NovelToon NovelToon
Peluru, Cinta, Dan Kerupuk Kaleng

Peluru, Cinta, Dan Kerupuk Kaleng

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Ailen Gavril bukanlah gadis biasa. Ia cantik, lincah, dan memiliki kemampuan bela diri yang bisa membuat atlet olimpiade menangis di pojok ruangan. Namun, otaknya punya setelan "konsleting" yang permanen. Ailen bisa saja menghajar sepuluh preman sendirian, lalu semenit kemudian menangis karena es krimnya jatuh ke aspal.
​Di sisi lain dunia yang gelap, Leon Vancort, sang "Iblis Tak Berperasaan", memimpin sindikat mafia terbesar dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan perhitungan matang, kesunyian, dan kemewahan yang dingin. Sampai suatu malam, rencana pembunuhan berencana yang disusun Leon selama berbulan-bulan hancur total karena Ailen tiba-tiba jatuh dari atap gudang tepat di atas targetnya, hanya karena ia sedang mengejar kucing yang mencuri sandal jepitnya.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecemburuan yang Membakar Markas Besar

Kepergian Elena Moretti memang mengakhiri ancaman dari klan Italia, namun sisa-sisa ketegangan masih tertinggal di koridor Mansion Vancort. Bagi Leon, masalah Elena hanyalah gangguan administratif. Namun bagi Ailen, bayangan wanita sempurna yang bisa menembak tepat sasaran dan berbicara bahasa Italia dengan anggun itu meninggalkan lubang kecil di rasa percaya dirinya.

​Pagi itu, Markas Besar Vancort—sebuah kompleks bangunan berteknologi tinggi yang tersembunyi di balik perbukitan pinggiran kota—sedang dalam kondisi siaga satu. Leon harus memimpin rapat besar dengan para kepala divisi untuk membahas reorganisasi keamanan pasca-pengkhianatan Donovan. Ailen, yang kini resmi menyandang status sebagai "Murid Pelatihan Taktis," ikut serta, namun ia merasa seperti ikan koki di dalam tangki berisi hiu putih.

​"Tuan, kita harus memastikan jalur distribusi di sektor Barat tetap bersih," ucap seorang komandan lapangan bernama Sarah, seorang wanita jangkung dengan rambut cepak yang memiliki reputasi sebagai salah satu penembak jitu terbaik Vancort.

​Ailen memperhatikan bagaimana Sarah menatap Leon—penuh kekaguman yang profesional, namun ada kilatan di matanya yang membuat Ailen merasa gerah. Sarah seringkali mendekati Leon untuk menunjukkan peta digital di tabletnya, membiarkan bahu mereka bersentuhan sesekali.

Leon, yang biasanya peka terhadap niat membunuh musuh, ternyata sangat tumpul terhadap sinyal kecemburuan wanita. Ia tetap fokus pada peta, sesekali mengangguk pada penjelasan Sarah.

​"Mas Leon," panggil Ailen tiba-tiba di tengah keheningan ruang rapat yang tegang.

​Leon mendongak. "Ya, Ailen?"

​"Itu... di kerah baju Mas ada helai rambut panjang warna pirang. Padahal rambut saya kan hitam," ucap Ailen dengan nada datar yang sangat tidak biasa baginya.

​Seluruh ruangan mendadak sunyi. Marco pura-pura sibuk memeriksa kuku jarinya, sementara Sarah sedikit menjauh dengan wajah yang mendadak kaku. Rambut pirang itu jelas milik Sarah.

​"Hanya rambut, Ailen. Kita sedang membahas strategi serius," jawab Leon tanpa curiga, sambil mengibaskan rambut itu begitu saja ke lantai.

​Ailen tidak menyahut. Ia berdiri, mengambil tas ranselnya, dan berjalan keluar ruangan. "Saya mau latihan sendiri aja di gudang belakang. Di sini udaranya terlalu banyak parfum 'ambisi'."

Ailen tidak benar-benar pergi ke lapangan tembak. Ia pergi ke laboratorium riset dan gudang logistik yang berada di bagian belakang Markas Besar. Pikirannya kacau. Ia merasa Leon tidak membelanya, atau minimal tidak menyadari betapa tidak nyamannya Ailen dengan kehadiran wanita-wanita "hebat" di sekitar Leon.

​"Kalau mereka hebat karena bisa nembak, saya juga bisa bikin sesuatu yang lebih dahsyat!" gumam Ailen sambil mulai mencampur beberapa bahan kimia pembersih yang ia temukan di gudang logistik.

