NovelToon NovelToon
Kecewa Yang Tidak Bertepi

Kecewa Yang Tidak Bertepi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:464
Nilai: 5
Nama Author:

Di saat Alice selalu merasakan kekecewaan dari keluarga dan hubungan asmaranya, Carlos datang dalam hidup Alice untuk mengantikan rasa kecewanya menjadi kebahagiaan.. Namun di saat Alice sudah percaya dan memberanikan dirinya untuk berharap bisa bahagia di tengah kecewanya terhadap keluarganya, Carlos menghilang.. Carlos pergi tanpa meninggalkan jejak, seketika membuat Alice mempercayai jika di dunia ini tidak ada yang bisa membuatnya bahagia

Bab 26

Alice berusah terlihat seperti biasa, walaupun perasaannya tidak baik - baik saja. Ia ingin tidak kepikiran dengan Carlos dan anak - anaknya tapi ia tetap kepikiran. Alice sudah berusaha untuk kuat tapi terkadang ia bisa kembali merasakan kekecewaan itu lagi.

Alice masih bisa menangis dalam diam, hal itu membuat semua keluarga dan temannya menjadi khawatir.. Alice sampai kembali ke tante Kiana, tapi hati kecilnya masih berharap untuk bisa melihat mereka lagi.

Rosaline dan Jane selalu menemani Alice ketika ia sedang di rumah, Rosaline merasa sedih karena anaknya kembali merasakan kekecewaan lagi. Alice bertekad untuk tidak sedih lagi, ia tidak ingin tenggelam dalam rasa kecewa ini.

“Ya Tuhan jika memang kami berjodoh, pertemukanlah kami suatu saat nanti. Jika memang kami tidak berjodoh, jauhkan dia hingga kami tidak perlu untuk bertemu lagi.” Ucap Alice dalam doanya.

Setelah itu perlahan Alice sudah kembali seperti semula. Sudah tidak murung, sudah tidak menangis dalam diam lagi, ia sudah kembali menjadi Alice yang ceria dan bersemangat.

Sebelum ia memulai aktivitasnya, Alice menatap boneka dari Lillian. Ia menatap boneka itu agak lama, ‘sudah 3 bulan kalian pergi, semoga kalian selalu sehat. Mami sangat merindukan dan selalu menyayangi kalian berdua.’ Ucapnya dalam hati.

Setelahnya Alice langsung bergegas ke Restoran dengan hatinya lebih lega.

Sedangkan di kota yang berbeda, Carlos nampak termenung. Mereka berkumpul di ruang keluarga, kedua anaknya hanya bisa menghela napas mereka dengan berat melihat kelakuan papa mereka.

Mereka tahu kalau papanya menyukai mami mereka, mereka sangat setuju jika papanya menikah dengan mami mereka. Tapi tiba - tiba, setelah mereka selesai ujian negara papanya mengajak mereka untuk pindah tanpa ada yang mengetahui ke mana mereka pindah.. papanya juga merlarang mereka untuk menelepon mami, oma dan nenek mereka.

“Mau sampai kapan pa? Mau sampai kapan kami harus begini?” Tanya Liam yang merasa lelah dengan tingkah papanya.

“Lillian akan segera pulang, terserah papa.. jika papa ingin mami Alice bahagia tidak dengan papa, Lillian tidak masalah asal Lillian tidak jauh - jauh dari mami Alice.” Ucap Lillian sambil terisak pelan

Lillian dengan cepat berlari menuju kamarnya, ia meraih ponselnya dan langsung mendial nomor ponsel neneknya. Ketika neneknya mengangkat teleponnya Lillian langsung menangis.

“Nenek..” ucap Lillian sambil terisak

“Lilli? Ini kamu sayang?” Tanya nenek Gisell

“Hm.. nenek.. Lilli mau pulang, Lilli enggak mau di sini nek.. Lilli mau mami Alice.” Jawab Lilli sambil menangis

“Kalian di mana nak? Kenapa tidak mengabari nenek? Mami Alice sangat sedih dan khawatir kalian pergi begitu saja tanpa pamit.” Tanya nenk Gisell

Lillian jadi merasa bersalah karena dia tidak diam - diam memberitahukan ke Alice ke mana mereka akan pergi.

“Tolong jemput Lilli, nek.. Lilli mau mami.” Ucap Lilli.

