NovelToon NovelToon
IMAMKU,SANG BAD BOY

IMAMKU,SANG BAD BOY

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Nikahmuda
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Nayara Zayna Az-Zahra putri kiai besar yang anggun, taat agama, dan berprestasi cemerlang hidup di balik pagar syariat yang ketat. Dunianya yang tenang seketika terusik oleh kehadiran Revan Al-Gibran: bad boy kampus, playboy legendaris, dan mantan kekasih dari lebih dari sepuluh wanita.
Berawal dari sebuah taruhan egois untuk menjadikannya kekasih yang kelima belas, Revan justru terjebak dalam pesona ketulusan dan benteng pertahanan Nayara. Di tengah teror cemburu dari sang ketua geng penindas kampus, pertarungan antara dunia bebas sang pemuda dan dunia suci sang bidadari pesantren dimulai.
" Bisakah seorang bad boy berandalan meluluhkan hati wanita yang dijaga ketat, atau justru keyakinan dan cinta sejatilah yang mengubah segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suami Siaga, Pesta Gender Reveal, dan Bunga-Bunga Bahagia

Pagi hari di kawasan perumahan Graha Famili, Surabaya Barat, disambut oleh langit biru bersih tanpa awan. Angin segar berembus perlahan, menggoyangkan dedaunan pohon ketapang kencana yang tertanam rapi di halaman depan rumah dua lantai bergaya modern milik Revan Al-Gibran dan Nayara Zayna Az-Zahra.

Di dalam rumah, lantai dua yang tadinya merupakan ruang kerja tambahan kini telah bertransformasi total. Bau cat kayu segar berpadu aroma minyak telon dan keharuman bunga melati memenuhi ruangan berukuran lima kali enam meter tersebut. Wallpaper dinding bernuansa warna krem netral dengan gambar awan dan bintang-bintang kecil menghiasi setiap sudut. Sebuah keranjang bayi (baby cot) dari kayu jati pilihan, lemari pakaian mungil, serta deretan boneka beruang berukuran sedang sudah tertata rapi di sana.

Nayara melangkah masuk ke dalam kamar calon buah hatinya dengan mengusap lembut perutnya yang kini sudah membuncah besar usia kandungannya telah menginjak usia tujuh bulan penuh. Ia mengenakan gamis longgar berwarna dusty pink yang dipadu jilbab warna senada, memancarkan aura keibuan (maternity glow) yang sangat anggun dan menawan.

"Masih ada yang kurang nggak ya, sayang?" gumam Nayara pelan seraya mengusap lembut perutnya, seolah sedang berdiskusi dengan janin yang aktif bergerak di dalam kandungannya.

Tiba-tiba, dari arah pintu kamar, suara langkah kaki tegas yang sangat dikenalinya mendekat. Revan muncul dengan apron hitam masih melingkar di pinggangnya, melapisi kemeja linen putih gulung lengan. Di kedua tangannya terdapat nampan berisi segelas susu khusus ibu hamil hangat dan semangkuk potongan buah naga serta alpukat segar.

"Setiap lima menit sekali kamu cek kamar ini, Zawjati," ujar Revan dengan suara baritonnya yang berat namun dipenuhi kelembutan. Pria itu meletakkan nampan di atas meja kecil di samping sofa kamar bayi, lalu melangkah mendekati istrinya.

Revan berlutut di hadapan Nayara yang sedang berdiri. Tanpa canggung, pria tegap itu menempelkan telinganya langsung ke perut buncit sang istri, memejamkan mata sambil merasakan gerakan-gerakan kecil dari dalam sana.

"Alhamdulillah... jagoan atau putri kecil Ayah hari ini aktif banget ya," bisik Revan penuh haru, mengecup lembut perut Nayara melalui lapisan kain gamisnya.

Nayara tertawa renyah, meremas pelan rambut tebal suaminya yang rapi. "Kamu ini, Mas, setiap jam pasti begini. Nanti kalau anaknya sudah lahir, kamu bakalan nggak mau berangkat ke kantor bisnis sama sekali deh kayaknya."

Revan berdiri tegak kembali, mengecup kening Nayara dengan penuh kasih sayang. "Biarkan saja. Bisnis bisa didelegasikan ke direktur operasional, tapi momen melihat kamu mengandung dan membesarkan anak kita nggak akan pernah bisa terulang kembali."

