NovelToon NovelToon
Istri Sempurna Pilihan Oma

Istri Sempurna Pilihan Oma

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

Oma frustasi memikirkan di dunia yang sudah berusia 33 tahun, mapan dalam pekerjaan tetapi tidak kunjung menikah. Melihat sekretaris Emir yang memiliki kepribadian yang baik membuat Oma kepikiran untuk menjodohkan mereka.
Sudah pasti Emir menolak, Oma melakukan berbagai hal sampai akhirnya Emir dengan Ayana pilihan Oma bersatu dalam jeratan pernikahan.

Bagaimana keduanya menjalani pernikahan dan hubungan pekerjaan yang cukup dekat?
Apakah pada akhirnya keduanya sama-sama memiliki perasaan atau justru pernikahan mereka tidak ada bedanya dan hanya sebatas pekerjaan saja.

Mari untuk membaca Novel Saya dari bab 1 sampai akhir, dan terus ikuti jawabannya di setiap bab.

Terimakasih....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22 Sidang isbat Pernikahan.

Ayana mengambil makanan yang telah dia pesan. Ayan bakar madu merupakan salah satu makanan kesukaan Emir.

Ayana mengeluarkan makanan tersebut dari tempatnya dan memindahkan ke dalam piring yang sudah disiapkan Ayana sebelumnya.

Selama mengerjakan semua itu dan siapa sangka ternyata Emir dari tempat duduknya memperhatikan bagaimana ketelatenan karyawannya itu. Ayana selalu tahu apa yang disukai Emir yang cukup ribet dalam hidupnya.

Tidak suka makan dari tempat kemasan, sebelum dipindahkan ke wadah yang lain harus dibersihkan dulu, tertata dengan rapi, Ayana terbiasa melakukan semua itu dan bahkan sangat hati-hati walau terkadang masih ceroboh meninggalkan bekas tisu yang sudah kotor di atas meja.

Ketika sudah selesai Ayana menoleh ke arah Emir membuat Emir dengan cepat mengalihkan pandangannya. Ayana mengerutkan dahi melihat atasannya itu tiba-tiba saja salah tingkah mencari-cari pekerjaan.

"Hmmm, pak sudah selesai," ucap Ayana.

"Oh, sudah," sahut Emir mengalihkan kecanggungannya.

"Baiklah," Emir berdiri dari tempat duduknya dengan menghela nafas dan kemudian merapikan jasnya dan menghampiri Ayana ke ruang tamu. Emir masih terlihat Tidak seperti biasanya, terlihat canggung dan mungkin karena tadi ketahuan menatap Ayana secara diam-diam.

Padahal Ayana tidak memikirkan apapun dan hanya saja heran dengan sikap atasannya itu.

"Kamu tidak makan?" tanya Emir ketika Ayana ingin meninggalkanmu ruangannya.

"Hmmmm, saya akan makan siang bersama Diva di kantin," jawab Ayana.

"Yang menggaji kamu adalah saya bukan Diva," ucap Emir dengan suara dingin dan memulai mengambil makanannya untuk menikmati makanan yang sudah disiapkan istrinya.

"Makanlah!" titah Emir tanpa melihat Ayana yang masih tetap berdiri di depannya.

"Baik. Pak," sahut Ayana memang sangat jarang dia menolak permintaan atasannya itu.

Dengan sedikit gugup Ayana mengambil tempat duduk tepat di hadapan Emir, karena Ayana tidak punya rencana untuk makan bersama atasannya itu, jadi Ayana hanya memesan ayam bakar madu satu paha saja sesuai dengan porsi atasannya yang tidak suka berlebihan.

Jadi Ayana bingung sendiri bagaimana cara membagi makanan itu dan apalagi porsi nasinya juga sangat sedikit yang memang hanya untuk satu orang, tetapi Emir sendiri ternyata membaginya, Ayana semakin gugup dan merasa tidak enak jika atasannya harus sedikit direpotkan karena menyiapkan makanannya.

"Jangan hanya bengong dan makanlah," ucap Emir.

