Dante Valtieri, pemimpin organisasi mafia terkuat di Eropa, dikenal dengan julukan "Tangan Besi". Ia tidak pernah ragu menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya, dan namanya saja sudah cukup membuat orang bergidik ngeri. Namun, di balik sifatnya yang kejam, Dante memiliki tujuan tersembunyi, menyatukan seluruh kelompok kekuasaan di bawah satu payung demi membalas dendam atas kematian keluarganya.
Rencana itu terancam ketika ia terpaksa menyetujui pernikahan perjanjian dengan Elara Sterling, putri tunggal pemimpin kelompok lawan yang dihormati namun terjepit kesulitan keuangan. Elara, seorang wanita cerdas, berpendidikan tinggi, dan memiliki prinsip yang teguh, sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Ia menganggap Dante hanyalah seorang penjahat yang tidak memiliki hati.
Ketika bahaya mengancam nyawa Elara akibat persaingan kekuasaan, Dante harus memilih antara ambisi balas dendamnya atau melindungi wanita yang mulai ia cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani.hendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IDENTITAS PENGKHIANAT
💌 PERNIKAHAN SANG MAFIA 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Suara ledakan dan letusan senjata api masih terus bersahut-sahutan di udara, menciptakan gema yang mengerikan di antara tebing-tebing curam pegunungan itu. Asap hitam pekat mengepul dari sisa-sisa mobil yang terbakar, menyengat hidung dan membuat pandangan menjadi kabur. Di balik tumpukan bebatuan besar tempat Elara bersembunyi, tubuhnya masih gemetar hebat, keringat dingin bercampur dengan debu dan kotoran menempel di wajahnya. Namun rasa takut itu seolah kalah oleh rasa terkejut yang luar biasa saat ia mengenali tato berbentuk naga di leher pemimpin penyerang itu.
Itu adalah tato milik Lucas, asisten kepercayaan Dante yang selama ini selalu terlihat setia, tenang, dan patuh. Pria yang sering dilihat Elara mondar-mandir di kediaman Valtieri, mengurus urusan Dante dengan cekatan dan efisien. Siapa sangka, orang yang selama ini berdiri di barisan terdepan melindungi Dante ternyata adalah ular berbisa yang sedang bersembunyi dan menunggu waktu yang tepat untuk menusuk dari belakang.
"Jangan menampakkan diri, Nyonya! Tetap di sini!" bisik salah satu pengawal wanita yang duduk di samping Elara dengan napas terengah-engah. Wajahnya yang tadinya tenang kini penuh keringat dan noda hitam bekas asap mesiu. Di tangannya, ia mencengkeram senjata api dengan erat, matanya terus mengawasi gerak-gerik para penyerang di luar sana dengan tatapan waspada.
Elara mengangguk perlahan, namun pikirannya terus berkecamuk memikirkan fakta yang baru ia temukan ini. Jika Lucas adalah pengkhianat, maka artinya semua rencana dan gerak-gerik Dante selama ini pasti sudah bocor dan diketahui oleh musuh. Termasuk rencana perpindahannya ke tempat persembunyian di pegunungan ini. Pantas saja penyerang itu bisa mengetahui rute perjalanan mereka dengan sangat tepat dan bisa memblokir jalan di depan maupun di belakang dengan begitu rapi.
Di tengah kekacauan itu, sosok pria bertato naga itu ternyata benar-benar Lucas. Ia terlihat berjalan mendekati tempat persembunyian Elara dengan langkah yang santai namun penuh percaya diri. Ia menyingkirkan topeng yang menutupi wajahnya, memperlihatkan wajah yang selama ini dikenal Elara sebagai wajah asisten setia Dante. Namun sekarang, wajah itu terlihat dingin, angkuh, dan penuh amarah yang terpendam.
"Hentikan tembakannya! Mereka sudah kalah jumlah dan tidak punya jalan keluar lagi. Kita tidak perlu membuang-buang peluru untuk orang-orang yang sudah pasti mati," teriak Lucas dengan suara lantang dan dingin, membuat suara tembakan senjata api itu perlahan mereda dan akhirnya berhenti sama sekali.
