NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Pewaris Kaya

Istri Kontrak Sang Pewaris Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Maysha

Karena terjebak utang keluarga yang menumpuk, Anya terpaksa menerima tawaran menjadi istri kontrak Arga, seorang pewaris perusahaan terkaya yang dikenal dingin dan tak pernah percaya pada cinta. Perjanjian mereka hanya berlaku satu tahun: tidak ada ikatan batin, tidak ada rasa sayang, dan akan berakhir begitu waktunya habis. Namun seiring berjalannya hari, kehadiran Anya perlahan mencairkan hati yang sudah lama membeku. Akankah hubungan yang diawali dengan perjanjian ini berakhir dengan perpisahan, atau justru tumbuh menjadi cinta yang tak terpisahkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Maysha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Kehidupan Sehari-hari di Rumah Wijaya

Matahari baru saja mengintip dari ufuk timur, menyebarkan cahaya keemasan yang perlahan masuk melewati celah tirai jendela kamar Anya. Jam dinding di dinding baru menunjukkan pukul enam pagi, tapi Anya sudah terbangun sejak sepuluh menit yang lalu. Ia terbiasa bangun lebih awal, kebiasaan yang terbentuk sejak ia masih tinggal di rumah kecilnya bersama ibunya, ketika ia harus membantu ibu berjualan di pasar sebelum berangkat sekolah.

Dengan gerakan perlahan agar tidak menimbulkan suara, Anya bangkit dari tempat tidur. Ia merapikan selimutnya dengan rapi, lalu melangkah ke arah jendela untuk membuka tirai lebar-lebar. Udara pagi yang sejuk dan segar langsung menerpa wajahnya, membawa aroma bunga dan rumput yang baru dipotong. Pemandangan taman yang tertata rapi terlihat semakin indah dibalut cahaya matahari pagi yang lembut.

Malam sebelumnya terasa seperti mimpi yang panjang dan melelahkan. Ia masih bisa merasakan detak jantungnya yang berdebar kencang saat berada di antara keramaian tamu, dan masih teringat jelas sentuhan tangan Arga saat mereka berpura-pura menjadi pasangan bahagia. Namun pagi ini, semua itu terasa seperti kejadian yang sudah berlalu, dan ia harus kembali menjalani kesehariannya di rumah megah ini.

Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian sederhana namun rapi — kemeja katun berwarna krem dan celana panjang kain berwarna cokelat muda — Anya keluar dari kamarnya. Ia berjalan menyusuri lorong yang masih sepi, menuju tangga untuk turun ke lantai dasar. Sesampainya di ruang makan, ia melihat meja panjang itu sudah terisi berbagai hidangan sarapan, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Arga.

“Selamat pagi, Nona Anya,” sapa Pak Haris yang muncul dari arah dapur dengan senyum ramah. “Tuan Arga sudah berangkat ke kantor sejak pukul setengah enam pagi tadi. Beliau bilang ada rapat penting yang harus dihadiri pagi ini, jadi tidak sempat sarapan di rumah.”

Anya mengangguk mengerti, lalu duduk di kursi yang biasa ia gunakan. “Selamat pagi, Pak Haris. Terima kasih atas informasinya. Tidak apa-apa, saya mengerti kesibukan Tuan Arga.”

Ia mulai menyantap sarapannya dengan tenang. Suasana yang hening ini justru membuatnya merasa lebih nyaman dibandingkan harus duduk berhadapan dengan Arga yang selalu bersikap dingin dan penuh jarak. Sambil makan, pikirannya melayang ke arah ibunya yang tinggal di rumah terpisah di sisi timur halaman. Ia berencana mengunjungi ibunya setelah selesai sarapan, untuk memastikan wanita itu merasa nyaman dan aman di tempat barunya.

