Samantha Alexander menikah dengan pria berhati dingin bernama Samuel Nugroho CEO yang terkenal arogan dia duda dan mempunyai anak laki - laki berusia 13 tahun saat ini dia sekolah kelas 2 SMP . semenjak ibunya meninggal dia menjadi anak yang nakal. sehingga sering mendapat hukuman dari ayahnya yaitu Samuel membuat Dia sangat ketakutan dan melihat pesan melampiaskan dengan sifat nakal. sampai datang seorang perempuan bernama Samantha yang menikah dengan Samuel . Samuel menikah dengan Samantha karena semenjak sekolah dulu dia sudah menyukai Samantha diam-diam tapi karena dijodohkan samuel dengan almarhum mantan istrinya bernama Ruri .Di balik keputusan pernikahan ini, tersimpan rahasia lama Samuel ternyata telah menyukai Samantha secara diam-diam sejak masa sekolah dulu , namun saat itu ia terpaksa menikah dengan Ruri karena perjodohan. Kini, dengan kehadiran Samantha dalam keluarga itu, harapan baru pun muncul akankah ia mampu menyembuhkan luka batin anak tirinya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Saat malam tiba, suasana di dalam rumah mewah milik keluarga Nugroho terasa sunyi dan dingin. Lampu-lampu besar menyala terang menerangi setiap sudut ruangan, namun tidak mampu menghilangkan kesan sepi yang menyelimuti tempat itu sejak kepergian Ruri, istri Samuel.
Samuel baru saja tiba di rumah setelah menyelesaikan semua pekerjaannya di kantor. Ia telah berganti pakaian santai dan kini berjalan menuju ruang makan yang luas. Begitu duduk di kursinya, ia melihat bahwa satu tempat makan lagi sudah disiapkan rapi di seberangnya tempat yang selalu disediakan untuk putranya, Bima.
Ia memanggil pelayan rumah yang sudah bekerja di sana selama bertahun-tahun, Bi Inah. Wanita paruh baya itu segera datang menghampiri dengan langkah hati-hati, wajahnya tampak cemas.
“Bi Inah,” panggil Samuel dengan nada datar namun berat.
“Ya, Tuan Samuel. Ada yang bisa saya bantu?” jawab Bi Inah sambil menunduk dalam, tidak berani menatap langsung wajah tuannya.
“Di mana Bima? Sudah jam segini dia belum juga muncul untuk makan malam. Dia pergi ke mana lagi?” tanya Samuel, suaranya mulai mengeras menandakan rasa tidak sabar yang mulai muncul.
Mendengar pertanyaan itu, tangan Bi Inah sedikit gemetar. Ia semakin menundukkan kepalanya, suaranya terdengar pelan dan bergetar karena takut.
“Maafkan saya, Tuan… Tapi Den Bima belum juga pulang ke rumah sampai saat ini. Saya sudah menunggu sejak sore tadi, tapi tidak ada kabar darinya sama sekali,” jawabnya dengan hati-hati.
Seketika itu juga raut wajah Samuel berubah menjadi sangat gelap. Genggamannya pada sendok di atas meja mengerat kuat. Amarah perlahan meluap di dadanya.
“Belum pulang lagi? Sudah berapa kali ini dia berani pulang larut malam bahkan tidak memberi kabar sedikit pun?” bentak Samuel, suaranya bergema di seluruh ruangan.
Ia menghela napas panjang, berusaha menahan diri agar tidak meledak sepenuhnya. Sejak Ruri meninggal dunia, perubahan sikap Bima memang terasa sangat mencolok. Anak yang dulunya penurut dan ceria itu kini berubah menjadi keras kepala, suka membantah, membangkang setiap perintah, dan sering kali terlibat masalah di luar rumah.
Setiap kali pulang terlambat atau berbuat salah, Samuel selalu memberinya hukuman tegas dengan harapan agar Bima sadar dan berubah, namun ternyata cara itu justru membuat jarak di antara mereka semakin lebar dan hati Bima semakin tertutup.
“Dasar anak pembangkang! Tidak tahu sopan santun dan tidak tahu diri. Memang harus diajari lagi agar dia mengerti siapa dirinya dan di mana tempatnya,” gumam Samuel dengan nada dingin dan penuh kekecewaan.
Ia menatap tempat makan kosong di hadapannya dengan pandangan tajam, lalu menoleh kembali kepada Bi Inah yang masih berdiri ketakutan.
“Sudahlah, tidak usah ditunggu lagi. Siapkan makan malam hanya untuk saya saja malam ini. Kalau dia pulang nanti malam, katakan padanya untuk langsung ke kamarnya dan jangan berani keluar lagi. Nanti kalau dia sudah siap, akan saya urus sendiri,” perintah Samuel dengan nada tegas yang tidak bisa dibantah.
“Baik, Tuan. Segera saya kerjakan,” jawab Bi Inah cepat, lalu bergegas pergi dengan langkah ringan, merasa lega meski hatinya tetap prihatin melihat hubungan ayah dan anak itu yang semakin renggang.
Samuel duduk termenung sendirian di meja makan yang luas itu. Di tengah kesunyiannya, ia bertanya-tanya dalam hati apakah caranya mendidik sudah benar, atau justru membuat putra satu-satunya itu semakin menjauh darinya? Namun, sifatnya yang keras dan dingin membuatnya sulit sekali mengubah cara pandang maupun caranya bertindak.
