NovelToon NovelToon
AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 35 stempel mendiang ayah mertua

Suara sirene mobil pemadam kebakaran akhirnya memecah keheningan malam. Dua unit mobil berhenti di depan rumah kontrakan Vania. Petugas segera menurunkan selang dan mulai menyemprotkan air ke arah kobaran api yang telah melahap sebagian besar bangunan.

Warga sekitar hanya bisa menyaksikan dari kejauhan.

Sebagian membantu mengamankan jalan, sebagian lagi mencoba menenangkan Vania yang sejak tadi berdiri mematung dengan air mata terus mengalir.

"Itu rumah yang baru saja aku kontrak..."

bisiknya lirih.

"Hampir semua barangku ada di dalam."

Nadia memeluk sahabatnya erat.

"Yang paling penting kita semua selamat."

ucapnya pelan.

"Barang masih bisa dicari lagi."

Vania mengangguk, tetapi tetap tidak mampu menyembunyikan kesedihannya.

Tidak jauh dari sana, Revano berbicara dengan salah seorang petugas pemadam.

"Pak, apa penyebabnya sudah diketahui?"

Petugas menggeleng.

"Belum bisa dipastikan."

"Kami harus memastikan api benar-benar padam lebih dulu."

"Setelah itu biasanya pihak berwenang akan memeriksa lokasi untuk mengetahui penyebab kebakaran."

Revano mengangguk pelan, Ia tidak bertanya lebih jauh.

Sekitar satu jam kemudian, kobaran api akhirnya berhasil dipadamkan. Rumah itu masih berdiri, tetapi sebagian atap telah runtuh dan beberapa ruangan hangus terbakar. Bau asap memenuhi udara, sementara air bekas pemadaman menggenangi lantai.

Seorang petugas menghampiri mereka.

"Alhamdulillah tidak ada korban jiwa."

ucapnya.

"Namun untuk sementara rumah ini tidak boleh dimasuki sampai kondisinya dinyatakan aman."

Vania hanya mengangguk lesu.

Nadia yang sejak tadi terlihat pucat tiba-tiba memegang kepalanya.

Pandangan matanya mulai berkunang-kunang.

Revano yang berdiri di sampingnya langsung menyadari perubahan itu.

"Nadia."

ucapnya cemas.

"Kamu kenapa?"

"Aku..."

Nadia menarik napas pelan.

"Mungkin terlalu banyak menghirup asap."

Tubuhnya sedikit oleng.

Refleks, Revano segera menopangnya sebelum ia terjatuh.

"Jangan dipaksakan."

katanya tegas.

"Kita ke rumah sakit."

"Aku tidak apa-apa."

geleng Nadia pelan.

"Tidak."

potong Revano.

"Kamu sedang hamil."

"Sedikit saja ada risiko, aku tidak mau mengambil kesempatan."

Vania yang mendengar itu langsung ikut panik.

"Iya, Nad."

"Kita periksa saja supaya tenang."

Melihat kedua orang itu begitu mengkhawatirkannya, Nadia akhirnya mengangguk pelan.

Di dalam mobil, suasana kembali sunyi.

Revano menggenggam setir dengan erat, sesekali melirik Nadia melalui kaca spion.

Sementara Nadia memandangi jendela dengan pikiran yang kacau.

Dalam beberapa hari terakhir, hidupnya seperti tidak pernah berhenti dihantam musibah.

Ia mengusap perlahan perutnya.

"Hanya kamu..."

bisiknya dalam hati.

"Kamu harus tetap kuat."

Mobil terus melaju menembus jalanan malam menuju rumah sakit.

Di belakang mereka, lampu-lampu kendaraan petugas masih berkedip di depan rumah kontrakan yang hangus. Penyebab kebakaran belum diketahui. Bagi Nadia, malam itu hanyalah sebuah musibah yang datang tanpa diduga. Namun jauh di dalam benaknya, ia berharap semua yang terjadi tidak membuat orang-orang yang ia sayangi kehilangan lebih banyak lagi.

Bianca menutup pintu kamar dengan pelan. Langkahnya terasa berat, seolah seluruh tenaganya terkuras habis setelah hari yang penuh kekacauan. Ia langsung menuju kamar mandi tanpa sempat mengganti pakaian. Begitu air hangat membasahi tubuhnya, Bianca memejamkan mata. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya bercampur dengan guyuran air, mengalir tanpa mampu ia bendung lagi.

