"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."
Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".
Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.
Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Perbudakan di Balik Janji Palsu
Pagi itu, langit di atas kediaman Adiwangsa tampak kelabu, seolah turut berduka menyaksikan apa yang terjadi di balik pintu megah tersebut. Aruna berdiri di dapur dengan napas yang berat. Tubuhnya terasa nyeri; memar di pipinya akibat tamparan Adrian kemarin kini telah berubah menjadi ungu kebiruan yang kontras dengan kulit pucatnya. Namun, ia tidak diizinkan untuk beristirahat.
Seperti biasa Aruna bersih-bersih rumah, tak ubahnya seorang pembantu. Hari ini di sedang mengepel rumah , yang setiap pagi dan sore dia lakukan, namun tak pernah terlihat bersih atau selalu saja sengaja di kotori.
"Aruna! Kenapa lantai ini masih terasa lengket?" lengkingan Nyonya Adiwangsa menggema.
Tanpa menunggu jawaban, mertuanya itu sengaja menumpahkan segelas susu cokelat tepat di depan kaki Aruna. "Bersihkan sekarang. Pakai tanganmu, jangan pakai pel. Aku ingin kau belajar bagaimana cara menghargai kebersihan di rumah ini."
"Iya.. Mah..!!" jika saja bukan amanat dari ayahnya untuk merawat rumah warisan ini . Aruna sudah pergi jauh dari penjara ini.
"cepat.. Jangan banyak melamun..!!" bentak mertuanya lagi.
Aruna menelan ludah, tenggorokannya terasa tersumbat oleh rasa hina. Ia berlutut, mulai menyeka tumpahan susu itu dengan sehelai kain. Di saat itulah, Valerie turun dari lantai atas dengan langkah anggun, mengenakan salah satu gaun sutra milik Aruna yang belum sempat ia kemas.
"Aduh, hati-hati Aruna. Jangan sampai susunya terkena sepatuku, harganya lebih mahal daripada nyawamu," sindir Valerie sembari sengaja menginjak jari jemari Aruna dengan tumit stiletto-nya.
Aruna merintih kecil, menarik tangannya yang gemetar. Namun, bukannya menolong, Adrian yang baru saja muncul justru menghampiri Valerie dan merangkul pinggangnya.
"Valerie, gimana bajunya suka..?" ini hadiah buat dedikasi kamu..!!" Adrian melihat Aruna yang yang terduduk dilantai. "kenapa kamu..!"
"Sakit, Mas..." bisik Aruna dengan mata berkaca-kaca, menatap suaminya.
Adrian menatap Aruna dengan tatapan jijik yang begitu dalam. "Jangan cengeng. Itu hanya sentuhan kecil. Gitu aja kamu nangis, mau aku belain, maaf Aruna kamu itu gak ads apa-apanya dengan Valarie.. Sekarang Valerie sedang lelah karena membantu urusan kantorku, jangan buat dia kesal dengan keluhanmu yang tidak berguna."
Aruna bangkit berdiri, melihat gaun miliknya yang dipakai Valerie. "Lepaskan.. Itu bajuku.. Itu gaunku..!!" Aruna mencengkram bahu Valerie.
Plak ..!!"
Adrian menampar Aruna, "kamu ini, gak bisa sebentar saja jangan ganggu Valerie.. Heuh!!"
"Tapi mas, itu bajuku hadiah ulang tahun dari ayahku..!! Rintih Aruna.
"Eh..denger Aruna..Valerie ini sudah berjasa.. Membangun kembali perusahaan ayahmu yang hampir kolaps, wajar dong aku kasih hadiah.. Dia suka baju ini..!!" kamu pelit banget jadi orang..!!"
Valerie berbisik ke Aruna.
"Kamu akan dibuang dari rumah ini.. Kamu tidak lebih mirip sampah.. Adrian ingin punya anak dariku.. Karena kamu mandul..!!"
"Aruna marah dan mendorong Valerie hampir terjatuh ,Namun segera Adrian menolongnya dan merangkulnya..!!"
"Ada apa lagi sih Aruna..??" Bentak Adrian.
"Dia menghina_... Aruna tertahan.
"Aku hanya mengucapkan terimaksih atas bajunya.. Kok dia jadi Marah..!!" potong Valerie menghasut.
"sudah Aruna.. Kamu beresin rumah.. Jangan banyak tingkah.. Orang lulusan rendahan kayak kamu hanya tahu cuci piring dan menyapu saja!!" jangan merasa bisa bersaing dengan Valerie yang beependidikan tinggi.!!"