Setelah selesai makan, Anya berjalan menuju rumah kecil yang disediakan untuk ibunya. Jaraknya tidak jauh, hanya perlu berjalan kaki sekitar lima menit melewati jalan setapak yang dikelilingi tanaman hias. Begitu ia sampai di depan pintu, ia mendengar suara ibunya yang sedang menyanyi pelan sambil membereskan ruang tamu. Mendengar suara itu, hati Anya terasa hangat dan tenang.

“Bu, saya datang,” panggil Anya sambil mengetuk pintu pelan.

Pintu terbuka, dan Bu Lina menyambut putrinya dengan senyum lebar. “Anya, masuklah. Ibu sudah menunggumu sejak tadi pagi.”

Mereka berdua masuk dan duduk di ruang tamu yang sederhana namun bersih dan nyaman. Bu Lina langsung bertanya dengan cemas, “Bagaimana tadi malam? Apakah semuanya berjalan lancar? Apakah kamu tidak kesulitan menghadiri acara itu?”

Anya tersenyum menenangkan ibunya, lalu menceritakan secara singkat apa yang terjadi di acara makan malam tadi malam, tanpa menyebutkan terlalu banyak hal yang bisa membuat ibunya khawatir. “Semuanya berjalan lancar, Bu. Saya hanya harus bersikap sopan dan menjawab pertanyaan seperlunya saja. Tidak ada masalah yang berarti.”

Bu Lina menghela napas lega, lalu memegang tangan putrinya dengan lembut. “Syukurlah kalau begitu. Kamu harus selalu berhati-hati, Nak. Jangan sampai melupakan harga dirimu sendiri meskipun kita sedang dalam keadaan membutuhkan bantuan orang lain. Ingat, kita hanya bertahan satu tahun saja, setelah itu kita bisa kembali hidup seperti biasa.”

“Saya selalu mengingatnya, Bu,” jawab Anya mantap. “Saya tidak akan melakukan hal yang memalukan nama keluarga kita. Saya hanya menjalankan perjanjian yang sudah disepakati, dan tidak lebih dari itu.”

Mereka menghabiskan waktu hampir dua jam untuk mengobrol, membicarakan hal-hal ringan agar suasana tetap nyaman. Anya merasa beban di pundaknya terasa lebih ringan setiap kali ia berbicara dengan ibunya. Wanita itu adalah satu-satunya alasan yang membuatnya kuat dan mampu bertahan dalam situasi yang tidak biasa ini.

Setelah pamit pulang, Anya berjalan kembali menuju rumah utama. Di tengah perjalanan, ia melihat taman belakang yang luas dan terawat rapi. Ada kolam ikan besar di tengahnya, dengan air yang jernih dan dipenuhi ikan-ikan berwarna-warni yang berenang dengan tenang. Di pinggir kolam, terdapat bangku taman yang terbuat dari kayu jati yang terlihat kokoh dan nyaman untuk diduduki.

Tanpa sadar, Anya berjalan mendekat dan duduk di bangku itu. Ia menatap ke permukaan air kolam yang beriak lembut tertiup angin pagi, membiarkan pikirannya melayang bebas. Ia memikirkan bagaimana hidupnya berubah drastis dalam waktu singkat. Dari seorang gadis sederhana yang harus bekerja keras membantu ibunya, kini ia menjadi istri kontrak dari pewaris kekayaan terbesar di kota itu. Hidupnya sekarang dikelilingi kemewahan yang selama ini hanya bisa ia lihat di televisi, namun hatinya tidak merasa bahagia sepenuhnya. Ada rasa hampa yang mengisi celah-celah hatinya, mengingat semua ini hanyalah sandiwara yang dibatasi waktu.

“Kamu suka tempat ini?”

Suara berat dan tegas tiba-tiba terdengar dari arah belakang, membuat Anya terkejut dan langsung berdiri. Ia menoleh dan melihat Arga berdiri di sana, mengenakan kemeja santai berwarna biru tua dan celana panjang kain. Wajahnya terlihat lebih santai dibandingkan saat mengenakan jas kerja, namun tatapan matanya tetap sama — tajam dan sulit dibaca.

