NovelToon NovelToon
The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkaqia

​"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tahu lebih dulu

Sebuah ruangan luas dengan pencahayaan redup.

Dindingnya dipenuhi layar monitor yang menampilkan berbagai rekaman CCTV dari beberapa sudut kota Jakarta.

Di tengah ruangan...

Devan Malik berdiri membelakangi semua orang.

Setelan hitamnya masih tampak rapi seperti biasa.

Di tangan kanannya, sebuah foto lama terlihat mulai kusut karena terlalu lama digenggam.

Tok.

Tok.

Seorang pria masuk sambil menundukkan kepala.

"Tuan."

Devan tidak menoleh.

"Lapor."

"Tim kami kehilangan jejak Arsen."

Sunyi.

Beberapa detik kemudian...

Devan justru tersenyum tipis.

"Bagus."

Pria itu mengangkat kepala, bingung.

"Tuan?"

"Saya memang ingin dia sibuk."

Devan akhirnya berbalik.

Tatapannya tenang.

Namun ada sesuatu yang sulit dibaca di balik sorot matanya.

"Selama ini..."

"...Arsen terlalu yakin bahwa semua orang datang untuk memburunya."

Devan meletakkan foto tua itu di atas meja.

"Padahal..."

Jarinya perlahan mengetuk wajah bayi perempuan dalam foto tersebut.

"...sejak awal."

"...target mereka bukan Arsen."

Ruangan mendadak hening.

"Melainkan..."

Devan menatap lurus ke arah anak buahnya.

"...Senja Naura Bagaskara."

Pria itu tampak terkejut.

"Berarti selama ini..."

"Iya."

"Saya hanya mengacaukan konsentrasi Arsen."

"Semakin dia fokus melindungi dirinya sendiri..."

"...semakin terlambat dia menyadari siapa perempuan yang berada tepat di sampingnya."

Devan berjalan perlahan menuju jendela.

Tatapannya mengarah ke langit Jakarta yang mulai menggelap.

"Dan sekarang..."

"...dia akhirnya sadar."

"Tapi sudah terlambat."

Anak buahnya memberanikan diri bertanya.

"Tuan..."

"Apakah kita lanjut mengambil Nona Senja?"

Devan terdiam cukup lama.

Lalu menggeleng pelan.

"Tidak."

Anak buahnya kembali bingung.

"Kalau begitu tujuan kita?"

Devan memejamkan mata sesaat.

Saat kembali membukanya...

Sorot matanya berubah jauh lebih dingin.

"Cari orang yang lebih dulu memburunya."

"Pastikan kita menemukan mereka..."

"...sebelum mereka menemukan Senja."

Ruangan kembali sunyi.

Tak seorang pun berani bertanya lagi.

Karena mereka tahu...

Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun bekerja dengan Devan Malik...

Pria itu tidak sedang menjalankan permainan bisnis.

Melainkan...

Perburuan.

Dan di tengah kota Jakarta...

Tanpa disadari oleh Arsen maupun Senja...

Ada kekuatan lain yang kini ikut bergerak.

Bukan untuk mengejar Senja.

Tetapi untuk menjadi pihak pertama yang berhasil menemukannya.

Ruangan kembali sunyi.

Anak buah Devan masih berdiri tegak di hadapannya.

Tak ada yang berani membuka suara.

Sampai akhirnya Devan mengambil sebuah map berwarna cokelat tua dari dalam laci mejanya.

Map itu terlihat usang.

Sudut-sudutnya mulai menguning karena usia.

Ia membukanya perlahan.

Di dalamnya tersusun puluhan foto.

Foto seorang gadis kecil berseragam TK.

Foto seorang anak perempuan yang sedang digandeng Ratih keluar dari sekolah dasar.

Foto saat wisuda SMA.

Hingga...

Foto Senja ketika pertama kali bekerja sebagai Asisten Kreatif Malik Media.

Anak buahnya menatap tumpukan foto itu dengan terkejut.

"Tuan..."

"Sudah sejak kapan Anda mengawasinya?"

Devan tidak langsung menjawab.

Ia mengambil foto paling atas.

Foto seorang gadis kecil yang sedang tertawa sambil meniup lilin ulang tahun.

"Jauh sebelum Arsen mengenalnya."

Jawabannya singkat.

"Tapi kenapa Anda tidak pernah mendekatinya?"

Devan tersenyum tipis.

"Karena belum waktunya."

"Kalau begitu sekarang?"

"Masih belum."

Anak buahnya semakin bingung.

"Lalu kenapa kita mulai bergerak?"

