Nara Ayuningtyas pernah mati setelah kehilangan segalanya.
Suaminya meninggal. Kedua putranya menyusul. Dan putri yang ia besarkan dengan segenap cinta justru mengaku bahwa semua itu berawal dari satu kejahatan: pertukaran bayi pada malam persalinan.
Ketika Nara membuka mata, ia kembali ke tahun 2006—tepat saat air ketubannya pecah di sebuah klinik bersalin yang gelap karena mati listrik. Di balik pintu, bidan yang ia percaya sedang menyiapkan dua gelang bayi yang sama.
Kali ini, Nara tidak akan terlambat.
Dengan bantuan seorang perawat yang ketakutan, ia berhasil memastikan Kirana, putri kandungnya, kembali ke pelukannya. Namun Siska, adik iparnya, tetap percaya pertukaran itu berhasil. Ia menunggu hari ketika “putrinya” tumbuh besar, kaya, dan bisa direbut kembali.
Sementara Nara membangun Cahaya Nara dari sudut dapur rumah cicilan hingga menembus panggung elite Jakarta, Raka Wiratama—suaminya yang dingin dan taat aturan—memilih berdiri di sisinya, lagi dan lagi. Bukan dengan menyalahgunakan seragamnya, melainkan dengan membuat kebenaran mendapat jalan.
Delapan belas tahun kemudian, Siska datang ke sebuah gala di Menteng membawa gelang lama dan hasil DNA.
Di depan kamera, ia menunjuk Kirana dan berteriak, “Dia putriku!”
Namun sebelum Nara menjawab, Maya—gadis yang selama ini dibesarkan Siska—melangkah ke atas panggung sambil membawa rekaman yang dapat menghancurkan kebohongan seluruh keluarga.
Malam itu, siapa yang sebenarnya akan kehilangan anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3
Tanda Bulan Sabit
Tidak ada bulan sabit.
Nara menyentuh sekali lagi kulit di bawah ketiak kanan bayi yang diletakkan Bu Rini di sisinya. Bersih. Tidak ada lengkung kecokelatan yang baru saja ia lihat dan minta Vania foto.
Ini bukan Kirana.
Bayi itu menggeliat lemah, lalu menangis. Suaranya lebih berat daripada tangisan Kirana. Gelang di kakinya memang bertuliskan Nara Ayuningtyas, tetapi tulisan itu tampak lebih tebal.
Bu Rini berdiri di ujung ranjang.
“Kenapa dibuka lagi? Bayinya bisa kedinginan.”
Nara menutup tubuh bayi dengan kain. Bukan karena percaya kepada Bu Rini, melainkan karena anak ini juga baru lahir. Anak ini tidak bersalah.
Maya.
Putri Siska.
Dalam kehidupan pertama, kebencian keluarga tumbuh di sekitar dua anak perempuan ini seperti pagar berduri. Orang-orang dewasa membuat pilihan, lalu anak-anak yang terluka dipaksa membayar.
Nara tidak akan mengulanginya.
Ia akan mengambil Kirana kembali.
Namun ia juga tidak akan membiarkan Maya menjadi korban berikutnya.
“Vania,” panggil Nara.
Perawat itu masih sibuk menangani perdarahannya. “Saya di sini.”
“Lihat bayi ini.”
“Sebentar, Mbak.”
“Sekarang.”
Ada sesuatu dalam suara Nara yang membuat Vania mengangkat kepala.
Bu Rini lebih dulu mendekat. “Jangan mengganggu petugas. Kondisimu yang harus diperhatikan.”
Nara merasakan pusing berat. Cahaya lampu darurat pecah menjadi dua di matanya. Ia tahu Bu Rini menunggu dirinya kehilangan kesadaran.
Karena itu ia berkata lebih keras, “Saya merasa darahnya semakin banyak.”
Vania langsung memeriksa.
“Bidan Rini, saya butuh obat dan kain tambahan.”
Bu Rini menatapnya. “Ambil sendiri.”
“Saya tidak bisa meninggalkan pasien.”
“Kalau begitu, saya yang ambil.”
Bu Rini tidak punya pilihan tanpa terlihat menolak penanganan. Ia melirik bayi di sisi Nara, lalu berjalan keluar.
Begitu pintu tertutup, Nara meraih lengan Vania.
“Kunci pintunya.”
“Apa?”
“Tolong.”
“Mbak Nara, kita tidak boleh mengunci ruang bersalin.”
“Kalau begitu tahan pintunya. Dengarkan saya dulu.”
Vania menatap darah pada kain, wajah pucat Nara, lalu bayi yang menangis di ranjang.
“Apa yang terjadi?”
Nara membuka kain bayi itu dan menunjukkan bagian bawah ketiaknya.
“Ini bukan anak saya.”
Vania membeku.
“Mbak, jangan bicara begitu.”
“Lihat foto di ponselmu.”