Lucas berdiri di tengah jalanan yang rusak dan penuh puing-puing itu, menatap sekeliling dengan tatapan angkuh. Lalu perlahan, tatapannya tertuju tepat ke arah tempat di mana Elara dan para pengawalnya bersembunyi.
"Keluarlah, Nyonya Valtieri. Aku tahu kau ada di sana. Bersembunyi di balik batu itu tidak akan menyelamatkanmu. Kau hanya akan mempersulit keadaanmu sendiri dan menyia-nyiakan waktu kami," seru Lucas dengan nada bicara yang sopan namun menyiratkan ancaman yang tajam.
Wajah pengawal wanita di samping Elara seketika berubah menjadi pucat pasi saat melihat wajah Lucas yang ternyata adalah orang yang selama ini bekerja di kediaman mereka. Ia menatap Lucas dengan tatapan tidak percaya sekaligus marah.
"Kau... kau pengkhianat?! Beraninya kau berbuat seperti ini di belakang Tuan Valtieri!" bentak pengawal wanita itu dengan nada tinggi, meskipun suaranya terdengar sedikit bergetar karena amarah sekaligus ketakutan.
Lucas menoleh ke arah sumber suara itu, lalu tertawa kecil dengan nada sinis. "Pengkhianat? Kata yang indah sekali. Tapi bagi kami, ini namanya balas dendam. Dante Valtieri itu lahir dari keluarga pembunuh dan perampok, dan sekarang saatnya baginya untuk merasakan apa yang selama ini ia tanamkan kepada orang lain," jawab Lucas dengan nada dingin dan penuh kebencian.
"Kenapa kau melakukan ini? Dante sudah memperlakukanmu dengan baik, memberimu jabatan dan kepercayaan penuh. Kenapa kau malah menusuknya dari belakang?" tanya pengawal wanita itu lagi, berusaha mencari tahu alasan di balik pengkhianatan ini sekaligus mengulur waktu untuk mencari celah pelarian.
Wajah Lucas berubah menjadi semakin dingin dan penuh amarah saat mendengar pertanyaan itu. Ia mengepalkan tangannya erat-erat.
"Memperlakukan dengan baik? Jabatan? Kepercayaan?" ulang Lucas dengan nada tertawa sinis. "Kau tidak tahu apa-apa, wanita bodoh! Dante Valtieri dan ayahnya adalah orang-orang yang merampas hak milik keluargaku puluhan tahun yang lalu! Mereka membunuh ayahku dan mengusir keluargaku dari wilayah kekuasaan kami, membiarkan kami hidup menderita dan terlantar di jalanan selama bertahun-tahun. Aku menyusup masuk ke dalam organisasi mereka selama sepuluh tahun ini hanya untuk satu tujuan menghancurkan keluarga Valtieri dari dalam dan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku!"
Kalimat yang diucapkan Lucas itu terdengar penuh dendam dan kebencian yang mendalam, membuat suasana di tempat itu seolah menjadi semakin dingin dan mencekam. Ternyata di balik pengkhianatan ini tersimpan kisah masa lalu yang rumit dan kelam antara keluarga Valtieri dan keluarga Lucas.
Elara yang mendengar penjelasan Lucas itu dari balik batu hanya bisa terdiam kaku. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa masalah yang dihadapi Dante ternyata berakar dari masa lalu yang begitu dalam dan penuh darah seperti ini. Dan ia juga tidak menyangka bahwa keberadaannya di sini ternyata menjadi sasaran empuk bagi Lucas untuk membalas dendam kepada Dante.
"Sudahlah, aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan sejarah masa lalu kepadamu. Keluarlah sekarang atau aku akan memerintahkan anak buahku untuk menghancurkan tempat persembunyian itu bersama kalian di dalamnya," ancam Lucas dengan nada dingin, lalu memberi isyarat tangan kepada anak buahnya yang berdiri di belakangnya untuk bersiap menyerang.
Melihat situasi yang semakin terdesak itu, pengawal wanita di samping Elara tahu bahwa mereka tidak punya pilihan lain. Melawan atau bersembunyi lebih lama lagi hanya akan mempercepat ajal mereka. Jumlah musuh terlalu banyak dan persenjataan mereka jauh lebih lengkap.
