Enam tahun menunggu suami pulang dari Korea, Nandin percaya semua pengorbanannya akan terbayar. Ia membesarkan dua anak kembar seorang diri, bekerja siang malam demi menyambung hidup, sementara suaminya tak pernah mengirim nafkah sedikit pun.
Namun kepulangan suaminya justru membawa surat perceraian.
Pengkhianatan itu menghancurkan hidup Nandin hingga ia kehilangan kewarasannya dan harus menjalani rehabilitasi di sebuah pondok di Jawa Timur. Terpisah dari kedua putri yang sangat dicintainya, Nandin berjuang bangkit dari luka yang nyaris merenggut hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perempuan di Balik Layar
Ada kalanya sebuah pesan mampu menghancurkan ketenangan yang dibangun seseorang selama bertahun-tahun.
Bukan karena isinya panjang.
Bukan karena berisi ancaman.
Melainkan karena pesan itu membawa kemungkinan yang selama ini paling ingin kita hindari.
Dan sejak pesan dari Korea itu datang, hidup Nandin tidak lagi sama.
Malam itu Nandin hampir tidak tidur.
Setelah Shella dan Sherly terlelap di kamar kecil mereka, Nandin masih duduk di ruang tamu.
Lampu hanya menyala satu.
Ponselnya berada di atas meja.
Layarnya masih memperlihatkan percakapan terakhir dengan wanita misterius dari Korea.
Perempuan yang mengaku mengetahui sesuatu tentang Wisnu.
Perempuan yang mengatakan bahwa laki-laki yang menghamili seorang TKW Indonesia di Korea adalah suaminya.
Wisnu.
Nama itu terasa asing malam ini.
Seolah bukan nama orang yang pernah ia cintai.
Bukan nama orang yang pernah menjadi pusat dunianya.
Melainkan nama seseorang yang tidak pernah benar-benar ia kenal.
"Nggak mungkin..."
bisik Nandin.
Namun bahkan dirinya sendiri tidak yakin.
Karena selama beberapa tahun terakhir, Wisnu memang berubah.
Sangat berubah.
Telepon semakin jarang.
Perhatian menghilang.
Nafkah tidak pernah jelas.
Dan yang paling menyakitkan...
Ia selalu punya waktu untuk ibunya.
Tapi tidak pernah punya waktu untuk anak-anaknya.
Semua itu sekarang terasa seperti potongan puzzle yang mulai menyatu.
Dan Nandin tidak suka gambar yang mulai terbentuk.
Pagi harinya Nandin bangun dengan mata sembab.
Bukan karena menangis.
Melainkan karena tidak tidur.
Shella sudah sibuk menarik ujung bajunya.
Sedangkan Sherly sedang mencoba membuka lemari dapur.
"Mamma..."
"Iya sayang."
Nandin mengangkat Sherly.
Mencium pipi anaknya lama.
Entah kenapa.
Pagi itu ia merasa membutuhkan kekuatan.
Dan dua anak kecil itu adalah satu-satunya sumber kekuatan yang ia miliki.
Saat sedang menyiapkan sarapan, ia teringat sesuatu.
Bu Hani.
Dan Bu Santi.
Kedua wanita itu memiliki keluarga yang bekerja di Korea.
Mungkin mereka tahu sesuatu.
Mungkin mereka bisa membantu.
Atau setidaknya...
Memberikan sedikit petunjuk.
Siang itu setelah mengantar pesanan katering, Nandin langsung mampir ke rumah Bu Hani.
Rumah sederhana itu ramai seperti biasa.
Ada suara televisi.
Ada aroma gorengan.
Dan ada Bu Hani yang sedang mengupas bawang.
"Nandin?"
"Iya Bu."
"Kok tumben datang siang-siang?"
Nandin duduk perlahan.
Lalu menarik napas panjang.
"Bu..."
"Iya?"
"Boleh minta nomor adiknya?"
Bu Hani langsung mengangkat alis.
"Yang di Korea?"
Nandin mengangguk.
"Ada apa?"
