Menghuni penjara kelas kakap bukanlah hal tersulit bagi Marysa. Yang benar-benar menghancurkannya adalah kenyataan bahwa pria yang memborgol tangannya adalah Herry, cinta masa lalunya yang kini menjabat sebagai kapten polisi dan ironisnya, Herry sama sekali tidak mengingatnya. dan bahkan terdengar jika Herry akan segera menikah.
Memilih mati daripada terus tersiksa oleh ingatan, sang Ratu Mafia mengatur pelarian besar dari Negara aslinya Korea menuju ke negara tropis, Indonesia. Rambut panjangnya dipangkas pendek, kemewahannya ditanggalkan, dan kini ia menyamar sebagai Tania, seorang tukang sapu jalanan yang tak kasatmata.
Namun, kedamaian barunya terusik ketika jalanan mempertemukannya dengan Rangga. Pria playboy yang terbiasa berganti-ganti Wanita itu mendadak penasaran setengah mati pada sosok Tania, yang dingin.
Akankah samaran Marysa terbongkar saat seorang playboy itu mulai tulus mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Cewe Saya!
.........
...Cerita ini Hanyalah Fiksi belaka....
...Tidak untuk ditiru....
.........
...Happy Reading...
.........
Aroma tanah basah yang pekat menguar ke udara saat bulir-bulir air hujan perlahan menyusut menjadi rintik tipis, sebelum akhirnya reda sepenuhnya. Langit di atas alun-alun kota perlahan membuka kembali, menyisakan gumpalan awan abu-abu yang bergerak lambat.
Kehidupan jalanan yang sempat lumpuh kembali bergeliat. Bunyi klakson bermotor dan teriakan para pedagang kaki lima kembali bersahutan, memaksa dua orang yang baru saja berbagi kehangatan ganjil di dalam gedung terbengkalai itu untuk kembali memegang sapu lidi mereka.
Tania sudah mengenakan kembali seragam parasut oranyenya. Wajahnya tetap datar, kaku, seolah insiden melucuti pakaian beberapa menit lalu tidak pernah terjadi. Namun, tidak dengan Rangga. Pria jangkung itu melangkah di atas aspal basah dengan tubuh yang berulang kali salah tingkah. Hatinya masih ketar-ketir, dipenuhi debaran gila sisa keharuman manis dari kaos Tania masih tertinggal samar di indra penciumannya. Rangga berusaha keras bersikap tenang dan menyapu tumpukan daun basah, meski matanya sesekali melirik curi-curi ke arah Tania. Neng Tania bener-bener... manis banget, batinnya menahan senyum gila.
Sore menjelang malam, seluruh pekerjaan kebersihan di sektor itu akhirnya tuntas. Mereka berjalan berdua membelah trotoar yang mulai temaram oleh lampu-lampu jalan. Di sepanjang jalan pulang, Rangga mendominasi percakapan.
Dengan suara medoknya yang khas, dia mengoceh tentang hal-hal random mulai dari harga gorengan yang naik, kelakuan kocak kucing liar di dekat pos ronda, hingga gosip receh para pedagang pasar. Dia melakukan itu semua hanya untuk mencairkan ketegangan dan menyembunyikan kegugupan yang masih tersisa di dadanya.
Tania berjalan dalam ritme konstan di sebelahnya. Saat langkah mereka hampir mendekati persimpangan gang kontrakannya, Tania mendadak menghentikan langkah dan berucap kaku, "Aku ingin ke rumah sakit lagi malam ini."
Rangga mengerjapkan mata sipitnya, langkah jangkungnya ikut terhenti. Dia menatap wajah Tania dengan gundah, merasa tidak enak hati yang amat sangat. "Loh, Neng? Kamu itu baik banget, tapi beneran gak usah repot-repot selalu nengok dan nungguin Ayah di sana. Aku jadi gak enak. Rumah sakit sudah kamu yang bayari, masa sekarang tiap malam kamu juga harus nemenin Ayah, begitu?"
Tania menggelengkan kepalanya pelan. Pandangan matanya lurus menatap aspal basah. "Tidak apa-apa. Dirumah sepi, membosankan. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Di rumah sakit terasa lebih enak, tenang, dan pemandangan dari atas sana, bagus."
Mendengar penuturan lempeng tersebut, hati Rangga mendadak berdenyut nyeri. Di balik topeng kaku, dingin, dan tatapan tajam wanita di hadapannya ini, Rangga akhirnya bisa menangkap satu fakta yang nyata, Tania sebenarnya kelihatan sangat kesepian. Dia adalah jiwa yang sebatang kara, menurutnya.
Rangga menatap lekat sepasang mata kelam Tania di bawah remang lampu jalan, lalu membatin dengan tekad yang mengeras. Aku janji, Neng ... aku bakal bikin kamu gak ngerasa kesepian lagi. Aku sudah terlalu banyak berutang budi sama kamu.
"Ya sudah, kalau itu maumu, nanti kita ke sana bareng ya," ujar Rangga lembut, melemparkan senyuman tulusnya yang paling hangat.
Tania hanya mengangguk pendek, menanggapi dengan kaku seperti biasa. "Ya..."
