NovelToon NovelToon
MASUK KE DUNIA NOVEL

MASUK KE DUNIA NOVEL

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Fantasi Wanita / Masuk ke dalam novel
Popularitas:24.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Karin seorang wanita karir, dia mendoktrin dirinya sendiri agar harus berkerja keras, tidak perlu memikirkan yang namanya pernikahan.

Dan ya, di umurnya yang sudah 30 tahun, dia masih jomblo alias belum menikah. Sedangkan teman-temannya yang seumuran sudah memiliki anak dua.

Karin merasa, menikah dan punya anak akan mengganggu pekerjaannya. Sehingga dihari cutinya, dia hanya tinggal di dalam kamar membaca novel.

"Ck. Makanya jangan menikah jika belum siap mengurus anak!" tegur Karin sambil melempar Tabnya ke atas kasur.

Dia sedang membaca novel online, yang berjudul ( Pembalasan Tiga Penjahat )

Karin tertidur setelah mambaca novel itu sampai tamat. Tapi saat membuka mata, dia sudah berada di tempat yang berbeda.

"Sial!"

Penasaran kan? Ayo ikuti perjalanan Karin yang menjelajahi dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Seorang Pelajar

Keesokan harinya, Untuk hari pertama belajar, Nan Wei ikut mengantar mereka, termasuk Zhao Yu. Dia bahkan menyiapkan sarapan untuk Tabib Rong.

Nan Wei mengantarnya lebih pagi, karena mereka harus ko kota untuk upacara penerimaan Murid.

Dia tersenyum melihat pakaian mereka yang seperti seragam. Pola yang berbeda tapi warnanya tetap sama, jahitan menantu Kepala Desa sangat rapi, sangat cocok dibayar 100 koin tembaga per setelnya.

Menantu Kepala Desa sempat menolak 2 tael bayaran yang diberikan Wu Dusi, karena itu terlalu mahal. 2 tael bisa membeli banyak pakaian daripada harus menjahit.

Tapi Wu Dusi memaksanya, karena Nan Wei sangat puas dengan hasilnya. Menantu Kepala Desa juga sangat senang dengan pujian itu.

"Bagaimana. Kalian suka bajunya?" tanya Nan Wei dengan campur aduk melihat mereka yang begitu bahagia.

"Ibu terima kasih!"

"Bibi terima kasih!"

Tak perlu bilang suka lagi, hanya melihat wajah mereka yang berseri-seri sudah menjawabnya.

"Kamu belajar dengan sungguh-sungguh!" ucap Kakak ipar pertama pada YunHao.

"Ibu aku tidak janji, tapi aku akan berusaha!" balasnya.

Kakak ipar pertama hanya mengangguk, dia juga tidak memaksanya untuk jadi Sarjana. Dia hanya ingin, YunHao tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Nan Wei.

"Kakek! Nenek! Kami berangkat dulu!"

"Ya, ya.. Pergilah, jangan sampai terlambat!" ucap Nenek Xia sambil mengusap air matanya.

Nenek Xia dan anggota keluarga lainnya mengantar kepergian mereka, air mata bahagia tak bisa dibendung lagi.

Berita kembali tersebar tentang anak keluarga Xia yang bersekolah. Akhir-akhir ini keluarga Nan Wei jadi sorotan di Desa.

***

Mereka berangkat sekitar pukul 7 pagi, karena pelajaran akan dimulai pukul 8. Mereka menumpang naik kereta kuda milik Restoran Bai Ming, karena jalan yang satu arah.

Dan Nan Wei merasa, menggunakan gerobak sapi sangat lambat, dan juga tidak enak dengan warga Desa yang harus mengalah setiap hari.

Dan setelah merasakan kecepatan kereta kuda, Nan Wei langsung tertarik. Dia akan mencarinya di pasar, dan membelinya untuk anak-anak gunakan.

Tiba di gerbang halaman keluarga Jiang, mereka mengucapkan terima kasih pada kusir yang sudah mengantar mereka sampai tujuan.

"Ayo kita masuk! Untuk hari ini, kalian makan siang setelah pulang belajar!" ucap Nan Wei.

"Baik!" balas mereka dengan kompak.