Ayana menganggukkan kepala, dengan penuh kegugupan mulai menikmati makanannya. Lagi dan lagi Emir ternyata curi-curi pandang pada gadis di depannya itu yang hanya fokus pada makannya dengan melihat makanan itu tanpa melihat dirinya.

"Oh iya...." Emir bersama dengan Ayana tiba-tiba saja sama-sama mengeluarkan suara dengan kata yang sama.

"Maaf, pak," sahut Ayana mengontrol dirinya untuk tidak melanjutkan perkataannya karena kurang sopan jika mendahului atasannya.

"Katakanlah apa yang ingin kamu katakan?" tanya Emir.

"Bapak sejak terlebih dahulu," sahut Ayana.

"Katakan saja apa yang ingin kamu katakan," sahut Emir.

"Hmmmm, saya hanya ingin menyampaikan bahwa kontrak dengan tuan Andhika sudah saya perbaiki dan saya selesaikan, sekretaris beliau juga menghubungi saya untuk memberikan jadwal pertemuan dengan bapak," jelas Ayana.

"Ya, kamu atur saja semuanya seperti biasa, sudah pasti jadwal saya bisa bertemu dengannya jika kamu mengatur dengan baik," sahut Emir.

"Baik. Pak,"

"Hmmm, untuk perjalanan bisnis ke Paris, saya sudah mendapatkan informasi jadwal pertemuannya dari pihak klien di Paris dan mungkin nanti setelah bertemu dengan tuan Andhika juga bisa dibicarakan secara langsung, karena beliau juga termasuk tamu yang akan hadir dalam pertemuan di Paris," ucap Ayana.

"Ya, kemarin tuan Charles sendiri juga sudah menghubungi saya, kemungkinan dua tiga hari lagi kita akan berangkat ke Paris," sahut Emir.

"Baik pak, saya juga akan sesuaikan jadwal agar kita tidak keteteran saat berangkat ke Dubai," sahut Ayana.

"Lakukan," sahut Emir.

"Baik. Pak," sahut Ayana.

"Saya sudah janji dengan pihak pengadilan agama dan nanti sore kita akan bertemu dengan mereka," ucap Emir

"Pengadilan agama? Untuk apa. Pak?" tanya Ayana.

"Apa mengurus perpisahan kami?" batin Ayana.

"Untuk mendaftarkan pernikahan kita dan melakukan sidang isbat pernikahan," jawab Emir.

"Hah!" Ayana cukup speechless mendengar perkataan Emir tiba-tiba saja punya keinginan untuk mendaftarkan pernikahan mereka yang awalnya sirih dan bisa jadi mereka akan memiliki buku nikah dan pernikahan mereka tercatat bukan hanya di pengadilan agama tetapi juga di negara.

"Kamu jangan memikirkan apa-apa dulu, setelah dari Paris kita akan langsung transit ke Dubai, kita bisa mengalami kendala di bagian imigrasi jika tidak memakai buku nikah. Kamu tahu sendiri banyak kesulitan yang dihadapi di negara Timur Tengah, untuk mencegah hal-hal yang tidak terjadi lebih baik kita mempersiapkannya, karena kita hanya pergi berdua," jelas Emir memberikan alasannya untuk mendaftarkan pernikahan mereka.

"Hmmmm, jika mengadakan sidang isbat pernikahan, apakah akan ada pernikahan ulang?" tanya Ayana dengan gugup.

"Kita bisa tanyakan secara langsung pada pihak yang bersangkutan, apakah perlu ada pernikahan ulang atau tidak," jawab Emir.

"Baik. Pak, saya ikut saja bagaimana keinginan bapak," sahut Ayana sudah pasti akan menuruti Emir.

Memang mereka akan melakukan perjalanan bisnis ke negara yang cukup islami dan bukan hanya di bagian Dubai saja, mungkin Emir tidak ingin mengambil resiko keribetan dalam mengurus di bagian imigrasi dan lebih baik mengambil jalan pintas saja berhubungan mereka juga merupakan pasangan suami istri.

