Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.
Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.
Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DZ~25
Ares dan Andi berjalan cepat menuju koperasi depan untuk membelikan pesanan Dafa dan Zizan.
Sepanjang perjalanan, Ares terus menggerutu kesal mengingat kejadian melelahkan yang baru saja mereka alami di tempat pembuangan sampah.
"Awas aja ya, si Dafa sama Zizan. Kalau nanti sore mereka belanja dan nggak beliin kita oleh-oleh, bakal aku kunci di luar kamar!" gerutu Ares dengan wajah ditekuk.
"Iya, tuh! Tega bener pokoknya. Kita yang mandi keringat di tempat sampah, mereka yang enak-enakan nunggu hasil," timpal Andi tidak kalah sewot.
Langkah keduanya mendadak terhenti di depan koperasi. Mereka terpaksa bergeser ke samping demi memberi jalan kepada Zia dan Rara yang baru pulang dari pasar. Kedua gadis itu tampak repot membawa beberapa keranjang berisi penuh barang belanjaan.
Setelah Zia dan Rara lewat, barulah Ares dan Andi melangkah masuk ke dalam koperasi.
Kondisi koperasi siang itu cukup sepi. Saat mereka hendak memesan minuman dingin, Zia tiba-tiba muncul dari arah samping. Kedua tangannya sarat akan kresek berisi jajanan yang rupanya titipan dari Rani, si penjaga koperasi.
"Ran, ini belanjaannya ya," ucap Zia sambil menyerahkan kantong plastik tersebut.
"Wah, terima kasih banyak ya, Mbak," jawab Rani sigap menerima barang belanjaan itu.
"Sama-sama. Aku langsung ke belakang ya. Mau cicil racik-racik bumbu buat acara lembur nanti malam," timpal Zia.
"Oh, iya Mbak. Silahkan," sahut Rani.
Sementara itu, Ares dan Andi sudah sukses mendaratkan tubuh mereka di ubin sudut pintu masuk. Rasa haus, pelayanan lama, ubin koperasi yang dingin terasa seperti surga dunia bagi tubuh mereka yang rontok.
Ares menyandarkan punggungnya ke tembok sambil memejamkan mata, sementara Andi memilih posisi ekstrem telentang pasrah di atas lantai seperti korban kecelakaan.
Zia pun segera berbalik badan hendak menuju dapur. Namun, baru satu langkah berputar, matanya menangkap dua objek asing di bawah pelupuk matanya.
"Astaghfirullah!" pekik Zia spontan, hampir saja melompati tubuh Andi. Ia benar-benar kaget baru menyadari ada dua manusia yang sedang terkapar di balik pintu masuk.
"Ih, kalian berdua ngapain telentang di situ?!"Ares membuka satu matanya yang sayu, menatap Zia dengan pandangan dramatis.
"Tuh, mau beli minum, dari tadi kita berdua nungguin di sini, malahan ditinggal ngobrol. Nggak tahu apa kalau kami berdua udah di ambang sakaratul maut karena dehidrasi?"
Andi yang masih setia memeluk ubin dingin menyahut tanpa membuka mata, "Iya... Zia sama Rani nggak peka banget sih. Ini ubin udah kayak kasur saking lemasnya kita.
"Rani yang mendengar sindiran itu langsung tersentak. Matanya melotot kaget melihat cup plastik yang sudah ia tata di meja sejak tadi masih utuh, sementara pelanggannya sudah berubah wujud jadi pajangan lantai. Rani merengek panik, "Eh! Astaghfirullah, maaf-maaf! Bentar ya, aku buatin sekarang!"
Zia tertawa renyah melihat kelakuan ajaib dua cowok itu. Ia menggeleng-gelengkan kepala lalu mulai melangkahkan kakinya untuk pergi ke dapur.
Namun, tepat saat kaki Zia terangkat, sebuah bayangan besar mendadak memotong jalannya. Udara di sekitar koperasi seolah membeku dalam satu detik. Berdiri tepat di hadapan Zia, sesosok pria tinggi dan gagah.
Zia mendongak kaget, namun sedetik kemudian, pandangannya langsung jatuh menghantam lantai. Seluruh tubuhnya menegang hebat setelah menyadari siapa sosok tersebut.