Hari itu terasa begitu panjang. Tamparan Anna, tatapan penuh kebencian dari keluarga Mahendra, dan pengakuan Adrian bahwa teh untuk ayahnya ternyata dibuat olehnya terus berputar di kepalanya. Bianca merasa dirinya ikut terseret dalam sesuatu yang bahkan tidak benar-benar ia pahami.

Beberapa menit kemudian, Bianca keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat. Rambutnya masih basah, langkahnya sedikit limbung karena tubuhnya benar-benar kelelahan. Kehamilannya membuat emosinya semakin rapuh. Ia bahkan tidak memiliki tenaga untuk mengeringkan rambutnya dengan benar.

Saat itulah pintu kamar kembali terbuka.

Adrian masuk dengan wajah kusut. Begitu melihat Bianca duduk diam di tepi tempat tidur sambil memegangi kepalanya, langkahnya langsung terhenti.

"Kamu baru pulang?"

tanyanya pelan.

Bianca hanya mengangguk kecil tanpa menatapnya.

"Aku mencarimu sejak sore."

lanjut Adrian.

"Tapi tidak ada di kamar."

Bianca tersenyum hambar.

"Aku ke taman belakang."

"Aku cuma ingin sendiri."

Suasana kembali hening.

Adrian memperhatikan wajah Bianca yang terlihat jauh lebih lelah daripada biasanya. Pipi bekas tamparan Anna masih tampak sedikit kemerahan. Mata Bianca sembap karena terlalu banyak menangis.

Pria itu perlahan mendekat.

"Kamu belum makan?"

Bianca menggeleng.

"Aku tidak lapar."

jawabnya lirih.

Bukan karena benar-benar tidak lapar, melainkan karena dadanya dipenuhi begitu banyak beban hingga ia kehilangan selera makan.

Adrian menghela napas panjang.

Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata itu seolah tertahan di tenggorokannya. Untuk pertama kalinya, ia melihat Bianca bukan sebagai wanita yang selalu ceria dan penuh semangat, melainkan seseorang yang mulai kehilangan cahaya di matanya.

Bianca menundukkan wajah.

"Adrian..."

bisiknya pelan.

"Aku lelah."

"Bukan cuma badan."

"Tapi juga hati."

Kalimat itu menggantung di antara mereka, sementara malam terus berjalan dalam keheningan yang terasa semakin berat.

Ruang IGD mulai kembali tenang setelah dokter memastikan kondisi Nadia dan janin di dalam kandungannya baik. Nadia hanya mengalami kelelahan dan sempat menghirup asap, sehingga dokter menyarankannya beristirahat selama beberapa jam sebelum diperbolehkan pulang.

Di ranjang sebelah, Vania akhirnya tertidur karena kelelahan. Wajahnya masih terlihat pucat. Sesekali alisnya berkerut, seolah bayangan kobaran api itu masih menghantuinya bahkan dalam tidurnya.

Di luar ruang perawatan, Revano masih berdiri bersama dua orang polisi yang datang untuk meminta keterangan awal mengenai kebakaran tersebut. Mereka menanyakan kronologi, siapa saja yang berada di dalam rumah, hingga kapan terakhir kali kondisi rumah masih normal.

Revano menjawab satu per satu dengan tenang.

"saat itu saya baru datang dan melihat rumah sudah terbakar sebagian."

ucapnya.

"Saya tidak melihat api berasal dari mana."

Salah seorang polisi mencatat seluruh keterangannya.

"Untuk penyebab pastinya kami belum bisa memastikan."

jelasnya.

"Nanti akan dilakukan pemeriksaan di lokasi."

Revano hanya mengangguk.

Di dalam ruangan, Nadia perlahan membuka matanya. Pandangannya langsung tertuju pada Vania yang masih tertidur pulas.

Ia mengembuskan napas panjang.

Melihat sahabatnya seperti itu membuat hatinya semakin tidak tenang.

Perlahan Nadia turun dari ranjang, mengenakan jaketnya, lalu mengambil tas yang berada di samping tempat tidur. Ia melangkah keluar dengan hati-hati agar tidak membangunkan Vania.

Lorong rumah sakit masih tampak lengang.

Nadia melihat Revano masih berbicara dengan polisi di ujung koridor.

Ia memilih melewati pintu samping tanpa mengganggu mereka.

Tidak lama kemudian, sebuah taksi berhenti di depan rumah kontrakan yang kini telah dipasangi garis pembatas oleh petugas.

Udara masih dipenuhi aroma hangus.

Sebagian atap rumah telah runtuh, sementara kaca-kaca jendela berserakan di halaman.

Nadia berdiri cukup lama di depan rumah itu.

Dadanya terasa sesak.

Baru kemarin ia dan Vania masih tertawa bersama di ruang tamu.