Awalnya memang hanya Emir saja yang berangkat ke negara tersebut, tetapi karena banyaknya pekerjaan yang harus diurus dan tidak memungkinkan dia bisa memegang sendiri. Apalagi sudah 5 tahun bergantung dengan Sekretarisnya itu.

****

"Kamu akan melakukan nikah ulang bersama dengan Ayana?" tanya Oma ketika duduk di meja makan menikmati rujak yang baru saja disiapkan asisten rumah tangga.

Emir mengambil air putih dengan meneguknya sebelumnya dia memang mengatakan hal tersebut kepada Omanya.

"Entahlah apakah perlu menikah ulang atau tidak untuk mendapatkan buku nikah, seperti alasan yang sudah kuberikan. Aku dan Ayana akan melakukan perjalanan bisnis," jawab Emir.

"Begitu," sahut Oma mengangguk-angguk kepala dengan senyum-senyum sendiri membuat Emir mengerutkan dahi.

"Apa ada yang lucu dari perkataanku?" tanya Emir.

"Tidak ada yang lucu, Oma rasa memang tidak ada salahnya meresmikan pernikahan, tetapi kenapa Oma berpikir jika ini hanya akal-akalan kamu saja, alasan perjalanan bisnis dan padahal kamu sebenarnya ingin mengikat Ayana secara resmi," ucap Oma tersenyum miring seolah tahu apa yang ada di isi pikiran cucunya itu.

"Oma berpikir terlalu panjang! Aku tidak mengambil keputusan jika bukan berkaitan dengan pekerjaan!" tegas Emir dengan wajahnya tampak tegas membantah tuduhan Oma kepadanya.

"Tetapi belum pernah ada sejarahnya seorang atasan harus menikah dulu dengan Sekretarisnya jika ingin melakukan perjalanan bisnis ke Negara manapun itu," sahut Oma tidak mau kalah dalam menggoda Emir.

"Sudah cukup Oma. Ini yang membuatku sulit untuk meminta pendapat dari Oma. Jangan lupa semua kekacauan ini terjadi karena campur tangan Oma dan aku tidak tahu bagaimana jika Ayana mengetahui semuanya," sahut Emir.

"Iya-iya, kamu jangan langsung marah-marah seperti itu. Oma seperti penjahat saja kamu buat. Apapun alasan kamu ingin meresmikan pernikahan kamu itu merupakan hak kamu, mau itu cuma alasan kamu saja atau memang kamu ingin mengikat Ayana. Oma tidak bisa berbicara apa-apa yang terpenting kamu jalani dengan baik,"

"Oma hanya menyarankan alangkah baiknya kalian melakukan pernikahan ulang, toh semuanya juga sudah terlanjur," sahut Oma memberi saran pada Arash.

"Aku hanya membutuhkan buku dan tidak harus menikah ulang," sahut Emir.

"Ya bukankah kamu sendiri yang mengatakan semua keputusan nanti akan ditentukan oleh pihak pengadilan dan mereka juga yang akan menentukan apakah kamu perlu menikah ulang atau tidak. Oma hanya menyarankan saja paling tidak kamu sedikit menghargai Ayana, tidak hanya dinikahi begitu saja tanpa memberi apapun dan sekarang ingin meresmikan pernikahan, bagaimanapun Ayana seorang wanita yang memiliki harga diri dan bukan hanya diperlakukan dengan sesuka hati," ucap Oma memberi saran.

Emir terdiam dan sepertinya apa yang disampaikan Oma kepadanya diserap dalam pikirannya.

Bersambung....

1
Oma Gavin
wah emir jadi sasaran empuk lastri nanti pakai jurus pamungkas obat lucknut biar emir kepanasan dan majuk jebakan lastri
shinta liliand
emir gk gentle bgt jd cowok.. tp jg kaasae ngomong sama omanya hmmm susaaah
Enz99
bagus
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Dew666
💜💜💜💜
Dew666
🍎🍎🍎
nurlizan lizan
thor lbh teliti lg, bnyak typo🙏
Dew666
💝💝💝
Ridwani
👍👍👍👍👍👍
Dew666
👄👄👄
Ridwani
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!