Aruna pun bungkam, percuma bicara pada orang yang tidak percaya padanya.
Adrian melangkah ke ruang kerjanyanya. setelah
Setelah sarapan yang penuh dengan hinaan itu, Adrian memanggil Aruna ke ruang tengah. Dokumen perceraian yang kemarin sempat dibahas kini tergeletak di meja, namun ada satu lembar kertas tambahan di sana.
"Aruna," ujar Adrian dengan nada yang tiba-tiba melunak, namun matanya tetap dingin. "Aku sudah berbicara dengan Mama. Kami pikir, proses perceraian ini akan memakan waktu lama dan merusak citra keluarga. Aku bisa saja membatalkan gugatan cerai ini."
Harapan kecil sempat melintas di hati Aruna, namun itu segera dipadamkan oleh kalimat Adrian selanjutnya.
"Tapi ada syaratnya," sambung Adrian. "Kau harus menandatangani surat 'Perjanjian Kepatuhan' ini. Isinya sederhana: kau akan tetap menjadi istriku di mata hukum, tapi kau harus melepaskan semua hak nafkahmu, mengurus seluruh kebutuhan rumah tangga tanpa asisten, dan yang paling penting... kau harus menerima Valerie tinggal di sini sebagai tunanganku secara tidak resmi."
Aruna terbelalak. "Kau memintaku menjadi pembantu untuk selingkuhanmu sendiri, Adrian? Di rumah yang dibangun oleh Ayahku?"
Plak!
Nyonya Adiwangsa menampar meja. "Jangan bawa-bawa ayahmu lagi! Kau harusnya bersyukur Adrian masih mau memberimu status 'Istri'. Tanpa status itu, kau hanyalah sampah jalanan. Jika kau nurut, kau masih punya atap untuk berteduh. Jika tidak, aku akan memastikan kau keluar dari sini dengan tuduhan pencurian perhiasan keluarga, dan kau tahu siapa yang akan dipercaya polisi, bukan?"
Manipulasi itu begitu sempurna. Mereka tidak ingin menceraikan Aruna sekarang bukan karena cinta, tapi karena mereka butuh seseorang untuk mengerjakan pekerjaan kotor di rumah dan menjadi samsat emosional bagi Valerie. Mereka ingin "pembantu gratis" yang bisa mereka ikat dengan ancaman hukum.
"Pikirkan baik-baik, Aruna," Adrian mendekat, membisikkan kata-kata yang menyayat hati tepat di telinga istrinya. "Pilihannya hanya dua: tetap di sini sebagai pelayan patuh dan aku akan membatalkan perceraian, atau kau pergi hari ini dan aku akan memastikan kau mendekam di penjara sebelum sempat mengemis di lampu merah."
Valerie tertawa renyah, bersandar di dada Adrian seolah-olah ia sudah menjadi pemenang mutlak. "Ayo, Aruna. Tanda tangani saja. Aku berjanji tidak akan terlalu sering menyuruhmu mencuci pakaian dalamku... mungkin."
Aruna menunduk dalam, membiarkan rambutnya menutupi wajahnya yang hancur. "jika saja ini bukan warisan dari ayah.. "Aku sudi mengurusnya..!" Di balik kegelapan itu, matanya berkilat. Ia sedang menghitung. Dia harus cari cara untuk keluar dari sini. Dan membuat mereka menyesal setelah kepergiannya.
"Baik," bisik Aruna parau. "Aku akan menandatanganinya. Aku akan... nurut."
Adrian tersenyum puas, sebuah senyum kemenangan yang sangat arogan. "Pilihan cerdas. Sekarang, pergi ke belakang. Cuci semua mobil dan pastikan kamar tamu untuk Valerie sudah wangi sebelum sore."
Aruna berjalan menuju pintu belakang dengan langkah gontai. Saat ia melewati cermin di lorong, ia melihat bayangannya sendiri—seorang wanita yang tampak hancur, namun tangannya meraba saku dasternya. Di sana, terselip kunci kecil brankas ayahnya.
Tertawalah sekarang, Adrian. Hinalah aku sepuasmu, Valerie, batin Aruna. Aku akan menjadi pembantu di rumah ini hanya untuk satu tujuan: melihat bagaimana kalian berdua membangun menara kartu di atas tanahku, sebelum aku sendiri yang akan merobohkannya dengan satu sentuhan.
Siksaan fisik ini berat, namun dendam yang kini membara di dadanya jauh lebih kuat daripada rasa sakit manapun.