Malam semakin larut, udara di luar terasa dingin dan hanya sesekali terdengar suara jangkrik yang memecah kesunyian. Di dalam rumah mewah Nugroho, hampir seluruh ruangan sudah gelap, seolah menyelimuti suasana yang hening.
Namun, di sudut ruang keluarga yang redup, Samuel masih duduk tegak di kursi kesayangannya. Matanya terpejam sesekali, tapi telinganya tetap waspada, menahan amarah yang sejak tadi sudah berkumpul di dadanya. Ia sengaja menunggu kepulangan putranya itu, tidak akan membiarkan Bima masuk tanpa pertanggungjawaban.
Tak lama kemudian, dari arah halaman terdengar suara mesin sepeda motor yang melaju pelan lalu dimatikan. Suara langkah kaki yang tergesa-gesa berusaha dibuat senyap terdengar mendekati pintu utama.
Pintu itu terbuka perlahan, dan masuklah Bima dengan tubuh sedikit membungkuk, berusaha melewati ruang tengah dalam kegelapan agar tidak ketahuan.
Namun, tepat saat kakinya baru menginjak tangga pertama untuk naik ke lantai atas, tiba-tiba seluruh lampu ruangan menyala terang seketika. Sinarnya menyilaukan mata, membuat Bima terhenti kaku di tempat.
Ia segera menoleh ke arah saklar lampu, dan jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat sosok ayahnya yang sedang berdiri di ambang ruang keluarga, menatapnya dengan pandangan setajam pisau yang tidak berkedip sedikit pun.
“ Dari mana kamu malam-malam begini?” tanya Samuel dengan suara rendah namun berat, bergema di seluruh ruangan dan terasa mengancam.
Wajah Bima seketika memucat. Rasa takut yang sudah ia rasakan sejak di luar kini meluap. Ia menunduk dalam, tangan mengepalkan ujung bajunya, dan suaranya terdengar bergetar saat menjawab.
“aku … aku baru saja pulang, Yah. Tadi aku habis main sebentar ke rumah teman,” jawabnya terbata-bata, tidak berani menatap mata ayahnya.
Mendengar jawaban itu, amarah yang sudah ditahan sedari tadi pun meledak. Samuel melangkah mendekat dengan langkah cepat dan tegas, membuat Bima semakin mundur dan bersandar ke dinding.
“Main? Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam kau baru pulang hanya untuk bermain? Apa kau tidak punya rasa tanggung jawab? Apa kau tidak ingat aturan yang sudah berkali-kali aku katakan padamu?” bentak Samuel, suaranya meninggi dan penuh kekecewaan. “Sejak ibumu tiada, sifatmu benar-benar berubah menjadi tidak tahu diri. Pulang seenaknya, tidak memberi kabar, bahkan mengabaikan semua perintahku! Apakah kau ingin membuatku semakin kesal terus-menerus?”
Bima hanya menunduk semakin dalam, air matanya mulai menggenang tapi ia berusaha menahannya. Ia ingin membantah, ingin meluapkan segala rasa kesepian dan kehilangan yang ia rasakan, tapi melihat tatapan dingin ayahnya itu, kata-kata itu selalu terhenti di tenggorokan.
Samuel menarik napas panjang, berusaha mengendalikan diri agar tidak melampiaskan amarahnya secara berlebihan. Ia menatap putranya itu dengan pandangan yang sulit diartikan marah sekaligus lelah.
“Masuk ke kamar sekarang. Besok pagi kita bicarakan lagi soal ini. Jangan harap kau bisa keluar rumah seenaknya dalam beberapa hari ke depan. Ingat peringatanku itu,” ujarnya dengan nada tegas, lalu berbalik dan melangkah pergi menuju kamar utama tanpa menoleh lagi.
Bima hanya bisa berdiri terpaku, menahan tangis yang akhirnya lolos juga begitu punggung ayahnya menghilang dari pandangan. Ia segera berlari naik ke kamar sambil menahan isak tangisnya.
Sementara itu, di dalam kamar tidur utama yang luas dan sunyi, Samuel menutup pintu dan menguncinya perlahan. Amarahnya perlahan memudar, digantikan oleh rasa lelah yang mendalam. Ia melangkah mendekati tempat tidur, lalu duduk di tepinya dengan bahu yang terasa berat.
Matanya melayang ke meja kecil di samping tempat tidur, di mana terpasang sebuah bingkai foto besar berisi foto pernikahannya dengan Ruri. Dalam foto itu, keduanya tersenyum bahagia di hari yang paling membahagiakan sekaligus menjadi awal dari takdir yang tidak ia duga.
Samuel mengambil bingkai foto itu, mengusap lembut wajah Ruri dengan ujung jarinya. Pandangannya menjadi sayu, dan suara batinnya keluar dalam gumaman pelan yang hampir tidak terdengar.
“Ruri… maafkan aku. Aku merasa gagal. Aku sudah berusaha mendidik Bima sebaik mungkin, tapi mengapa dia semakin menjauh dan membangkang? Apakah caraku salah? Atau apakah aku memang tidak mampu menjadi ayah yang baik untuknya setelah kau tiada?” gumamnya lirih, matanya berkaca-kaca.
Ia menyandarkan kepalanya sedikit, merasakan kesepian yang terasa semakin dalam. Di balik sikap dingin dan tegas yang selalu ia tunjukkan, tersembunyi keraguan besar: ia takut benar-benar kehilangan putra satu-satunya itu, namun ia tidak tahu lagi cara apa yang harus dilakukan untuk mendekatkan hati mereka yang semakin terpisah jauh.
Bersambung...