Mendengar ucapan manis nan tulus itu, dada Nayara bergemuruh oleh rasa syukur yang mendalam. Revan benar-benar membuktikan janjinya untuk menjadi suami dan calon ayah terbaik di dunia.

Sore harinya, halaman belakang rumah mereka yang luas dan asri telah dihiasi oleh dekorasi taman yang sangat cantik. Balon-balon berwarna pastel dalam perpaduan warna merah muda dan biru muda tertata anggun memutari panggung kecil di dekat kolam renang. Hari ini adalah acara tasyakuran tujuh bulanan kehamilan Nayara sekaligus kejutan gender reveal (pengumuman jenis kelamin bayi) yang disiapkan khusus oleh teman-teman terdekat mereka.

Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Kiai Ahmad Zayna di hadapan keluarga besar Al-Gibran dan para santri senior yang diundang secara khusus dari pesantren. Suasana terasa sangat khidmat, tenang, dan dipenuhi berkah Ilahi.

Namun, begitu sesi doa utama selesai dan memasuki acara santai, suasana berubah menjadi sangat meriah dan penuh gelak tawa ketika Alya dan Saka mengambil alih microphone sebagai pembawa acara dadakan.

"Tes, tes! Satu dua tiga!" suara Alya menggelegar riang melalui pengeras suara. Gadis itu mengenakan dress pastel anggun, berdiri di depan kotak hadiah raksasa berwarna putih dengan pita emas besar di tengah halaman.

"Selamat sore semuanya! Selamat datang di acara pengumuman calon anggota baru keluarga Al-Gibran!" lanjut Alya semangat, disambut tepuk tangan riuh dari para tamu undangan.

Saka yang berdiri di samping Alya dengan kemeja kasualnya ikut menimpali sambil menyeringai lebar. "Oke, sebelum kita buka kotak misteri ini, gue mau tanya dulu sama calon ayah paling bucin se-Surabaya Raya. Revan! Sini lo maju ke depan!"

Revan, yang sedang memegang cangkir teh hangat di dekat meja katering, menggelengkan kepala melihat tingkah dua sahabatnya. Namun, dengan senyuman lebar, ia menggandeng tangan Nayara secara perlahan dan membimbing istrinya melangkah menuju tengah halaman.

"Nah, Revan dan Dokter Cantik Nayara sudah berdiri di samping kotak misteri," ujar Saka seraya mendekatkan mik ke arah Revan. "Van, jujur sama kita semua... Lo tebak anak lo laki-laki apa perempuan? Dan kalau tebakan lo salah, siap nggak traktir kita makan sepuasnya seminggu penuh?"

Revan terkekeh renyah, memandang wajah Nayara yang merona merah karena malu dipusatkan perhatiannya oleh banyak orang.

"Mau laki-laki atau perempuan, bagi saya dan Nayara sama saja. Yang paling penting anak kami lahir selamat, sehat, sempurna, dan menjadi anak yang saleh atau salehah," jawab Revan mantap dan tegas, memancarkan kedewasaan seorang kepala keluarga.

"Waaaaah! Jawaban diplomatis khas Pak Direktur!" sorak Alya menggoda. "Tapi tetep ya, kita semua udah nggak sabar nak lihat isinya! Oke, hitungan ketiga, Revan dan Nayara tarik pita emas di atas kotak ini!"

Seluruh tamu undangan, termasuk Kiai Ahmad dan sang istri yang duduk di barisan depan, ikut tersenyum antusias. Kamera ponsel dari para tamu mulai terangkat untuk mengabadikan momen berharga tersebut.

"Satu... Dua... Tiga!" teriak seluruh tamu serempak.

Sreeeekk...!

Revan dan Nayara menarik pita emas itu secara bersamaan. Pintu atas kotak kayu raksasa terbuka lebar, dan dalam hitungan detik...

Poooppp...!

Puluhan balon helium berwarna biru muda bercampur pita-pita berkilauan terbang membumbung tinggi ke udara, disertai semburan confetti biru yang menghujani area taman belakang!

"LAKI-LAKI! JAGOAN KECIL!" teriak Saka heboh sambil meloncat girang.

"Yeay! Punya keponakan ganteng!" puji Alya bertepuk tangan heboh.