“Tanda lahir tidak selalu...”
“Lihat fotonya, Vania.”
Perawat muda itu mengeluarkan ponsel dari saku. Tangannya licin oleh keringat. Ia membuka gambar terakhir.
Di layar kecil, gelang bertuliskan Nara Ayuningtyas terlihat melingkar di kaki Kirana. Di bawah ketiak kanannya ada tanda berbentuk bulan sabit.
Vania membandingkannya dengan bayi di ranjang.
Wajahnya kehilangan warna.
“Mungkin tadi saya salah memotret bagian...”
“Kamu mengambil tiga foto.”
Vania membuka foto berikutnya.
Tanda yang sama.
Foto ketiga memperlihatkan waktu lahir dan tulisan tangannya pada gelang.
Vania mengangkat kaki bayi di sisi Nara. Ia menatap gelang yang sekarang terpasang di sana, lalu menggosok permukaannya dengan ibu jari.
“Ini bukan tulisan saya.”
Nara menutup mata sesaat. Ketakutan di dadanya berubah menjadi sesuatu yang dingin dan tajam.
“Anak saya ada di ruang sebelah.”
“Tidak mungkin.”
“Bu Rini membawa Kirana keluar saat lampu mati. Setelah bayi Siska lahir, dia membawa bayi ini kepada saya.”
Vania mundur satu langkah. “Bidan Rini tidak mungkin...”
“Kamu melihat gelang yang dia ambil dari saku.”
“Saya tidak melihat jelas.”
“Kamu melihat sakunya.”
Vania terdiam.
Dari lorong terdengar suara langkah cepat, lalu pintu ruang sebelah dibuka. Mereka tidak punya banyak waktu.
“Bawa saya ke sana,” kata Nara.
“Mbak bahkan tidak boleh berdiri.”
“Kalau begitu bawa bayinya.”
“Saya tidak bisa memindahkan bayi hanya berdasarkan tanda lahir.”
“Berdasarkan fotomu. Berdasarkan gelang yang bukan tulisanmu. Berdasarkan Bu Rini yang mematikan lampu dan membawa anak saya keluar.”
Vania menutup mulut dengan punggung tangan.
“Kalau kita salah?”
“Kita periksa dulu. Jangan pindahkan siapa pun sebelum kamu melihat bayi di sana.”
Tangisan dari kamar sebelah terdengar lagi. Lebih nyaring. Nara langsung mengenalinya.
Kirana.
Tubuhnya bergerak hendak bangun, tetapi rasa nyeri dan pusing menjatuhkannya kembali.
“Tolong,” katanya. “Saya tidak bisa mengejarnya. Hanya kamu yang bisa.”
Vania menatap pintu.
“Dan Maya?” tanyanya.
Nara melihat bayi di sampingnya. Maya membuka mulut kecil, menangis dengan mata terpejam. Tidak ada dosa di wajah itu. Tidak ada niat jahat. Hanya seorang bayi yang lapar dan kedinginan.
“Kita kembalikan dia kepada ibunya,” jawab Nara. “Dengan selamat.”
Kalimat itu membuat Vania mengambil keputusan.
Ia membungkus Maya lebih rapat, lalu mendorong ranjang bayi ke dekat Nara.
“Saya akan melihat dulu. Jangan bergerak.”
“Bawa ponselmu.”
“Ya.”
Vania keluar.
Setiap detik setelah itu menyayat saraf Nara. Ia memaksa matanya tetap terbuka. Ia menghitung suara hujan, detak jam, dan napas Maya.
Satu.
Dua.
Tiga.
Pintu terbuka kembali.
Vania masuk sambil menggendong seorang bayi lain.
“Ya Allah,” bisiknya.
Di bawah ketiak kanan bayi itu ada bulan sabit.
Kirana.
Nara mengulurkan kedua tangan, tetapi Vania tidak langsung menyerahkannya.
“Gelangnya bertuliskan Siska Maharani,” kata Vania. “Waktunya juga tidak cocok. Bayi Siska lahir setelah Kirana.”
“Bu Rini menukar keduanya.”
“Di meja sebelah ada dua bungkus gelang yang sudah dibuka.” Napas Vania terdengar cepat. “Saya juga menemukan ini terselip di bawah kain Kirana.”
Ia menunjukkan satu gelang lepas bertuliskan nama Nara. Bentuknya sama, tetapi nomor catatan sementaranya berbeda dari yang terlihat di foto.
Bu Rini tidak sekadar memindahkan gelang resmi. Ia telah menyiapkan pengganti agar catatan tampak cocok setelah pertukaran.
“Simpan,” kata Nara.
“Kita harus melapor.”
“Kepada siapa sekarang? Pak Hadi tidak ada. Telepon mati. Bu Rini menguasai dua ruang ini.”
“Tapi ini kejahatan.”
