Putu Saraswati, seorang gadis yang tidak pernah percaya dengan mistis, harus dihadapkan pada sebuah kenyataan menyakitkan, dimana sepupunya Kadek Dwi, harus mengalami sakit keras setelah acara Metatah dan pernikahan yang dilaksanakan secara bersamaan.
Segala upaya di lakukan, dari dokter dan juga dukun, tetapi tidak ada yang sanggup mengobatinya...
Bagaiamana kondisi Kadek Dwi, dan perjuangan Putu Saraswati dalam mengungkap teror yang menimpa keluarga dan juga warga desanya...
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketut Chandra—2
Ketut Chandra menarik gas motornya dengan perlahan. Tangannya masih gemetar berada di stang.
Bayangan lidah panjang berwarna merah dengan taring yang mencuat masih terbayang di benaknya.
Motor yang di kendarainya meraung dengan suara yang berat.
"Dadong, pegangan." ucapnya, mengingatkan wanita tua itu. Entah mengapa ia merasa curiga pada Wayan Ratri, dan itu semakin kuat.
Wayan Ratri tak menyahut, dan membuat Ketut Ratri semakin bergidik ngeri.
Saat melintasi rumah yang memiliki dinding kaca, tanpa sengaja, ia melihat bayangan Wayan Ratri telah berubah menjadi sosok mengerikan, sosok Leak yang sama tadi dilihatnya dalam spion motor.
Bahkan sosok itu menatapnya dengan senyum seringai.
"Hah!" Ketut Candra tak dapat mengendalikan motornya, dan membuatnya menabrak sebatang pohon nyuh gading yang tumbuh di tepi pantai.
Braaaak!
Ia terpental di atas tanah. "Aaaarrgh!" pekiknya.
Sedangkan sosok itu melayang dengan organ tubuh yang meliuk dengan cepat diudara dan menghilang di kegelapan malam.
Saat bersamaan, ponselnya berdering. Satu panggilan dari Nyoman Lingga. Sang paman mengomelinya.
"Ketut. Kenapa kamu biarkan dadong berjalan sendiri datang kemari?" cecar pria itu, dan membuat Ketut Candra melongo.
Pemuda itu meringis kesakitan. Satu uluran tangan menyambutnya. Seorang gadis cantik dengan rambut tergerai membantunya.
"Kamu?" ucapnya dengan nada bingung, sebab tak menyangka jika bertemu dengan gadis yang berada di puskesmas tempo hari.
Sssrrt!
Seperti sebuah sengatan listrik, saat kedua tangan mereka bersentuhan. Dan gadis yang tak lain adalah Saras hanya diam dengan wajah dingin.
Ketut Candra melepaskan tangannya dengan cepat, saat ia sudah berhasil berdiri.
Ia mengusap lengannya, dan rasa aneh menjalar di tubuhnya. Ia seperti merasakan ada sesuatu yang berbeda. Rasa sakitnya mendadak berkurang.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya dengan nada dingin.
"Aku baru saja memeriksa kondisi bayi yang baru di lahirkan. Dan untungnya ia baik-baik saja, meski ibunya harus meninggal," jawab Saraswati.
Pandangannya menyusuri setiap arah, mengendus aroma anyir yang begitu kuat.
Ternyata Wayan Ratri mengetahui l
kehadirannya, sehingga memilih melompat dari boncengan.
"Kau mencari apa?" tanya Ketut Chandra.
"Tidak ada, hanya aku ingin kembali pulang, sudah larut malam," sahutnya.
Ketut Candra mengerutkan keningnya. "Apakah kau melihatnya juga?" ia menatap dengan penuh selidik.
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan," elaknya, kemudian menuju motornya.
Tetapi ia mendadak berhenti, lalu kembali menoleh ke arah Ketut Candra.
"Sat malam Kajeng Kliwon nanti, sebaiknya kamu membuat sesaji Pejati Banten. Lalu bakar dupa di depan rumah, dan jangan lupakan itu," ucapnya dengan pelan, dan berbalik arah menuju motornya.
"Tunggu..." Ketut Candra menghentikannya.
"Ada apa lagi?"
"Siapa namamu?"
Saras menarik nafasnya dengan berat.
"Tak perlu tahu!" jawabnya dengan ketus, meski sebenarnya hati bertolak belakang, dan ia memilih pergi meninggalkan Ketut Candra.
Pemuda itu menatapnya dengan bingung. Tetapi hatinya penuh debaran, entah apa.
Ssssrrrk!
Tiba-tiba saja, ia merasakan ada sesuatu yang merambat di pergelangan tangannya.
Saat ia melihat telapak tangannya, ada tanda berwarna merah, dan itu terjadi setelah ia bersalaman dengan Saraswati barusan.
Sementara itu, di rumah Kadek Cempaka, warga sudah berkumpul dan mengurus jasad wanita malang tersebut.
Sedangkan sang bayi masih nyaman dalam tidurnya sejak Saras memberikannya pertolongan. Ia terlihat nyenyak, meski tidak menyadari, jika ibu yang sudah melahirkannya telah meninggal dunia.
Sedangkan Wayan Ratri terlihat menatap sang bayi dengan rasa lapar yang tak terhingga.
