(𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙜𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝘼𝙄)
𝙂𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙏𝘾𝙂 𝙪𝙣𝙞𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣. 𝙄𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙥𝙚𝙩𝙪𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙑𝙖𝙡𝙩𝙝𝙚𝙧𝙞𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙩𝙪-𝙣𝙮𝙖.
⚙⚙⚙
Mengisahkan tentang seorang mekanik muda bernama Arven yang ditakdirkan untuk menjadi Host Titan Gear bernama Astraeus. Kisah masa lalu dan masa kini akan terkompresi menjadi satu dalam mengungkap kehancuran peradaban Astreya. Unsur Action, Misteri, Politik, Perang Kerajaan akan menjadi fokus cerita ini.
Mari bergabung bersama Arven dalam petualangannya di dunia Valtheria.
—T28J
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T28J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BRAKENFORD ARC 14 - GERBANG DESA
...Selama gerbang masih berdiri, desa belum kalah....
...Dan malam itu… semua orang siap mati untuk memastikan itu benar....
...⚙⚙⚙...
Bram bersama barisan penjaga langsung merapat, menerobos masuk ke tengah kekacauan tanpa ragu sedikit pun. Di tangannya kini tergenggam dua tombak mekanis sekaligus, satu di kanan, satu di kiri. Pegas di dalam gagangnya berdesis pelan, tegang, siap meledakkan tenaga kapan saja.
Langkah kaki mereka menghantam tanah yang sudah berubah menjadi lumpur darah. Napas memburu, mata tajam menyapu setiap sudut. “Ikut aku! Jangan berantakan, jaga jarak!” seru Bram dengan suara parau.
“Siap, Kapten!”
^^^*gambar buatan AI^^^
Seekor Stonefang menerjang lurus ke arahnya dengan kecepatan tinggi. Namun gerakan Bram justru lebih cepat. Kakinya memutar setengah lingkaran, tubuhnya merendah mendekati tanah. Cakar raksasa itu hanya menyapu udara kosong, anginnya saja cukup keras menerpa wajah.
“Lambat!” Dalam satu gerakan beruntun, tombak di tangan kirinya melesat menusuk ke atas. Ujung besi tajam itu menembus rahang bawah monster itu dan keluar menembus tengkoraknya di bagian atas. Tubuh monster itu tersentak kaku, darah hitam menyembur deras membasahi baju Bram.
Lalu tombak kanan langsung menyusul secepat kilat. “MUNDUR KAU!” Dorongan keras dari mekanisme pegas meledak di dalam tubuh musuh. Kekuatan itu cukup besar untuk mengangkat tubuh berat itu dari tanah, lalu terlempar jauh ke belakang, menghantam dua ekor Nightclaw yang baru saja muncul hingga ketiganya tumbang berantakan.
“JANGAN BERHENTI!” teriak Bram. Ia menarik kembali tombaknya dengan satu hentakan kasar. Darah memercik ke segala arah. “Tekan terus! Jangan kasih mereka napas sedikit pun!”
...⚙...
Di sisi kiri medan pertempuran...
Seekor Stonefang Ravager berhasil menerobos barisan. Ia menghantamkan tubuhnya ke perisai seorang penjaga.
Besi perisai itu langsung penyok dalam. Penjaga itu mengerang kesakitan, lututnya hampir menyentuh tanah karena tekanan yang luar biasa. “...mahluk ini masih kuat sekali!”
“TAHAN DIA!” teriak temannya.
“SEKARANG, SERANG!”
Tiga penjaga bergerak serempak dalam formasi. Satu maju ke depan mengangkat perisai tinggi-tinggi.
Hantaman monster itu tertahan sepenuhnya. Tubuh penjaga itu terdorong mundur, sepatunya menggores tanah hingga menimbulkan garis panjang dan debu beterbangan, tapi ia tetap berdiri kokoh.
“Dorong balik! Jangan mau kalah!” Dua rekannya yang lain masuk menyerang dari sisi kanan dan kiri secara bersamaan. Tombak-tombak mekanis menusuk dengan kekuatan penuh. Sayangnya kulit batu monster itu terlalu keras, tusukan hanya masuk sedikit, tidak tembus dalam.
“Tahan posisinya—siapkan tenaga!”
“TEKAN MAKSIMAL!” Pemuda di belakang menarik tuas dengan sekuat tenaga.
