NovelToon NovelToon
Mrs. Only His

Mrs. Only His

Status: tamat
Genre:One Night Stand / Cinta Terlarang / Saling selingkuh / Tamat
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah gemerlap penthouse mewah Chicago, Suzanne Klatten terjebak dalam neraka pernikahan tanpa cinta.

Enam bulan menyandang status istri sah Willem Daendels, dia hanya menerima penolakan, dihina, dan dikhianati demi wanita simpanan.

Namun, sebuah pelarian di koridor privat mengubah segalanya.

Dalam rapuhnya batin yang hancur, Suzanne menyerahkan kesuciannya kepada Aiden Luther Stone—bocah SMA berusia 18 tahun yang kehilangan kendali akibat pengaruh obat perangsang.

Saat fajar menyingsing, kepolosan runtuh dan takdir baru terajut.

Aiden yang didera rasa bersalah bersumpah akan bertanggung jawab dan menikahinya, tanpa tahu wanita misterius itu seorang istri Tetangga Apartemennya.

Di balik balutan hoodie kebesaran dan cincin pernikahan yang disembunyikan, Suzanne melangkah kembali ke neraka rumah tangganya dengan rahasia paling berdosa.

Sebuah romansa terlarang yang penuh manipulasi, dan ego yang siap membakar batas moralitas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#32

Setelah ketukan palu hakim meresmikan kebebasan mutlaknya, dunia di mata Suzanne Klatten seolah berganti warna.

Rasa sesak yang berbulan-bulan menghimpit dadanya menguap tanpa sisa, digantikan oleh binar kebahagiaan murni yang sudah sangat lama tidak terukir di wajah cantiknya.

Puncak dari perayaan hari kemenangan ini berlanjut di sebuah restoran fine dining privat ternama di pusat kota Chicago—tempat eksklusif yang menjadi langganan tetap dan selalu dipesan khusus oleh keluarga besar Luther-Stone untuk momen-momen penting mereka.

Di dalam ruangan VVIP Private Room Nomor Satu, meja panjang berbahan kayu mahogani itu dipenuhi oleh hidangan kelas dunia yang disiapkan langsung oleh koki terbaik asal Prancis.

Atmosfer di dalam ruangan begitu hangat dan penuh suka cita.

Dr. Nora Amelie tidak henti-hentinya mengambilkan makanan ke piring Suzanne, memanjakan wanita muda itu laksana anak perempuan kandungnya sendiri.

Di sebelah Suzanne, Aiden duduk dengan pose dominan yang santai, namun matanya sama sekali tidak pernah lepas dari sang kekasih.

Tangan kirinya sesekali merayap di bawah meja, menggenggam erat jemari Suzanne, menyalurkan rasa kepemilikan yang posesif.

"Makan yang banyak, Sayang. Kau terlihat sedikit kurus setelah semua tekanan minggu lalu," ucap Nora dengan senyuman keibuan yang teramat tulus.

"Terima kasih, Mommy. Ini sudah lebih dari cukup," jawab Suzanne dengan senyuman paling lepas yang pernah ia miliki.

Aiden yang melihat senyuman itu langsung mendekatkan wajahnya, mengecup singkat pelipis Suzanne tanpa memedulikan dehaman menggoda dari sang ibunya di seberang meja.

...***...

Di tengah-tengah jamuan makan malam yang intim itu, Suzanne perlahan bangkit berdiri.

"Mommy, Aiden... aku permisi ke toilet sebentar untuk merapikan penampilanku."

"Perlu aku temani, hm?" bisik Aiden dengan nada serak, enggan melepaskan wanitanya walau hanya semenit.

Suzanne menggeleng geli, memberikan tepukan pelan di lengan kekar Aiden.

"Tidak perlu, Tuan Muda Stone. Aku hanya ke toilet, bukan pergi ke luar negeri."

... * * *...

Suzanne melangkah keluar dari ruangan privat menuju koridor bernuansa emas dan marmer yang mengarah ke toilet khusus wanita.

Ruangan toilet restoran bintang lima itu begitu mewah, dilengkapi dengan cermin kristal raksasa dan pencahayaan yang temaram namun elegan.

Saat Suzanne sedang mencuci tangannya di wastafel marmer, pintu toilet terbuka.

Sepatu hak tinggi dengan bunyi ketukan yang nyaring laksana melodi angkuh menggema di ruangan tersebut.

Dari pantulan cermin, muncul sosok seorang gadis muda dengan pakaian desainer yang teramat ketat. Gadis itu tidak lain adalah Aleonie Bethman, sang aktris sekolah yang kebetulan malam ini memiliki agenda makan malam bersama agensinya di restoran yang sama.

Aleonie melangkah angkuh, langsung berdiri di sebelah Suzanne. Matanya yang dilapisi eyeliner tebal menatap Suzanne dari atas sampai bawah dari balik cermin dengan pandangan menilai yang sarat akan penghinaan.