Tidak lama Liam masuk ke kamar Lilli dan meminta Lilli untuk menyerahkan ponselnya ke Liam. Lilli langsung menyerahkan ponselnya ke Liam.. Liam sengaja me loudspeaker agar yang berdiri di depan pintu kamat adiknya bisa mendengar.

“Halo nek, ini Liam.. kami ada di rumah kita yang kota S, kebetulan ketika kami ke sini papa ada pekerjaannya yang harus di selesaikan. Dan baru selesai 2 minggu yang lalu.” Ucap Liam

“Ya Tuhan anak itu, selalu saja begini.. ya sudah besok Nenek akan menjemput kalian biarkan papa kalian sendirian di sana.” Ucap nenek Gisell.

“Kalau bisa kalian harus mengabari mami kalian, memang dia hanya mami kalian. Tapi kasih sayangnya ke kalian sangat amat tulus.. mami kalian lagi sakit nak, dia memforsir dirinya untuk tidak terlalu sedih memikirkan kalian.” Ucap Nenek Gisell dengan suara pelan.

Deg

Carlos yang berdiri di depan pintu kamar anak perempuannya terpaku dan merasakan sesak di dadanya.

‘Maafkan aku yang pengecut ini Alice, aku sangat mencintaimu tapi aku tidak ingin karena cinta ini bisa saja aku akan kehilangan kamu nanti.’ Ucap Carlos dalam hati.

Lillian terisak semakin keras dan semakin menjadi merasa bersalah karena meninggalkan orang yang sudah menyayangi dia dan abangnya dengan tulus. Liam terdiam menundukkan kepalanya sambil memejamkan matannya, ia merasa sedih karena maminya sakit gara - gara mereka.

Nenek Gisell mematikan teleponnya. Liam dan Lillian masih terdiam, akhirnya Liam memberanikan dirinya untuk menelepon Alice lewat ponsel Lillian.

“Bang, adek mau telepon mami.. adek mau lihat mami.” Ucap Lillian sambil terisak pelan.

Liam hanya bisa diam sambil menganggukkan kepalanya dan menunggu Alice mengangkat teleponnya.

Begitu telepon terangkat, mereka melihat Alice sedang di rumah sakit.. Alice tersenyum lemah melihat Liam dan Lillian.. membuat Liam dan Lillian merasa hatinya tertusuk melihat keadaan Alice.

“Akhirnya anak - anak mami telepon juga.” Ucap Alice sambil menatap Liam dan Lillian dengan tersenyum lemah.

“Maafin kami ya, mi.. kami akan pulang, tunggu kami pulang ya mi. Kami akan pulang besok dan tidak akan lagi pergi tinggalin mami lagi.” Ucap Lillian sambil terisak

“Kalau kami pulang, Liam akan membantu mami untuk melupakan papa.. kami akan membantu mami mencari papi baru. Karena papa kami terlalu takut dengan pemikirannya belum tentu benar.” Ucap Liam

Alice tertawa kecil saat mendengar ocehan anak kembarnya. Ia merasa tehibur dengan ocehan anak kembarnya.

“Mami terlihat pucat, maafkan kami mami.. tapi mami harus tahu, kami selalu menyayangi mami.” Ucap Liam sambil tersenyum kecil tapi air matanya tiba - tiba menetes.

Alice merasa sedih melihat Liam dan Lillian menangis, “mami enggak apa - apa, cuma kelelahan. Maaf ya kalau mami tidak bisa menjemput kalian.. mami masih di tahan sama dokter, mami merasa lega melihat kalian baik-baik saja.” Ucap Alice menenangkan Liam dan Lillian

“Mami mau di bawain apa dari kota S? Nanti kami bawain untuk mami.” Tanya Liam

“Tidak perlu sayang, kalian pulang dengan selamat sudah cukup untuk mami.” Jawab Alice dengan tersenyum.

“Mami istirahat ya, besok kita bertemu ya.” Ucap Lillian.

Alice menganggukan kepalanya, “baiklah.. mami tunggu kalian pulang.” Ucap Alice

Tidak lama Alice mematikan teleponnya, ketika layar ponselnya berubah jadi hitam. Lillian langsung memeluk Liam dan mereka menangis bersama. Carlos melihat anaknya menangis merasakan hatinya sakit karena selama ini Liam tidak pernah menangis. Tapi karena Alice, Liam bisa merasakan sedih karena dia membawa anak - anaknya tanpa pamitan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!