Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.
Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.
Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.
Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.
Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.
Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Penguasa Roh Kecil
Malam telah tiba. The Sky Leviathan kini berlayar membelah lautan awan yang diterangi oleh cahaya rembulan perak.
Keheningan kabin utama kapal hanya dipecah oleh suara derit kayu yang ritmis dan hembusan angin malam yang menyelinap lewat ventilasi sihir.
Namun, di sudut sayap kiri kapal, keheningan itu mendadak hancur oleh suara tangisan melengking seorang anak kecil. "Pergi! Jangan mendekat! Ibu... Ayah... tolong Toby!"
Clara, yang baru saja selesai meminum ramuan pereda nyeri dari Bernet, langsung tersentak dari ranjang kamarnya. Tanpa memedulikan rasa ngilu pada tangan kanannya yang dibalut perban, ia menyambar jubah tidurnya dan berlari keluar.
Di koridor, ia berpapasan dengan Bernet yang tampak membawa semangkuk air hangat dengan wajah cemas.
"Nyonya Clara! Tuan Muda Toby terbangun lagi. Ini adalah malam ketiga berturut-turut dia mengalami teror malam," ujar Bernet dengan napas terengah-engah.
"Di mana Kapten Alden?" tanya Clara cepat sembari mempercepat langkah kakinya menuju ujung lorong.
"Kapten sedang berada di ruang kemudi utama, Nyonya. Ada badai magnetik kecil di jalur pelayaran depan, beliau tidak bisa meninggalkan posisinya," jawab Bernet pasrah.
Clara tidak membuang waktu lagi. Ia mendorong pintu kamar Toby yang sedikit terbuka. Kamar anak bungsu yang baru berusia lima tahun itu didominasi oleh warna biru muda, penuh dengan mainan miniatur kapal terbang dari kayu.
Namun suasana hangat itu lenyap, digantikan oleh hawa dingin yang ganjil dan mencekam. Suhu di dalam ruangan terasa merosot tajam, hingga hembusan napas Clara membentuk uap putih tipis.
Di atas ranjang besar, Toby sedang meringkuk hancur. Tubuh mungilnya gemetar hebat, dan kedua tangan kecilnya menutupi mata jalangnya. Kepala anak itu menggeleng-geleng histeris, menolak melihat ke arah sudut kamar yang gelap di dekat lemari pakaian.
"Toby, ini Ibu," Clara mendekati ranjang dengan langkah lembut namun pasti. Ia duduk di tepi kasur, berusaha meraih pundak kecil Toby.
"Jangan lihat ke sana, Ibu! Mereka... mereka punya mata banyak! Mereka mau memakan jiwaku!" teriak Toby berang, langsung menghambur ke pelukan Clara begitu mengenali aroma wangi herbal yang menenangkan dari tubuh wanita itu.
Toby menangis sesenggukan, membenamkan wajahnya di ceruk leher Clara.
Clara mengalihkan pandangannya ke sudut kamar yang ditunjuk Toby. Menggunakan pengetahuannya sebagai mantan Penyembuh Agung, Clara segera menyadari apa yang sedang terjadi.
Toby adalah seorang blasteran makhluk mistis yang memiliki kemampuan langka untuk melihat Wraith Sky, roh-roh langit pengembara yang sering menempel pada kapal-kapal terbang.
Bagi orang biasa, sudut kamar itu kosong. Namun bagi mata magis Toby, di sana terdapat gumpalan asap hitam bermata merah yang lapar akan energi kehidupan anak kecil.
"Bernet, bawakan aku sisa bubuk akar cahaya dari lemari obatku, sekarang!" perintah Clara tanpa menoleh.
"Baik, Nyonya!" Bernet segera berlari melaksanakan perintah.
Sembari menunggu, Clara mempererat pelukannya pada Toby. Tangan kirinya yang sehat mengelus rambut pirang lembut milik anak itu. "Toby, dengarkan Ibu. Tarik napas dalam-dalam. Roh-roh itu tidak akan bisa menyentuhmu selama Ibu ada di sini."
"Tapi mereka berbisik, Ibu... Mereka bilang Ayah akan mati di langit, dan kita semua akan tenggelam," bisik Toby dengan suara parau yang sangat memilukan untuk anak seumurannya.
Clara merasakan amarah yang halus bangkit di dalam dadanya. Roh-roh licik itu selalu memanfaatkan ketakutan terbesar seorang anak kecil untuk memperlemah jiwanya.
