NovelToon NovelToon
Takdir Di Ujung Janji

Takdir Di Ujung Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: NonaAns

Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.

***

Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 : Jadi Mak Comblang

"Halo, Letnan Panca. Gimana kabarnya?" Sapa Aira saat ia menyempatkan diri mengunjungi Panca dan membawakan beberapa makanan dan air mineral untuk rekan Baskara itu.

Panca mendengus. Ia menatap Aira dan barang bawaannya.

"Banyak sekali makanannya."

"Saya tahu kamu pasti nggak akan kenyang dengan makanan porsi rumah sakit. Jadi, saya sengaja bawakan beberapa roti dan karena belum boleh minum kafein, saya bawain jus buah saja."

"Terima kasih, Dok."

Panca mengedarkan tatapannya ke arah lain. Seperti sedang mencari sesuatu atau ... seseorang.

"Cari siapa?"

"Eh, nggak ada."

Aira tersenyum simpul, lalu menarik kursi ke samping brangkar.

"Letnan Baskara sudah pulang?"

Aira menatap Panca, lalu menggeleng.

"Oh. Latihannya belum selesai," gumam Panca dengan wajah lesu.

"Kamu sedih ya, nggak jadi berangkat tugas? Bukannya harusnya senang?" tanya Aira.

Panca menoleh. Ia tersenyum simpul. Wajahnya tampak lesu. Gurat-gurat kekecewaannya masih tampak jelas di wajah Panca.

"Setelah semua yang sudah saya lalui sampai detik ini? Tidak, Dokter. Saya tidak akan pernah senang. Bagi kami, tugas adalah sebuah kehormatan, kepercayaan, dan pembuktian integritas. Saya sudah berjuang bahkan sebelum saya sampai di medan tugas, tapi semua perjuangan saya sia-sia karena ini."

Panca menunjukkan gips di tangan dan kakinya. Ia tersenyum miris.

"Ada orang lain yang menggantikan saya dan itu menjadi beban tersendiri tidak hanya bagi saya, tapi juga tim. Mereka akan beradaptasi lagi dengan orang baru. Banyak penyesuaian yang harus dilakukan. Bagi orang awam, mungkin mereka pikir kami terlalu berlebihan, tapi bagi kami dicoret dari daftar satuan tugas bisa berarti kehilangan kehormatan dan kepercayaan meski bukan seratus persen karena kesalahan saya. Tidak. Saya tidak akan pernah senang hanya duduk di sini dan melihat teman-teman saya berjuang di luar sana."

Hening.

Aira terdiam. Pikirannya pun langsung tertuju pada Baskara. Tak lama, pintu ruang perawatan terbuka, menampilkan Sinta yang membawa sebuah kantong makanan berisi es cokelat dan burger.

"Sinta?"

"Eh, lo ada di sini juga?"

Aira menatap heran. Saat Sinta meletakkan kantong makanan itu di atas pangkuan Panca.

"Wah, dapat makanan rumah sakit," ucap Panca seraya tersenyum.

Sinta menatap kesal seraya bersedekap.

"Oh, ternyata diam-diam perhatian juga sama Letnan Panca," gumam Aira seraya menahan senyumnya.

"Nggak usah mulai gosip ya, Lo! Kalau nggak gara-gara suami lo, juga gue nggak bakal kesini!" ucap Sinta kesal.

Aira terkekeh.

"Memang Letnan Baskara bilang apa, Dok?" tanya Panca cepat.

"Dia menitipkan Anda ke saya karena di sini katanya Anda sendirian nggak ada siapa-siapa. Jauh dari keluarga. Katanya, nggak percaya kalau anggota yang merawat. Puas, kan? Bikin kerjaan saya nambah!" ujar Sinta kesal.

Aira menahan senyumnya. Sementara, Panca menatap Sinta dengan sorot yang sulit diartikan. Ia mengembuskan napas panjang.

"Anda nggak harus merawat saya, kok. Lagipula saya sudah biasa sendiri. Ngomong-ngomong, terima kasih atas makanannya," ucap Panca lirih.

Ekspresi Panca yang berubah itu membuat Sinta merasa sedikit bersalah.

"Maaf ... saya nggak maksud ...."

Panca tersenyum. Ia meletakkan kantong makanan itu di atas nakas, lalu membenarkan posisi duduknya.

Panca tersenyum, lalu diam menatap ponsel di tangannya.

"Saya balik ke IGD ya, Letnan Panca. Dokter Sinta sudah selesai tugas, jadi bisa nemenin sebentar di sini. Saya permisi."

Sinta menatap tajam pada Aira yang melangkah pergi begitu saja.

"Ra! Kok gitu?"

"Bye!" ucap Aira sebelum menutup pintu ruang perawatan Panca.

Hening.

Sinta diam ditempatnya begitu pula dengan Panca yang sibuk bermain gim dengan ponsel pintarnya.

"Kalau Anda mau pulang, silakan," ucap Panca tanpa menatap Sinta.

