NovelToon NovelToon
Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Status: tamat
Genre:Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:99.8k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24: Satu Miliar

Gang kecil di depan kos Rangga tiba-tiba terasa seperti halaman hotel mahal.

Mobil hitam itu berhenti di antara motor penghuni kos dan gerobak nasi goreng yang sudah tutup. Catnya mengilap. Kaca gelapnya memantulkan lampu jalan yang redup.

Pak Gunawan berdiri di samping pintu mobil dengan senyum yang sangat terlatih.

"Gaji tahunan, Rp 1 miliar," ulangnya pelan, seolah angka itu sendiri cukup untuk membuka semua pintu.

Rangga masih memakai jaket luar yang berbau antiseptik dan darah. Matanya kurang tidur.

"Pak Gunawan," katanya, "sekarang hampir subuh."

"Saya tahu. Karena itu saya langsung ke inti. Orang seperti Anda tidak boleh dibuang di rumah sakit daerah kecil."

Rangga menatapnya.

Kalimat itu terdengar akrab.

Farrel pernah memakai bahasa serupa, hanya dengan bendera internasional. Pak Robert pernah memakai uang muka miliaran. Sekarang Pak Gunawan datang dengan jas rapi dan mobil hitam, membawa angka yang bagi sebagian dokter bisa mengubah hidup.

Tetapi bagi Rangga, semua suara itu terdengar sama.

Mereka tidak pernah bertanya ia ingin menjadi dokter seperti apa.

Mereka hanya menghitung ia bisa dipakai untuk apa.

Pak Gunawan membuka map tipis.

"Kontrak tiga tahun. Fasilitas apartemen. Mobil dinas. Tim operasi pribadi. Anda menjadi wajah pusat trauma dan bedah unggulan kami. Semua operasi besar yang masuk RS Mentari Global akan berada di bawah nama Anda."

"Syaratnya?"

Senyum Pak Gunawan tidak berubah.

"Eksklusif. Anda tidak lagi menerima jadwal rutin di RSUD Harapan Bangsa, kecuali dengan izin kami. Semua publikasi medis dan aktivitas media dikelola humas kami. Untuk obat-obatan yang Anda kembangkan, kami berharap ada prioritas distribusi dan branding bersama."

Rangga hampir tertawa mendengar maksud yang disampaikan setelanjang itu.

"Jadi mereka memperlakukan saya sebagai etalase."

Pak Gunawan menutup map setengah.

"Anda terlalu kasar menyebutnya begitu. Ini manajemen karier."

"Termasuk target nol kegagalan operasi?"

Untuk pertama kalinya senyum Pak Gunawan retak sedikit.

"Rumah sakit swasta hidup dari kepercayaan. Kami perlu standar."

"Standar atau ilusi?"

Udara di gang itu mendadak dingin.

Pak Gunawan tidak lagi tersenyum penuh.

"Dokter Rangga, Anda masih muda. Idealisme itu mahal, tetapi uang bisa membuat idealisme punya panggung lebih besar."

"Panggung saya ruang operasi."

"Ruang operasi yang mana? Yang lampunya sering rusak? Yang alatnya menunggu anggaran? Yang membuat orang sekelas Anda harus tinggal di kos seperti ini?"

Ia melirik gang sempit, pintu kos tua, kabel listrik yang bergelantungan.

"Saya tidak merendahkan Anda. Saya menawarkan jalan keluar."

Rangga diam beberapa detik.

Ia memang tinggal di kos kecil.

Satu ranjang sempit. Lemari plastik. Meja lipat yang kalau dibuka membuat pintu kamar sulit ditutup. Di rekeningnya ada miliaran rupiah, tetapi ia belum sempat memindahkan hidupnya sendiri keluar dari ruang sesempit itu.

Namun rumah sakit bukan soal kenyamanan pribadinya.

"Pak Gunawan," kata Rangga akhirnya, "malam ini pasien Anda selamat karena saya datang. Tapi pasien itu hampir mati karena rumah sakit Anda lebih dulu menghitung nilai pasien daripada jarak terdekat."

Wajah Pak Gunawan mengeras.

