NovelToon NovelToon
KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Elsa Sefia

Florence, gadis panti yang polos, tak sengaja melihat pembunuhan oleh Lucifer Azrael—miliarder dingin yang diam-diam menguasai dunia hitam. Ia diculik ke pulau pribadi Lucifer dan dijadikan tahanan.

Di sana, Lucifer menerapkan aturan kejam dan menyebut dirinya Tuhan. Tapi di balik sikap beku itu, Florence menemukan luka masa kecilnya: ayahnya melatihnya membunuh dan membunuh ibunya di depan matanya.

Kebaikan Florence mulai meruntuhkan tembok Lucifer. Ia merawat, memasak, bahkan melukis Lucifer sebagai manusia biasa, bukan monster. Namun ketika kedekatan itu tumbuh, Lucifer membohongi dan mengurungnya lagi, takut kelemahan akan membunuhnya.

Kisahnya adalah benturan antara iman dan trauma, belas kasih dan kekuasaan. Mampukah mawar putih yang tumbuh di neraka bertahan, atau justru ikut layu bersama rajanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meja Makan yang Sama, Dunia yang Berbeda

Pukul 07.30 pagi.

Florence menuruni tangga menuju ruang makan, bersiap menghadapi sunyi dan sarapan sendiri. Ia sudah terbiasa dengan meja kosong dan tatapan pilu Reginald.

Tapi pagi itu, meja tidak sepi.

Di ujung terjauh, Lucifer duduk tegak. Jari-jarinya terkepal di atas permukaan kayu. Cangkir kopi hitam di hadapannya dingin, tak tersentuh. Matanya menempel pada jendela, seolah Central Park di luar berubah jadi hal paling penting di dunia.

Ia mengingat kertas itu. Aku beri kamu satu kesempatan. Satu. Jangan rusak lagi.

Kesempatan itu bukan undangan mendekat. Bukan ajakan bicara. Hanya izin untuk berada di ruangan yang sama tanpa menjadi ancaman.

Florence berhenti di ambang pintu. Napasnya tercekat. Naluri lama berteriak mundur. Namun ia mengingat janji malam kemarin. Satu kali, Florence. Coba berjalan.

Ia melangkah pelan. Memilih kursi di seberang meja. Tiga meter jaraknya. Jauh cukup agar tangan yang terulur takkan saling menyentuh. Jauh cukup agar dada tak lagi sesak.

Reginald masuk membawa nampan. Uap sup, aroma roti, potongan buah. Ia letakkan di depan Florence, tangannya gemetar. Tatapannya melirik Lucifer. Tuan mau apa?

Lucifer tak menoleh. “Sama.”

Satu kata. Kering. Tapi cukup.

Reginald mengangguk cepat, lalu lenyap ke dapur.

Sunyi kembali. Hanya bunyi sendok menyentuh mangkuk yang terdengar—pelan, hati-hati. Lucifer tak menyentuh makanan. Ia diam, menjadi bayangan di sudut penglihatan. Tak menuntut. Tak memaksa. Hanya hadir.

Anehnya, kehadiran itu membuat sup Florence turun lebih mudah. Empat suap. Lima. Hingga ia sanggup meneguk air tanpa telapaknya bergetar.

Lucifer akhirnya bersuara. Tatapannya tetap di luar. Seakan ia berbicara pada udara.

“Hari ini,” katanya pelan, kaku seperti lidah yang lupa cara mengajak. “Kau mau ke mana?”

Florence menahan kunyahan. Menatap punggung itu.

“Kau boleh keluar,” lanjut Lucifer tanpa menoleh. “Ke mana saja. Toko buku. Taman. Belanja. Aku takkan ikut jika kau tak mau.”

Florence meletakkan sendok. Dadanya berdebar. Keluar? Kata itu asing, nyaris terhapus dari ingatannya. Dunia luar sudah lama jadi ingatan kabur—antara mimpi dan luka.

“Kenapa?” Suaranya keluar, pertama kalinya ditujukan langsung pada Lucifer sejak malam yang merenggut segalanya.