Charis. Pria itu berdiri di sana dengan wajah tenang yang justru terasa sangat mengintimidasi. Kemeja koko putih andalannya tampak rapi, mempertegas aura dingin dan tegas yang selalu menguar dari dirinya. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, ada badai yang sedang disembunyikan di balik sepasang mata tajam itu.
Ares yang sedang bersandar di tembok langsung membelalakkan mata. Mulutnya terkunci rapat. Otaknya yang tadi lemot karena dehidrasi mendadak bekerja cepat. Ia tahu betul cerita dari Zizan bahwa hubungan Charis dan Zia sedang berada di titik paling hancur.
Berbanding terbalik dengan Ares, Andi yang buta sejarah dan tidak tahu apa-apa justru melihat ini sebagai kesempatan emas. Dengan wajah tanpa dosa, Andi menyenggol sikut Ares berkali-kali. Ia menaik-turunkan alisnya, bersiap melontarkan ledekan cengengesan untuk menggoda Charis dan Zia.
"Heh, Res, liat deh, ada—"
Bukk!
Belum sempat Andi menyelesaikan kalimat laknatnya, tangan kasar Ares sudah melesat maju, membekap mulut Andi dengan kekuatan penuh layaknya seorang pembunuh bayaran profesional.
"Mmph?! Mmphmm?!"
Andi terbelalak seolah matanya mau keluar. Nafasnya mendadak tersumbat total karena Ares membekapnya tanpa menyisakan celah sedikit pun untuk oksigen masuk.
Andi mulai panik. Ia memukul-mukul lengan Ares dengan brutal, memberi kode bahwa ia hampir mati konyol karena kehabisan napas di lantai koperasi.
Setelah perjuangan hidup dan mati yang panjang, Ares akhirnya melepaskan bekapannya dengan wajah tidak berdosa.
Andi langsung menghirup udara rakus seperti lumba-lumba muncul ke permukaan. "Gila kamu ya! Mau bukin aku mati sekarang?!" bisiknya dengan suara tertahan yang serak.
"Udah, diam aja! Pura-pura amnesia, pura-pura nggak liat!" ancam Ares super ketat, menautkan jari telunjuk di depan bibirnya sendiri dengan mata melotot memberi peringatan keras.
Di sudut lain, suasana berubah menjadi begitu pekat dan menyesakkan. Jantung Charis berdenyut kencang, menghantam rongga dadanya dengan rasa penyesalan yang teramat sangat. Menatap gadis di hadapannya, lidah Charis mendadak kaku seolah terkunci oleh ribuan kata yang tak sempat terucap. Ada begitu banyak hal yang ingin ia jelaskan, namun egonya dan keadaan telah membuat segalanya terlambat.
Zia terpaku di tempatnya selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Ia berusaha keras menormalkan guncangan hebat di dadanya. Dadanya sesak, jantungnya berdegup menyakitkan, memicu kembali memori-memori pahit yang belum sempat sembuh.
Sambil meremas ujung bajunya sendiri untuk menahan getaran di tangannya, Zia memaksakan diri melangkah maju. Ia melewati sisi tubuh Charis tanpa sedikit pun menoleh. "Maaf, permisi," ucap Zia. Suaranya terdengar begitu dingin, datar, dan ketus, sebuah pertahanan diri dari luka yang sudah tidak bisa ia samarkan lagi dari suaranya.
"Zi," panggil Charis. Suaranya rendah, parau, dan sarat akan permohonan. Ia membalikkan badan dengan cepat begitu posisi Zia melewati bahunya, berusaha menahan kepergian gadis itu meskipun tangannya tak berani menyentuh.
Namun, panggilan itu layaknya angin lalu. Zia sama sekali tidak menghiraukannya. Ia mempercepat langkah kakinya menuju pintu belakang dengan perasaan yang terasa seperti diiris sembilu. Sakit sekali, sampai-sampai bernapas pun terasa berat bagi Zia saat ini.
Beruntung, Rani sama sekali tidak menyadari ketegangan mencekam di dekatnya. Ia terlalu sibuk mengaduk es marimas dan menata sedotan untuk pesanan Ares dan Andi.