"Itu kesalahan teknis."

"Itu budaya."

Kata itu jatuh seperti batu.

"Budaya yang membuat ambulans mengejar pasien mahal. Budaya yang membuat dokter menghalangi dokter lain ikut mendampingi. Budaya yang membuat pernyataan resmi keluar lebih cepat daripada permintaan maaf jujur kepada keluarga pasien."

Pak Gunawan menatapnya lama.

"Rp 2 miliar per tahun."

Angka itu keluar tiba-tiba.

Seperti kartu terakhir yang dilempar ke meja.

Di gang kecil itu, bahkan suara jangkrik terasa berhenti.

"Dua miliar," ulang Pak Gunawan. "Saya bisa tambahkan bonus operasi, rumah, kendaraan, dan ruang penelitian. Angka ini tidak akan Anda dapatkan dari RSUD Harapan Bangsa."

Rangga memasukkan tangan ke saku jaket.

"Benar."

Mata Pak Gunawan bergerak.

"Kalau begitu?"

"Saya tetap menolak."

Wajah Pak Gunawan akhirnya benar-benar berubah.

"Anda menolak Rp 2 miliar?"

"Saya menolak dijual."

"Tidak ada yang menjual Anda."

"Kontrak Anda meminta saya meninggalkan rumah sakit yang membentuk saya, menutup mulut saya, meminjam wajah saya, dan memberi prioritas bisnis pada obat yang harusnya menyelamatkan pasien. Kalau itu bukan menjual diri, namanya apa?"

Pak Gunawan menutup map dengan keras.

"Suatu hari Anda akan menyesal. Dunia medis tidak berjalan dengan rasa terima kasih."

"Mungkin." Rangga mengangguk pelan. "Tapi malam ini saya masih bisa tidur tanpa merasa menjadi papan iklan."

Beberapa detik, tidak ada suara.

Lalu Pak Gunawan masuk ke mobil.

Sebelum pintu tertutup, ia berkata dingin, "Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali."

Rangga menjawab tenang, "Pasien datang setiap hari."

Pintu mobil tertutup.

Mobil hitam itu pergi meninggalkan gang, pelan tetapi penuh amarah.

Rangga naik ke kamarnya.

Ia belum duduk ketika ponselnya bergetar.

Pak Bambang.

Rangga menatap layar, lalu tiba-tiba tersenyum kecil.

Ia mengangkat.

"Pak."

"Kamu sudah pulang? Hendra bilang Gunawan mengikutimu ke kos. Dia mau apa?"

Nada Pak Bambang seperti orang yang siap membawa brankar untuk memukul orang.

"Menawarkan pekerjaan."

"Berapa?"

"Satu miliar."

Di seberang, hening.

"Setahun?"

"Iya, Pak."

"Lalu?"

Rangga duduk di tepi ranjang.

"Lalu naik jadi dua miliar."

Hening kali ini lebih panjang.

"Rangga."

"Iya, Pak."

"Kamu..." Suara Pak Bambang mendadak berat. "Kamu sudah mempertimbangkan baik-baik?"

Rangga menahan tawa.

"Saya sempat berpikir, Pak. Dua miliar itu banyak."

Pak Bambang tidak langsung bicara.

Saat ia bicara lagi, suaranya lebih rendah.

"Kalau kamu pergi, saya tidak akan menahan. Saya cuma... ya, saya cuma kecewa sedikit. Tapi saya mengerti."

Dada Rangga menghangat.

Ia tidak tega memperpanjang terlalu lama.

"Saya sudah tolak, Pak."

Di ujung sana, ada jeda satu detik.

Lalu suara Pak Bambang meledak.

"Bocah kurang ajar! Jadi dari tadi kamu mengerjai saya?"

Rangga tertawa pelan untuk pertama kalinya sejak malam itu.

"Saya cuma ingin tahu suara Pak Bambang kalau kehilangan murid."

"Kamu mau saya cabut telingamu besok?"

"Besok saya jaga poli."

"Bagus. Saya datang ke poli."

Namun setelah omelan itu, Pak Bambang ikut tertawa.

Tawa tua yang lega.