Nayara menutupi mulutnya dengan kedua tangan, air mata bahagianya menetes perlahan melihat balon-balon biru membuani langit sore. Ia menoleh ke arah suaminya.

Revan tampak terpaku sejenak, manik matanya bergetar menatap balon-balon biru yang terbang melayang. Gelombang keharuan yang luar biasa besar menghantam dadanya. Pria itu langsung menarik Nayara ke dalam pelukannya, merengkuh tubuh istrinya erat-erat seraya mengecup kening Nayara berulang kali diiringi sorak-sorai dan tepuk tangan meriah dari seluruh keluarga dan sahabat.

"Terima kasih, Zawjati... Terima kasih banyak," bisik Revan parau di telinga istrinya, tak mampu lagi membendung air mata bahagia yang menetes di pipinya.

Malam harinya, setelah seluruh tamu undangan dan keluarga besar pamit pulang, suasana rumah di Graha Famili kembali hening dan tenang. Suara gerimis tipis yang mengguyur Kota Surabaya memberikan sensasi dingin yang menyejukkan.

Di balkon kamar lantai dua yang menghadap ke arah taman belakang, Revan dan Nayara duduk bersanding di atas kursi rotan empuk. Sebuah selimut tebal melingkupi tubuh mereka berdua dari terpaan angin malam.

Nayara menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada bidang Revan, menikmati detak jantung suaminya yang teratur. Tangan Revan melingkar di pinggang istrinya, tak henti-hentinya mengusap lembut perut buncit Nayara yang dilapisi selimut.

"Mas..." panggil Nayara lirih, memecah keheningan malam yang syahdu.

"Iya, sayang?" jawab Revan lembut, mencium puncak kepala istrinya.

"Kamu... sudah menyiapkan nama untuk jagoan kecil kita?" tanya Nayara mendongak, menatap manik mata hitam pekat milik suaminya.

Revan tersenyum tipis, pandangannya menerawang menatap rintik hujan di luar balkon.

"Sudah, Nay. Aku sudah memikirkannya sejak pertama kali kamu kasih tahu kalau kamu hamil di kamar mandi waktu itu," tutur Revan penuh makna.

"Siapa namanya, Mas?" tanya Nayara penasaran dengan binar mata berkaca-kaca.

Revan menggenggam jemari tangan Nayara, membawanya ke atas perut buncit sang istri, lalu berbisik dengan nada suara yang sangat dalam dan hangat.

"Altharion Zayyan Al-Gibran," ucap Revan perlahan. "Anak laki-laki yang diberkahi kekuatan, membawa cahaya kebaikan dari keluargamu, dan menjadi pembaru yang menyatukan kedamaian di dalam keluarga Al-Gibran."

Nayara mengulang nama itu di dalam hatinya. Senyuman paling indah terukir di wajah cantiknya. Nama yang begitu gagah, sarat akan doa, dan dipenuhi oleh harapan besar dari seorang ayah yang telah melewati masa lalu yang kelam hingga menemukan jalan terang di bawah rida Allah.

"Nama yang sangat indah, Mas... Aku sangat menyukainya," bisik Nayara tulus.

Revan mengecup bibir istrinya sekilas penuh kelembutan, lalu mendekatkan wajahnya ke perut Nayara, berbisik pelan pada janin mereka yang sedang bergerak halus.

"Tidur yang nyenyak ya, Altharion sayang... Ayah dan Bunda akan selalu ada di sini, menjaga dan menunggumu lahir ke dunia."

Di bawah naungan malam yang dingin dan doa-doa suci yang membumbung ke langit, Revan dan Nayara menyadari bahwa babak baru kehidupan mereka akan segera tiba. Sebuah babak yang tidak hanya berisi tentang kisah cinta dua insan manusia, melainkan tentang dedikasi penuh untuk merawat dan membesarkan sebuah amanah terindah dari Sang Maha Pencipta.

1
Alex
sepertinya ini rumah tangga impian setiap org Thor, termasuk aku juga, semua berjalan seimbang atas ridho Allah, apapun slalu ada Allah, insyaallah semua akan berakhir baik,
bawangnya kebanyakan thor
Alex
bahagianya nembus sampai sini thor🥰
Alex
sweet bgtss
Bu Dewi
seru kak ceritanya,, lanjut donkzzz😍😍😍😍🙏
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!