NovelToon NovelToon
S2 Menikahi Mantan, Selamanya

S2 Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:162
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Setelah semua yang mereka lewati, hidup Luna dan Isaac tidak sepenuhnya tenang.
Di balik hangatnya keluarga yang mereka bangun, muncul pertanyaan tentang masa depan—dan hal yang belum mereka miliki.
Perlahan, kecemasan tumbuh dalam diri Luna, membuatnya mulai meragukan hal yang dulu ia yakini.
Sementara Isaac tetap di tempat yang sama—setia dan bertahan, meski hubungannya terus diuji.
Di season kedua ini, mereka akan menghadapi konflik yang lebih dalam—tentang cinta, ketakutan, dan harapan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Akankah mereka tetap bertahan, atau justru kehilangan satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Godaan Manis di Pinggir Jalan

Setelah meninggalkan rumah sakit dengan kabar bahagia tentang bayi kembar mereka, suasana di dalam mobil SUV hitam itu terasa jauh lebih ringan. Meskipun rasa pegal di tulang ekor Luna belum sepenuhnya hilang, kejutan manis dari dr. Hermawan tadi seolah menjadi obat bius alami yang membuat Luna sedikit lebih rileks.

Mobil melaju membelah jalanan protokol kota yang mulai dihiasi lampu-lampu neon sore hari. Pandangan Luna beralih ke luar jendela, memperhatikan hiruk-pikuk kota yang sudah lama tidak ia kunjungi. Tiba-tiba, matanya tertuju pada sebuah papan reklame digital besar di sudut perempatan. Papan itu menampilkan animasi es krim soft serve yang meliuk sempurna di atas wadah berbentuk kelopak bunga yang sangat lucu dan estetik. Warnanya yang pastel dengan taburan sprinkles warna-warni tampak begitu menggoda di tengah cuaca kota yang gerah.

"Mas... berhenti sebentar," gumam Luna, matanya masih melekat pada papan animasi itu.

Isaac melirik istrinya, lalu mengikuti arah pandang Luna. Ia melihat sebuah gerai es krim premium yang sedang viral dengan antrean yang cukup panjang di depannya. "Es krim? Sekarang? Apa perutmu sudah siap menerima yang dingin-dingin setelah mual seharian tadi, Sayang?"

"Aku sangat ingin yang manis dan dingin, Mas. Rasanya tenggorokanku kering sekali," Luna menoleh ke arah Isaac dengan tatapan memohon yang sulit ditolak. "Ayolah, hanya satu wadah kecil. Itu es krimnya terlihat sangat enak."

Isaac menepikan mobilnya di area parkir gerai tersebut. Sebelum melepaskan sabuk pengamannya, ia menatap Luna dengan raut wajah penuh pertimbangan medis. "Luna, bayi kembar kita butuh nutrisi yang stabil. Apa kau yakin es krim itu baik untukmu saat ini? Bagaimana kalau nanti perutmu kembung?"

Luna memutar bola matanya pelan. "Mas, ini hanya es krim, bukan racun. Kalau aku tidak boleh makan es krim, aku mau makan sushi mentah atau ramen yang sangat pedas dengan level maksimal!"

Mata Isaac membelalak seketika. "Sushi mentah? Ramen pedas? Tidak, tidak boleh! Itu jauh lebih berbahaya untuk janin." Isaac menarik napas panjang, mencoba bernegosiasi dengan istrinya yang sedang dalam mode keras kepala. "Baiklah, begini saja. Kita buat kesepakatan. Kau boleh beli es krim dengan rasa apa pun yang kau suka, tapi kau hanya boleh makan sedikit. Sisanya, biar aku yang habiskan. Setuju?"

Luna tersenyum cerah, kemenangan kecil baginya. "Setuju! Mas memang yang terbaik."

Isaac keluar dari mobil, merapikan kemejanya sejenak, dan bersiap melangkah menuju pintu kaca toko tersebut. Namun, baru saja ia mengambil tiga langkah, suara kaca mobil yang diturunkan terdengar, disusul suara Luna yang berteriak kecil.

"Mas Isaac! Tunggu! Aku mau ikut!"

Isaac menghentikan langkahnya, berbalik dengan wajah yang dicampur antara gemas dan pasrah. Ia berjalan kembali menghampiri pintu penumpang, mencondongkan tubuhnya ke jendela. Tanpa sadar, ia mencubit pelan pipi Luna yang kini sedikit lebih berisi.

"Kau ini benar-benar ya," gerutu Isaac dengan nada berpura-pura marah. "Aku sudah hampir sampai di depan pintu, dan kau membuatku berbalik arah seperti ini. Tadi katanya lemas, katanya takut jatuh, sekarang malah mau ikut masuk ke kerumunan?"

Luna tertawa renyah, tawa yang sudah lama tidak Isaac dengar sejak mereka berangkat dari bukit. "Aku ingin lihat langsung, Mas. Aku ingin pilih varian rasanya sendiri, lihat topping-nya yang lucu-lucu. Kalau hanya menunggu di sini, aku tidak bisa merasakan 'vibes' tokonya."

"Di dalam itu dingin, Luna. Dan lihatlah, parkirannya saja penuh, pasti di dalam berdesakan. Kalau kau tidak dapat tempat duduk bagaimana?" Isaac mencoba memberikan alasan logis agar istrinya tetap di mobil yang hangat.

"Aku kuat, Mas. Kan ada Mas Isaac yang bisa jadi sandaranku kalau aku pegal," goda Luna sembari mengerlingkan matanya.