Sinta berdehem. Ia menatap Panca sepintas, lalu membuang napas kasar.

"Diusir pun saya tetap akan di sini," ucap Sinta tak acuh.

Panca menoleh. Alis kanannya terangkat dan menatap bingung.

"Kenapa?" tanya Panca singkat.

Sinta menaikkan ponsel pintarnya. "Saya harus mengirimkan perkembangan kondisi kesehatan Anda pada Letnan Baskara."

Panca diam. Tak lama ia mendengus, lalu tertawa.

"Sial!" ucap Panca kesal.

Sinta tersenyum miring. "Anggap saja sial karena harus berhadapan dengan saya selama tiga hari kedepan."

Panca menoleh. "Bukan itu maksud saya."

Sinta mengerutkan dahi.

"Sepertinya, pandangan Anda tentang saya masih buruk karena kejadian di IGD tempo hari. Percayalah, saya tidak seburuk itu, Dokter. Saya adalah orang yang patuh. Hanya saja ...."

Panca menggantungkan kalimatnya dan kembali diam dengan mata menerawang.

Sinta menatap perubahan itu. Ia segera tahu jika semua kesedihan di wajah Panca dan kekesalannya adalah karena penugasannya yang gagal.

"Anda tidak bisa berangkat tugas karena ini?"

Panca mengangguk. Ia kembali tersenyum miris seraya menatap gips di tangan dan kakinya.

"Hari sial nggak ada di kalender, Letnan. Nggak ada orang yang tahu kalau Anda akan mengalami kecelakaan hari itu. Lagipula ... jika penugasan kali ini gagal, jika Anda memang dinilai kompeten dan berintegritas pasti atasan akan mencantumkan nama Anda pada tugas selanjutnya."

Panca menoleh, menatap Sinta dengan sorot yang sulit diartikan. Tidak menyangka jika dokter galak disampingnya mampu berkata demikian. Panca membuang napas kasar.

"Lagipula, bukan Anda juga yang mau ada di sini. Lebih baik sekarang fokus pada pemulihan saja dulu. Lagipula, kalau Anda masih cidera apa tidak menyusahkan rekan lainnya? Kalau saya lihat di film-film itu tugas tentara berat. Keluar masuk hutan, harus lari cepat, naik gunung kalau kakinya cidera jangankan lari, jalan saja susah. Tangannya cidera juga nggak bisa leluasa nembak. Definisi nyusahin diri sendiri dan teman sekaligus."

Panca diam. Ia menatap Sinta, lalu tersenyum tipis.

"Terima kasih untuk wejangannya, Dokter. Saya paham. Hanya belum bisa menerima keadaan. Masih sulit."

Sinta mengangguk. Ia mengambil kantong makanan yang ia bawa tadi, lalu membukanya dan memberikan burger itu pada Panca.

"Dimakan dulu."

Panca mengerutkan dahi. "Saya nggak lapar."

Sinta menatap ke atas nakas, 4 butir obat yang seharusnya diminum Panca sesaat setelah makan masih utuh.

"Tapi, ini masih utuh."

"Dok, saya nggak biasa minum obat."

"Kalau nggak diminum, gimana bisa cepat sembuh. Cepat dimakan burgernya! Terus minum obat!"

Sinta kembali pada mode galaknya. Namun, hal itu justru membuat Panca menurut. Ia mengambil burger itu, membagi dua untuk Sinta.

"Kok saya dapat juga?"

"Burgernya besar. Saya nggak kuat habiskan sendiri karena tadi sudah makan makanan rumah sakit. Kalau disisakan untuk besok, takutnya tidak enak. Sayang. Jadi, setengah untuk Anda saja, Dokter."

Sinta tersenyum. Ia mengambil burger itu dan menyantapnya. Setelah habis, ia mengambil tempat obat di atas nakas, lalu memberikannya pada Panca.

Panca menelan salivanya susah payah seraya menatap empat butir obat besar-besar di tangan Sinta.

"Ayo diminum, lalu tidur," ucap Sinta tegas.

"Tapi saya nggak bisa minum obat, Dok."

Sinta mengerutkan dahi. "Tinggal diminum apa susahnya?"

"Susah, Dok. Minta yang sirup nggak ada, Dok?" Pinta Panca yang seketika membuat tawa Sinta pecah.

"Letnan beneran nggak bisa minum obat tablet?" tanya Sinta seraya menahan tawanya.

Wajah Panca memerah seketika. Rahasia besarnya terkuak. Panca pun mengangguk.

"Saya jarang sakit, jadi nggak pernah minum obat. Biasa juga cuma masuk angin atau flu. Makan mie pedas dan minum panas, lalu tidur cukup sudah enakan."

"Tapi, ini obatnya harus diminum, Letnan."

"Minta ganti sirup saja, Dok. Janji saya minum."

Sinta kembali tertawa. "Dicoba dulu, yuk! Minum satu-satu. Pelan-pelan saja."