​Niat awalnya adalah membuat "Bom Bau" yang lebih kuat untuk mengerjai Sarah nanti sore. Ia mencampurkan amonia, pemutih pakaian dalam jumlah besar, dan beberapa botol esens cuka pekat. Namun, dalam kekalutan emosinya, Ailen lupa pada satu hukum dasar kimia yang pernah ia dengar di sekolah dulu: Jangan pernah mencampur pemutih dengan amonia di ruang tertutup.

​Reaksi kimia terjadi lebih cepat dari yang ia bayangkan. Asap berwarna kekuningan mulai membumbung tinggi. Bukan sekadar bau, gas ini mulai membuat matanya perih luar biasa.

​"Waduh! Kok jadinya kayak gini?!" Ailen mencoba menyiram campuran itu dengan air, namun tindakan itu justru menciptakan reaksi panas yang membuat wadah plastiknya meleleh dan tumpah ke arah kabel listrik cadangan yang terbuka.

​Zzzzt... BUM!

​Percikan api menyambar tumpukan kain pembersih yang berminyak di pojok gudang. Dalam hitungan detik, gudang logistik itu mulai terbakar. Alarm kebakaran Markas Besar meraung-raung, memutus rapat penting Leon di gedung utama.

"Laporan! Gudang logistik sektor C terbakar! Ada ledakan gas kimia!" suara operator keamanan bergema di seluruh Markas.

​Leon langsung berdiri, jantungnya berdegup kencang bukan karena takut pada api, tapi karena ia tahu Ailen tadi pamit menuju ke arah sana. "Ailen!"

​Leon berlari menembus lorong-lorong Markas, diikuti oleh Marco dan Sarah. Saat mereka sampai di sektor C, asap hitam pekat sudah menyelimuti area tersebut. Para petugas pemadam kebakaran internal sedang berjuang memadamkan api yang berwarna hijau kebiruan—tanda bahwa ada bahan kimia yang terbakar.

​"Ailen! Kau di dalam?!" teriak Leon, ia mencoba menerobos masuk namun ditahan oleh Marco.

​"Tuan, udaranya beracun! Anda butuh masker!"

​Tiba-tiba, pintu gudang tertendang dari dalam. Ailen keluar sambil terbatuk-batuk hebat, wajahnya cemong hitam, dan ia menyeret sebuah tabung pemadam api yang sudah kosong. Yang mengejutkan, ia tidak keluar sendirian. Ia merangkul seorang petugas kebersihan tua yang pingsan karena menghirup asap.

​Leon segera menyambar Ailen, mengangkatnya menjauh dari area kebakaran. "Kau gila?! Apa yang kau lakukan di sana?!"

Setelah api berhasil dipadamkan dan Ailen diberikan bantuan oksigen di ruang medis, suasana menjadi sangat berat. Leon berdiri di depan jendela, membelakangi Ailen. Ini adalah pertama kalinya Leon terlihat benar-benar marah—bukan kemarahan dingin seperti biasanya, tapi kemarahan yang bergetar.

​"Kau bisa saja mati, Ailen," ucap Leon lirih. "Hanya karena kau merasa cemburu pada hal yang tidak penting, kau membahayakan nyawamu dan orang lain."

​Ailen menunduk, air matanya menetes, menghapus noda hitam di pipinya. "Saya cuma mau ngerasa berguna, Mas. Saya liat Mbak Sarah, liat Mbak Elena... mereka semua bisa kasih Mas sesuatu yang hebat. Sedangkan saya? Saya cuma bisa bikin kacau. Tadi saya mau bikin sesuatu buat pamer ke Mas, tapi malah meledak."

​Leon berbalik. Ia berjalan mendekati Ailen, berlutut di depannya, dan menggenggam tangan Ailen yang sedikit memerah karena panas.

​"Kau pikir aku butuh bom yang hebat atau strategi militer darimu?" tanya Leon. "Aku punya seribu orang yang bisa melakukan itu. Tapi aku hanya punya satu orang yang cukup bodoh untuk menyelamatkan petugas kebersihan di tengah api kimia hanya karena dia merasa bertanggung jawab atas kekacauannya sendiri."

​Leon menghela napas, kemarahannya luntur digantikan oleh rasa lega yang luar biasa. "Markas ini bisa dibangun kembali, Ailen. Tapi kalau kau terluka... tidak ada cetak biru yang bisa mengembalikanmu."

