Mita tidak pernah menyangka, satu ajakan sederhana dari suaminya akan mengubah segalanya.
Reuni sekolah yang seharusnya menjadi malam biasa justru membuka luka yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Di tengah keramaian, Mita berdiri di samping Rio--namun terasa seperti tidak pernah ada. Terlebih saat Rio kembali bertemu dengan cinta pertamanya... dan memilih tenggelam dalam masa lalu.
Ditinggalkan tanpa penjelasan, Mita justru dipertemukan dengan Adrian-teman lama sekaligus rekan kerja Rio. Sosok yang dulu hanya sekadar kenangan, kini hadir sebagai satu-satunya orang yang benar-benar melihatnya.
Dan Reuni itu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rachmaraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 *Ramaikan ya guys
Langit Swiss sore itu berwarna jingga pucat saat pesawat yang membawa Adrian Azzam dan Mita Mahira mendarat di kota Zurich. Dari balik jendela, pegunungan Alpen terlihat seperti lukisan—putih, megah, dan terlalu indah untuk nyata.
Mita menempelkan dahinya ke kaca pesawat sambil tersenyum kecil.
“Mas… ini beneran Swiss?” tanyanya pelan, matanya berbinar seperti anak kecil.
Adrian terkekeh pelan. Tangannya menggenggam jemari istrinya sejak tadi.
“Kalau mimpi, jangan bangunin aku.”
Mita menoleh sambil tertawa kecil. Cincin di jari manisnya berkilau terkena cahaya senja. Ini honeymoon pertama mereka.
Perjalanan pertama sebagai suami istri.
Dan Adrian berniat membuat semuanya sempurna.
Malam itu, mereka langsung istirahat. Karena kelelahan dalam perjalanan. Mereka hanya menghabiskan waktu di dalam kamar. Adrian tidak ingin membuat istrinya kelelahan.
Paginya, sinar matahari musim semi masuk melalui jendela hotel suite mereka di tepi Danau Lucerne.
Mita masih tertidur di bawah selimut putih tebal ketika Adrian sudah duduk di balkon sambil menikmati kopi hitamnya. Udara Swiss bulan Mei terasa sejuk dan segar. Dari kejauhan, pegunungan Alpen berdiri megah dengan sedikit salju yang masih tersisa di puncaknya.
Adrian menoleh saat mendengar suara langkah kecil.
Mita keluar sambil mengusap matanya pelan. Rambutnya berantakan, mengenakan cardigan krem dan piyama putih longgar.
Cantik.
Selalu cantik di mata Adrian.
“Kenapa bangun duluan?” tanya Mita dengan suara serak khas bangun tidur.
Adrian menarik tangan istrinya agar duduk di pangkuannya.“Mau lihat pemandangan dulu.”
“Pemandangannya bagus?”
Adrian mengangguk pelan sambil menatap wajah Mita.“Bagus.”
Mita tersenyum malu karena tahu dirinya sedang digoda lagi. Untuk menyamarkan rasa malu, ia mengecup bibir suaminya. Ternyata disambut pagutan lembut oleh Adrian.
"Mas," desah Mita menjauhkan kepalanya.
"Nggak bisa berhenti kalau udah dimulai," lirih Adrian kembali mencium bibir Mita.
Tidak ingin mengecewakan suaminya, Mita mengalungkan tangannya ke leher Adrian. Ia merasakan ciuman mereka semakin dalam dan agak panas. Bahkan Adrian memasukkan tangannya ke dalam cardigan yang Mita pakai. Untuk meremas lembut benda sintal miliknya.
Mita merasakan tubuhnya melayang dan sudah berada di dalam kamar. Perlahan Adrian meletakkan tubuhnya dengan lembut di atas ranjang. Tanpa memutuskan pagutan yang telah mereka mulai.
Adrian melepaskan pakaiannya dan melemparkannya asal. Lalu, membantu istrinya melepaskan cardigan dan piyama dengan tak sabaran. Ia langsung mengungkung tubuh Mita di bawah tubuhnya. Perlahan, menggesek miliknya yang sudah tegak dan keras, sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam pusat tubuh Mita.
Desahan mereka datang bersamaan, ketika milik mereka menyatu.
Seperti kelaparan, Adrian bergerak teratur dan membawa kedua tangan Mita ke atas kepala, menguncinya di sana.
"Ahh, Mass..." Mita tidak tahan, karena milik Adrian masuk dan menekan terlalu dalam. Sensasi luar biasa bagi Mita saat ia merasakan tangannya tiba-tiba diikat dengan tali pinggang. "Mas, mau apa?"
"Mau membuatmu bahagia." Adrian terus bergerak dengan tempo yang kadang cepat dan kadang lambat.
Mita terkunci, ketika tubuhnya diputar supaya memunggungi Adrian.
"Aahhh, Mass..."
