“ Hidup itu harus di jalani saja ”
Perkataan itu. Membekas di telingaku suara hangat nenek yang memberitahu ku bahwa hidup harus ku jalani dengan ikhlas
Namun waktu cepat berjalan, sehingga aku muak dengan perkataan seperti itu bagi mereka seorang gadis yang tidak berkecukupan harus di perilaku kan berbeda karena dia tidak mampu untuk apapun.
Terkadang kita lelah untuk menjadi orang yang baik, entahlah aku hanya letih menjadi seorang wanita yang baik dan di pandang sebelah mata sama semua orang.
— Jeritan Hati Arumi —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 Semua bunglon!
" Jangan! "
𝘚𝘳𝘦𝘵𝘵!
Sebuah tangan kekar menarik tangannya, membuat tubuh nya terjatuh ke dada bidang lelaki dengan harum yang khas menyegarkan. Indra penciuman nya Arumi membuka matanya ia terisak mengurai pelukan tersebut
" Kenapa kamu biarkan aku untuk ngga melakukan itu? " Tanya Arumi dengan suara serak ke lelaki tersebut yang menatapnya, dengan tatapan teduh
" Bunuh diri bukan akhir dari semuanya!, apapun masalah mu pikirkan dengan baik-baik! " Nasihat lelaki tampan itu
" Cukup!, kamu ngga pernah tau rasanya jadi aku! " Bentak Arumi matanya berkilat marah, ia membuang wajah ke arah lain
" Biarkan aku mati!, aku udah ngga sanggup lagi, aku kotor, hina! " Ucap Arumi terlihat jelas bahwa ia sangat terluka.
Lelaki tersebut menatapnya dalam, ia mengusap bahu wanita itu membuat Arumi terperanjat. " Apapun permasalahan mu jadikan tuhan tempat, untuk kamu mengadu. Bunuh diri bukan akhir dari penderitaan! " Ujar lelaki itu lalu pergi dari sana Arumi menutup matanya — meresapi apa yang dikatakan lelaki tersebut. Yang tidak ia kenal menolong hidupnya
Ia tetiba membuka mata, tidak mendapati sosok itu lagi. " Kemana dia? " Gumam Arumi celingak-celinguk, mencari sosok yang membuatnya tenang sebuah coelan dari belakang membuatnya menoleh lelaki itu yang menyelamatkan nya — berdiri di belakang membuatnya jantungan.
" Ngga usah kagetin! " Cebik Arumi
" Minum!" Lelaki itu mengulurkan air mineral dingin ke sang wanita. Arumi menatapnya dalam ketakutan terlihat jelas di wajahnya
" Ngga usah takut, saya bukan orang jahat.. Saya Samudra " Kata Lelaki itu bernama Samudra dengan ragu Arumi menerima Air mineral tersebut. " Arumi"
" Nama yang indah " Puji Samudra
Buliran air mata mengalir di pelupuk mata Arumi, membuat Samudra mengusapnya mata keduanya bertemu. "Maaf"
" Terimakasih, perkataan kamu mirip nenekku" Kata Arumi tetiba
" Yang mana? "
" Yang tadi, kalau tuhan adalah tempat sebaik-baiknya kita bercerita " Sahut Arumi dengan tatapan kosong.
" Oh itu"
Arumi memilin jemari yang ada di pangkuannya, " Tapi, apakah tuhan akan — Mendengarkan hamba yang sudah ternodai oleh makhluk nya? " Tanya Arumi lirih
Samudra hanya menatapnya dalam tanpa ingin, menghakimi satu sama lain selepas hari itu Arumi berusaha menata kembali hidup nya yang hancur. Ia pindah ke kota lain agar bisa melupaka segalanya
Hari-hari ia habiskan dengan berkerja, setiap subuh ia suka teringat oleh masa lalunya ketakutan itu masih selalu menghantuinya kala ia ingin menunaikan ibadah. Ia hanyalah hamba yang kotor ia malu berhadapan dengan sang maha kuasa,
" Hai! " Sapaan tersebut membuat Arumi yang tengah menata beberapa nasi uduk, mengangkat pandangannya ke sosok Samudra " Kamu ada disini? " Tanya Arumi terkejut melihat sosok lelaki itu ada di depannya.
" Aku lagi dinas di dekat sini, gimana kabar kamu? " Tanya Samudra ia duduk di bangku panjang yang ada di kedai kecil yang Arumi bangun di depan kedainya. Arumi menuangkan secangkir teh hangat pahit ke gelas ia memberikannya ke Samudra
" Baik "
" Kalau ada apa-apa curhat aja ke aku, mumpung masih dinas disini " Kata Samudra tulus membuat Arumi tertawa pahit matanya mengarah ke beberapa warga yang saling menyapa. " Bagi aku semua manusia adalah bunglon, yang bisa berubah seiring berjalannya waktu — aku tidak perlu teman curhat. Jadi maaf " Ungkap Arumi
" Kamu salah besar kalau menilai manusia dari keburukannya doang, kamu tahu ngga kenapa tuhan menciptakan manusia? " Pertanyaan itu membuat Arumi menatap mata almond Samudra yang menenangkan.
" Kenapa? "
" Karena tuhan yakin, manusia itu sosok makhluk yang bisa menyembahnya walaupun banyak — sekali sisi buruknya. Tuhan ngga mandang sisi buruk makhluk — kamu bukan tuhan menghakimi orang lain, "
𝘑𝘭𝘦𝘥𝘦𝘳!
Perkataan itu membuat hati Arumi bergetar, ia menggeleng kan kepalanya
" Aku benci manusia " Ungkap Arumi air mata mengalir deras kenangan buruk itu menghantuinya, membuat jiwanya terluka hebat sekali — Samudra membawanya ke pelukan " Manusia ada kok yang baik, contohnya aku " Sahut Samudra