Lucifer memiringkan kepala sedikit. Hanya ekor matanya yang menangkap wajah Florence.

“Karena sangkar, sekecil apa pun, tetap menjerat kalau pintunya tak pernah dibuka.”

Ia ingat pulau itu. Ingat kamar terkunci. Ingat Florence yang layu setiap kali dinding menutup rapat. Ia tak mau mengulang kesalahan itu. Tidak jika ia masih bisa menahan diri.

“Tapi ada syarat,” sambungnya cepat, kembali menjadi Raja Neraka dalam versi yang belajar membayar. “Pengawal. Banyak. Kau takkan melihat mereka, tapi mereka ada. Dan kau pulang sebelum gelap. Itu saja.”

Florence terdiam. Otaknya bergemuruh. Jebakan? Ujian? Alasan untuk menghukum jika aku kabur? Tapi surat lebay itu masih hangat di laci. Ngigau namanya di depan anak buah masih membekas. Kompres dingin semalam masih terasa di dahinya.

Satu kesempatan. Ia yang memberinya. Ia pula yang harus berani mengambil risikonya.

“...Toko buku,” bisiknya akhirnya. Hampir tak terdengar. “Yang besar. Di Fifth Avenue.”

Lucifer mengangguk sekali. Kaku. Namun di kedalaman matanya, sesuatu menyala sebentar lalu padam. Lega.

“Jam sepuluh,” katanya. Ia bangkit. “Aku menunggu di lobi. Kau datang kapan pun siap.”

Ia pergi tanpa menoleh lagi. Memberi ruang. Memberi napas. Memberi pilihan.

 

Pukul 10.00. Lobi mansion.

Florence turun dengan gaun biru keabu-abuan yang jatuh lembut membingkai tubuhnya. Lehernya terbuka dalam potongan V sederhana, lengan balonnya menyembunyikan pergelangan tangan yang kurus. Rambut pirang panjangnya bergelombang liar, separuhnya dikepang longgar ke satu sisi, sisanya jatuh bebas di atas bahu. Kulitnya pucat nyaris tembus cahaya, matanya sayu dengan bayangan merah di bawahnya, bibirnya tanpa warna. Walau tak pakai riasan, kecantikannya tetap menyusup diam-diam—bukan dari warna di wajah, tapi dari rapuh yang tak sengaja jadi memikat. Ia tidak ingin memikat. Ia hanya ingin tenggelam, menjadi sesuatu yang bisa diabaikan.

Lucifer sudah menunggu. Tanpa jas. Kemeja hitam digulung hingga siku, celana bahan. Tanpa dasi, ia tampak lebih muda. Kurang seperti iblis, lebih seperti manusia. Di belakangnya, Marco berdiri diam. Di luar pintu kaca, enam SUV hitam berjejer. Dua belas pengawal, Vulture di antaranya. Tak terlihat, tapi nyata.

Lucifer melirik Florence sekilas. Cukup untuk memastikan ia ada. Lalu memberi isyarat pada Marco. “Berangkat.”

Ia tak mengulurkan tangan. Tak membuka pintu. Ia berjalan tiga langkah di depan, memberi jarak. Menjadi tameng, bukan pemilik.

Di dalam mobil, mereka duduk berjauhan. Lucifer di kanan, Florence di kiri. Ruang kosong di antara mereka menjadi batas suci—perjanjian yang tak diucapkan.

Dua puluh menit perjalanan terasa panjang. Florence menatap luar jendela. New York bergerak seperti biasa. Gedung tinggi. Langkah orang-orang. Dunia terus berputar meski dunianya berhenti dua bulan lalu. Matanya panas. Tapi tak ada air mata yang jatuh. Ia sudah kehabisan.

Toko buku terbesar di Fifth Avenue menanti. Marco sudah mensterilkan tempat. Toko ditutup dua jam atas alasan renovasi mendadak—sebenarnya karena setengah juta dolar yang berpindah tangan hari ini.

Florence turun. Kakinya gemetar menyentuh aspal. Udara bebas—bau knalpot, kopi, kebebasan—menghantam wajahnya. Terlalu banyak. Terlalu nyata.