Adrian semakin bergerak liar bersamaan dengan desahan dan lenguhan Mita yang semakin keras karena nikmat. "Sayang... Kamu benar-benar membuat ku gila."
Mita terus mendesah dan melenguh. Ketika Adrian menekan lebih dalam, Mita merasakan sesuatu di bawah sana mendesak keluar. "Aku keluar, Mass."
Tubuh Mita mengejang disusul dengan Adrian yang juga mencapai puncaknya. Mereka bergetar hebat. Adrian membungkuk untuk mengecup punggung mulus milik istrinya.
"Mine."
。◕‿◕。
Hari itu mereka berencana berjalan-jalan di kota kecil dekat danau. Mita terlihat sangat antusias sejak pagi, sibuk memilih dress dan mengambil banyak foto bunga tulip di sepanjang jalan.
Swiss di bulan Mei memang penuh warna.
Bunga-bunga bermekaran di balkon rumah penduduk. Jalanan batu terlihat bersih dan tenang. Angin musim semi membuat suasana terasa romantis tanpa harus berusaha terlalu keras.
Adrian menggandeng tangan Mita sambil berjalan santai.
Sesekali ia berhenti hanya untuk membetulkan rambut istrinya yang tertiup angin.
“Mas…” Mita menatapnya heran.“Kenapa dari tadi lihatin aku terus?”
Adrian menjawab santai.“Takut ada bule yang naksir.”
Mita langsung tertawa kecil.
Padahal yang paling sulit mengalihkan pandangan justru Adrian sendiri.
Mereka lalu naik kapal wisata kecil menyusuri Danau Lucerne.
Air danaunya biru jernih seperti kaca. Pegunungan hijau berdiri mengelilingi kota, membuat Mita beberapa kali terpukau sampai lupa bicara.
“Aku baru sadar…” gumam Mita pelan.
“Hm?”
“Bahagia ternyata sesederhana ini.”
Adrian menoleh. Tersenyum dan merapikan anak rambut istrinya.
“Jalan sama orang yang kita cinta, makan enak, lihat pemandangan bagus…”
Ia tersenyum kecil. "Terus pulang tanpa takut ditinggal.”
Tatapan Adrian langsung berubah lembut.
Pria itu menggenggam tangan Mita lebih erat.
“Kamu nggak akan aku tinggal.”
Mita diam.
“ Tapi... Aku takut terlalu bahagia.”
“Kenapa?”
“Takut semuanya cuma mimpi.”Mita tersenyum lemah.
Adrian mendekatkan wajahnya perlahan hingga dahi mereka bersentuhan.
“Kalau mimpi, berarti aku juga ada di mimpi yang sama.”
Mita tersenyum tipis.
Unntuk beberapa detik, dunia terasa berhenti hanya untuk mereka berdua.
Dan malam harinya, Adrian membawa Mita makan malam di restoran rooftop hotel mereka.
Lampu kota memantul indah di permukaan danau. Udara malam Swiss bulan Mei terasa dingin tipis, cukup membuat Mita merapat ke tubuh suaminya.
Adrian memakaikan coat miliknya ke bahu Mita tanpa banyak bicara.
“Kamu nanti dingin,” ujar Mita.
“Yang penting istriku nyaman.”
Kalimat sederhana itu sukses membuat jantung Mita berdebar lagi seperti pertama kali jatuh cinta.
Setelah makan malam selesai, mereka berdiri di balkon kamar hotel lagi. Kota mulai sepi.
Hanya ada suara angin malam dan air danau yang bergerak pelan.
Mita bersandar di dada Adrian sambil memandang langit Swiss yang bersih.
“Mas…”
“Iya?”
“Sekali lagi makasih ya.”
“Untuk?”
“Udah bikin aku ngerasa dicintai sebesar ini.”Mita menatap Adrian sekilas lalu kembali bersandar.
Adrian terdiam sesaat. Lalu ia mengecup kening istrinya lama.
“Bukan aku yang bikin kamu bahagia, Sayang.”
“Terus?”Mita mendongak dan menatap lurus iris Adrian.
“Kamu sendiri rumahnya.”Adrian mengecup bibir Mita lagi, lembut dan halus tanpa menuntut seperti saat pagi. Untuk beberapa saat mereka terus seperti itu. Lalu berpelukan dan berciuman lagi. Menikmati keindahan malam kota.
"Kamu bahagia?" tanya Adrian.
Mita mengangguk, "aku bahagia banget. Tapi, tolong bantu aku untuk sadar diri, Mas. Aku takut kebahagiaan ini justru menjadi Boomerang suatu hari nanti."
"Doanya harus yang baik-baik. Supaya kembali ke kita dengan baik. Kebahagiaan adalah hak setiap orang, termasuk kamu." Adrian mengecup kening Mita dengan lembut dan penuh rasa sayang.
Dan malam musim semi di Swiss itu berubah menjadi salah satu kenangan paling indah dalam hidup mereka.
[]