Untuk sesaat Nandin ragu.
Namun akhirnya ia menceritakan semuanya.
Tentang pesan dari Korea.
Tentang wanita misterius.
Tentang kabar yang mengaitkan nama Wisnu.
Semua.
Tanpa ditutupi.
Semakin lama cerita itu berlangsung, wajah Bu Hani semakin serius.
"Astagfirullah."
gumamnya pelan.
"Aku juga kaget."
kata Nandin.
"Tapi aku nggak tahu harus percaya atau nggak."
Bu Hani menghela napas.
"Kalau soal gosip sih banyak."
"Iya."
"Tapi kalau sampai ada yang berani menghubungi langsung..."
Kalimat itu menggantung.
Dan Nandin tahu maksudnya.
Kemungkinan besar ada sesuatu yang memang terjadi.
"Ini nomornya."
kata Bu Hani akhirnya.
Sambil menuliskan nomor adiknya.
"Namanya Fitri."
"Makasih Bu."
"Nanti aku bilang ke dia dulu."
Nandin mengangguk.
Setidaknya sekarang ia punya satu langkah maju.
Sore harinya ia mendatangi rumah Bu Santi.
Dan mendapatkan nomor adiknya juga.
Namanya Rina.
Sudah lima tahun bekerja di Korea.
Dan kebetulan cukup aktif di komunitas pekerja Indonesia di sana.
"Mungkin dia tahu."
kata Bu Santi.
"Mudah-mudahan."
jawab Nandin.
Padahal di dalam hati...
Ia justru takut.
Karena semakin banyak orang yang tahu.
Semakin besar kemungkinan kabar itu benar.
Malamnya Nandin membuat keputusan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ia membuat akun media sosial.
Facebook.
Instagram.
TikTok.
Semuanya.
Padahal selama ini Nandin hampir tidak pernah bermain media sosial.
Bahkan sebelum menikah pun ia bukan tipe orang yang suka memposting kehidupan pribadinya.
Baginya, media sosial hanyalah tempat orang lain pamer makanan dan liburan.
Tidak lebih.
Namun sekarang berbeda.
Ia sedang mencari sesuatu.
Atau lebih tepatnya...
Seseorang.
Setelah Shella dan Sherly tidur, Nandin mulai membuka satu per satu aplikasi.
Membuat akun.
Mengunggah foto profil.
Lalu mulai mencari.
Nama Wisnu.
Nama perusahaan.
Nama komunitas pekerja Indonesia di Korea.
Apa saja yang mungkin berhubungan.
Namun hasilnya nihil.
Tidak ada apa-apa.
Dua hari berlalu.
Masih tidak ada hasil.
Tiga hari.
Empat hari.
Tetap sama.
Sampai akhirnya Nandin kembali membuka foto profil WhatsApp wanita yang menghubunginya.
Satu-satunya petunjuk yang ia miliki.
Foto itu memperlihatkan seorang perempuan berhijab.
Usianya sekitar tiga puluhan.
Tersenyum di depan sebuah taman.
Biasa saja.
Tidak ada yang mencolok.
Namun saat memperbesar gambar itu, Nandin melihat sesuatu.
Ada nama akun kecil di pojok bawah foto.
Seperti watermark media sosial.
Buram.
Namun masih bisa dibaca sebagian.
Jantung Nandin langsung berdegup.
Ia mencoba mengetik nama itu.
Sekali.
Tidak ketemu.
Dua kali.
Masih tidak ada.
Tiga kali.
Akhirnya muncul.
Satu akun.
Dan foto profilnya sama.
Perempuan yang sama.
Tangan Nandin mulai gemetar.
"Akhirnya..."
bisiknya.
Ia segera membuka profil tersebut.
Namun harapan itu langsung runtuh.
Akun terkunci.
Semua postingan disembunyikan.
Semua foto privat.
Tidak ada informasi apa pun.
Hanya foto profil.
Dan satu kalimat singkat di bio.
"Allah tidak pernah tidur."
Itu saja.
Nandin menghela napas panjang.
Kecewa.