Setelah mengetuk pintu gerbang, penjaga langsung meminta mereka masuk, karena dia sudah mengenal Nan Wei yang sangat akrab dengan Majikannya.

Mereka diantar ke ruang belajar, dan di ruangan itu sudah ada Paman Can dan istrinya, serta dua orang yang Nan Wei tebak saudara Paman Can.

"Salam kepada Tuan Jiang!" Mereka segera memberi hormat, meski mereka saling kenal dan tetanggaan, mereka harus tau situasi.

Paman Can tersenyum puas melihat mereka begitu sopan tanpa memandang dirinya sebagai kenalan.

"Ya silahkan duduk! Itu, kalian bawa apa?" tanya Paman Can melihat Nan Wei membawa banyak barang.

"Sajian untuk upacara penerimaan Murid!" balas Nan Wei.

"Hmm kamu ini.. Aku sudah bilang, tidak perlu repot-repot. Cukup bersujud dan tuangkan teh saja!" sahut Paman Can sambil menggeleng.

"Tidak merepotkan. Semua ini ucapan rasa syukur keluarga kami karena akhirnya anak-anak bisa belajar!" sahut Nan Wei dengan jujur.

"Oh baiklah, baiklah.. Kami menerima niat baik kalian!" kata Paman Can lalu memanggil pelayan untuk menyajikan makanan yang dibawa Nan Wei.

Nan Wei segera meminta mereka berempat untuk memperkenalkan diri. Dan Paman Can Juga memperkenalkan dua orang yang duduk bersamanya.

"Mungkin kalian lupa. Beliau adalah Paman Hao, saudara laki-laki kedua, dulu juga dia tinggal di Desa Wusu, tapi kerena mendapat pekerjaan di Kota, jadi ikut tinggal di sini!"

"Salam Paman Hao!" mereka berempat kembali memberi hormat juga kepada istrinya.

"Ya Duduklah. Mungkin cuman ibumu yang pernah melihatku. Tapi kayaknya dia sudah lupa!" ucapnya sambil tersenyum menatap Nan Wei.

Wanita yang terakhir kali dia liat sekitar 30 tahun yang lalu, tapi wajahnya tidak berubah sama sekali, tetap cantik dan terlihat lebih dewasa.

"Pantas saja anak nakal itu tidak bisa melupakannya! Dan sekarang anak tertuanya sudah berumur 12 tahun, apa dia masih tertarik?"

"Paman Hao! Aku minta maaf, aku sudah tidak mengingatnya!" Nan Wei juga sebenarnya sangat penasaran dengan keluarga Jiang, tapi ingatan pemilik tubuh benar-benar samar.

"Sudah, sudah.. Itu juga sudah sangat lama. Wajar saja tidak ingat lagi, dan kita juga hanya bertemu beberapa kali saja!"

Nan Wei mengangguk, tapi dia bingung melihat tatapan mereka yang seolah-olah menemukan harta karun.

"Kakek aku datang! Aku belum terlambatkan!" seru gadis kecil dengan terburu-buru, yang tak lain Xiu Chun.

Namun detik kemudian, dia terpaku melihat banyak orang di ruang belajar Kakeknya. "Salam Kakek dan Nenek kedua!" dia segera memberi hormat dengan anggun.

"Salam Bibi Xia!" Dia juga tidak lupa memberi hormat pada Nan Wei. Meski Nan Wei melarangnya, tapi ini situasinya berbeda, mereka sedang dalam proses belajar.

Nan Wei tersenyum sambil mengangguk, Xiu Chun benar-benar tahu kapan harus serius dan bercanda.

"Hmm duduklah..!" pinta Paman Can pada cucunya, dia sudah mulai belajar saat umurnya 5 tahun.

Selang beberapa menit, pelayan datang untuk menyajikan makanan. Keluarga Jiang yang sudah sarapan kembali lapar melihat makanan yang terlihat begitu lezat.

Paman Can segera memulainya, dia meminta mereka berempat untuk bersujud dan bersumpah lalu menyajikan teh. Semua itu sama persis dengan apa yang dilakukan Zhao Yu pada Tabib Rong.