Tetapi ia melihat ada garis pelindung yang tak dapat ia tembus.
"Heeem, Saraswati... Dasar bocah ingusan. Dia sudah menantangku. Dia lupa perjanjiannya, jika berusaha menghalangi, maka tali pengikat jiwa Dwi akan semakin mengencang," gumamnya dalam hati.
Sementara itu, seorang warga ikut memperhatikan gerak dan gerik dari Wayan Ratri yang merasa janggal.
"Meme... Bagaimana ini, dua puterimu sudah meninggal dalam waktu yang sangat berdekatan. Apakah kita harus membuat ritual di Pura Dalem, agar segala malapetaka ini tidak terjadi lagi," Nyoman Lingga membuyarkan lamunan sang ibu yang saat ini sudah terlihat lebih segar dari sebelumnya.
Wayan Ratri menatap puteranya. Ia mengulas senyum yang sangat misterius.
"Dewa Durga menjemputnya lebih awal, itu sudah takdirnya. Sebaiknya kamu bersiap saat Kajeng Kliwon nanti," ucapnya dengan nada suara yang serak.
Nyoman Lingga mengerutkan keningnya. "Kita mau buat ritual tolak bala?" tanyanya dengan rasa penasaran.
Wayan Ratri tidak menjawab pertanyaan dari Nyoman Lingga—puteranya. Ia hanya tersenyum dengan tatapan mata yang terus saja melirik sang bayi yang masih dalam bedongan.
Bayi itu terlalu tenang, dan bahkan sangat tenang bagi seorang anak yang baru saja ditinggalkan oleh ibunya. Cahaya trisula itu masih mencoba melindunginya, hingga hari Kajeng Kliwon nanti.
Sedangkan jasad Kadek Cempaka sudah di mandikan dan di pakaiakan pakaian adat, dan juga dirias. Ia siap di makamkan di setra, sembari menunggu acara ngaben massal digelar.
"Hah!" suara desis Wayan Ratri terdengar cukup pelan, dan tak ada yang mendengarnya, kecuali Nyoman Lingga yang merasakan bulu kuduknya meremang.
"Apakah kita akan membuat sesajen Pejati Banten?" Nyoman berusaha mengusir rasa tak nyamannya.
"Siapkan saja... Siapkan sesajen Pejati Banten, Daksina, Tebasan, dan juga darah ayam cemani," ucapnya dengan suara yang cukup berat.
"Darah Ayam cemani? Dewa Durga tidak butuh itu," ucap Nyoman Lingga.
"Dewa Durga tidak butuh darah, tetapi I Gede Ratu Mecaling menyukainya," sahutnya.
"Meme, itu namanya bukan tolak bala, tetapi memanggil bala," protes Nyoman Lingga.
"lakukan saja, jangan membantah! Dan jima kamu ingin jadi anak berbakti, maka jangan banyak tanya," ia menekan ucapannya.
Wayan Ratri menjilat lidahnya yang keriput, dan sejenak menoleh kembali ke arah bayi tersebut, lalu memilih pergi.
Sedangkan Ketut Wira masih terdiam di pojok rumah. Ia masih tak percaya jima harus kehilangan sang istri. Mereka sudah begitu lama menantikan kehadiran buah hati mereka.
Akan tetapi ia harus kehilangan sang istri, saat bayi mereka di lahirkan.
Ketut Wira menghampiri puterinya yang masih terlelap, lalu mendekapnya dengan penuh kesedihan.
Sementara itu, Ketut Candra masih berdiri di samping motornya yang ringsek. Telapak tangannya terasa panas. Tanda merah dari sentuhan Saraswati tadi mendadak berdenyut.
Rasa sakit yang tadi masih mendera, mendadak menghilang.
Perlahan ia menatap ke arah pantai yang tampak gelap. Tanpa sengaja, ia melihat kembali sosok berambut panjang yang terbang melayang dengan organ tubuh yang menjuntai, dan terlihat menuju ke Pura Dalem.
Tubuh Ketut Candra seolah membeku. Mendadak ia merasa gemetar, dab tanpa berfikir panjang, ia mendorong motornya, dan memilih untuk kembali pukang ke rumah.
Langkahnya terpincang, dan sepanjang perjalanan, ia sedang memikirkan penampakan barusan. Besok ia akan kembali le rumah Wayan Ratri. Ia akan mencari tahu tentang rasa penasarannya.
Di tempat yang berbeda, Putu Dwi terlihat tersenyum saat menatap hasil testpack di tangannya. Ia melibat dua garis merah yang cukup akurat.
Karena bagaimanapun Saraswati anaknya.. 🤧
hadeh punya bapak kok bisa ya memlilih kasta dr anak
aq bgg deh
gila ya hany kasta yg di pandang nya gemblung
kyk keturunan ningrat ya kek gtu
tp skrg udah g sih hehehehe
kmaren akun yg dulu khapus. 😌
hadeh smownkapan itu akan berkahir kasiham saras
Kayaknya Wayan Ratri nggak akan berhenti, sebelum mendapatkan apa yang ia mau.. 😌
masa iya air lebih kental dr darah
weeh piye iki
ada ya pepatah mantan anak
ini gila deh