Sangat kecewa.
Karena ia merasa sudah sangat dekat.
Namun tetap tidak bisa melihat apa pun.
Hari-hari berikutnya berubah menjadi rutinitas yang aneh.
Pagi memasak.
Siang mengurus katering.
Sore bermain dengan Shella dan Sherly.
Malam menjadi detektif amatir.
Mencari informasi di internet.
Mencari nama.
Mencari petunjuk.
Mencari apa pun.
Kadang ia sendiri merasa lucu.
Dulu ia bahkan tidak tahu cara membuat akun Instagram.
Sekarang ia menghabiskan waktu berjam-jam mencari seseorang yang bahkan belum tentu mau ditemukan.
"Mamma..."
Suara Sherly membuyarkan lamunannya.
Anak itu memeluk lututnya.
"Mau bobok."
Nandin tersenyum.
Lalu mengangkat putrinya.
"Iya sayang."
Di belakangnya Shella sudah membawa selimut sendiri.
Anak itu memang lebih mandiri.
Membuat hati Nandin hangat setiap kali melihatnya.
Malam itu setelah anak-anak tidur, ponselnya berbunyi.
Pesan dari Fitri.
Adik Bu Hani.
Nandin langsung membukanya.
"Mbak, saya sudah tanya beberapa teman."
Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.
Lalu membaca pesan berikutnya.
"Memang ada kasus yang sedang ramai."
Tangan Nandin mulai dingin.
"Tapi saya belum berani bilang itu benar Wisnu atau bukan."
Napas yang sempat tertahan sedikit lega.
Belum pasti.
Berarti masih ada kemungkinan semua ini salah paham.
Namun pesan berikutnya kembali menghantamnya.
"Tapi nama depannya sama."
Deg.
Dunia seakan berhenti sesaat.
Nama depannya sama.
Berarti...
Kemungkinannya semakin besar.
Malam itu Nandin kembali tidak bisa tidur.
Ia memandangi langit-langit kamar.
Memikirkan banyak hal.
Tentang Wisnu.
Tentang pernikahan mereka.
Tentang semua pengorbanan yang telah ia lakukan.
Dan tentang kemungkinan bahwa selama ini dirinya hidup dalam kebohongan.
Yang paling menyakitkan bukan kemungkinan perselingkuhan itu sendiri.
Melainkan kesadaran bahwa saat dirinya berjuang sendirian membesarkan Shella dan Sherly...
Saat dirinya harus bekerja sambil menggendong bayi...
Saat dirinya dimarahi mertua...
Saat dirinya menangis setiap malam...
Mungkin di tempat lain.
Di negeri yang jauh.
Wisnu sedang membangun kehidupan baru.
Dengan perempuan lain.
"Tolong jangan benar..."
bisik Nandin.
Air mata mulai mengalir.
Untuk pertama kalinya sejak menerima pesan itu.
Ia benar-benar menangis.
Bukan karena marah.
Melainkan karena takut.
Takut bahwa semua kecurigaannya benar.
Takut bahwa semua pengorbanannya sia-sia.
Takut bahwa suatu hari nanti Shella dan Sherly harus mengetahui kenyataan tentang ayah mereka.
Di luar kamar, hujan mulai turun.
Pelan.
Kemudian semakin deras.
Sementara Nandin masih duduk memeluk lututnya.
Sendirian.
Dengan ratusan pertanyaan yang belum memiliki jawaban.
Namun jauh di dalam hatinya...
Ia mulai merasakan sesuatu.
Insting.
Perasaan yang selama ini ia abaikan.
Perasaan yang mengatakan bahwa pesan dari Korea itu bukan kebetulan.
Bahwa perempuan misterius itu muncul karena sebuah alasan.
Dan bahwa kebenaran yang selama ini disembunyikan Wisnu...
Sedang berjalan pelan ke arahnya.
Sedikit demi sedikit.
Hari demi hari.
Sampai akhirnya tidak bisa lagi disembunyikan.
Dan saat hari itu tiba...
Tidak ada yang akan sama lagi.