Kini rumah itu berubah menjadi bangunan yang dipenuhi bekas kebakaran.

Ia memperhatikan setiap sudut dari balik garis pembatas.

Beberapa petugas masih berada di lokasi, mendokumentasikan kondisi rumah dan memeriksa bagian-bagian yang paling parah terbakar.

Nadia tidak berusaha memasuki area yang sudah dipasangi pembatas. Ia hanya memandang dari kejauhan, mencoba mengingat kembali keadaan rumah sebelum mereka tidur malam itu.

Di benaknya muncul begitu banyak pertanyaan.

Apakah ini murni kecelakaan?

Ataukah memang ada penyebab lain?

Namun Nadia segera menggeleng pelan.

Ia mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak menarik kesimpulan sebelum penyelidikan selesai.

Tak lama kemudian, seorang petugas melihat Nadia berdiri di depan rumah.

"Ibu penghuni rumah ini?"

tanyanya.

Nadia mengangguk.

"Iya."

Petugas menatapnya dengan sopan.

"Kami masih melakukan olah tempat kejadian."

"Untuk sementara kami belum bisa menyimpulkan penyebab kebakaran."

"Kami mohon bersabar sampai pemeriksaan selesai."

Nadia mengangguk pelan.

"Baik, Pak."

Ia kembali memandang rumah yang hangus itu dengan tatapan kosong.

Entah mengapa, sejak kematian mantan ayah mertuanya hingga kebakaran yang menimpa rumah Vania, hidupnya terasa seperti terus dikejar oleh musibah yang datang silih berganti.

Di belakangnya, suara langkah kaki mulai mendekat dengan tergesa.

"Nadia!"

Suara Revano terdengar dipenuhi kekhawatiran.

Pria itu akhirnya menemukan Nadia setelah kembali ke kamar rumah sakit dan mendapati ranjangnya kosong.

Revano mengembuskan napas lega sekaligus kesal.

"Kamu membuatku panik."

ucapnya sambil menatap Nadia.

"Kalau mau ke mana-mana, setidaknya beri tahu aku."

Nadia hanya tersenyum tipis.

"Maaf."

"Aku hanya ingin melihatnya sekali lagi."

Revano menatap rumah yang telah hangus itu, lalu kembali menatap Nadia.

"Apa pun penyebabnya..."

ucapnya pelan.

"...biarkan petugas yang mencari jawabannya."

"Kamu sekarang harus menjaga dirimu dan bayi kita... maksudku, bayimu."

Ia segera mengoreksi ucapannya dengan wajah sedikit canggung.

Untuk sesaat, di tengah suasana yang begitu berat, Nadia tidak bisa menahan senyum kecil yang akhirnya muncul di wajahnya.

Revano berdiri di samping Nadia sambil memandangi rumah kontrakan yang kini tinggal menyisakan dinding-dinding hitam penuh jelaga. Cahaya lampu kendaraan petugas memantul di genangan air bekas pemadaman, menciptakan suasana yang begitu sunyi sekaligus mencekam.

"Ada satu hal yang baru kuingat."

ucap Revano pelan.

Nadia menoleh.

"Saat aku datang ke rumah tadi malam..."

Revano mengernyit, berusaha mengingat dengan jelas.

"...aku sempat berpapasan dengan sebuah mobil sedan berwarna biru yang keluar dari arah gang."

"Waktu itu aku tidak terlalu memikirkannya karena kupikir hanya warga sekitar."

"Tapi sekarang, entah kenapa aku jadi teringat lagi."

Nadia membeku.

Sedan biru.

Jantungnya tiba-tiba berdegup lebih cepat.

Di dalam benaknya muncul bayangan sebuah mobil yang sangat dikenalnya.

"Itu..."

gumamnya lirih.

"...mobil Adrian."

Ia masih mengingat dengan jelas warna dan bentuk kendaraan yang selama bertahun-tahun digunakan mantan suaminya. Meski begitu, Nadia segera menepis pikirannya sendiri. Ia sadar, mengingat sebuah mobil bukan berarti mengetahui siapa pengemudinya atau apa tujuannya berada di sana.

"Aku belum bisa memastikan apa pun."

bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri.

Revano mengangguk.

"Aku juga tidak melihat siapa pengemudinya."

"Hanya mobilnya yang kebetulan lewat."

"Tidak berarti ada hubungannya dengan kebakaran."

Namun, informasi itu tetap membuat kegelisahan di hati Nadia semakin besar.

Tatapan Nadia kembali tertuju ke arah rumah yang sudah padam.