Isaac mendesah pasrah. Ia tahu jika Luna sudah mengeluarkan jurus godaan seperti itu, pertahanannya akan runtuh. Ia membukakan pintu mobil, mengulurkan tangannya untuk membantu Luna turun. Dengan sangat hati-hati, ia membimbing istrinya berjalan melewati barisan mobil menuju pintu utama toko es krim tersebut.

Begitu pintu kaca terbuka, denting bel menyambut mereka, bersamaan dengan hawa dingin AC yang menusuk dan aroma manis susu serta vanila. Benar dugaan Isaac, tempat itu sangat ramai. Antrean mengular panjang, dan hampir semua meja terisi penuh oleh remaja dan keluarga muda.

"Wah... ramai sekali," gumam Luna takjub. Matanya berbinar melihat etalase yang memajang puluhan varian rasa es krim dengan warna-warna cantik. "Dugaanku benar, Mas. Tempat ini pasti sangat terkenal di kota ini. Rasanya aku harus sering-sering mengajakmu ke sini kalau kita sudah tinggal di apartemen nanti."

Isaac tertawa geli mendengar gumaman istrinya. Ia merangkul bahu Luna, memastikan istrinya tidak tersenggol orang yang berlalu-lalang. "Oh, jadi sekarang kita sudah punya daftar tempat kunjungan rutin? Tadi katanya tidak mau pindah ke kota, sekarang malah ingin jadi pelanggan tetap toko es krim."

"Itu kan sebelum aku tahu ada es krim seenak ini di dekat apartemen kita," balas Luna sembari terkikik.

Isaac memanfaatkan momen itu untuk meledek. "Ingat ya, baru tadi kau menangis di rumah sakit karena pegal. Sekarang melihat es krim, kau tiba-tiba berubah jadi pemandu wisata kuliner. Hebat sekali kekuatan gula ini."

"Mas!" Luna mencubit pinggang Isaac pelan, membuat suaminya itu semakin tertawa.

Setelah mengantre selama hampir lima belas menit dengan Isaac yang terus siaga menyangga punggung Luna, akhirnya giliran mereka sampai di depan etalase kaca. Luna tampak bingung seketika. Di depannya berjajar es krim mulai dari rasa Dark Chocolate, Sea Salt Caramel, Hokkaido Milk, hingga buah-buahan segar seperti White Peach dan Yuzu.

"Selamat sore, mau rasa apa Kak?" tanya pelayan dengan ramah.

Luna menempelkan wajahnya ke kaca etalase, matanya bergerak lincah. "Mas, lihat... rasanya menarik semua. Wadah bunganya juga sangat lucu di dunia nyata." Luna menoleh ke arah Isaac dengan wajah polos yang penuh rencana. "Mas... boleh tidak kalau aku beli tiga rasa sekaligus? Atau mungkin lima? Aku ingin coba semuanya."

Isaac memijat pelipisnya perlahan, mencoba menahan tawa melihat tingkah laku Luna yang tiba-tiba berubah seperti anak-anak panti yang sedang diajak jalan-jalan. "Tiga atau lima rasa? Luna, ingat kesepakatan kita tadi. Kau hanya boleh makan sedikit, sisanya aku yang habiskan. Kalau kau beli lima rasa, kau ingin aku terkena diabetes dalam satu hari?"

"Tapi kan ini untuk bayi kembar kita, Mas. Mungkin yang satu suka cokelat, yang satu lagi suka stroberi," kilas Luna dengan alasan yang sangat kreatif.

Pelayan di balik meja itu ikut tersenyum melihat interaksi mereka. Isaac hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Pilih dua rasa maksimal, Luna. Atau kita kembali ke mobil sekarang juga tanpa es krim."

"Dua? Hmm... pelit sekali," gerutu Luna, namun ia segera kembali fokus ke etalase. "Baiklah, aku mau Sea Salt Caramel dan Hokkaido Milk. Oh, tambahkan topping makaron kecil di atasnya, ya!"

Selagi pelayan menyiapkan pesanan, Isaac memperhatikan wajah Luna yang tampak sangat bahagia. Rasa sakit hati yang ia rasakan saat melihat Luna menangis di rumah sakit tadi perlahan terobati oleh binar ceria ini. Ia rela berdiri lama di antrean yang sesak ini asalkan Luna bisa tersenyum kembali.

"Ini pesanannya, Kak," ujar pelayan sembari menyerahkan wadah es krim yang tampak sangat cantik, persis seperti di papan animasi tadi.

Luna menerimanya dengan penuh semangat. "Mas, lihat! Cantik sekali! Aku jadi tidak tega memakannya."

"Tapi kau akan memakannya juga dalam lima detik ke depan, kan?" goda Isaac sembari membimbing Luna menuju satu-satunya meja kecil yang baru saja kosong di sudut ruangan.

Begitu duduk, Luna segera menyuapkan sesendok kecil es krim dingin itu ke mulutnya. Matanya terpejam sesaat menikmati sensasi manis dan asin yang meleleh di lidahnya. "Hmm... enak sekali, Mas! Ini benar-benar menghilangkan rasa mualku."

Isaac memperhatikan istrinya dengan penuh kasih, sesekali menyeka sedikit sisa es krim di sudut bibir Luna dengan tisu. Di tengah hiruk-pikuk toko es krim di pusat kota ini, Isaac menyadari bahwa kebahagiaan itu sederhana. Terkadang, ia hanya butuh sebuah es krim dan senyuman istrinya untuk merasa bahwa segala perjuangan perjalanan mereka dari bukit adalah hal yang sepadan. Perjalanan menuju apartemen mungkin masih menyisakan sedikit rasa lelah, namun setidaknya sore ini, mereka memiliki kenangan manis yang bisa diceritakan pada bayi kembar mereka kelak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!