Tepat saat itu, Bernet kembali dan menyerahkan sebuah kantong kulit kecil berisi bubuk emas mengilat.
Clara menerima kantong itu. Meski ia tidak bisa mengalirkan sihir murni dari tubuhnya untuk mengaktifkan bubuk tersebut, ia masih mengingat mantra kuno penolak bala yang diajarkan di Kuil Agung.
Clara mengambil sejumput bubuk emas dengan tangan kirinya, lalu meniupkannya ke arah sudut kamar yang gelap sembari menggumamkan bait mantra berbisik.
"O, Cahaya yang membelah kegelapan cakrawala, bersihkan udara dari jiwa yang tersesat...."
Wusss!
Bubuk emas itu berpendar terang di udara, menciptakan gelombang partikel cahaya yang hangat.
Begitu partikel cahaya itu menyentuh sudut kamar, suhu dingin yang mencekam mendadak lenyap. Suara bisikan gaib yang mengganggu telinga Toby langsung mereda, digantikan oleh kehangatan yang nyaman seolah-olah sinar matahari pagi baru saja masuk menembus jendela kapal.
Toby perlahan melepaskan tangannya. Ia mendongak, menatap sekeliling kamar yang kini terasa aman dan tenang. Sisa-sisa ketakutan di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh rasa takjub yang besar.
"Mereka... mereka sudah pergi, Ibu?" tanya Toby polos, air mata masih menggenang di bulu matanya yang lentik.
"Ya, mereka sudah pergi. Ibu sudah mengusir mereka semua," kata Clara lembut. Ia merengkuh wajah mungil Toby, menghapus sisa air mata di pipi tembam anak itu dengan ibu jarinya.
"Mulai sekarang, setiap kali mereka datang, Ibu akan selalu ada di sini untuk mengusir mereka. Kau tidak perlu takut lagi, Sayang."
Toby menatap Clara lekat-lekat. Anak sekecil itu belum mengerti apa itu pernikahan kontrak atau politik. Yang ia tahu, wanita di hadapannya ini tidak menganggapnya gila seperti para pengasuh terdahulu yang selalu berteriak ketakutan saat ia menunjuk ke arah udara kosong.
Wanita ini justru memeluknya dan memberikan rasa aman yang sudah lama hilang sejak ibu kandungnya tiada.
"Ibu... bolehkah Toby tidur sambil memeluk tangan Ibu?" tanya Toby dengan nada memohon yang sangat menggemaskan, jari-jari kecilnya mencengkeram ujung jubah tidur Clara.
Clara tersenyum penuh kasih sayang, melupakan fakta bahwa tangannya sendiri masih terasa perih akibat luka bakar sore tadi. "Tentu saja, Toby. Tidurlah. Ibu tidak akan pergi ke mana-mana."
Clara berbaring di samping Toby, membiarkan anak bungsu itu berbantalkan lengan kirinya yang sehat, sementara tangan kanannya yang dibalut perban bersandar aman di atas selimut.
Dalam hitungan menit, deru napas Toby mulai terdengar teratur, anak itu akhirnya bisa tertidur lelap tanpa bayang-bayang teror malam lagi.
Di ambang pintu kamar yang remang-remang, sesosok tubuh tinggi berdiri dalam keheningan sejak beberapa menit yang lalu. Kapten Alden, yang baru saja menyerahkan kemudi kapal kepada wakilnya karena khawatir akan tangisan Toby, terpaku menyaksikan seluruh kejadian itu dari awal.
Pria itu memandangi istrinya yang kini tertidur dengan raut wajah lelah namun tampak damai di samping putra bungsunya. Alden mengepalkan tangannya yang bersarung kulit, merasakan gejolak emosi yang asing di dalam dadanya.
Clara, wanita tanpa sihir yang awalnya ia remehkan dan anggap sebagai beban politik belaka, dalam waktu kurang dari dua hari telah berhasil menjinakkan dua dari tiga anak paling bermasalah di seluruh kekaisaran langit dengan cara yang tidak pernah ia duga, yakni kasih sayang yang tulus.
Alden melangkah masuk tanpa suara, menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh Clara dan Toby agar tidak kedinginan oleh angin malam kapal.
Sebelum berbalik pergi, tatapan abu-abu badai milik sang Kapten tertuju pada wajah Clara untuk waktu yang cukup lama, sebuah retakan kecil kembali muncul di atas dinding es yang selama ini membentengi hatinya.
Jangan lupa dukungannya ya, dan follow juga akun Author.