Entah dorongan apa yang muncul di dalam dirinya, ia tiba-tiba melangkah mendekati garis pembatas.

"Nadia."

panggil Revano.

"Mau ke mana?"

"Ada sesuatu yang harus kulihat."

Sebelum Revano sempat mencegah, Nadia sudah meminta izin kepada petugas untuk mengambil barang pribadinya yang berada di kamar, didampingi petugas karena kondisi bangunan masih berisiko. Setelah dipastikan jalur menuju kamarnya cukup aman untuk dimasuki sebentar, ia melangkah perlahan melewati puing-puing yang masih berbau asap.

Baru beberapa langkah masuk, Nadia mulai batuk.

Asap dan aroma kayu terbakar masih memenuhi udara.

Ia menutup hidungnya dengan lengan baju, lalu terus berjalan menuju kamar yang sebagian dindingnya telah menghitam.

Jantungnya berdegup semakin cepat.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Nadia membuka laci meja di samping tempat tidurnya.

Laci itu masih bisa ditarik meski bagian luarnya dipenuhi debu dan jelaga.

Begitu terbuka...

Matanya langsung membelalak.

Sebuah kotak kayu kecil masih berada di tempatnya.

Dengan napas tertahan, Nadia membuka kotak tersebut.

Di dalamnya tersimpan sebuah stempel pribadi milik almarhum mantan ayah mertuanya.

Stempel itu dahulu diberikan kepadanya sebagai hadiah ketika ia resmi diangkat sebagai pengacara.

Almarhum pernah berkata sambil tersenyum bangga,

"Mulai hari ini, kamu bukan hanya menandatangani berkas. Kamu membawa nama baik profesimu. Simpan stempel ini baik-baik sebagai pengingat bahwa kejujuran adalah kekuatan terbesar seorang pengacara."

Kenangan itu seketika membuat mata Nadia dipenuhi air mata.

Ia mengusap perlahan kotak kayu tersebut, seolah kembali mendengar suara pria yang telah menganggapnya seperti anak sendiri.

Di luar rumah, Revano melihat Nadia keluar sambil memeluk kotak kecil itu erat di dadanya.

"Apa itu?"

tanyanya pelan.

Nadia menatap kotak tersebut beberapa saat sebelum menjawab dengan suara bergetar.

"Hadiah terakhir dari Ayah..."

"Dan ternyata... selama ini masih tersimpan di sini."

Ia memejamkan mata.

Di tengah rumah yang hampir habis dilalap api, benda kecil itu justru selamat. Bagi Nadia, bukan nilainya yang berharga, melainkan kenangan dan kepercayaan yang pernah diberikan oleh seseorang yang kini telah tiada.

1
Mundri Astuti
emang ...ga ngotak si klo mo berkhianat, kan semuanya kena imbasnya, tu perempuan pilihan kamu
Mundri Astuti
ulah Bianca lagi ke nya, klo Iyya bener" ni org, masih aja ga da kapok"nya, oi ni tuh semua juga krn kamu
Mundri Astuti
si Adrian yg diingetnya calon anaknya yg sama Bianca, yg sama Nadia ga sama sekali, padahal sama" darah dagingnya juga, coba anak yg dikandung Bianca meninggal kira" gimana tu org yak🤔
Mundri Astuti
diiihhh bisa bisanya ngomong gitu, habis menghancurkan semuanya...karmanya yg kejam thor buat tu duo dajjal
Mundri Astuti
bagusnya pasangan duo laknat ini masuk bui, dan dpt sangsi sosial, selama ini Nadia yg kena getahnya padahal mereka yg berbuat
Mundri Astuti
woahhhh pasangan duo laknat ternyata...sama" mencapai ambisinya sendiri
Mundri Astuti
semoga lekas terungkap, dan karma tu duo dajjal
Mundri Astuti
hati" Anna, kamu dah bicara terbuka, semestinya di simpan dulu sendiri sambil cari bukti..klo dah begini bakalan panik pelakunya dan mencoba menghilangkan brg bukti
Mundri Astuti
Adrian romannya yg nyelakain ayahnya sendiri...fix double kill ni mah karmanya thor
Mundri Astuti
mudah"an Nadia jadi sama Revano yg lebih segalanya, biar tau rasa si Adrian ...beuhhh Nadia tuh lebih berharga dari selingkuhannya
Mundri Astuti
Thor kasih Adrian dan selingkuhannya karna yg double kill, masih ga ada penyesalan dan ga ngerasa bersalah banget dia, padahal dia tau Nadia juga mengandung anaknya, dan posisinya sendiri krn pengkhianatan ya...

coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!