NovelToon NovelToon
Tanah Luka Dan Persahabatan

Tanah Luka Dan Persahabatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Dini Sinaga

Kehidupan penduduk Kampung Surya Kencana, dimana sebagai besar penduduknya bekerja sebagai besar petani. Kampung ini kini gersang karena dilanda kekeringan.
Warga Kampung Surya Kencana bersifat, tradisional, sehingga sulit menerima perkembangan terutama dibidang pertanian. Pemerintah baik dari pusat, provinsi, kecamatan hingga Kampung sudah sering mengadakan Penyuluhan Pertanian agar pertanian masyarakat dapat meningkat, namun di tolak oleh sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai petani.
Seorang pemuda bernama Harjo (pemeran utama) adalah salah seorang dari sedikit petani yang mau mengikuti arahan Penyuluh Pertanian. Dia gigih dan ulet dalam bertani serta cerdas dalam mengembangkan pertanian, sehingga hasil pertanian Harjo menjadi berbanding terbalik dengan hasil pertanian warga Kampung. Hasil pertaniannya melimpah sedang petani lainnya sering terkena hama dan gagal panen.
Banyak penduduk yang mulai tertarik dengan cara bertani Harjo yang terkadang diluar kebiasaan penduduk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Sinaga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13 Lapor Pak, Sari dan Jhon Menerobos Kerumunan

Akhirnya Widuri yang berjalan bersama Harjo pun tiba juga. Mereka sudah ditunggu bak artis dari luar negeri yang sangat terkenal atau minimalnya calon legislatif yang datang hendak membagi sembako.

"Lapor Pak, Widuri dan Harjo sudah berada di halaman luar Balai Kampung. Apakah mereka harus segera diamankan menuju tempat ini!" Seru Junaedi salah seorang Linmas yang yang bertugas di Kampung Surya Kencana. Bertubuh sedikit genit berminggu 160 cm. Sudah menikah memilik 2 anak.

"Persilakan mereka masuk, segera!" Kepala kampung memberikan titahnya.

"Baik, Pak. Segera dilaksanakan." Jawab Junaedi tegas.

Segera Junaedi keluar dan meminta agar warga memberikan jalan kepada Widuri dan Harjo, menggunakan Toa mini inventaris Kampung.

"Diharapkan seluruh warga memberikan jalan kepada Pasangan ganda campuran Widuri dan Harjo, untuk memasuki Balai Kampung. Sekali lagi diharapkan seluruh warga memberikan jalan kepada pasangan dua sejoli Widuri dan Harjo." Junaedi memberikan pemberitahuannya kepada warga Kampung Surya Kencana yang telah hadir di halaman Balai Kampung.

Seluruh warga yang menghadiri bersorak dan tertawa mendengar ucapan dari Junaedi yang terdengar jelas di telinga mereka.

"Huuuu.. " teriak sebagian warga Kampung yang tengah berada di sekitar Balai Kampung.

Berbagai ucapan yang sudah riuh rendah terdengar di halaman Balai Kampung, disebabkan ucapan dari Junaedi. Warga sebanyak itu, tentu saja kalau dipancing akan bereaksi lebih lagi. Sehingga suasana menjadi terasa ramai sekali.

Berbagai Penjual makanan dan minuman maupun mainan anak-anak juga mulai tampak di sana sini, menikmati keramaian dadakan yang terjadi di Balai Kampung.

Diantara ramainya warga yang merasa terhibur oleh ucapan Junaedi terdapat seorang wanita yang merasa sedikit kecewa dan patah hati.

"Apakah mereka berdua adalah pasangan?" Runtuknya di dalam hati penuh kecewa.

Sari bertekad untuk berada sedekat mungkin dengan Balai Kampung agar dapat melihat dan mendengar pembicaraan di dalam Balai Kampung dengan lebih jelas.

"Dapatkah kita berada lebih mendekati ruang Balai Kampung? Aku ingin mendengarkan pembicaraan di dalam ruangan itu!" Sari meminta pendapat dari John Kakaknya.

"Ramai sekali hari ini. Kita tidak mungkin menerobosnya!" John harus menolak permintaan Sari agar dapat bergerak lebih dekat lagi ke Balai Kampung.

"Apa yang dapat Kita lakukan agar berada sedekat mungkin, ya Kak?" Tanya Sari.

"Ntahlah, Aku akan mencari cara terlebih dahulu. Sabarlah, Aku saat ini sedang memikirkannya." John memperhatikan daerah sekitar mencoba mencari ide untuk menerobos dan mendekat ke Balai Kampung.

Setelah melihat dengan cukup lama, John memperhatikan Junaedi, yang bergerak ke arah luar dengan memegang toa ditangannya dapat keluar dengan lebih mudah, sebab warga Kampung segera bergeser ketika mendengar suara Junaedi yang keluar dari toa.

"Beri jalan, tolong beri jalan." Teriak suara yang terdengar memekakkan telinga yang keluar dari toa ditangan Junaedi.

John segera menarik tangan Sari menuju ke luar halaman Balai Kampung.

Sari merasa terkejut dan sedikit menolak tarikan tangan dari John, sebab arah gerak John menjauhi Balai Kampung.

"Ada apa Kak? Mengapa mengajakku pergi menjauhi Balai Kampung, sedangkan Aku memintamu untuk mencari cara agar Kita berada sedekat mungkin dengan Balai Kampung, Kan?" Sari merasa John saat ini, menolak keinginannya untuk mendekati Balai Kampung.