“Tuan Arga? Bukankah Bapak sudah berangkat ke kantor?” tanya Anya dengan suara sedikit terkejut, lalu segera menunduk memberi hormat.

Arga berjalan mendekat dan berdiri di sampingnya, menatap ke arah kolam ikan juga. “Rapatnya dibatalkan mendadak pagi ini. Saya baru saja sampai kembali sepuluh menit yang lalu. Melihatmu tidak ada di dalam rumah, saya menyusul ke sini.”

Ia menoleh sebentar ke arah Anya, lalu melanjutkan, “Kamu terlihat sangat menikmati pemandangan ini. Biasanya orang-orang yang baru datang ke sini hanya akan sibuk memeriksa barang-barang mewah di dalam rumah, bukan duduk diam menikmati udara pagi.”

Anya tersenyum tipis, lalu menjawab dengan tenang, “Bagi saya, keindahan alam ini terasa lebih menenangkan daripada barang-barang yang harganya mahal tapi tidak memberi ketenangan di hati. Selama ini saya terbiasa hidup sederhana, jadi hal-hal yang alami seperti ini justru lebih terasa akrab bagi saya.”

Jawaban itu membuat Arga terdiam sejenak. Ia menatap wajah Anya dengan pandangan yang lebih dalam, seolah ingin memahami lebih banyak tentang gadis yang menjadi istrinya ini. Selama ini ia selalu dikelilingi orang-orang yang hanya memikirkan keuntungan dan kemewahan, sehingga jawaban yang tulus dan sederhana dari Anya terasa seperti angin segar yang menyegarkan pikirannya.

“Kamu memang berbeda dari wanita lain yang pernah saya temui,” ucap Arga pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Mereka semua hanya memandang apa yang saya miliki, bukan siapa saya sebenarnya.”

Mendengar kata-kata itu, Anya hanya diam dan tidak menjawab. Ia sadar bahwa ia tidak boleh terlalu dekat atau membuka diri terlalu banyak pada Arga. Batasan yang sudah disepakati harus tetap dijaga agar tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari.

Arga pun sadar bahwa ia hampir melupakan sikap yang seharusnya ia tunjukkan. Wajahnya kembali berubah dingin, dan ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Baiklah, tidak penting membahas hal itu. Ada satu hal yang ingin saya sampaikan kepadamu.”

Anya segera menegakkan badan dan mendengarkan dengan saksama. “Silakan, Tuan. Saya siap mendengarkan.”

“Mulai hari ini, saya akan sering pergi ke luar kota untuk urusan bisnis. Kadang saya bisa pulang dalam sehari, kadang bisa menghabiskan waktu dua atau tiga hari di luar. Selama saya tidak ada, kamu bebas beraktivitas di dalam kompleks ini, mengunjungi ibumu kapan saja, atau membaca buku di perpustakaan. Tapi ingat aturan utamanya: jangan keluar dari area rumah tanpa izin saya, dan jangan membiarkan orang asing masuk ke dalam rumah utama.”

“Saya mengerti, Tuan. Saya akan mematuhi semua peraturan itu,” jawab Anya tegas.

“Bagus. Kalau ada kebutuhan apa pun, sampaikan saja pada Pak Haris. Ia akan mengurus semuanya. Jangan sungkan untuk meminta apa pun yang kamu butuhkan selama masih dalam batas wajar.”

Setelah menyampaikan hal itu, Arga berbalik dan melangkah pergi menuju rumah utama. Namun sebelum ia berjalan terlalu jauh, ia berhenti sejenak tanpa menoleh, lalu berkata dengan nada lebih lembut dari biasanya. “Dan… terima kasih lagi atas kerjasamamu tadi malam. Kamu membuat semuanya berjalan lancar tanpa masalah.”

Anya tertegun sejenak mendengar ucapan itu, lalu menjawab dengan suara pelan namun jelas, “Sama-sama, Tuan. Itu adalah kewajiban saya sesuai perjanjian.”