"Baiklah, kami akan keluar. Tapi berjanjilah kau tidak akan menyakiti Nyonya Valtieri," teriak pengawal wanita itu kepada Lucas, lalu menoleh cepat ke arah Elara dengan tatapan sedih sekaligus putus asa. "Maafkan kami, Nyonya. Kami sudah berusaha semampu kami untuk melindungi Anda, tapi..."
Elara menggelengkan kepalanya perlahan, memotong ucapan pengawal wanita itu. Ia menatap mata pengawal wanita itu dengan tatapan tenang namun penuh ketegasan.
"Tidak apa-apa. Kalian sudah melakukan yang terbaik. Sekarang, mari kita hadapi mereka. Melawan atau lari hanya akan membuat keadaan menjadi semakin buruk," ucap Elara pelan namun tegas, berusaha menenangkan dirinya sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.
Dengan langkah yang berat namun mantap, Elara bangkit berdiri dari tempat persembunyiannya itu diikuti oleh para pengawalnya. Mereka berjalan keluar menuju tempat di mana Lucas dan anak buahnya berdiri menunggu.
Melihat Elara keluar dari tempat persembunyiannya, wajah Lucas seketika berubah menjadi lebih cerah namun tetap menyiratkan kejahatan di baliknya. Ia menatap Elara lekat-lekat dari ujung kaki hingga kepala dengan tatapan yang membuat kulit merinding.
"Bagus sekali. Kau memang wanita yang cerdas, Nyonya Valtieri. Sayang sekali nasibmu harus berakhir di tangan orang seperti aku," ucap Lucas dengan nada sinis, lalu melangkah mendekat ke arah Elara.
"Kenapa kau menangkapku? Apa kau pikir dengan menangkapku kau bisa memaksa Dante melakukan apa yang kau mau?" tanya Elara dengan nada bergetar namun berusaha tetap tenang.
Lucas tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak menyentuh matanya. Ia berdiri tepat di hadapan Elara, menatap wanita itu dengan tatapan tajam.
"Tentu saja. Kau adalah harta paling berharga yang dimiliki Dante saat ini. Dengan memegangmu di tanganku, aku bisa mengatur langkahnya sesuka hatiku. Dia pasti akan melakukan apa saja demi keselamatanmu," jawab Lucas dengan nada yakin.
Namun seketika itu juga, wajah Lucas berubah menjadi lebih dingin dan penuh ancaman. "Dan jangan berpikir aku tidak berani menyakitimu jika dia menolak menuruti kemauanku. Ingat itu baik-baik."
Elara terdiam mendengar ucapan Lucas itu. Ia sadar bahwa sekarang ia benar-benar jatuh ke dalam cengkeraman musuh yang paling berbahaya sekaligus licik. Dan nasibnya maupun nasib Dante sekarang berada di ujung tanduk.
"Amankan dia! Dan pastikan dia tidak bisa menghubungi siapa pun atau meminta bantuan. Kita segera berangkat ke tempat persembunyianku sebelum Dante menyadari apa yang sebenarnya terjadi di sini," perintah Lucas kepada anak buahnya dengan nada tegas.
Beberapa orang anak buah Lucas segera maju ke depan dan memborgol tangan Elara di belakang punggungnya dengan erat, lalu mendorong wanita itu berjalan menuju mobil baru yang sudah disiapkan oleh Lucas. Sementara itu, para pengawal Elara yang sudah terluka parah dibiarkan begitu saja di pinggir jalanan itu tanpa diberi bantuan apa pun.
Saat Elara didorong masuk ke dalam mobil itu, matanya sempat menoleh ke arah kediaman Valtieri di kejauhan dengan perasaan yang tak terlukiskan. Ia berharap Dante segera menyadari bahaya yang sedang menimpanya dan segera datang menyelamatkannya. Namun di sisi lain, ia juga takut jika Dante nekat datang menyelamatkannya dan justru jatuh ke dalam jebakan yang sudah disiapkan oleh Lucas.
Mobil itu perlahan mulai melaju meninggalkan tempat kejadian perkara itu, membawa Elara menjauh dari tempat asalnya menuju tempat yang tidak diketahui dan penuh bahaya. Di dalam mobil yang sempit dan gelap itu, Elara hanya bisa berdoa dalam hati agar Dante bisa menemukan jejaknya sebelum semuanya terlambat.
BERSAMBUNG
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini novel ke 14 aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^