KLIK-BOOM...
Dua ledakan tenaga menghantam tubuh monster dari sisi kiri dan kanan secara bersamaan. Tubuh Ravager itu terhuyung hebat, keseimbangannya buyar.
“Sekarang jatuhkan dia!” Penjaga di depan menghentakkan perisainya maju dengan seluruh tenaga yang tersisa. Ravager itu ambruk ke belakang dengan suara gemuruh. Tanah di bawahnya bergetar, retakan baru muncul di permukaan tanah.
“Habisi kepalanya!”
Sebuah palu hidrolik dihantamkan tepat ke tengkoraknya. “Mampus kau!”
BOOM-KRAAACK...
Tulang tengkorak itu pecah hingga setengahnya hancur. Suasana hening sejenak.
“...akhirnya tumbang juga,” gumam salah satu penjaga sambil terengah-engah.
...⚙...
Di sisi kanan medan pertempuran...
Suasana mendadak mencekam saat deru langkah monster yang lebih lincah mulai terdengar di balik kabut asap.
“TIGA DARI SISI KANAN, WASPADA!”
Para Nightclaw Stalker melesat cepat seperti bayangan hitam. Gerakan mereka tidak teratur, berpindah dari balik bayangan gubuk menuju tumpukan kayu dengan kecepatan yang sulit diikuti mata telanjang.
“JANGAN KALIAN BERJAUHAN!” teriak seorang penjaga sambil mengencangkan genggaman pada perisai gear-nya.
Dua orang penjaga mundur setengah langkah dengan sengaja, memposisikan diri dalam jarak serang yang telah direncanakan. “Pancing dia maju!”
Nightclaw pertama, yang tergiur oleh celah di barisan pertahanan, langsung menerjang dengan ganas, cakar sabitnya terayun membelah udara.
“Sekarang, tangkap!” Jaring rantai besi dilempar luas oleh dua penjaga dari arah samping. Rantai-rantai itu melingkar sempurna, mengunci seluruh tubuh monster tersebut di udara tepat sebelum cakarnya menyentuh target. “DAPAT!”
Makhluk itu meraung marah, meronta sekuat tenaga hingga jaring rantai berderak kencang menahan beban ototnya yang liat.
“Tarik kencang! Jangan lepas!”
“Tusuk sekarang!”
Dua tombak mekanis menghujam dalam ke perut monster yang terjaring.
“Kunci dan sobek!”
KRAK...
Mekanisme pegas di dalam tombak dipicu, memutar mata pisau di dalam daging. Tubuhnya robek besar, menyemburkan darah hitam pekat yang memercik membasahi baju para penjaga.
“SATU MATI!”
Belum sempat mereka menarik napas, Nightclaw kedua sudah berada dalam jarak terkam, hampir saja merobek leher seorang penjaga yang sempat lengah saat menarik jaring.
“AWAS DIBELAKANG!”
Sebuah perisai berat dihantamkan keras dari samping tepat ke wajah musuh. Benturan itu begitu kuat hingga rahang monster itu bergeser, membuatnya terpental jauh menabrak tumpukan kayu bakar di pinggir jalan desa.
“Tekan dia jangan kasih bangun!”
Sepasang kaki berat yang dilapisi bot baja tambang segera menginjak punggungnya, menekan makhluk itu ke tanah agar tak bisa memanjat kembali.
“Terima kasih!”
THUK...
“Dua juga habis!”
Yang terakhir berlari lurus kencang, memanfaatkan kekacauan untuk menyasar seorang pemuda yang baru pertama kali bertarung di garis depan. Pemuda itu membeku sejenak, kakinya tak bisa digerakkan seolah tertanam di tanah akibat horor mata kuning yang menatapnya.
“...aku-”
“JONGKOK, BODOH!”
Ia langsung jatuh menekuk lutut secepat kilat. Bayangan musuh melintas tepat di atas kepalanya, membawa hawa dingin dari hutan utara.
CRAAASH...
Sebuah palu raksasa menghantam dari samping dengan kekuatan penuh. Tubuh monster itu terpelintir aneh di udara, suara tulang-tulang yang remuk terdengar nyata di antara desis api desa.
“Bangun! Jangan melamun saat perang, sialan!”
“SEKARANG BERSIH!”
...⚙...
Di sisi lain...