Mereka berjalan melintasi area dekat taman kota yang mulai ramai oleh keremangan malam. Udara malam yang gerah membuat Rangga berpamitan sebentar untuk membelikan minuman dingin untuk Tania di sebuah warung seberang jalan. Tania memilih menunggu di dekat bangku beton di bawah naungan pohon peneduh yang agak gelap.
Namun, ketenangan itu terusik dalam hitungan detik. Tiga orang lokal berambut gondrong dengan tato di lengan preman pasar yang biasa mabuk di sekitar taman melangkah mendekat. Melihat Tania yang berdiri sendirian dalam balutan kaos longgarnya, insting liar mereka bangkit.
"Wah, ada cewek sendirian nih. Maskeran segala malem malem kaya masih corona aje, oh! mau main petak umpet ya, Neng?" goda salah satu preman bertubuh pendek sambil terkekeh, nafasnya bau alkohol serta bercampur bau mulut.
Pria yang lain berani melangkah lebih dekat, mengulurkan tangan kotornya untuk mencolek pundak dan dagu Tania. "Buka dong maskernya, main yuk sama abang di belakang." lalu dibuka masker Tania.
Tania hanya diam mematung. Otot-otot tubuhnya menegang, memicu insting membunuh khas Marysa yang siap mematahkan leher ketiga pria di depannya hanya dalam tiga gerakan taktis. Namun, akal sehatnya menahan gerakan itu. Di sini terlalu ramai orang. Bahaya besar jika dia menggunakan teknik bela diri militer tingkat tinggi klan Baekje, hal itu akan langsung menarik perhatian intelijen polisi yang mungkin masih melacak keberadaannya. Dia terpaksa menelan emosinya, menatap preman di depannya dengan kilat mata yang luar biasa tajam dan dingin.
Terdorong oleh pengaruh alkohol dan mengira tatapan tajam Tania adalah bentuk tantangan pasrah, preman ketiga yang bertubuh tambun maju selangkah. Dia merendahkan wajahnya, bermaksud melecehkan dengan menempelkan bibir kotornya ke pipi Tani. bibir kasar preman itu sempat menempel di pipi porselen Tania selama satu detik, memicu kilat kemarahan sadis di mata sang Ratu mafia.
Wusss...BRRAK!
Sebelum Tania sempat meledakkan energinya, sebuah hantaman keras terdengar memecah udara malam. Sebuah kaleng soda cola yang masih utuh dan berat melesat dari kejauhan dengan kecepatan tinggi, menghantam telak pelipis dan kepala ketiga preman itu sekaligus secara beruntun seperti efek pantulan yang presisi. Kaleng itu bengkok berantakan di udara, lalu jatuh menumpahkan cairan manisnya ke atas aspal basah bersamaan dengan erangan kesakitan ketiga pria tersebut.
Dari arah kegelapan trotoar, Rangga berjalan mendekat. Langkah kakinya panjang, tegas, dan tidak ada lagi sisa ketengilan di wajahnya. Raut wajah Rangga berubah menjadi sangat tajam, dingin, dan dipenuhi oleh emosi kemarahan yang pekat sebuah ekspresi yang belum pernah diperlihatkannya pada siapa pun.
Tania menyengkritkan alisnya dalam diam. Jantungnya berdesir ganjil. Baru kali ini dia melihat ekspresi Rangga yang begitu menyeramkan, melenyapkan sosok pemuda humoris yang biasa menghiburnya.
"Anjing! Berani-beraninya kalian nyentuh dia!" geram Rangga, suaranya rendah namun bergetar hebat oleh amarah.
Tanpa menunggu balasan, Rangga merangsek maju. Pria jangkung itu melayangkan pukulan mentah jalanannya dengan kekuatan penuh. Tinju kasarnya menghantam rahang preman tambun hingga tersungkur ke tanah. Dua preman lainnya mencoba mengeroyok, namun Rangga yang gelap mata akibat cemburu dan amarah terus menghajar mereka dengan brutal. Pukulan dan tendangannya mendarat tanpa ampun, membuat ketiga preman itu babak belur bersimbah darah di atas trotoar taman.
Keributan besar itu memicu kepanikan warga. Beberapa orang berteriak mencoba memisahkan, hingga suara peluit panjang terdengar dari arah ujung jalan. Dua orang petugas polisi berseragam cokelat berlari cepat mendekati lokasi kejadian.
Melihat kedatangan petugas kepolisian, sepasang mata kelam Tania melebar sesaat. Refleks pelariannya bergejolak hebat. Dia buru-buru merapikan masker kainnya hingga menutupi seluruh wajah bagian bawahnya, lalu melangkah maju melerai Rangga yang masih hendak menginjak dada salah satu preman. Tania mencengkeram lengan Rangga dengan kuat, memaksanya berhenti sebelum situasi menjadi lebih tak terkendali.
Alhasil, malam itu berakhir di kantor polisi sektor terdekat. Ketiga preman yang babak belur, bersama Rangga dan Tania, diinterogasi di ruang SPKT yang gerah. Beruntung bagi Rangga, setelah melalui proses pemeriksaan dan kesaksian dari warga sekitar, dia tidak dijatuhi hukuman denda atau penahanan karena posisinya adalah membela diri dan melindungi. Namun, dia tetap harus menerima ceramah dan nasihat panjang lebar dari kepala jaga yang bertugas karena tindakan main hakim sendiri yang terlalu brutal.
Di depan meja polisi, Rangga berdiri tegak dengan sisa napas memburu, tangan kanannya yang terluka digenggam erat. "Saya gak terima, Pak! Cewe saya dilecehkan secara seksual oleh tiga bajingan itu di depan umum. Pria mana yang bakal diam saja?!" tegas Rangga dengan suara medoknya yang bergetar penuh emosi emosional.
Tania yang berdiri di sampingnya sedikit tersentak mendengar kata 'kekasih', namun dia memilih bungkam demi keselamatan identitasnya.
Setelah diperiksa lebih lanjut melalui database, ketiga preman tersebut ternyata memang residivis kasus pelecehan seksual dan kriminalitas jalanan yang sudah lama dicari. Malam itu juga, ketiganya resmi dijebloskan ke sel tahanan, sementara Rangga dan Tania diperbolehkan pulang.
Mereka akhirnya tetap melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit menggunakan angkutan umum, sesuai dengan kemauan keras Tania yang menolak untuk kembali ke kontrakan. Sebelum naik ke ruang perawatan, Tania meminta berhenti sebentar di sebuah apotik 24 jam di dekat lobi rumah sakit untuk membeli beberapa obat merah, kapas, dan perban kasa.
Sepanjang perjalanan melintasi lorong rumah sakit yang sunyi, Rangga berjalan menunduk. Rasa bersalah mendadak mengayun pundak jangkungnya. "Neng... maaf ya. Maaf tadi aku malah bikin keributan sampai bawa kamu ke kantor polisi segala. Kamu pasti takut banget ya tadi lihat polisi..." gumam Rangga lirih, merasa gagal melindungi ketenangan Tania.
Tania tidak menjawab hingga kaki mereka menginjak lantai beton rooftop rumah sakit yang sepi di bawah langit malam yang berangin. Mereka duduk di atas meja beton tempat mereka bermain catur semalam.
Tania membuka bungkusan apotik. Dengan gerakan yang sangat kaku namun memiliki presisi yang tajam sisa-sisa kemampuannya dalam mengobati luka tembak di dunia mafia. Tania mulai membersihkan luka robek di buku-buku jari tangan Rangga menggunakan kapas alkohol.
"Aku tidak takut pada polisi," ucap Tania datar, matanya fokus pada luka Rangga. "Dan... terima kasih untuk yang tadi."
Rangga menatap wajah kaku Tania dari jarak dekat. Melihat bagaimana ekspresi kaku dan serius wanita itu saat fokus menempelkan plester perban, Rangga mendadak harus menahan tawanya dengan susah payah. Di matanya, kekakuan Tania saat mencoba bersikap manis dan peduli justru terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
Namun, tawa Rangga tertahan di tenggorokan saat memori di taman kota kembali melintas tajam di otaknya. Rahangnya kembali mengeras samar. Dia ingat betul bagaimana bibir kotor preman tadi sempat menempel di kulit pipi porselen Tania. Rasa sebal, cemburu, dan kepemilikan yang egois mendadak membakar dadanya kembali.
Tanpa permisi atau berkata-kata, Rangga merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar tisu basah higienis yang selalu dibawanya ke mana-mana sejak bekerja di jalanan.
Dengan gerakan yang sangat lembut, bertolak belakang dengan kebrutalannya di taman tadi, Rangga mengulurkan tangannya. Dia mengusap pipi kiri Tania dengan tisu basah tersebut, menghapus sisa-sisa memori menjijikkan dari sentuhan preman pasar tadi dengan kehati-hatian yang amat sangat.
Tania terdiam membeku. Sentuhan jemari kasar Rangga yang dilapisi tisu basah itu terasa begitu hangat di kulit pipinya. Untuk pertama kalinya, sang ratu mafia merasa kebingungan yang luar biasa dengan gejolak perasaannya sendiri. Jantungnya berdetak dalam ritme lambat yang kian tidak beraturan, menciptakan desiran manis yang mengikis habis sisa-sisa emosi dingin Marysa.
Tania menarik wajahnya sedikit mundur, menatap mata sipit Rangga dengan kaku. "Suatu saat nanti... jika hal seperti itu terjadi lagi, aku sendiri yang akan menghajar mereka sampai mati."
Rangga tertegun sejenak mendengarkan nada sadis yang kaku itu, sebelum akhirnya melepaskan senyuman lebarnya yang tengil seperti biasa. Dia mengulurkan tangan kanannya yang sudah diperban, lalu menepuk-nepuk pucuk kepala rambut cokelat pendek Tania dengan gemas.
"Iya, iya, Neng jagoan... terserah kamu saja toh," sahut Rangga dengan tawa ringannya yang renyah.
..
Thanks you for reading ....😘
Jangan lupa semangatin aku...
like commentnya 😇