"Kau... wanita yang ada di ruangan privat nomor satu tadi, 'kan?" tanya Aleonie tiba-tiba, suaranya terdengar meninggi dan dipenuhi nada interogasi.

Suzanne menutup keran air dengan tenang. Enam bulan hidup di bawah siksaan mental Willem Daendels telah menempa mentalnya laksana baja.

Dia sudah terbiasa diinjak-injak, namun hal itu justru membuatnya tumbuh menjadi wanita yang kokoh, dingin, dan tidak akan pernah bisa ditindas lagi oleh siapa pun—termasuk oleh bocah SMA di sampingnya ini.

"Iya, Nona," jawab Suzanne dengan intonasi suara yang tenang dan datar, belum mengetahui arah pembicaraan gadis itu.

Aleonie mendengus sinis, ia mengeluarkan sebatang lipstik merah menyala dari tas mewahnya.

"Bukankah ruangan itu dipesan atas nama keluarga besar Luther-Stone?"

"Iya, Nona," jawab Suzanne lagi, gerakannya teramat tenang saat mengambil selembar tisu untuk mengeringkan jemarinya.

Aleonie memutar tubuhnya menghadap Suzanne, melipat kedua tangannya di dada dengan ekspresi luar biasa percaya diri.

"Kau... benar-benar tidak mengenalku?"

Suzanne menghentikan gerakannya sejenak. Ia menatap wajah gadis di hadapannya dengan saksama.

Dengan riasan wajah yang tebal dan make-up yang dipaksakan agar terlihat dewasa, Suzanne mendadak merasa familiar.

Ingatannya berputar pada rentetan spekulasi gila di situs berita sekolah yang sempat ditunjukkan oleh Kent dan Cole di kafetaria tadi siang.

Sebuah senyuman tipis, hampir terlihat seperti seringai dingin, terukir di bibir Suzanne.

Dia langsung mengerti ke arah mana pembicaraan dengan gadis bermuka menor di depannya ini akan bermuara.

"Oh... aku akhirnya ingat," ucap Suzanne dengan nada santai, membuang tisu bekasnya ke tempat sampah.

"Kau aktris yang satu sekolah dengan Aiden, kekasihku, 'kan?"

Kata 'kekasihku' yang diucapkan Suzanne dengan begitu lugas laksana hantaman telak yang meretakkan rasa percaya diri Aleonie.

Wajah sang aktris sempat menegang sejenak, namun ia dengan cepat menguasai dirinya kembali.

Ia memutar lipstiknya, menebalkannya kembali di bibirnya dengan gerakan yang dibuat-buat sengaja di depan cermin.

"Oh, kau akhirnya mengenalku. Baguslah kalau begitu," kata Aleonie dengan nada angkuh yang dipaksakan. Ia melirik Suzanne dari sudut matanya dengan pandangan meremehkan.

"Aku benar-benar tidak tahu dengan jalan pikiran media zaman sekarang. Media selalu tahu apa yang diinginkan oleh netizen untuk menaikkan rating berita. Tapi sejujurnya... rumor tentang kami tadi pagi itu bukan tanpa alasan. Aiden... dia sudah sangat sering mendekati—"

"Mendekati apa? Mendekati sampah?" potong Suzanne dengan suara yang teramat tenang namun dingin menusuk hingga ke tulang.

Deg.

Tangan Aleonie yang sedang memegang lipstik seketika membeku di udara.

Jantungnya berdegup kencang karena syok yang teramat sangat atas interupsi kasar dari wanita yang dianggapnya lemah itu.

"Apa kau bilang?!" Aleonie berbalik dengan mata yang menyalang merah, wajah cantiknya memerah padam karena amarah dan emosi yang meledak-ledak.

"Beraninya wanita bekas bergilir seperti dirimu menyamakanku dengan sampah?! Kau tidak tahu siapa aku, hah?!"

Melihat reaksi meledak-ledak dari Aleonie, Suzanne justru memasang ekspresi pura-pura terkejut yang sangat dramatis. Ia menutup mulutnya dengan satu tangan dengan gestur yang teramat mengejek.

"Oh... lalu apa maksudmu tadi, Nona? Aku sama sekali tidak menyebut bahwa 'sampah' yang dimaksud adalah dirimu," ucap Suzanne dengan nada tenang yang sangat mematikan.

Ia melangkah satu langkah mendekati Aleonie, memberikan tekanan psikologis dari perbedaan tinggi badan mereka yang matang.

"Dan seingatku... jalang tidak perlu mengeluarkan suara bising laksana nyamuk di dalam toilet restoran bintang lima seperti itu."

Suzanne mengendus udara di sekitarnya dengan dahi yang berkerut, seolah-olah ada bau yang mengganggunya.