Berbeda dengan Rani, Ares dan Andi justru menyimak setiap detik drama bisu itu dengan tingkat kewaspadaan level tinggi. Dengan gerakan super kaku, mereka berdua berpura-pura sangat sibuk memilih-milih jajan di rak depan mereka.
Ares pura-pura membaca komposisi wafer dengan sangat serius, sementara Andi sibuk membolak-balik bungkus keripik seolah-olah itu adalah dokumen negara yang penting, padahal mata mereka berdua sesekali melirik tajam ke arah Zia dan Charis.
Charis tetap berdiri membeku di sana. Ia hanya bisa menatap punggung Zia yang perlahan menghilang di balik pintu dapur dengan tatapan iba, kosong, dan dipenuhi rasa bersalah yang teramat dalam.
Ares dan Andi segera bangkit berdiri dan bergegas pergi setelah pesanan mereka selesai. Di dalam hati Ares yang mendadak sangat berisik, ia sudah merapalkan segala doa keselamatan. Benaknya sibuk berteriak, "Aduh, gawat! Kenapa suasana koperasi ini mendadak berubah mencekam seperti ini? Hawanya rasanya dingin menusuk tulang, tapi wajah Mas Charis keliatan tegang banget seperti mengajak tawuran. Tolong, Rani, cepat aduk minumannya itu! Aku nggak mau mati muda karena terjebak disini."
Begitu Rani meletakkan dua gelas plastik minuman dingin di atas meja etalase dengan senyum tanpa dosa, Ares dan Andi kompak bergerak secepat kilat. Seolah-olah sudah diberi komando melalui telepati, mereka langsung berdiri dari atas ubin.
"Ini uangnya, Ran. Kembaliannya ambil saja buat modal nikah!" seru Andi asal ceplos sambil melempar selembar uang pas ke atas meja.
"Eh? Kan ini uangnya pas kok—"
Belum sempat Rani menyelesaikan kalimatnya, Ares sudah menyambar dua cup es tersebut dengan gerakan secepat ninja. Tangan kirinya memegang minuman, sementara tangan kanannya sudah sukses mencengkeram kerah baju Andi bagian belakang, bersiap menyeret sahabatnya itu keluar dari zona bahaya.
"Duluan ya, Ran! Ada panggilan alam, darurat sekali, sudah di ujung!" pamit Ares dengan suara yang sengaja dikeras-keraskan untuk menutupi kecanggungan di dalam ruangan.
Keduanya langsung bergegas pergi setengah berlari, meninggalkan area koperasi tanpa menoleh ke belakang lagi. Mereka benar-benar tidak ingin berlama-lama menjadi penonton bayangan atau lebih buruk lagi mendadak dijadikan sasaran pelampiasan emosi oleh Charis yang masih berdiri mematung seperti tugu.
Setelah berhasil keluar dari pagar koperasi dan berjalan sekitar sepuluh meter, barulah Ares melepaskan cengkeramannya pada baju Andi. Keduanya kompak mengembuskan napas lega yang panjang, seolah-olah baru saja lolos dari kejaran maut. "Gila, Res! Tadi itu Charis dan Zia kenapa, ya? Aura mencekamnya terasa banget, sampai-sampai bulu kudukku merinding, sumpah!" bisik Andi sambil menyedot minumannya dengan rakus.
Ares langsung menjitak pelan kepala Andi menggunakan gelas minumannya yang dingin. "Makanya, punya mata itu gunakan buat peka, jangan cuma dipakai buat cari diskon jajanan doang! Untung tadi mulutmu langsung kubekap. Kalau kamu sampai ceplas-ceplos ngejek mereka tadi, aku jamin, kita berdua pulang tinggal nama!"
"Ya, lagipula aku kan nggak tahu riwayat ceritanya, Res!" bela Andi sambil mengusap-ngusap kepalanya. Meskipun demikian, sedetik kemudian ia ikut mempercepat langkah kakinya, berjaga-jaga siapa tahu Charis mendadak muncul dari belakang mereka membawa aura dingin yang mistis.
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca