Kiara, putri tunggal keluarga terkaya, memilih menikah dengan pria biasa karena cinta yang ia pikir sangat kuat dan abadi. Selama sepuluh tahun pernikahan, Kiara hidup dengan rasa bersalah yang besar—ia tidak pernah bisa mengandung dan melahirkan anak, selalu menyalahkan dirinya sendiri, dan terus meminum obat yang dikatakan suaminya sebagai vitamin penyehat tubuh.
Semua kepercayaan dan kebahagiaannya runtuh dalam sekejap mata. Kiara mengetahui kenyataan pahit, suaminya telah berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Lebih menyakitkan lagi, obat yang ia minum setiap hari ternyata adalah pil penunda kehamilan. Sepuluh tahun ia pikir dia kurang subur, padahal dialah yang menjadi korban, dan suaminya sendirilah penyebab ia tidak pernah bisa memiliki keturunan. Puncak kehancuran tiba saat Kiara tahu sahabatnya kini sedang mengandung anak hasil perselingkuhan mereka.
Kiara pun memilih pura-pura tidak tahu, untuk membalaskan rasa sakitnya karena telah di tipu oleh mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shanti_San, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 - Merayu
Di ruangan Pak Edward, Kiara datang untuk menghampiri ayah nya yang memintanya datang hari ini.
"Ayah, ada apa?." Tanya Kiara heran.
"Hei sayang, kamu sudah datang, duduk sini!." Seru pak Edward, Kiara pun duduk di kursi depan meja kerja ayahnya.
"Begini Kiara." Pak Edward menggenggam kedua tangan nya di atas meja. "Ayah ingin mengundang Baskara makan malam, sembari kita merayakan jabatan baru suami mu. Kita sudah lama tidak makan malam bersama bukan?, ayo lah kita pergi."Ajak Pak Edward.
Kiara tersenyum mendengar ajakan ayah nya, didalam hati Kiara Ini tidak layak di rayakan untuk Ferdi, karena itu tidak akan terjadi, Kiara tidak akan membiarkan nya.
Namun Kiara tetap menjawab iya, agar Ayah nya tidak curiga kalau Kiara menolak, karena dulu Kiara sangat bersemangat dan berharap Ferdi segera mendapatkan jabatan itu, sekarang sudah berbeda.
"Baiklah ayah, aku akan memberitahu Ferdi dan juga baskara."Balas Kiara.
"Bagus lah, Hari ini kamu tidak usah pulang, disini saja, nanti kita berangkat bersama ya."Ujar Pak Edward. Kiara pun mengangguk mengiyakan.
Setelah berbincang dengan ayah nya, Kiara pun pamit dan masuk ke dalam kamar nya, ia sejenak memikirkan makan malam ini. ia rasanya tidak rela ayah nya merayakan hari ini, namun ia juga tidak bisa menolak agar semua rencana nya berjalan dengan lancar.
"Kau memang bajingan Ferdi, karena mu aku berbohong pada ayah dan ibu ku, ayah ku bahkan menerima mu karena aku, dia penuh ketulusan, bagaimana kau bisa tega memanfaatkan kebaikan aku dan keluarga ku untuk hari itu. Hari dimana kau ingin menguasai semua nya dan menghidupi Emely." batin Kiara memikirkan betapa jahatnya Ferdi selama ini.
Kiara bahkan tidak bisa melihat, apakah cinta Ferdi untuk nya nyata atau sebagai transportasi untuk membawanya menuju kesuksesan.
•••
Sementara itu, di tempat yang berbeda, Ferdi pergi ke rumah Emely, untuk membujuk wanita itu, ia tahu Emely pasti sangat marah pada nya. Saat sampai, suasana terasa tegang di rumah Emily. Sejak peristiwa di acara jamuan makan malam, Ferdi jarang sekali menemuinya dengan alasan harus menjaga sikap agar tidak menimbulkan kecurigaan. Namun hal itu justru membuat Emily semakin marah dan tidak sabar.
melihat mobil Ferdi datang, Emely sudah berdiri di depan pintu menyambutanya dengan wajah yang jelas di senang, seperti singa yang siap melahap mangsanya.
Bukan hanya tidak pernah datang menemuinya, Bahkan telefon Emely pun diabaikan oleh Ferdi, karena saat itu Ferdi sudah cukup frustasi karena membuat kesalahan itu. Ia harusnya menyelematkan Kiara, bukan nya Emely, agar ia tidak berasa di situasi seperti ini, beberapa hari ini ia berusaha menjadi suami yang baik dan juga menantu yang baik untuk mendapatkan kembali kepercayaan yang hampir hilang. Ia terus menemani Kiara sampai Kiara pulih, tanpa memikirkan Emely yang mengharapkannya.
Beruntung pak Edward dan Bu Silvia sudah memaafkan nya. Namun yang ia tidak tahu, semua sudah terencana oleh Kiara yang pura-pura memaafkan nya.
Begitu Ferdi baru saja melangkah masuk, Emily langsung berdiri dan melangkah mendekatinya dengan wajah yang memerah karena emosi.
Emely memukul-mukul Kecik Ferdi yang mengabaikan nya.
“Kemana saja kau selama ini? Sudah hampir seminggu kau tidak datang, bahkan pesan pun jarang kau balas! Apa kau sudah bosan denganku dan calon anak kita? Atau apakah kejadian di kolam itu membuat kau takut dan ingin meninggalkanku begitu saja?” bentak Emily dengan nada tinggi, suaranya bergetar menahan amarah dan rasa takut kehilangan.
Emely sangat marah saat Ferdi datang, karena Ferdi sibuk dengan Kiara dan tidak ada kabar sama sekali, bahkan tidak menanyakan kabarnya sama sekali.
"Kamu bahkan tidak menanyakan kabarkan setelah kejadian malam itu, apa kau tahu aku demam, kenapa kau begitu tega tidak peduli pada ku, dan hanya peduli pada istri mu itu." Emely marah dan berkata kata tanpa henti, sampai tidak memberi kesempatan Ferdi untuk menjawab.
karena Ia merasa posisinya semakin tidak jelas, dan ketidakhadiran Ferdi membuat pikirannya dipenuhi berbagai kekhawatiran. Ia takut pria itu benar-benar berbalik arah dan memilih tetap bersama Kiara demi menjaga kekayaan dan kedudukannya.
Ferdi segera menenangkan Emily, memegang kedua bahunya dan menatap matanya dengan pandangan lembut yang dipaksakan.
"Hei,hei sayang, stop!."
“Tenanglah, Emily. Jangan berteriak seperti itu, bisa didengar orang luar,” bujuknya perlahan.
“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu dan anak kita. Alasanku tidak sering datang belakangan ini hanya untuk berjaga-jaga saja. Setelah kejadian itu, orang mulai mengamati gerak-gerikku, jadi aku harus lebih berhati-hati agar tidak terperangkap.”
"Kau tidak tahu aku sangat pusing karena berusaha mendapatkan kembali kepercayaan orang tua Kiara. Kau pikir saja bagaimana kalau mereka tidak memaafkan ku aku bisa kehilangan semua usahaku selama ini. Semua yang aku kerjakan akan sia-sia saja."
Melihat Emily masih terlihat cemberut dan ragu, Ferdi segera menyampaikan kabar yang diyakininya akan membuat suasana berubah seketika.
“Tapi dengarkan kabar gembira ini. Hari ini ayah mertuaku memberitahukan bahwa minggu depan aku akan resmi diangkat menjadi Direktur Utama perusahaan. Begitu jabatan itu ada di tanganku sepenuhnya, posisiku akan lebih kuat dan bebas. Aku tidak perlu lagi takut pada siapa pun, dan kita bisa menyusun rencana kita dengan lebih leluasa nanti.”
"Sebentar lagi aku akan mendapatkan apa yang selama ini aku tunggu. Aku akan membahagiakan mu dan anak kita nanti."Ucap Ferdi sembari memegang perut Emely dengan lembut.
Mendengar penjelasan itu, raut wajah Emily perlahan berubah. Kemarahan yang membara tadi mereda, digantikan oleh rasa lega dan harapan baru. Matanya berbinar mendengar berita yang sudah lama ditunggu-tunggu itu.
“Benarkah? Kau benar-benar akan menjadi direktur utama minggu depan?” tanyanya lagi untuk memastikan, suaranya kini jauh lebih lembut.
“Benar sekali. Itu sudah diputuskan oleh dewan direksi. Setelah itu, langkah kita akan semakin mudah. Perlahan tapi pasti, semuanya akan berjalan sesuai rencana,” jawab Ferdi meyakinkan, lalu memeluk tubuh Emily dengan erat.
Emily membalas pelukan itu sambil tersenyum puas. Rasanya, tujuan yang diinginkannya sudah terasa semakin dekat. Ia lupa sejenak akan kemarahannya, hanya memikirkan masa depan yang dibayangkannya bersama Ferdi dan anak yang sedang dikandungnya. Keduanya larut dalam angan-angan mereka sendiri, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang mereka ambil justru semakin mendekatkan mereka pada pengungkapan kebenaran yang sudah disiapkan oleh Kiara.
yang Emely ingin kan semua yang menjadi miliki Kiara, semua nya ingin ia miliki.
"Kita harus merayakan ini."Ajak Ferdi, dengan semangat Emely mengiyakan.