah. Bulu kuduknya meremang dengan seketika. Ia menatap ke arah Roni yang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari menguap.
"Sukarelawan dua puluh empat jam? Gak usah, Mila. Lebih baik kau pulang, tidur, atau main TokTok kayak temanmu yang anak Uni Linda itu. Itu posisi si Roni," ucapnya mengusir Mila dengan nada memelas yang tersamar sebagai perhatian.
"Tidak bisa, Uda! Ini demi membuktikan ketulusan Mila kepada perjuangan kemanusiaan Uda!" tolak Mila keras kepala.
"Kalau Bang Roni masih tiduran di sini, Mila khawatir, nanti ada pembeli tak bertanggung jawab mengambil uang-uang yang ada di mesin ini. Bisa gawat kan kalau ada maling, tapi malah gak diketahui gara-gara Bang Roni tidur melulu," tambah Mila lagi.
'Ck, justru itu yang awak harapkan sejak dulu. Tapi nyatanya gimana? Malah tak ada yang mencuri sama sekali, bahkan kang tidur itu malah mendapat tips dari pembeli,' decak Budiman dalam hati.
Dengan cekatan, jemari Mila yang lentik langsung menari di atas kibor, merombak total sistem kasir yang selama ini dibiar gak jalan oleh Budiman.
"Mila sudah mengganti sistemnya dengan memakai rumus algoritma akuntansi terpadu. Anti-rugi, Da! Bahkan selisih satu rupiah pun akan terlacak! Jadi, sekarang akan lebih aman pembukuan keuangan Budiman Mart ini," terang Mila dengan begitu percaya diri.
‘Anti-rugi bapak kau?! Padahal emang sengaja sehancur itu,' jerit Budiman dalam hati. Matanya mulai berkedut hebat menatap layar monitor kasir yang kini menampilkan grafik efisiensi keuangan berwarna hijau neon yang sangat sehat.
Belum selesai syok karena kudeta keuangan Mila, pintu kaca Budiman Mart didorong terbuka oleh rombongan emak-emak Tarusan yang dipimpin langsung oleh Etek Nur. Mereka datang membawa termos es raksasa, tikar pandan, dan wadah-wadah berisi makanan seolah bersiap untuk demonstrasi rasa cinta jangka panjang.
"Diman! Kau jangan cemas memikirkan kesehatan kau lagi, ya," seru Etek Nur dengan suara lantang yang menggema di antara rak mi instan.
"Etek Suni, Etek Nurma, dan persatuan emak-emak pasar sudah sepakat. Kami akan berjaga bergiliran di depan ruko ini setiap hari! Kami akan menyiapkan gulai ayam, rendang, dan kopi tatap untuk si Mila dan karyawanmu yang bekerja. Pokoknya, aset ketulusan lokal ini tidak akan kalah dengan wanita kaya yang nyumbang saham itu!"
Budiman hanya membeku. Tak ada lagi kata-kata yang bisa ia ungkapkan. Karena, apa pun yang menjadi alasannya, tak akan pernah masuk oleh mereka.
Ruang geraknya untuk bangkrut benar-benar telah dikunci mati dari segala penjuru oleh mereka. Ditambah lagi, mengingat aturan Sistem yang melarang keras dirinya menolak 'aset ketulusan' dalam bentuk apapun itu. Jika ditolak, denda setengah triliun akan bertambah ke dalam rekeningnya. Budiman hanya bisa berdiri kaku laksana patung di dekat rak sabun cuci. Tak ada lagi yang bisa dilakukan selain 'menerima kenyataan bahwa ia kini berjuang untuk menjadi semakin kaya.'
Di tengah kepungan aroma gulai yang menyengat dan dentingan kalkulator Mila yang bersahut-sahutan, Budiman melirik jam tangan yang telah upgrade ke smartwatch. Keringat dingin langsung bercucuran di pelipisnya.
Sisa waktu 24 jam untuk menyelesaikan misi pemilihan calon pendamping, tinggal setengah hari lagi. Ia dengan sengaja melalaikan, tetapi wanita-wanita itu masih belum menunjukkan akan menyerah. Kali ini ia memilih pasrah.
Budiman menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kewarasan yang tinggal beberapa persen di otaknya. Matanya menatap tajam ke arah luar jendela, menembus pelataran parkir.
‘Baik lah, sepertinya awak harus menikmati permainan makin kaya ini ... Kita mainkan otak pedagang sebenarnya dengan memakai cara paling gila.'
Kepala Budiman mulai liar mencari sang General Manajer yang sedari tadi tidak terlihat. Lalu, dengan napas memburu ia menatap Roni yang tiada henti menguap berdiri di belakang Mila.
"Roni, cepat jemput Anto dari rumahnya! Kita harus mengecek keadaan 19 cabang Budiman Mart di seluruh pelosok pedalaman. Mari kita menggeliat bersama!" ucapnya dengan tangan mengepal ke atas.
Roni melongo dan mengucek matanya kembali.
[ bersambung ]