Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Malam mulai larut. Setelah mengantar Aurel dan Najwa pulang, Arya mengemudikan mobilnya menuju apartemen.
Perjalanan malam itu terasa berbeda. Biasanya, pikirannya masih dipenuhi berkas perkara yang harus diselesaikan. Namun kali ini...Yang memenuhi pikirannya justru percakapan sederhana di sebuah kafe.
Tentang masa kuliah. Tentang sahabat. Dan terutama. Tentang masa kecil.
Sesampainya di apartemen, Arya langsung membuka pintu unitnya. Ruangan itu tampak rapi dan sunyi. Ia meletakkan jas di sandaran kursi, lalu menuangkan segelas air putih.
Namun bukannya langsung beristirahat, Arya justru berdiri di depan jendela apartemen. Tatapannya mengarah ke gemerlap lampu kota.
Senyum tipis perlahan menghiasi wajahnya. "Hampir tidak berubah..." gumamnya pelan.
Hari ini, Arya merasa lebih bahagia daripada yang ia bayangkan. Bukan karena persidangan berjalan lancar. Bukan pula karena pekerjaannya dipuji. Melainkan karena akhirnya ia yakin bahwa wanita yang kini menjadi kliennya memang orang yang selama ini ada di dalam ingatannya.
Saat Aurel mengatakan bahwa dirinya sering berpindah sekolah semasa kecil, semua potongan kenangan itu langsung tersusun rapi.
Arya mengembuskan napas pelan. "Ternyata benar..." ucap Arya.
Dulu. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, Arya pernah menjadi kakak kelas Aurel. Perbedaan usia mereka memang tidak jauh. Saat itu Arya duduk di kelas enam, sedangkan Aurel masih kelas satu.
Aurel hanyalah murid baru yang pendiam. Anak kecil yang selalu datang diantar ayahnya. Jarang berbicara. Dan lebih sering duduk sendirian saat jam istirahat.
Arya masih mengingat wajah kecil itu. Meski waktu telah berlalu begitu lama. Namun kebersamaan mereka di sekolah itu ternyata sangat singkat.
Hanya sekitar enam bulan. Setelah itu, Aurel pindah mengikuti orang tuanya ke kota lain.
Sejak hari itu Arya tidak pernah lagi mendengar kabar tentang Aurel. Sampai bertahun-tahun kemudian. Takdir kembali mempertemukan mereka. Bukan sebagai kakak dan adik kelas. Melainkan sebagai pengacara dan klien.
Arya tersenyum kecil sambil menggeleng.
"Pantas saja..."
"Dia tidak mengingatku."
Enam bulan adalah waktu yang sangat singkat. Apalagi bagi seorang anak kecil yang masih duduk di kelas satu SD. Ditambah lagi, Aurel sendiri mengaku sering berpindah sekolah. Mustahil ia mengingat semua kakak kelas yang pernah ditemuinya.
Arya sama sekali tidak merasa kecewa. Justru ia merasa bersyukur. Setidaknya kini ia mengetahui bahwa perasaan akrab yang muncul sejak pertama kali bertemu bukanlah sekadar perasaannya sendiri. Ada sepotong masa lalu yang pernah mempertemukan mereka. Walaupun hanya sebentar.
Arya kemudian mengambil sebuah bingkai foto lama dari laci meja. Foto itu adalah foto kegiatan sekolah dasar. Puluhan anak berdiri berjejer. Wajah mereka masih polos.
Arya tersenyum tipis saat matanya berhenti pada sosok anak perempuan kecil di barisan depan.
"Jadi..."
"...itu benar-benar kamu."
Arya mengembalikan foto itu ke dalam laci.
Lalu menarik napas panjang.
"Tapi sekarang..."
"...aku hanya pengacaramu."
Kalimat itu Arya ucapkan untuk mengingatkan dirinya sendiri.
Apa pun kenangan yang pernah ada, saat ini tugas utamanya tetap satu. Membantu Aurel menyelesaikan proses perceraiannya secara profesional.
Arya masih berdiri di depan jendela apartemennya. Lampu-lampu kota berkelip di kejauhan. Namun pikirannya jauh melayang ke masa lalu.
Ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa pertemuan kembali dengan Aurel akan terjadi dalam keadaan seperti ini.
Arya tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan.
"Dulu aku sempat berpikir..."
"...kalau suatu hari bertemu lagi, semoga kamu masih sendiri."
"Atau..."
"...kalau sudah menikah, semoga kamu hidup bahagia."
Arya mengembuskan napas panjang. Takdir ternyata memilih jalan yang berbeda. Aurel memang telah menikah. Namun bukan kebahagiaan yang ia temukan. Melainkan pengkhianatan yang menghancurkan rumah tangganya.
Arya memejamkan mata sejenak. Saat pertama kali membaca berkas perkara, ia sama sekali belum menyadari bahwa klien bernama Aurel itu adalah adik kelas yang pernah ia kenal semasa SD.
Kini, setelah semuanya jelas, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Ia merasa ikut terluka melihat wanita yang dulu dikenalnya sebagai anak kecil yang pendiam itu harus melalui semua ini.
"Seharusnya..."
"...kamu tidak diperlakukan seperti itu." gumam Arya lirih.
Arya bukan pria yang mudah jatuh hati. Kesibukan sebagai pengacara membuatnya lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja daripada memikirkan kehidupan pribadi.
Bahkan ketika banyak orang bertanya mengapa ia belum menikah, ia selalu menjawab dengan senyum singkat. Belum bertemu orang yang tepat.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arya mengakui isi hatinya sendiri. Ia ingin mengenal Aurel lebih jauh. Bukan sekarang. Bukan saat Aurel masih berjuang menyelesaikan perceraiannya. Dan tentu bukan dengan memanfaatkan posisinya sebagai pengacara.
Arya sadar betul batas profesional yang harus dijaga. Karena itu, ia hanya mampu menyimpan keinginan tersebut di dalam hati.
"Kalau nanti..."
"...semua proses ini benar-benar selesai."
"...dan kamu sudah benar-benar pulih."
"Aku ingin mengenalmu lagi."
"Bukan sebagai klien."
"Tapi sebagai Aurel."
Arya tersenyum kecil. Ia sama sekali tidak mempermasalahkan status Aurel nantinya. Baginya, nilai seseorang tidak ditentukan oleh status pernikahannya.
"Kalau suatu hari nanti..."
"...kamu bersedia membuka hati lagi."
"...aku akan berusaha menjadi orang yang tidak menyakitimu."
"Aku akan mengenalmu pelan-pelan."
"Tanpa memaksa."
"Tanpa terburu-buru."
"Kalau memang harus menunggu, aku akan menunggu."
Arya kembali memandang gemerlap kota dari balik kaca apartemennya. Ia tahu jalan di depan masih panjang. Perceraian Aurel belum selesai. Luka di hati wanita itu pun masih sangat dalam.
Karena itu, ia memilih satu keputusan. Untuk saat ini, ia akan tetap menjadi pengacara yang profesional. Membantu Aurel mendapatkan keadilan yang ia perjuangkan.
Perasaan yang mulai tumbuh di dalam hati Arya. Biarlah tetap menjadi rahasia. Sampai tiba saat yang benar-benar tepat untuk mengungkapkannya.