Ailen terisak. "Maaf ya Mas, markasnya jadi angus dikit."

​"Bukan angus dikit, Ailen. Satu gudang logistik harus dirombak total," sahut Marco dari ambang pintu dengan nada geli yang tertahan. "Tapi setidaknya, Sarah sekarang sangat ketakutan padamu. Dia mengira kau sengaja membakar gudang itu untuk menunjukkan kekuatan 'penghancur' milikmu."

​Ailen mendongak. "Beneran, Mas Marco?"

​"Ya. Dia bilang pada timnya kalau tunangan bos itu 'tidak stabil dan sangat berbahaya'. Kurasa dia tidak akan berani mendekati kerah baju Tuan Leon lagi," tambah Marco sambil mengedipkan mata.

​Leon tersenyum tipis. Ia mengusap wajah Ailen dengan sapu tangannya. "Cemburumu sangat mahal harganya, Ailen. Lain kali, kalau kau cemburu, bilang saja padaku. Aku akan memecat siapa pun yang membuatmu merasa kecil, daripada kau harus membakar markas besar kita."

​"Jangan dipecat juga, Mas. Kasihan. Mas aja yang harus lebih peka! Masa ada rambut pirang di baju Mas nggak ngerasa?" protes Ailen, kembali ke sifat aslinya.

Kejadian "Kecemburuan Membakar Markas" ini akhirnya menjadi legenda di kalangan anak buah Vancort. Mereka belajar satu hal penting: Jangan pernah membuat Ailen Gavril merasa terancam secara emosional jika tidak ingin melihat departemen logistik meledak.

​Sore itu, Leon membawa Ailen duduk di atap Markas Besar, melihat matahari terbenam yang tertutup sedikit asap sisa kebakaran.

​"Mas Leon," panggil Ailen sambil menyandarkan kepalanya.

​"Ya?"

​"Mas sayang saya karena saya anomali, atau karena saya emang pantes disayang?"

​Leon menatap langit jingga. "Awalnya karena kau anomali. Kau adalah variabel yang tidak bisa kuprediksi. Tapi sekarang... aku menyayangimu karena kau adalah satu-satunya orang yang membuat markas yang dingin ini terasa seperti memiliki 'api'. Walaupun kadang apinya terlalu besar sampai membakar gudang."

​Ailen tertawa renyah. "Janji ya Mas, jangan deket-deket Mbak Sarah lagi. Kalau dia nanya soal peta, suruh nanya ke Mas Marco aja."

​"Janji," ucap Leon sambil mencium puncak kepala Ailen.

​Malam itu, Markas Besar Vancort memang sedikit berbau asap, namun untuk pertama kalinya, tempat itu tidak lagi terasa seperti pusat komando militer yang kaku. Ada rasa hangat yang berbeda, rasa hangat yang muncul dari sebuah kekacauan yang lahir dari cinta yang jujur, meskipun dibumbui dengan sedikit ledakan kimia dan daster yang kini berlubang karena percikan api.

1
Riska Baelah
ap pun msalh ny slalu berakhir dng manis🤣😄🤣😄🤭👍
kya martabak komplit👍👍👍
Riska Baelah
suka bnget sama leon mna bos kaya, sabar lg ngadepin si aelin kekasih semprul ny😄🤣😄🤭👍👍👍👍
Riska Baelah
🤣😄🤣😄😄😄🤣🤭
Riska Baelah
ya gak d kenyataan gak d dunia novel yg nma ny perempuan, klu liat diskon gak akan thannnn🤣😄🤣😄🤣🤭
Riska Baelah
swettt😍😍😍😍
Riska Baelah
sempat2 ny leon ailen ciuman d tengah perang yaaa🤣😄🤣😄🤭
Riska Baelah
😍😍😍😍😍
Riska Baelah
lnjut👍👍👍👍
Riska Baelah
😍😍😍😍😍😍
Riska Baelah
kk ini ya bisa bnget buat kata2"
tampa ada sehelai rambut yg brani membangkang"😄🤣😄🤣😄🤭👍
Riska Baelah
gimana cara ny mati sambil ketawa😄🤣😄🤣🤭 ad2 aj kk ini👍
Riska Baelah
🤣😄🤣😄🤣🤭👍
Riska Baelah
kk, ap ini kisah ank ny karin sama vittorio,,yg d sebelah
Riska Baelah: kirain, soal ny blum rela jg klu vittorio d tamatin🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!