"Dua miliar kamu tolak, ya?"

"Iya."

"Gila kamu."

"Mungkin."

"Tapi gila yang benar."

Setelah telepon ditutup, Pak Bambang langsung menelepon Pak Hendra.

Di kantor direktur yang lampunya masih menyala, dua orang tua yang sepanjang malam menahan marah akhirnya duduk saling pandang.

"Dia tolak," kata Pak Bambang.

Pak Hendra menghela napas panjang.

"Saya tahu dia akan tolak. Tapi mendengarnya tetap membuat saya malu."

"Malu kenapa?"

"Anak itu menolak dua miliar untuk tetap di rumah sakit kita. Sementara kita masih membiarkan dia tinggal di kos sempit."

Pak Bambang terdiam.

Pak Hendra membuka buku catatan kecil.

"Kita tidak bisa membayar dia seperti rumah sakit swasta itu. Tapi kita bisa menunjukkan bahwa RSUD Harapan Bangsa tidak hanya mengambil kesetiaannya."

"Maksudmu?"

"Rumah. Kendaraan. Fasilitas layak. Bukan untuk membeli dia. Untuk menghormati dia."

Pak Bambang mengangguk pelan.

"Cari yang dekat rumah sakit. Jangan terlalu mewah sampai dia menolak."

"Kalau terlalu biasa, saya yang malu."

"Kalau terlalu mewah, dia kabur."

Keduanya saling pandang, lalu tertawa kecil seperti dua orang yang baru menyadari betapa sulitnya memberi hadiah kepada orang yang tidak mengejar hadiah.

Di kos kecilnya, Rangga tidak tahu pembicaraan itu.

Ia melepas jaket, mencuci muka, lalu berdiri di tengah kamar.

Ranjang sempit.

Lemari plastik.

Meja lipat tua.

Tas kerja di sudut.

Kalau kursi ditarik, pintu kamar tidak bisa terbuka penuh.

Di rekeningnya ada miliaran rupiah.

Di luar sana, seseorang baru saja menawarkan Rp 2 miliar setahun.

Rangga melihat sekeliling, lalu tertawa pelan sendirian.

Hidupnya memang aneh.

Ia mematikan lampu.

Dalam gelap, kos kecil itu kembali sunyi.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia akhirnya tidur.

1
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
berani pak Bambang ngerjain bosnya 😂😂😂
Setiawan
yoga biasa manggil abang rangga🤭🤭
Thewie
knp dokter Alya menghilang digantikan dokter Laras thor. padahal dokter Alya dr awal baik ke dokter rangga
Wega Luna
kehidupan seorang dokter yg tak pernah dilihat oleh mata netizen,dokter bukan tuhan ,💪
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
gile dari awal baca dibikin tegang terus euy 😂😂😂
Lesmana
waahhh smua yg sakit leukimia nanti jd gak perlu transplatasi sum2 tulang belakang lg👏👏👏
Setiawan
30 milyar gak ada apa2nya dibanding hadiah dr sistem tiap rangga ngobatin pasien cuyyy😄😄😄 malah lbh bermanfaat , tdk ada tekanan moral.. dr sistem dpt hadiah besar plus ilmu hebat😄😄
akang Solo
dengan ada pasien, bisa cair minimal 150 jt😄😄
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Keren👍👍👍
Ita Xiaomi
👍👍👍
Ita Xiaomi
Rangga tdk pergi ke rumah sakit mewah. Dia membangun rumah sakit tempat awal dia datang 👍👍👍.
Ita Xiaomi
Iseng😁
Ita Xiaomi
Kode tuh 😁
Adinda Rahmadinah
keren
JJ opa
cerita yang bagus dan pastas menjadi top one👍👍
irena
luar biasa karyamu thor.. saya suka...
Ria Gazali Dapson
,ngeri juga yaa, d rs d dunia kesehatan, ternyata kumpulan orang² jahat, dunia penuh tipu muslihat
Ria Gazali Dapson
se x ,gaji dari sistem ja 200jeti , 1 M , buat setaun , ya kalah
Amiera Syaqilla
hello author🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!