Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.
Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.
Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.
Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31# Pertemuan Kembali
"Alena kau tidak apa-apa? Jangan salah paham, aku sama sekali tidak menyesal dan tidak akan pernah, bukan kah bagus kalau Ayla sudah menikah? Dengan begitu dia tidak akan menggangu hubungan kita lagi, dia juga tidak perlu tinggal di sini untuk mengusik ketenangan mu," ucap Rey segera menghampiri Alena untuk menenangkan nya.
"Jadi kau tidak menyesal?" tanya Alena.
"Iya, aku sama sekali tidak menyesal, aku malah senang karena tidak ada yang menggangu ku lagi," ucap Rey sambil memeluk Alena.
"Alena aku minta maaf, aku tidak bermaksud menyakiti perasaan mu, aku hanya ingin melihat dengan jelas reaksi Reyhan, apakah dia benar-benar mencintai mu atau masih menyimpan Ayla di dalam hatinya, sekarang kau tidak perlu khawatir karena sepertinya Reyhan benar-benar mencintai mu," ucap Adnan dengan wajah lega.
"Maafkan aku kak, aku pikir kau sengaja," ucap Alena.
"Kalian mengobrol saja, aku ingin keluar sebentar, sopir sudah menunggu, aku bosan di rumah," ucap Adnan yang kemudian berlalu pergi dengan seorang pelayan yang mendorong kursi roda nya.
Ia sebelumnya meminta sopir pribadi untuk membawanya jalan-jalan ke mall karena merasa bosan berdiam diri di rumah sendirian.
"Kenapa kak Adnan tampak sedikit dingin hari ini? Dia terlihat berbeda, tidak seperti biasanya, apa yang sebenarnya terjadi? Apa dia marah padaku karena aku tidak punya waktu menemani nya di rumah?" batin Alena yang saat ini masih berada di dalam pelukan Reyhan.
Satu jam kemudian ...
Adnan kini tiba di mall, dia meminta sopirnya untuk membawanya berkeliling di dalam mall tersebut sekedar menghilangkan rasa suntuk dan bosan yang dia rasakan.
Sementara itu tak jauh dari sana.
"Ini cocok untuk mu," ucap Gavin sambil meletakkan sebuah jepit rambut kelinci di rambut Ayla.
"Jangan, ini terlalu mahal," ucap Ayla mengambil dan meletakkan jepit tersebut kembali ke tempat semula.
"Kau pikir aku miskin sampai jepit rambut saja tidak bisa ku beli?" lirih Valen yang ada di belakang mereka.
Azka yang mendengar itu hanya bisa menahan tawa, istri boss terlalu hemat ini benar-benar membuat nya merasa lucu.
"Ayla, uang kakaku bahkan bisa membelimu mall ini, bukan hanya sebuah jepit rambut yang harganya tidak seberapa ini," ucap Gavin lagi.
"Tapi aku tidak terbiasa memakai barang mewah," ucap Ayla, ia kembali mengingat semua hal yang dia miliki dari keluarga Gunawan hal-hal yang dia punya adalah hal milik Alena yang tidak Alena inginkan semua itu hanya bekas yang tidak terpakai atau sudah usang.
"Buang kebiasaan hidup mu di keluarga Gunawan, sekarang kau hidup bersama kami di keluarga Aditama," ucap Valen yang mengerti apa yang sedang di pikirkan Ayla saat ini.
"B-baiklah," jawab Ayla pasrah.
"Oke kalau begitu aku akan memilihkan Bebe yang cocok untuk mu," ucap Gavin antusias.
Ia dan Ayla mulai memilih aksesoris, ini pertama kalinya Ayla merasa sangat bahagia di kelilingi orang-orang yang memanjakan dirinya, rasa memiliki kakak laki-laki yang baik pun kembali dia rasakan saat ia bersama dengan Gavin.
"Pilih dengan perlahan, aku akan keluar untuk menerima telpon, ayo Azka," ucap Valen.
"Tuan muda, siapa yang menelepon? Ponselmu padaku," kata Azka kebingungan karena memang tidak nada panggilan masuk.
"Bicara lagi potong gaji," ucap Valen yang sebenarnya sangat bosan dengan keramaian.