Panca mengambil satu obat yang paling kecil. Ia mengambil air mineral di atas nakas, lalu mencoba meminumnya pelan. Bukan obat yanh tertelan, tapi justru semuanya menyembur keluar.

Byuuur!

Panca terbatuk setelah tersedak dan Sinta tak kuasa menahan tawanya. Ia membantu menepuk punggung Panca beberapa kali. Wajah pemuda itu tampak frustrasi. Sinta mengambil tisue dan mengusap lembut mulut Panca. Disaat yang bersamaan, pintu ruangan terbuka menampilkan beberapa orang anggota batalyon dan pasangan mereka yang menjenguk Panca.

Tubuh Panca membeku seketika. Ia menatap Sinta yang tersenyum menyambut kedatangan para tamu. Berbeda dengan Panca yang tersenyum kaku.

"Wah, Bang Panca ternyata sudah ada calonnya. Nggak nyangka. Salah timing kita," ujar salah seorang anggota.

"Pantas nggak mau dijagain sama anggota, ternyata sudah ada yang jaga."

Seketika wajah Sinta pun memerah. Senyumnya tiba-tiba terasa kaku. Ia menatap Panca yang juga tersenyum kaku.

***

"Lo sama suami lo ada gila-gilanya! Pantes kalian jodoh!" ucap Sinta kesal usai menceritakan kejadian di ruang perawatan Panca semalam.

Aira tertawa terbahak-bahak. Ia juga tidak mengetahui rencana pasti Baskara karena suaminya masih dalam latihan pra penugasan, tapi sekilas saja, Aira sudah segera tahu duduk permasalahannya. Jika Aira tidak salah menebak, Baskara sepertinya ingin menjodohkan Panca dengan sahabatnya.

"Lagian bener, kok, Letnan Panca nggak ada siapa-siapa di sini. Lo kayak nggak tahu aja kalau anggota yang jaga. Bisa nggak keurus, Sin."

Sinta mendengus kesal. "Gue, sih, nggak masalah. Gue anggap dapat pasien ekstra, tapi masalahnya sekarang hampir separo anggotanya ngiranya gue calon bininya. Gila, kan?"

Aira kembali tertawa.

"Nggak apa-apa lah. Siapa tahu jodoh beneran."

"Ih! Gue bukan lo yang bisa enjoy punya jodoh tentara. Lagipula lo tahu sendiri, orang-orang berseragam itu playboy!"

"Nggak semua, Sin. Buktinya suami gue enggak."

"Emang lo tahu masa mudanya?"

"Enggak juga, sih. Tapi, paling nggak waktu udah nikah dia nggak aneh-aneh. Setahu gue, Letnan Panca juga nggak neko-neko orangnya."

Sinta menatap Aira dengan sebelah matanya.

"Kok, tiba-tiba jadi marketingnya Letnan Panca?"

Aira melingkarkan tangan di pundak Sinta, sembari menatap sahabatnya itu. "Gue nggak promosi. Letnan Panca itu beneran orang baik. Pekerja keras dan sayang keluarga. Kalau dari ceritanya Mas Baskara, Letnan Panca selalu kirim sebagian besar gajinya ke ibunya karena masih ada adik yang harus dibiayai dan ayahnya sudah meninggal. Lo bukannya pengen pasangan yang punya pemikiran dewasa? Kayaknya Letnan Panca bisa, deh, masuk wishing list."

Sinta menyipitkan mata. "Sejak kapan lo jadi mak comblang? Gue merasa terpojok sekarang."

Aira kembali tertawa puas. "Umur lo udah nggak muda lagi, Sin. Nggak ada salahnya membuka hati buat orang baru. Lagian mantan lo juga udah nikah. Kalau dikatain gagal move on ngamuk."

"Sialan! Tapi ya nggak tentara juga!"

"Jodoh nggak ada yang tahu. Gue sama Mas Baskara cuma jembatan. Selanjutnya terserah Anda. Kalau gue boleh saran, mending yang ini jangan dilewatkan. Komoditi terbaik soalnya."

___________________________

1
Ema Soleha
ceritanya bagus,tapi iklanya MasyaAllah....bikin nyebut,iklanya udah ngelebihi apliksi novel berbayar
Ana Dww
/Sob/maaf bas, wanita punya prinsip sedia payung sebelum hujan walau itu kemarau
NonaAns: 🤣 iya lagi wkwkwkwk
total 1 replies
Nasyya
👍🏻👍🏻
Nasyya
wadidauw 🤣
Ana Dww
waittt!
Ana Dww
kalau nggak, paling parah jelita hamil anak orang😶
Ana Dww
ya emang jelita bohong!
Ana Dww
/Determined/
Ana Dww
😭😭😭😭 Istri lo abis ngamukkk
Ana Dww
tetap negatif thinking jelita bohong karena suka ibasss
Ana Dww
😭😭😭
Agustinus Wisnugroho
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!