Setelah Paman Can meminum tehnya, mereka berempat sudah resmi dinyatakan seorang Pelajar.

Tanpa menunda waktu lagi, Paman Can meminta mereka untuk mulai mencicipi semua Kudapan.

Bukan mencicipi lagi, karena semua makanan yang Nan Wei bawa habis tak tersisa. Paman Hao yang tidak suka makana manis, bahkan mengabiskan banyak kue buatan Nan Wei.

Setelah makan dan bersih-bersih, akhirnya pelajaran dimulai, Paman Hao berpamitan untuk pergi ke kantor Biro Keamanan.

Nan Wei juga tidak tinggal lama, setelah berpamitan dia menuju Restoran Bai Ming dengan berjalan kaki.

***.

"Bibi Xia kamu datang? Oh silahkan duduk!" seru Tian Bai dengan semangat. Dia sedang melihat buku keuangan, dan ternyata pemasukan Minggu ini sudah setara dengan pendapatan Restoran yang ada di Ibu Kota.

"Kakekmu belum datang?" tanya Nan Wei setelah duduk.

"Belum! Mungkin sebentar lagi!"

Dan benar saja, selang beberapa menit, Tuan Bai datang dan jalan tergesa-gesa saat mengetahui Nan Wei sudah menunggunya.

Tuan Bai juga sangat senang melihat melihat kedatangan Nan Wei, seolah-olah melihat sumber kekayaannya.

"Bagaimana penjualan? Apa ada kendala?" tanya Nan Wei.

Tuan Bai mengusap jenggotnya sambil sedikit berpikir. "Hmm ada, cuman masalah kecil, sudah ditangani!"

"Oh, apa yang terjadi?"

"Haa, kemarin ada seorang wanita yang datang membuat keributan. Tubuh anaknya gatal-gatal setelah makan kentang goreng!"

Nan Wei terdiam, baru saja semalam mereka membahas masalah ini. Dan korbannya sudah muncul duluan.

"Jadi?"

"Manager Guang langsung mengajak wanita itu untuk membawa anaknya ke Tabib untuk melakukan pemeriksaan. Dan ternyata anak itu alergi kentang!"

"Wanita itu baru mengetahui anaknya alergi?"

"Ya. Karena selama ini, Anaknya tidak pernah makan kentang, dia selalu menolak jika dimasak sayur. Dan dia baru tergiur, saat melihat teman bermainnya makan kentang goreng!"

Nan Wei mengangguk, membuat stempel adalah hal yang tepat. Jika terjadi lagi, mereka tidak bisa datang membuat keributan atau meminta ganti rugi.

.

.

.

.

1
Egoll Losius
Smgat thor up nya
sukensri hardiati
kelapa tua thor.....bukan kepala tua....
Fii: makasih udah komen kk😍
total 1 replies
keyza formoza
ceritanya bagus
Fatmawati Wati
tambah la thoor
Intan Noer
semoga jodoh ya Bu, calon mantu yg pengertian itu😁
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
sasa adzka
hmmm... ko dikit kak othor😄😄
double up donk kak😍😍
aku menunggu kelanjutan nya😍
Fii: Hai kk selagi nunggu up, bisa mampir novel yang sudah tamat..😍🙏😊
total 1 replies
sasa adzka
wah nan wei ikut k kantor pengadilan... apa jangan jangan itu ulah mantan keluarga suami nya dulu ya... wahhh d kasih pelajaran aja itu nan wei...
Fii
Makasih supportnya kk.
Sambil tunggu UP,
jangan lupa mampir di novel yg sudah Tamat😁🙏😍
sasa adzka
baru koment dan baru mampir kak othor😍😍
semoga sampai tamat ya
selalu semangat up trus loh😍😍😍
aku menunggu kelanjutan nya
Sribundanya Gifran
lanjut thor💪💪💪💪
Mamta Okta Okta
lanjut thor semangat berkarya ya 💪💪💪
Mamta Okta Okta
lanjut thor semangat 💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor yg bnyak😍😍😍💪💪💪💪
Fii
Kalau ada typo komen yaa..🙏
Chen Nadari
Buat )
Chen Nadari
semangat up thora
Chen Nadari
mampir thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!