NovelToon NovelToon
Kriteria Gila, Cinta Nyata

Kriteria Gila, Cinta Nyata

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Duda
Popularitas:277
Nilai: 5
Nama Author: wilight

Rania ditinggal kabur pacarnya, Rangga. keluarganya malak sibuk nyariin jodoh agar Rania bisa melupakan masalalunya.
Muak, Rania ngeluarin kriteria gila duda keren umur 30-an, dan yang paling penting ukuran 18 cm.

Keluarga syok, tapi berhenti ganggu.

Beberapa waktu kemudian, seorang pria bernama Alfino duduk di teras rumahnya. Tinggi, kekar, wangi. Duda 33 tahun tepat sesuai pesanan.

Rania mulai lupa Rangga. Tapi masa lalu kembali. Rangga muncul

Dilema pun terjadi Antara durian 18 cm dan cinta pertama dan Rania harus milih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

investor

Jam menunjukkan pukul dua siang, ruangan kantor ramai oleh suara ketikan dan telepon yang bersahutan.

Rania sedang fokus di depan laptopnya, mengetik laporan dengan serius. Alisnya sedikit berkerut, tanda dia benar-benar tenggelam dalam pekerjaan.

Tiba-tiba...

Klik.

Pintu ruang direktur terbuka Pak Heru keluar. Wajahnya masih setegang biasanya, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda matanya terlihat lebih hidup, seperti menyimpan kabar besar.

"Anak-anak," panggilnya tegas.

Semua kepala langsung menoleh.

"Ada tamu penting, perusahaan kita akan bekerja sama dengan investor baru. Beberapa dari kalian harus ikut presentasi di ruang rapat."

Rania langsung berhenti mengetik.

"Rania, Mila, Didi ikut saya."

Rania mengerjap kaget. "Tamu penting, Pak? Siapa?"

Pak Heru merapikan jasnya sedikit. "CEO dari salah satu perusahaan investasi. Mereka tertarik mendanai proyek marketing kita. Nilainya… cukup besar."

Mila langsung melirik ke arah Rania dengan senyum jahil yang mulai terbentuk.

"Awas, Ran…" bisiknya pelan.

"Jangan-jangan investor baru itu..."

Belum selesai dia bicara..

Pintu lobby terbuka, seisi ruangan seperti melambat, seorang pria masuk dengan langkah tenang, tinggi, tegap. Kemeja biru dongker yang pas di badan, sepatu pantofel mengilap. Wajahnya tenang dengan senyum tipis yang terlalu familiar.

Alfino.

Rania membeku.

Bukan tubuhnya yang jatuh… tapi pikirannya.

"Dia? Investor? CEO? Di sini? Sekarang?!"

Jari-jarinya kaku di atas keyboard.

Alfino berjalan mendekat Pak Heru langsung menyambut dengan sikap hormat.

"Mas Alfino, selamat datang. Terima kasih sudah meluangkan waktu."

"Terima kasih kembali, Pak Heru," jawab Alfino tenang.

Mereka berjabat tangan. Bertukar beberapa kalimat formal. Lalu...

Pak Heru menoleh ke arah tim.

"Mas Alfino, ini tim marketing kami. Mila, Didi dan Rania."

Alfino mengalihkan pandangannya.

Matanya bertemu dengan Rania.

Lembut, tenang seolah tidak ada kejutan sama sekali.

"Selamat siang," ucapnya sopan.

"Saya Alfino. Senang bisa bekerja sama dengan tim yang hebat."

Mila langsung nyengir lebar. "Selamat siang, Pak. Kami juga senang."

Didi mengangguk mantap. "Siap kerja sama dengan Bapak."

Rania?

Dia cuma mengangguk pelan, bibirnya bahkan belum sempat membentuk senyum sempurna.

Di ruang rapat presentasi dimulai.

Slide demi slide berjalan dengan lancar. Suara Rania terdengar profesional, meski ada getaran halus yang hanya dia sendiri yang sadar.

Alfino duduk di seberang meja tangannya bertaut santai. Matanya fokus kadang ke layar, kadan ke Rania. Setiap kali pandangan itu terasa, jantung Rania langsung berdebar tidak wajar.

Deg. Deg. Deg.

Seperti genderang perang, tangannya sempat sedikit gemetar saat memegang pointer.

Di sampingnya, Mila berbisik pelan tanpa menoleh.

"Lo bisa, Ran. Fokus ini meeting, bukan kencan."

Rania menelan ludah, lalu mengangguk tipis.

"Baik, untuk strategi digital campaign…" lanjutnya, mencoba kembali stabil.

Sesekali Alfino bertanya.

"Kalau target market usia 25–35, bagaimana pendekatan kontennya?"

Rania menarik napas, lalu menjawab lebih mantap. "Kami akan fokus pada storytelling berbasis kebutuhan emosional, Mas. Bukan sekadar promosi produk."

Alfino mengangguk kecil. "Menarik."

Satu kata tapi cukup membuat Rania makin salah tingkah, akhirnya presentasi selesai.

Pak Heru berdiri. "Terima kasih atas waktunya, Pak Alfino. Mari kita lanjutkan pembicaraan di ruang saya."

"Baik, Pak."

Sebelum berbalik, Alfino sempat menoleh.

"Mbak Rania," ucapnya.

Rania langsung menegakkan badan.

"Iya, Mas?"

"Terima kasih atas presentasinya. Jelas, rapi, dan… meyakinkan."