"Kalau Kakak mau pulang, Aku akan tetap di sini, Kakak duluan saja pulangnya!" Ucap Sari dengan ketus.

"Kamu jangan salah duga dahulu. Lihat disana! Junaedi lagi berjalan keluar Balai Kampung, Kita kesana dahulu." Ucap John menjelaskan kepada Sari.

"Iya, benar. Tetapi, bang Junaedi berjalan menuju keluar bukan kedalam Balai Kampung. Kita kan bertujuan kedalam Balai Kampung, minimalnya sedekat mungkin dengan Balai Kampung." Tanya Sari yang sudah dibutakan keinginannya untuk segera mendekati Balai Kampung, sehingga memotong penjelasan dari John yang belum lengkap itu.

"Benar oleh sebab itu dengar dahulu penjelasanKu! Saat ini Junaedi berjalan menuju keluar halaman Balai Kampung. Tetapi setelah itu Dia tentunya akan kembali kedalam, atau setidaknya Kita dapat meminjam toanya. Bagaimana menurutmu ideku?" John melengkapi penjelasan dari isinya yang tadinya telah terpotong oleh Sari.

Oh, iya. Benar sekali Kak. Sudah pasti Junaedi akan kembali. Tetapi kalau meminjam toa milik Balai Kampung... Apakah Dia akan meminjamkannya?" Tanya Sari, penasaran.

"Tenang saja. Aku sudah cukup sering berhubungan dengannya. Setiap kali ada proyek atau pekerjaan yang mengharuskan Kakak mengurusnya ke kepala Kampung pasti Aku akan bertemu Junaedi. Pastinya Dia dapat jatahlah, minimalnya uang rokok dan sebagainya. Kali jni Kakak pastikan Dia akan mau, membantu Kita!" John terpaksa menceritakan kebiasaannya selama ini dalam menghadapi urusan di Balai Kampung.

"Baiklah, Kita segera kesana. Junaedi sudah hampir sampai ke luar halaman Balai Kampung, Kak!" Ajak Sari penuh semangat, menarik pengelangan tangan John.

Ketika John bersama Sari tiba di depan jalan masuk Balai Kampung, Junaedi juga tiba di tempat itu. Junaedi melihat Sari dan John, lalu menyapanya.

"Hey, John dan Sari! Kalian datang juga, bagaimana Kabar Bapak dan Ibu? Sudah lama tidak bertemu beliau."

Junaedi menyapa sekadar basabasi sebab John dan Sari adalah anak mantan kepala Kampung, sehingga Junaedi merasa harus menghormati mereka juga sebagai anaknya.

"Baik, Bang." Jawab Sari dengan sopan.

"Iya, baik. Ngomong-ngomong mengapa Bang Junaedi keluar, bukankah di dalam ada Slamet dan kawan-kawan yang harus Abang urus?" Tanya John, tak ingin basa basi lagi.

"Iya, benar. Tetapi si Udin sudah buat masalah, sekarang minta dibelikan sarapan karena perutnya lapar. Padahal sedari tadi pagi belum bangun juga. Terpaksa Aku harus mencarikannya makanan. Padahal hari ini hari Minggu, bingung Aku harus mencari kemana?" Junaedi menjelaskan mengapa dirinya pergi dari dalam Balai Kampung.

"Oh, begitu! Jadi didalam Balai Kampung, Udin dan Slamet masih belum kembali ke rumahnya?" Tanya John bersemangat.

"Iya, sebab dari semalam, mereka bertiga pingsan dan tertidur. Pagi ini meraka bertiga baru terbangun. Aku saja masih merasa mengantuk saat ini, karena kami lintas kampung kita harus berjaga semalaman." Sungut Junaedi sambil sedikit menguap menghilangkan kantuknya. Mata Junaedi sudah terlihat sedikit memerah saat ini, akibat kurang tidur.

"Oke, deh. Terima kasih infonya. Sekarang Aku pinjam dahulu toa itu, nanti kalau Kau kembali Aku kembalikan. Kami berdua ingin mendekat ke Balai Kampung namun kesulitan." Pinta John.

Junaedi yang selama ini sudah sering mendapatkan rokok maupun uang dari John tidak dapat menolaknya, apalagi John dan Sari adalah anak mantan Kepala Kampung yang juga adalah mantan Bosnya.

"Baiklah, kalau Aku kembali, jangan lupa kembalikan." Pinta Junaedi yang ingin segera pergi untuk mencari makanan.

"Ini!" Junaedi memberikan toa kepada John yang ditemani oleh Sari. Lalu Junaedi beranjak pergi.

"Terima kasih, ya!" John menerima toa lalu menarik tangan Sari dan beranjak berjalan menuju kantor Balai Kampung.

"Tolong kasih jalan, ada air panas!" Seru John membuka jalan agar mereka dapat dengan mudah sampai menuju kantor Balai Kampung.

1
Dini
okey bagus
👍
Dini
💪baru setiap harinya

yuk diikutin dan di like
Dini
bagus, cara bercerita yang berbeda
tema yang baru
Zidan
GG bang bagus , saling folow yuk jangan lupa baca novel ku juga kalau boleh 🙏
Zidan
GG bang saling folow yuk bang
Dini: 🙏ok sudah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!