Tatapan Devan perlahan berubah serius.

"Karena..."

"...ada orang lain yang lebih dulu mengetahui keberadaan Senja."

Ruangan kembali hening.

Anak buahnya mengerutkan dahi.

"Siapa?"

Devan menutup map itu perlahan.

"Saya belum tahu."

"Tapi mereka mulai ceroboh."

"Mereka mengirim terlalu banyak orang."

"Dan itu membuat saya yakin..."

"...waktu mereka juga sudah tidak banyak."

"Tuan."

"Hm."

"Kalau begitu, apakah Tuan Arsen bisa melindungi Nona Senja?"

Devan menatap keluar jendela.

Lama.

Sangat lama.

Lalu ia mengembuskan napas pelan.

"Arsen..."

"...terlalu pintar."

Anak buahnya tidak mengerti.

"Bukankah itu justru bagus?"

"Justru karena itu."

Devan menggeleng kecil.

"Dia akan mencari jawaban."

"Semakin banyak jawaban yang dia temukan..."

"...semakin dekat Senja dengan bahaya."

Devan kembali menatap foto Senja.

Kali ini sorot matanya sulit diartikan.

Bukan tatapan seorang pria yang terobsesi.

Melainkan seseorang yang memikul beban rahasia bertahun-tahun.

"Mulai hari ini..."

"Jangan lagi mengawasi Arsen."

Anak buahnya mengangguk.

"Lalu target kita?"

Devan menjawab tanpa ragu.

"Cari siapa yang menghapus identitas Senja dua puluh tahun lalu."

"Karena..."

"...orang itulah yang sekarang sedang memburu Senja."

Kalimat itu membuat seluruh ruangan kembali sunyi.

Dan untuk pertama kalinya...

Pembaca menyadari satu hal.

Devan mungkin bukan orang yang mengejar Senja.

Dia justru sedang berlomba dengan seseorang yang hingga kini belum memperlihatkan wajahnya.

Devan masih berdiri di depan jendela.

Hujan di luar perlahan turun.

Entah kenapa...

Pemandangan itu mengingatkannya pada malam beberapa minggu lalu.

Malam ketika seseorang datang tergesa-gesa ke ruang kerjanya.

"Tuan."

"Ada laporan."

Devan tidak mengalihkan pandangan dari dokumen di tangannya.

"Lapor."

"Orang-orang kita melihat tiga pria sedang membuntuti seorang wanita yang baru keluar dari Malik Media."

Devan mengernyit.

"Siapa?"

"Senja Naura Bagaskara."

Untuk pertama kalinya...

Tangan Devan berhenti bergerak.

"Pastikan."

"Sudah dipastikan, Tuan."

"Mereka mulai mendekat."

"Dan Nona Senja sedang sendirian."

Devan langsung berdiri.

"Berangkat."

Namun...

Belum sempat ia keluar dari ruangan.

Ponselnya kembali berdering.

"Tuan."

"Kami terlambat."

"Maksudmu?"

"Tuan Arsen sudah lebih dulu tiba."

Devan terdiam.

Beberapa detik kemudian, sebuah rekaman singkat dikirim ke ponselnya.

Dari kamera kendaraan timnya.

Dalam rekaman itu...

Arsen berdiri di tengah hujan.

Di depannya, tiga pria yang tadi mengejar Senja berusaha melawan.

Lalu gambar berhenti.

Beberapa menit setelahnya, kamera lain kembali menangkap ketiga pria itu berlari terpencar meninggalkan lokasi.

Devan mematikan layar.

"Ikuti mereka."

Perintahnya singkat.

"Jangan sampai lolos."

"Baik, Tuan."

...

Ingatan itu buyar.

Devan membuka laci mejanya.

Di dalamnya terdapat sebuah map tipis.

Ia mengeluarkan tiga lembar foto.

Foto tiga pria yang malam itu mengejar Senja.

Masing-masing telah diberi cap merah besar bertuliskan:

SELESAI.

Anak buahnya melirik sekilas.

"Tuan..."

"Apakah mereka sempat bicara?"

Devan menutup map itu perlahan.

"Cukup."

"Ada yang mengirim mereka."

"Tapi mereka hanya pion."

"Lalu?"

Devan mengangkat wajahnya.

"Orang yang saya cari..."

"...tidak pernah turun tangan sendiri."

Tatapannya berubah dingin.

"Dan saya yakin..."

"...orang itu akan kembali."

"Kali ini..."

"...untuk Senja."

1
Arya Suluran
bagus banget jalan ceritanya
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!