“Dan kalau dia kembali sebelum kedua bayi aman, dia bisa memindahkan mereka lagi.”
Vania memandang pintu, lalu pada dua bayi.
“Apa yang harus kita lakukan?”
“Kembalikan posisi mereka. Pastikan gelang resmi sesuai ibu dan waktu lahir. Simpan satu gelang yang salah. Jangan hapus fotonya.”
“Kalau Bidan Rini tahu?”
“Dia tidak boleh tahu kita sadar.”
Vania menggeleng, ketakutan. “Saya bisa kehilangan pekerjaan.”
“Kalau kita diam, dua anak bisa kehilangan seluruh hidup mereka.”
Kalimat itu menggantung di antara mereka.
Vania menunduk pada Kirana. Bayi itu bergerak pelan dalam kain, wajahnya memerah karena menangis.
“Kita lakukan,” katanya akhirnya.
Ia melepas gelang palsu dari kaki Kirana, lalu mengambil gelang resmi yang tadi dipindahkan ke Maya. Tulisan pada gelang itu sama dengan foto di ponselnya. Setelah memeriksa nomor dan waktu, Vania memasangnya kembali pada Kirana.
Untuk Maya, ia mengambil gelang resmi yang berada di meja ruang sebelah, mencocokkan nama Siska dan waktu lahir, lalu memasangnya di kaki bayi itu. Gelang palsu bertuliskan nama Nara ia bungkus dengan kasa bersih dan selipkan ke bagian dalam saku seragamnya.
“Sekarang foto lagi,” kata Nara.
Vania mengambil gambar gelang Kirana, tanda bulan sabit, dan jam dinding. Lalu ia memotret gelang Maya sebelum membawa bayi itu kembali.
“Siska bagaimana?”
“Masih lemah. Matanya tertutup. Ada petugas kebersihan di lorong, tetapi dia tidak masuk.”
“Letakkan Maya di ranjang ibunya. Jangan tinggalkan dia di meja.”
Vania mengangguk.
Sebelum keluar, ia menempatkan Kirana di dada Nara.
Hangat tubuh mungil itu meresap melalui kain tipis. Nara menahan napas. Untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan, ia memeluk putrinya pada malam kelahirannya dengan mengetahui pasti siapa anak itu.
Air matanya jatuh ke rambut halus Kirana.
“Ibu di sini,” bisiknya. “Kali ini Ibu di sini.”
Kirana tidak mungkin memahami kata-katanya. Bayi itu hanya mencari kehangatan, pipinya menempel pada kulit Nara, jari-jarinya membuka lalu menggenggam udara.
Namun bagi Nara, gerakan kecil itu terasa seperti jawaban.
Vania kembali beberapa menit kemudian dengan wajah tegang.
“Maya sudah bersama Siska. Gelangnya benar.”
“Ada yang melihat?”
“Tidak.”
“Ponselmu?”
“Masih pada saya.”
“Gelang palsu?”
Vania menyentuh saku bagian dalam. “Di sini.”
“Catat urutannya.”
“Sekarang?”
“Sebelum kita lupa menitnya. Tulis Kirana lahir pukul nol nol sepuluh, gelang pertama dipasang olehmu, lalu Bu Rini membawanya saat lampu mati. Tulis bayi kedua lahir setelah itu.”
Vania mengambil kertas kecil dari buku catatan obat. Ujung penanya bergetar ketika menulis.
“Saya tidak tahu apakah catatan ini akan dipercaya.”
“Saya juga tidak tahu.” Nara menatap gelang palsu yang tersembunyi di balik kain kasa. “Karena itu jangan mengubah apa pun. Jangan menambah hal yang tidak kamu lihat.”
“Kalau saya ditanya kenapa tidak langsung melapor?”
“Katakan yang sebenarnya. Dua ibu baru melahirkan, telepon tidak berfungsi, dan orang yang kamu curigai memegang kendali klinik.”
Vania melipat catatan itu bersama gelang palsu. “Ini belum cukup untuk menuduh siapa pun.”
“Belum,” kata Nara. “Tapi cukup untuk membuat kita tidak lupa.”
“Kita akan membutuhkannya suatu hari.”
Nara mengembuskan napas yang sejak tadi tertahan.
Mereka berhasil.
Belum menang. Belum aman. Namun Kirana ada di dadanya dan Maya kembali kepada ibu kandungnya. Pertukaran itu telah diperbaiki sebelum dokumen kelahiran dibuat.
Di luar, suara Bu Rini terdengar dari ujung lorong.
“Vania?”
Perawat itu tersentak.
Nara segera menarik kain menutupi tubuh Kirana dan memejamkan mata, berpura-pura terlalu lelah untuk sadar.
Vania menyimpan ponselnya, merapikan meja, lalu kembali memeriksa infus seolah tidak terjadi apa-apa.
Langkah Bu Rini semakin dekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Gagang pintu mulai bergerak.