Mendengar itu Azka segera tutup mulut dan membawa Valen menjauh dari sana.
Sepeninggal Valen.
"Tuan," panggil sopir yang saat ini menemani Adnan jalan-jalan.
"Apa?" Tanya Adnan singkat.
"Itu, bukan kah itu nona Ayla?" Tanya sang sopir sambil menunjuk ke suatu tempat.
Adnan segera menoleh dan mendapati sosok yang ternyata benar-benar sang adik yang pada saat itu sibuk memilih barang bersama seorang laki-laki yang tidak di kenali Adnan, sesekali mereka tertawa bahagia bercanda bersama.
"Ayla, apa yang dia lakukan di sini? Kenapa dia bersama seorang pria? Bukan kah tuan muda Valen cacat? Apa jangan-jangan ..." Adnan menggantung kalimatnya sejenak.
Pikiran buruk mulai kembali menerpa otak Adnan, dia malah menyangka kalau Ayla selingkuh dengan laki-laki lain karena tidak sanggup hidup dengan Valen yang cacat.
"Gawat, kalau sampai kelurga Aditama tau soal ini Ayla bisa-bisa akan di ceraikan dan keluarga Gunawan akan jatuh bangkrut karena perbuatan Ayla," ucap Adnan.
Padahal baru beberapa jam lalu dia menangis dan merasa kesal atas kepergian Ayla dari rumah serta gaun yang tidak sempat di pakai itu, namun pikirkan buruk malah kembali menguasai dirinya.
"Cepat, bawa aku ke sana," ucap Adnan kepada sopir nya.
"Baik tuan," sang sopir segera mendorong kursi roda Adnan menuju tempat tersebut.
Tak butuh waktu lama mereka pun akhirnya tiba di dekat Ayla dan Gavin.
"Ayla!" ucap Adnan dengan suara lantang yang membuat Ayla serta Gavin menoleh karena kaget.
"Astaga, membuat ku kaget saja, siapa ini? Kenapa sepertinya tidak punya tata krama sama sekali," ucap Gavin sambil mengelus dada.
Sementara itu Ayla yang melihat Adnan merasa gelisah entah kenapa hatinya selalu merasa ada getaran trauma yang mendalam setelah melihat orang-orang dari keluarga Gunawan.
Reflek dia memegang tangan Gavin.
"Ayla, kau itu sudah menikah dengan keluarga Aditama, kenapa kau di sini dan jalan-jalan dengan seorang laki-laki?" ucap Adnan sambil menatap tajam Ayla.
"Kalau aku bilang aku suaminya apa kau percaya?" ucap Gavin sambil cengengesan.
"Tidak mungkin, laki-laki yang di nikahi Ayla adalah seorang pria lumpuh yang memiliki keterbelakangan mental," ucap Adnan marah.
"Dilihat-lihat dari gaya bicramu ini sepertinya kau sangat mengenal suaminya ya?" ucap Gavin.
Diam-diam Gavin menghubungi sang kakak, pada saat itu pula telpon mereka sudah terhubung satu sama lain.
"Aku tidak bicara dengan mu, aku bicara dengan nya," ucap Adnan lagi sambil mengarahkan pandangan nya kepada Ayla.
"Ayla jangan takut, katakan padaku siapa dia? Jangan khawatir, aku ada di sini aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti nya," ucap Gavin sambil memegang pundak Ayla.
Adnan yang melihat kedekatan itu merasa semakin geran.
"Di-dia anggota keluarga Gunawan, Adnan," ucap Ayla setengah berbisik kepada Gavin.
"Ohh, jadi ini kakak yang selalu menindas adik kandung nya sendiri dan malah memanjakan anak angkat," ucap Gavin melangkah satu langkah maju ke hadapan Adnan dan melindungi Ayla di belakang nya.
Sementara Valen dan sang Leo yang mendengar itu bergegas menuju ke lokasi di mana Ayla dan Gavin kini berada.
"Ada apa tuan muda?" Tanya Leo kepada Valen.
"Ada pengacau," ucap Valen meminta Leo lebih cepat untuk membawanya ke tempat itu.
Sementara itu ...
"Apa urusannya dengan mu? Dia memang pantas," ucap Adnan.
****