Dalam setiap alur cerita novel ini, mengandung harapan dan doa baik untuk kehidupan author yang lebih bahagia ke depannya.
Di usia dua puluh lima tahun, Raya Nareswari masih berjuang mencari pekerjaan yang layak. Nasib membawanya bertemu Bram dan Sinta Mahendra setelah ia pingsan saat hendak melamar kerja di kota. Karena terpesona oleh ketulusan dan kepribadian Raya, Sinta mengangkat gadis berhijab itu sebagai karyawan di butik miliknya.
Seiring waktu, Bram dan Sinta berniat menjodohkan Raya dengan putra tunggal mereka, Juan Arsen Mahendra, seorang CEO tampan yang tak pernah sekalipun memperkenalkan wanita kepada keluarganya. Kedekatan Juan dengan asisten pribadinya bahkan membuat kedua orang tuanya curiga bahwa sang putra tidak tertarik pada perempuan.
Awalnya Juan menolak kehadiran Raya. Namun perlahan, ketulusan gadis desa yang sering diremehkan itu berhasil meluluhkan hati pria yang dikenal dingin dan sulit didekat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fitnah Tentang Juan
"Ibu-ibu yang dirahmati Allah, rumah tangga yang sakinah tidak dibangun hanya dengan cinta, tetapi juga dengan akhlak. Salah satu akhlak mulia seorang istri adalah memuliakan suaminya selama suami tidak memerintahkan kepada kemaksiatan.
Bakti seorang istri bukan berarti merendahkan dirinya. Justru ketika seorang istri melayani suaminya dengan ikhlas, menjaga kehormatan suaminya, menjaga lisannya, dan menjadi tempat pulang yang menenangkan, di situlah Allah meninggikan derajatnya.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa senyum kepada pasangan adalah sedekah, perkataan yang lembut adalah ibadah, dan saling memaafkan adalah jalan menuju keberkahan rumah tangga.
Menjadi istri yang baik bukan berarti tidak pernah lelah atau tidak pernah menangis. Seorang istri juga manusia. Namun, ketika ia mampu bersabar, mendoakan suaminya dalam diam, serta tetap menjaga adab saat berbeda pendapat, maka setiap kesabarannya bernilai pahala di sisi Allah.
Begitu pula kepada para suami. Islam memerintahkan suami untuk memperlakukan istrinya dengan penuh kasih sayang. Sebaik-baik laki-laki adalah yang paling baik kepada istrinya. Jadi, rumah tangga bukan tentang siapa yang berkuasa, melainkan tentang saling menguatkan menuju ridha Allah."
Raya yang duduk di samping Bu Sinta tampak menyimak dengan saksama. Jemarinya saling bertaut di atas pangkuan, sementara pandangannya tertuju ke arah ustazah. Entah mengapa, setiap kalimat tentang melayani suami dan menjadi penyejuk hati membuatnya tanpa sadar teringat pada Juan. Bibirnya mengulum senyum tipis, disusul doa lirih di dalam hati agar ia mampu menjadi istri yang dapat membahagiakan suaminya, bukan hanya di dunia, tetapi juga menjadi pendampingnya hingga ke surga.
"Ya Allah... sejak akad itu terucap, entah mengapa hati ini langsung merasa tenang di sisi Bang Juan. Padahal sebelumnya kami hanyalah dua orang yang asing. Sungguh, Engkaulah Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati dan Maha Berkehendak atas segala sesuatu."
"Ya Allah, jika memang ada penyakit atau ujian yang sedang Bang Juan hadapi, limpahkanlah kesembuhan kepadanya. Bukakanlah pintu hatinya, luruskanlah langkahnya, dan bimbinglah ia senantiasa berada di jalan-Mu yang lurus."
"Ya Allah, tumbuhkanlah dalam hatinya rasa cinta dan ketertarikan yang halal kepada istrinya. Jadikanlah kami pasangan yang saling mencintai karena-Mu, saling menjaga, saling menguatkan, dan Kau anugerahi rumah tangga yang penuh sakinah, mawadah, dan rahmah."
"Aamiin."
Doa Raya lirih menembus dinding masjid.
Acara pengajian berjalan dengan lancar, isi dakwah yang disampaikan oleh ustadzah begitu jelas dan sangat mudah untuk difahami, serta banyak sekali ilmu yang didapat oleh Raya sebagai pengantin baru.
"Ustadzah, tadi yang disampaikan begitu jelas dan sangat mudah difahami. Setiap jadwal ustadzah saya langsung semangat, dan hari ini saya mengajak menantu saya untuk ikut kajian." ucap Bu Sinta semangat, tangannya menggandeng tangan ustadzah Khodijah tampak sangat akrab.
"Oh ini menantu Bu Sinta, istri bang Juan?" tanya ustadzah Khadijah sambil tersenyum pada Raya.
"Iya ustadzah" ucap Raya sambil menyalami sopan ustadzah Khodijah.
"MasyaAllah, cantik sekali. Beruntung Juan dapet istri cantik dan shalehah lagi, di zaman sekarang jarang sekali anak muda yang mau pergi ke masjid ikut kajian." Ustadzah Khodijah menatap takjub pada Raya. Sedangkan Raya hanya tersenyum sesekali menganggukkan kepalanya.
