NovelToon NovelToon
He Is My Imam, Not My Oppa

He Is My Imam, Not My Oppa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DEBARAN HALAL DI AMBANG MALAM

Setelah badai fitnah yang menerjang, suasana di kediaman kecil Gus Zikri dan Mentari berubah drastis. Jika sebelumnya rumah itu terasa seperti medan perang yang dingin, kini atmosfernya dipenuhi oleh kehangatan yang canggung namun manis. Zikri tidak lagi menghindar. Sebaliknya, ia seolah ingin memastikan bahwa setiap inci dari hati Mentari merasa aman di bawah perlindungannya.

Malam itu, hujan turun membasuh bumi pesantren dengan rintik yang tenang. Suara kodok bersahutan di kejauhan, menciptakan simfoni alam yang syahdu. Di dalam kamar, Mentari sedang merapikan mukenanya setelah melaksanakan salat Isya berjamaah dengan suaminya.

Gus Zikri masih duduk di atas sajadahnya, memutar butiran tasbih dengan jemari yang tenang. Namun, matanya sesekali melirik ke arah Mentari bukan lagi dengan tatapan menghakimi, melainkan dengan tatapan yang penuh dengan kekaguman yang dalam.

"Mentari," panggil Zikri rendah.

Mentari menoleh, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang setiap kali mendengar suara bariton itu memanggil namanya. "Iya, Gus?"

"Sini duduk sebentar," Zikri menepuk tempat di sampingnya.

Mentari mendekat, duduk bersila dengan jarak yang kini hanya terpaut beberapa sentimeter. Aroma wangi dari mukena Mentari yang bercampur dengan parfum vanila lembutnya seolah memenuhi ruang napas Zikri.

"Terima kasih sudah bertahan," ucap Zikri tiba-tiba. Tangan pria itu bergerak perlahan, seolah ragu, namun akhirnya ia memberanikan diri untuk menggenggam tangan Mentari. "Saya tahu tidak mudah menghadapi semua hujatan itu. Tapi kamu tetap di sini, di samping saya."

Mentari tersenyum, senyuman yang kini terlihat sangat tulus tanpa beban. "Selama Gus nggak lepasin tangan aku, aku bakal terus di sini. Aku baru sadar kalau dunia luar itu nggak ada apa-apanya dibanding ketenangan di sini, sama kamu."

Zikri menatap wajah istrinya. Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, Mentari terlihat begitu cantik. Rambut pirangnya yang kini tertutup rapi saat di luar rumah, kini tergerai indah di pundaknya. Zikri merasa seolah-olah ia sedang menatap sebuah keajaiban yang selama ini ia coba sangkal.

Zikri mendekatkan wajahnya, membuat Mentari refleks menahan napas. "Boleh saya mencium istri saya?" bisik Zikri dengan nada yang sangat rendah, penuh dengan rasa hormat namun juga kerinduan yang besar.

Mentari tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan, matanya mulai terpejam.

Awalnya, sentuhan bibir Zikri terasa sangat lembut dan ragu-ragu, seolah ia sedang menyentuh kelopak bunga yang paling rapuh. Namun, saat Mentari membalas dengan melingkarkan tangannya di leher Zikri, dinding pertahanan yang selama ini dibangun sang Gus akhirnya runtuh.

Ciuman itu berubah menjadi ungkapan dari segala rasa yang selama ini terpendam rasa bersalah, rasa haru, dan rasa cinta yang akhirnya menemukan jalannya. Tidak ada lagi dinginnya "Gus Kulkas". Di momen itu, Zikri menunjukkan sisi manusianya yang paling hangat. Debaran jantung mereka bersahutan, seirama dengan rintik hujan di luar sana. Bagi Mentari, ini adalah ciuman pertama yang ia rasakan bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai sebuah janji suci.

Beberapa saat kemudian, Zikri melepaskan pagutannya perlahan, dahi mereka masih saling menempel. Napas mereka memburu. Zikri tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat langka dan mampu membuat kaki Mentari terasa lemas.

"Ternyata... Gus nggak sedingin yang aku kira ya?" goda Mentari dengan wajah yang memerah hebat.

Zikri terkekeh pelan, ia mengusap pipi Mentari dengan ibu jarinya. "Kulkas juga bisa mencair kalau terkena matahari, kan? Dan kamu adalah mentari saya."

Mentari tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di dada bidang Zikri. "Duh, Gus Zikri jago gombal juga ternyata. Belajar dari mana? Kitab Kuning nggak ada bab gombal, kan?"

"Belajar dari hati yang selama ini saya kunci rapat-rapat," jawab Zikri jujur.

Tiba-tiba, suara ketukan pintu depan yang sangat keras mengejutkan mereka.

"TARI! GUE TAHU LO BELUM TIDUR! GUE BAWA MARTABAK MANIS NIH, BUAT NGERAYAIN KEMENANGAN KITA LAWAN NETIZEN!" suara Bondan menggelegar dari luar.

"Eh, Bondan! Jangan berisik! Nanti Gus Zikri marah!" itu suara Hafizah yang mencoba menenangkan.

"Nggak apa-apa! Gus Zikri kan lagi dzikir! Eh, atau lagi... ehemm..." goda Bondan lagi.

Zikri menghela napas, namun ia tertawa kecil. "Teman-temanmu itu memang luar biasa."

Mentari berdiri dengan wajah ceria. "Bentar ya, Gus. Aku harus selamatkan martabaknya sebelum dihabisin sama Fahma!"

Zikri menarik tangan Mentari sejenak, mengecup keningnya dengan lama. "Jangan lama-lama. Saya masih mau belajar 'tajwid' lebih dalam sama kamu."

Mentari berlari keluar dengan wajah berseri-seri, meninggalkan Zikri yang kini duduk bersila sambil tersenyum menatap pintu. Malam itu, Pesantren Al-Hidayah menjadi saksi bahwa cinta yang dimulai dari kesalahan bisa berakhir dengan keindahan, asalkan keduanya mau saling menggenggam dalam sujud yang sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!