Getaran tanah kembali meningkat. Seekor Stonefang Ravager berhasil menerobos barikade kayu yang sudah hancur.
“YANG BESAR MUNCUL LAGI!”
Dua penjaga tangguh langsung maju menghadang raga batunya yang masif.
“Pegang kakinya biar nggak bisa gerak!”
Satu penjaga meluncur rendah dengan cepat, menyelinap di bawah jangkauan lengan monster itu. “Tusuk ke sendi kakinya!”
Yang lain melompat ke atas puing gerobak, mengambil posisi lebih tinggi dari kepala makhluk itu. “Buka jalan di kepalanya!”
BOOM...
Palu besi dihantamkan keras ke ubun-ubun monster. Retakan merah bercahaya muncul di kulit batu yang retak, namun makhluk itu hanya terhuyung.
“BELUM MATI DIA!”
Monster itu mengamuk luar biasa, tubuhnya mengguncang segala yang ada di sekitarnya dengan kekuatan liar.
“MENYEBAR, JANGAN JADI SASARAN EMPUK!”
Salah satu penjaga terpental jauh menghantam dinding batu rumah hingga terdengar suara kayu yang retak.
“Ahh-!”
Bram sudah ada di sana dalam sekejap, bergerak dengan naluri penjaga senior yang tidak mengenal takut. “Lihat sini, bangsat!” Ia menyelinap cepat ke sisi buta monster itu, memanfaatkan celah di antara kulit batunya yang tidak terlindungi. “Sekarang... tahan dia jangan lari!”
Tombak kirinya menusuk keras, mata tombak mekanis itu masuk setengah badan ke dalam sela otot monster.
“...keras juga kulitmu.”
“KUNCI DIA DARI DEPAN!”
Penjaga lain menahan dengan perisai gear, menekan rahang monster agar kepalanya tak bisa bergerak bebas.
“Sekarang!”
Dua pegas tombak diaktifkan bersamaan, mengunci energi potensial di dalam poros logamnya.
“DORONG SEKUATNYA!”
BOOM-KRAAACK...
Tekanan ledakan mekanik meledak di dalam raga musuh. Tulang-tulang di dalam tubuh Stonefang itu hancur lebur dari dalam akibat tekanan pendorong pegas yang berlebih. Tubuh raksasa itu runtuh sepenuhnya ke tanah desa. Debu dan kabut darah terangkat tinggi, menutupi pandangan sesaat di antara kobaran api obor.
“JATUH!”
Sorakan kemenangan pecah di antara napas-napas berat para penambang yang kini berubah menjadi prajurit. Bram berdiri tegak di tengah genangan darah hitam dan lumpur. Ia memutar-mutar tombaknya perlahan untuk membuang sisa cairan monster yang menempel di bilahnya.
“Belum selesai, kawan-kawan.” Ia menatap lurus ke arah hutan utara yang masih gelap. Gelombang berikutnya sudah terlihat bergerak mendekat, puluhan pasang mata merah dan kuning kembali menyala di balik pepohonan.
Bram menyeringai tipis, adrenalin memacu setiap otot di tubuhnya. “Kalau mereka bisa dibunuh...” katanya pelan. Lalu ia berteriak sekuat tenaga hingga suaranya bergema melewati tembok desa. “MAKA HABISI SEMUA SAMPAI YANG TERAKHIR!”
Para penjaga mengangkat senjata mekanik mereka tinggi-tinggi, memantulkan cahaya api yang membara.
“SIAP KAPTEN!”
“MAJU SERANG!”
Malam itu, mereka tidak lagi hanya bertahan di balik pagar yang hancur. Mereka mulai membalas dengan cara yang paling kejam.
...⚙⚙⚙...
A/N : jika kalian suka dengan cerita ini, like, vote, dan support author dengan mengirimi hadiah ya...
—T28J
tapi cerita dan dunianya bagus kok, terus semangat ya
Alice hanya menatap para pekerja itu dari kaca sihir yang mengambang di udara.
"Ah.. beberapa manusia yang bosan hidup ya? biar saja Xena, mereka memang suka cari mati. nanti pingsan sendiri." Alice kembali ke kuilnya meninggalkan Xena yang masih berlari memutar.
"Ini.... dunia ini terlihat lebih kejam dari dunia kita." potong Arthur yang baru saja selesai mandi. ( oh wow pakai baju thur)