"Alhamdulillah Bu ustadzah, Raya ini anaknya baik dan penurut." jawab Bu Sinta bangga memiliki menantu seperti Raya.
"Raya ini ustadzah Khadijah, beliau ini selain gemar berdakwah beliau juga pemilik sekolah Islam ya ustadzah?. Barangkali ada lowongan untuk mengajar TK atau SD, karena Raya ini ini lulusan pendidikan juga" ucap Bu Sinta ada aja idenya.
"Wah masyaAllah kebetulan di sekolah dasar sedang membutuhkan beberapa tenaga pengajar, Mbak Raya bisa langsung kirim CV nya langsung." ucap Bu ustadzah sambil tersenyum hangat pada Raya.
"Boleh ustadzah, tapi sebelumnya Raya harus minta izin dulu sama bang Juan." ucap Raya sopan.
obrolan hangat mengalir begitu saja, sampai pada ustadzah pamit karena sudah dijemput oleh supirnya.
Raya dan Bu Sinta berjalan bersisian, mereka memilih untuk jalan kaki karena lokasi masjidnya cukup dekat, berjalan ramai dengan ibu-ibu yanga lain.
"Oh itu ya menantu Bu Sinta. Cantik ya, tapi kasian Juan nya malah milih pacaran sama cowok."
"Iya ih jadi kasihan banget sama istrinya, hanya dijadikan tumbal untuk membungkam gosip. Padahal ya kita juga tau kalau Juan itu tidak tertarik sama wanita."
"Ngebet banget pengen punya cucu, katanya Juan punya masalah sebagai laki-laki."
Deg.
Ucapan demi ucapan bagai pisau yang perlahan menyayat hati Bu Sinta dan Raya.
"Ma, jalannya cepetan dikit ya," ucap Raya sambil merangkul pundak ibu mertuanya. Raya melihat mata bu Sinta yang berkaca-kaca.
"Mama gak papa Ray, sudah biasa. Tapi perkataan yang terakhir yang membuat mama sakit."
Perkataan terakhir juga yang membuat otak Raya bertanya-tanya.
Benarkah semua itu? Ataukah hanya fitnah yang sengaja disebarkan orang-orang yang iri kepada keluarga Mahendra?
"Ray." Bu Sinta menyentuh pergelangan tangan Raya.
"Kamu jangan percaya dengan omongan yang terakhir ya, mama yakin sekali punya Juan itu normal. Mama yakin Juan baik-baik saja. Mama percaya anak mama bukan seperti yang mereka katakan..." ucap Bu Sinta sambil memegang lembut tangan Raya.
Raya mengangguk lembut, "iya mah."
Sesampainya dirumah, keadaan rumah tampak hening. Pak Bram belum pulang, dan Raya juga tidak menemukan keberadaan Juan di rumah.
Setelah shalat magrib akhirnya Raya memutuskan untuk mengirim pesan pada Juan.
Raya : Abang dimana, udah makan malam?
Tidak menunggu lama balasan dari Juan langsung sampai pada ponsel Raya.
Juan : futsal sama temen kantor, udah tadi sama Rangga.
Deg.
Balasan dari Juan membuat hati Raya terasa teriris, pasalnya Rangga adalah orang yang digosipkan dekat dengan suaminya.
Raya : Ngapain sama pak Rangga?, makannya berdua aja?
Juan : Apaan sih Ray, dah saya mau main lagi.
Raya semakin dilanda rasa gundah, takut Juan melakukan hal-hal yang aneh bersama asistennya itu.
Padahal dibalik itu semua, Juan sedang banjir keringat. Mengoper bola sana sini sampai tiga kali cetak gol dengan kaki kirinya. sementara dirumah Raya makin dirundung rasa khawatir, hatinya semakin tidak enak.
"Ray..." suara ketukan halus di pintu menyadarkan Raya dari lamunan, cepat Raya melipat mukenanya.
"Iya ma, sebentar."
Raya melangkah untuk membuka pintu kamarnya.
"Ray, Juan belum pulang juga?" tanya Bu Sinta sambil memasuki kamar Raya.
"Belum ma, bang Juan lagi futsal sama temen kantornya."
Raya dan Bu Sinta sudah duduk diatas sofa kulit, di tangan Bu Sinta terdapat sebuah kotak berwarna merah tua.
"Oh Juan kalau futsal emang suka lama. maklum hobinya. Nih Ray, dicoba ya malam ini. Mama belikan pre order dari Singapur." ucap Bu Sinta menatap lembut menantunya.
"Apa itu ma?"
"Mama lihat kamu belum sempat belanja sejak menikah. Tadi mama titip teman yang pulang dari Singapura. Mudah-mudahan Juan suka. Yaudah mama ke bawah dulu, tumben lagi papa belum pulang, gak tau apa istrinya sudah kangen dirumah." ucap Bu Sinta seraya melangkah meninggalkan Raya yang sedang berkutat membuka kotak merah yang diberikan oleh Bu Sinta.
Bersambung
Jangan lupa like yang readers...