"Uhhh... kenapa di dalam toilet ini aroma bau pecundang mendadak semakin menyengat ya? Rasanya perutku menjadi mual dan ingin muntah."

"KAU—" Aleonie berteriak histeris, kehilangan seluruh tata krama keartisannya. Ia maju, menunjuk wajah Suzanne dengan jari yang bergetar hebat.

"Jangan berlagak suci di depanku, Suzanne Klatten! Seluruh Chicago juga tahu cerita aslimu! Kau itu wanita kotor! Kau digilir oleh rekan-rekan kerja Willem, suamimu! Kau hanyalah barang rongsokan yang dibuang oleh keluarga Daendels!"

Mendengar fitnah keji yang keluar dari mulut Aleonie—yang kemungkinan besar didengarnya dari sisa-sisa gosip Daendels Group—Suzanne sama sekali tidak terpancing amarah.

Sebaliknya, ia justru melangkah maju hingga tubuh matangnya mengunci pergerakan Aleonie di depan wastafel.

Tatapan mata Suzanne berubah menjadi sedingin es, memancarkan dominasi mutlak seorang wanita yang telah memenangkan perang hukum terbesar di kota ini.

Suzanne menundukkan wajahnya sedikit, berbisik tepat di depan wajah Aleonie yang kini mulai bergetar karena ketakutan melihat aura dingin Suzanne.

"Sayangnya... tuduhanmu itu salah besar, Nona," bisik Suzanne dengan senyuman miring yang teramat seksi dan penuh kemenangan.

"Willem tidak pernah menyentuhku seujung kuku pun. Tapi sebaliknya... di atas ranjang king-size penthouse mewah itu, aku justru dibolak-balik oleh Aiden-ku sampai pagi. Dia sangat menyukai setiap jengkal tubuhku yang kau sebut kotor ini."

Suzanne menepuk pipi Aleonie yang menor itu dengan dua jarinya secara perlahan, sebuah gerakan merendahkan yang sangat telak.

"Jadi, berhentilah bermimpi untuk mendekati milikku, sebelum keluarga Stone menghapus seluruh karier keartisanmu dari industri ini dalam waktu satu detik."

Tanpa menunggu jawaban dari Aleonie yang kini membeku dengan napas terengah-engah dan wajah yang memucat laksana mayat, Suzanne berbalik dengan anggun.

Ia mendorong pintu toilet dan melangkah keluar dengan senyuman kebebasan yang semakin benderang, meninggalkan sang aktris pecundang yang kini hanya bisa menangis meratapi kekalahannya di balik cermin wastafel.

1
Hatijah Cantik
sikap Aiden sangat kontras dgn sikap Williem , siapa yg tak meleleh ,muda tapi menghayutkan
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Hatijah Cantik
nama ibunya Aiden Nora atau Vexana ?
Hatijah Cantik
katanya TDK mau peduli PD isterinya. ,tapi mau tau apa yg telah dilakukan isterinya🤭
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤣
total 1 replies
Hatijah Cantik
yg benar yg mana nama mommy aidena vexana tau (yg disebut di bab sebelumnya ) jadi bingung .
Hatijah Cantik
mungkin mereka bertemu kembali saat Aiden sudah dewasa
Hatijah Cantik
usianya beda 6 tahun, lebih tua Suzanne.
Rosdianah 🌷: iya kak🥰
total 1 replies
Hatijah Cantik
Suzanne tinggalkan pria seperti itu , carilah pria yg bisa mencintaimu sepenuh hati .
Rosdianah 🌷: Benar kak🥰
total 1 replies
Hatijah Cantik
bagus , Thor jangan bucin si Williem biar dia merasakan penyesalan dan sakit jg jangan satukan mereka kembali ,biar cerita alurnya natural jangan dipaksakan.
Rosdianah 🌷: iya kak reader 🫶🥰
total 1 replies
Yunie
cerita simple yang menarik
Yunie
finally 😍
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Yunie
😍
Yunie
Lah...🥺
Yunie
Akhir seorang Willem...
Yunie
good
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Yunie
👍
Bonny Liberty
belum juga di coba ?
Bonny Liberty
ini ada ceritanya kaga thpr?
Rosdianah 🌷: baca cerita orang tuanya di "The Affair Mr. K"
total 1 replies
Mia Camelia
tamat nya cepet banget thor, tapi seneng happy ending🥰😄
Rosdianah 🌷: heheh Ma'aciww kak reader 🫶
total 3 replies
Mia Camelia
haduuh bikin jantungan aja, kiraiin suzanne beneran pergi😂😂😂😂
Rosdianah 🌷: hihihi prank🤭🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Kok tamat,, gk di lanjutin part ank aiden,, thorr,, ato di bikin cerita sendiri? 🤔
Rosdianah 🌷: Author Takut Nggak ada yang suka huhuh😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!