Keisya bangun kembali ke masa lalu–tepat sebelum kecelakaan yang mengubah segalanya. Dulu, rasa iri dan provokasi membuatnya menyiksa Keyla yang merupakan anak kandung keluarga Jordan yang tlah lama hilang, hingga akhirnya ia mati dibunuh oleh keluarga yang membesarkannya itu..
Kini, ia kembali ke usia 15 tahun dengan ingatan penuh penyesalan, dan setiap ia mengingat masa dimana ia menyiksa Keyla, kepalanya akan terasa sangat sakit, oleh sebab itu, sekarang ia hanya punya satu tekad yaitu melindungi Keyla dari bahaya, menebus kesalahan, dan membiarkan gadis itu mendapatkan tempatnya yang sesungguhnya di keluarga Jordan sebelum dirinya pergi dari keluarga itu agar bisa menjalani hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Mika dengan cepat langsung berdiri, "Lo mimisan?! Bentar! Gue beli tisu!"
Ia langsung berlari meninggalkan meja.
Karena panik, Keisya hampir mendongakkan kepala. Namun dua tangan lebih dulu menahan gerakannya.
Riel memegang bahu kanannya.
"Jangan dongak."
Di sisi lain, Arsen ikut menopang kepalanya.
"Nanti darahnya malah masuk ke belakang."
Keisya hanya menurut. Beberapa saat kemudian Mikha kembali sambil membawa sebungkus tisu. Dengan napas masih tersengal, ia segera menyobek bungkusnya lalu menyerahkan beberapa lembar kepada Keisya.
Setelah darah berhenti mengalir, Keisya malah tertawa kecil. Ia melihat wajah mereka satu per satu.
"Santai aja..."
Ia tersenyum lebar.
"Tegang banget muka kalian."
Tawa kecilnya justru membuat mereka semakin tidak tenang.
Selesai membersihkan darah di tangannya, Keisya menoleh kepada Mikha.
"Makasih ya buat tisunya, Kak Mikha."
Mikha hanya mengangguk kaku. Ini pertama kalinya ia melihat orang mimisan tepat di depan matanya sendiri.
Belum sempat suasana kembali normal, Riel tiba-tiba menggenggam pergelangan tangan Keisya.
"Lo sakit?"
Tatapan datarnya kali ini benar-benar dipenuhi kekhawatiran.
"Mau ke rumah sakit?"
Keisya menggeleng pelan.
"Aduh.... Udah gue bilang santai aja, ini bukan apa-apa.. emang sering kok begini."
Kalimat terakhir itu justru membuat suasana kembali sunyi. Tidak ada satu pun yang berbicara.
Keisya baru sadar kalau ucapannya malah membuat mereka semakin khawatir. Ia menggaruk tengkuk dengan canggung.
"Kayaknya udah malam."
Ia berdiri sambil membawa semua kantong makanannya.
"Gue pulang dulu ya."
Senyumnya tetap hangat.
"Makasih udah ngizinin gue gabung."
"Maaf juga... gara-gara gue suasananya jadi nggak enak."
Baru selangkah ia berjalan, sebuah tangan kembali menahan pergelangan kirinya.
Itu adalah Arsen, remaja yang lebih tua dua tahun darinya itu berdiri dan berjalan di depannya.
"Gue anter pulang."
Keisya terdiam, ia hanya mampu menatap wajah Arsen dan menyesali bahwa pria setampan dan sebaik ini malah mati karna menjadi korban rencana Livia.
Yang lebih menyakitkan lagi, Keyla sampai akhir hayatnya percaya bahwa semua tragedi itu adalah ulah Keisya.
***
Arsen menundukkan pandangannya ketika merasakan tepukan pelan di lengannya. Keisya tersenyum seperti biasa, senyum yang selalu berhasil menyembunyikan banyak hal di balik keceriaannya.
"Kak... lo harus hidup lama, ya."
Nathan mengangkat wajahnya.
"Harus panjang umur sampai jadi kakek-nenek. Udah deh, gue bisa pulang sendiri kok."
Keisya mengangkat kantong-kantong jajanan yang masih menggantung di kedua tangannya.
"Bye semuanya!"
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan melangkah pergi. Punggung kecil itu perlahan menjauh, tetap membawa seluruh jajanan yang bahkan belum sempat ia habiskan.
Empat remaja yang ditinggalkan hanya mampu memandang kepergiannya dalam diam.
Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.
***
Beberapa hari kemudian...
Keisya menepuk kedua telapak tangannya dengan wajah puas.
Sebuah kardus besar akhirnya berhasil ia tutup rapat menggunakan lakban bening. Di sudut kamar masih berjajar beberapa kardus lain yang menunggu untuk dibereskan. Sebagian besar lemari sudah kosong, rak buku mulai lengang, bahkan beberapa pajangan kecil yang biasanya memenuhi meja belajar pun telah menghilang.
Kamar itu perlahan kehilangan jejak penghuninya.
"No-Nona Keisya... apa yang sedang Anda lakukan?"
Suara yang sangat dikenalnya membuat Keisya spontan menoleh, matanya langsung berbinar.
"Kak Jenaa!"
Tanpa berpikir panjang ia berlari kecil menghampiri Jena, lalu memeluk wanita itu erat-erat.
Pelukan itu begitu mendadak hingga Jena hampir kehilangan keseimbangan. Untung saja refleksnya masih cukup cepat untuk menopang tubuh Keisya.
Sesaat kemudian kedua sudut bibir Jena ikut terangkat. Selama tujuh hari terakhir, ternyata bukan hanya Keisya yang merasa rindu.
"Selamat datang kembali di rumah, Kak!" Seru Keisya riang sambil masih memeluknya erat.
Jena mengusap pelan kepala remaja itu. Di dalam hatinya muncul rasa bersalah yang semakin besar.
Ia pergi begitu saja tanpa sempat berpamitan. Ia bahkan tidak tahu bagaimana Keisya menjalani hari-hari sendirian di rumah sebesar ini.
Perlahan Keisya melepaskan pelukannya. Ia kembali berdiri di samping Jena sambil menyatukan kedua tangannya di belakang punggung.
Tatapan Jena mulai berkeliling ke seluruh kamar.
Beberapa sudut sudah tampak kosong karna barang-barang pribadi Keisya sebagian besar telah masuk ke dalam kardus.
"Apa yang sedang Anda lakukan?"
Jena mengulang pertanyaannya.
Keisya hanya tersenyum kecil.
"Bukannya lusa pengumuman kalau Keyla resmi menjadi anggota keluarga Jordan?"
Ia kembali melihat tumpukan kardus itu.
"Makanya aku lagi berkemas."
"Sekadar berjaga-jaga buat kemungkinan terburuk."
Jena membeku. Tatapan tidak percaya memenuhi wajahnya.
'Nona Keisya benar-benar sudah berubah.. mengapa ia tidak merengek seperti dulu ya..'
pasti lelah kmu
kok dikit amat siiihhhhh
satu dua tiga scroll abisssssa nunggu bab selanjutnya 😭😭😭😭
up banyak banyak yaa thorrrrr
semangattttttttttttt 💪💪💪💪
kesiannya keysia 😭😭
biar saja keluarga mu semua menyesal karena sudah mengabaikan mu keu