Rania sedikit terdiam, lalu menjawab pelan, "Terima kasih, Mas."

Di kantin satu jam kemudian.

Rania baru saja duduk ketika Mila langsung mencondongkan badan dengan wajah penuh semangat.

"RAN!"

"Apa sih… pelan-pelan," desah Rania.

"DIA SENGAJA LO!" bisik Mila setengah teriak.

"Dia investasi di perusahaan lo biar bisa deket tiap hari!"

Rania menghela napas. "Jangan lebay, Mi. Bisa aja dia memang lihat potensi perusahaan."

Mila mengangkat alis tinggi. "Potensi lo kali!"

"Mi…"

"Serius, Rani logika mana yang masuk? Baru kenalan beberapa minggu, tiba-tiba jadi investor? Ini bukan kebetulan. Ini strategi!"

Rania menunduk pipinya mulai memerah.

"Aku… nggak tahu harus mikir apa."

Saat itu, Didi datang membawa dua gelas kopi.

"Nih," katanya santai, meletakkan kopi di meja.

"Udah kayak rapat darurat aja."

Mila langsung nyengir. "Bang Didi, lo tau nggak? Investor baru kita itu…om-omnya Rania."

Didi mengangkat alis. "Oh ya?"

Rania langsung protes pelan. "Bang, jangan ikut-ikutan ya…"

Didi tertawa kecil, lalu duduk. "Jadi bener?"

Rania mengangguk pelan. "Iya… dia yang itu."

Didi menghela napas kagum. "Wah. Pinter juga."

Rania menoleh. "Maksudnya?"

"Dia masuk lewat jalur resmi. Bukan cuma pendekatan personal, tapi juga profesional." Didi menyesap kopinya.

"Itu langkah cerdas."

Mila langsung mengangguk cepat. "Nah! Tuh kan!"

Didi lanjut, "Dia lagi nunjukin ke lo dia bukan cuma baik di rumah, tapi juga punya posisi dan kemampuan di dunia kerja."

Rania diam, mencerna.

"Itu nilai plus besar, Ran," tambah Didi.

"Nggak semua orang bisa konsisten di dua dunia sekaligus."

Mila menyenggol bahu Rania. "Intinya… lo lagi dideketin dengan cara elegan."

Rania menunduk lagi senyum kecil mulai muncul, tapi matanya masih penuh kebingungan.

Sore hari.

Alfino sudah bersiap pulang di lobby, dia sempat menghampiri Rania yang berdiri sendirian.

"Mbak," panggilnya lembut.

Rania menoleh. "Iya, Mas…"

"Saya tidak bermaksud membuat Mbak kaget hari ini."

Rania menghela napas. "Tapi berhasil."

Alfino tersenyum kecil. "Saya hanya ingin Mbak melihat satu hal."

"Apa itu?"

"Bahwa saya serius. Bukan hanya dalam kata-kata… tapi juga tindakan."

Rania menatapnya, diam.

"Kalau kita sering bertemu di kantor," lanjut Alfino,

"mungkin Mbak akan lebih percaya… bahwa saya tidak bermain-main."

Rania menggeleng kecil, setengah pasrah. "Mas ini…"

"Apa?"

"Bikin pusing."

Alfino tertawa pelan. "Semoga pusingnya… yang bikin senyum."

Rania spontan tersenyum.

"Selamat sore, Mbak."

"Selamat sore, Mas."

Alfino masuk ke mobilnya. Pergi.

Rania tetap berdiri di sana, menatap mobil itu sampai hilang di tikungan.

Malam hari tumah Rania, ruang tamu penuh dengan parcel. Aroma durian masih tercium kuat.

Ibunya sibuk membuka kotak perhiasan. Bapaknya membaca brosur. Naufal duduk santai dengan perut sedikit buncit.

"Rania," panggil ibunya,

"Mas Alfino itu baik sekali. Jarang ada laki-laki seperti itu sekarang."

Bapak ikut menimpali, "Ibu benar. Bapak tadi sempat cek perusahaannya. Legal, jelas, dan berkembang. Orangnya serius."

Naufal nyengir. "Mbak, jangan sampai kelewat yang kayak gitu langka limited edition."

Rania cuma tersenyum tipis tidak menjawab, dia masuk ke kamar, rebahan dan menghela napas panjang lalu membuka ponselnya.

Ada pesan masuk.

Alfino "Selamat malam, Mbak Rania. Semoga hari ini tidak terlalu melelahkan."

Rania tersenyum kecil.

Balas "Lumayan. Ada kejutan besar soalnya."

Tidak lama

Alfino:"Maaf untuk kejutannya."

"Tapi semoga bukan kejutan yang buruk."

Rania mengetik pelan"Masih diproses."

Balasan datang cepat.

"Jangan diproses terlalu lama nanti saya keburu kangen."

Rania terkekeh pelan.

"Sombong amat, Mas. Siapa bilang saya mikirin Mas terus?"

Beberapa detik…

"Tidak usah bilang, saya tahu."

Rania tertawa kecil, menggigit bibir.

Dia lalu mengambil buku catatan di samping tempat tidur.

Menulis perlahan..

"Hari ini dia membuatku kaget, malu, dan senang."

"Dia raja strategi."

"Dan aku… mulai tidak bisa menolak."

Lampu dimatikan.

Kamar gelap.

Tapi jantungnya…

Masih berdebar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!