Arga hanya mengangguk singkat, lalu melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah. Anya yang masih berdiri di pinggir kolam ikan hanya bisa menatap punggung pria itu sampai menghilang di balik pintu. Ia merasa ada perubahan kecil dalam sikap Arga hari ini, meskipun perubahannya sangat tipis dan hampir tidak terasa. Namun ia segera menggelengkan kepalanya, berusaha menyingkirkan pikiran itu dari kepalanya. Ia tidak boleh berharap lebih, tidak boleh membiarkan hatinya terbawa perasaan yang salah.

Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang teratur. Arga sering pergi ke kantor sejak pagi buta dan baru pulang saat malam hari, bahkan kadang harus pergi ke luar kota selama beberapa hari. Selama ia tidak ada, Anya merasa lebih bebas dan tenang. Ia menghabiskan waktunya dengan membaca buku di perpustakaan rumah yang berisi ribuan koleksi buku, merawat tanaman di taman, atau lebih sering mengunjungi ibunya untuk menemani wanita itu mengobrol.

Suatu sore, saat Anya sedang membaca buku di teras belakang, sebuah mobil mewah tiba-tiba masuk ke halaman rumah. Ia mengira itu Arga yang pulang lebih awal, tapi ternyata yang turun adalah seorang wanita paruh baya dengan pakaian rapi dan tatapan yang tajam. Itu adalah Nyonya Wijaya, ibu dari Arga, yang baru saja pulang dari perjalanan ke luar negeri.

Begitu melihat Anya yang duduk di teras, Nyonya Wijaya berjalan mendekat dengan langkah tegas. Wajahnya tidak terlihat ramah, seolah menilai gadis itu dari atas ke bawah.

“Jadi kamulah wanita yang berhasil membuat Arga menikah secara tiba-tiba?” tanya Nyonya Wijaya dengan nada dingin, tanpa basa-basi.

Anya segera berdiri dan memberi hormat dengan sopan. “Selamat sore, Nyonya. Saya Anya, istri Arga.”

Nyonya Wijaya mendengus pelan, lalu menatap Anya dengan pandangan meragukan. “Istri? Saya dengar kabar bahwa Arga menikah, tapi saya tidak menyangka dengan wanita yang berasal dari keluarga biasa seperti kamu. Apa yang membuat putra saya memilihmu, apakah kamu punya tujuan tertentu?”

Pertanyaan yang menusuk itu membuat Anya tertegun sejenak, tapi ia tetap tenang dan menjawab dengan kepala terangkat, menjaga harga dirinya. “Saya tidak punya tujuan tersembunyi apa pun, Nyonya. Pernikahan ini terjadi atas kesepakatan bersama, dan saya menjalani peran saya sesuai kesepakatan itu. Saya menghormati Arga dan keluarga ini, dan saya berharap Nyonya bisa memberi saya kesempatan untuk membuktikan sikap saya.”

Jawaban yang tegas dan tidak gemetar itu membuat Nyonya Wijaya sedikit terkejut. Ia mengira gadis ini akan terlihat takut atau memohon belas kasihan, tapi ternyata Anya memiliki ketegasan yang tidak ia duga. Namun, keraguan di hatinya belum hilang sepenuhnya.

“Kita lihat saja nanti,” ucap Nyonya Wijaya dingin. “Ingat, keluarga Wijaya tidak bisa menerima orang yang hanya mencari keuntungan semata. Jika kamu terbukti membawa masalah, saya tidak akan segan-segan mengusirmu dari sini.”

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Nyonya Wijaya berjalan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Anya yang masih berdiri di tempatnya. Hatinya terasa sedikit tertekan, tapi ia tahu ini hanyalah salah satu tantangan yang harus ia hadapi. Ia harus tetap tegar, karena satu tahun ini masih panjang, dan ia pasti akan menghadapi lebih banyak ujian seperti ini ke depannya.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!