Lucifer hanya mengangguk ke arah pintu kaca. “Masuk. Aku di kafe seberang. Kalau butuh apa-apa, panggil Marco. Ia di dalam, tapi jauh.”

Florence menatapnya sebentar. Lalu menatap rak-rak tinggi, bau kertas, surga yang dulu ia tinggalkan.

Ia melangkah masuk. Sendiri. Untuk pertama kalinya dalam dua bulan, tak ada bayangan Lucifer di belakangnya. Tak ada cengkeraman. Hanya Marco di pojok, pura-pura membaca koran.

Jari Florence menyentuh punggung buku satu per satu. Gemetar. Ia mengambil sebuah novel klasik, membukanya. Aroma kertas baru masuk ke paru-parunya.

Di seberang jalan, Lucifer duduk menghadap jendela kafe. Kopi di tangannya tak diminum. Matanya tak lepas dari pintu toko buku. Satu tangan di saku menggenggam kertas. Surat Florence. Aku beri kamu satu kesempatan.

Ia takkan merusaknya. Tidak hari ini. Tidak jika ia masih bisa menahan diri.

Vulture berbisik pelan. “Bos, area aman. Tak ada penguntit. Penembak sudah siap.”

Lucifer tak menjawab. Hanya mengangguk. Matanya tetap tertuju pada pintu kaca. Menunggu sosok kurus berbaju biru pudar keluar. Menunggu kesempatan itu tetap utuh.

Di dalam, Florence memeluk buku itu ke dada. Bukan karena ceritanya. Karena hari ini, ia memilih sendiri. Mengambil sendiri. Tanpa izin. Tanpa takut.

Es di dadanya masih tebal. Tapi hari ini, ia menginjak setapak kecil di atasnya. Dan setapak itu—untuk pertama kalinya—tidak retak.

 

1
MayAyunda
keren 👍👍
Elsa Sefia: terimakasih kak🥰
total 1 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
Arista_2
lanjuttttt kakk🥹
Elsa Sefia: siapp 🥰
total 1 replies
Elnata
aaa lanjutttt Thor 😭
jangan tamattt disinii🥺
ditunggu season berikut nya😭👍
Elsa Sefia: santai kakk, Masi lanjut kok🥰
total 1 replies
Nia Nara
Ini kok ceritanya sini sakit situ sakit ya.. Buat lucifer kuat dong thor 🤣
Elsa Sefia: sabar ya kak, raja neraka sedang tidak baik baik saja😭
total 1 replies
Arista_2
anjirrr😭
Arista_2
😭😭
Arista_2
duhh kasian Florence 🥺
Arista_2
jujur sedih, Lucifer ternyata didik dengan kejam 🥺
Arista_2
keren kak😭
Arista_2
luar biasa, cerita nya berbeda dengan yang lain. semangat terus kak🥳👍
Elnata
wahhh ahirnya, setalah banyak bab yang aku tabung, tidak sia sia😭. lanjuttt kakk udah enggak sabarr😍👍
Elsa Sefia: Siap kak🥰
Terimakasih atas dukungannya😍
total 1 replies
Nia Nara
Lanjut thor
Elsa Sefia: siap kakk
total 1 replies
balonku adalima
ya ampunn😭😭 kakk cerita mu buat aku gak sabar buat cepet cepet pulang kerja, trus baca.. aaa sehat sehat orang baik💪
Elsa Sefia: Makasih banyak ya kak 😭🫶 Senang banget ceritaku bisa jadi alasan buat buru-buru pulang dan baca. Oh iya, aku udah update lagi kak! Semoga kamu juga selalu sehat dan lancar kerjaannya ya!
total 1 replies
Nia Nara
Lanjut thor.. Ceritanya bagus, unik. Gak sama dari yg biasa.
Nia Nara: Siap Thor, ditunggu. Jangan lama-lama ya 😅
total 2 replies
Elnata
cepat update lagi, udah tidak sabar dengan kelanjutannya 😭
Elsa Sefia: siap kak, di tunggu ya update selanjutnya 😍
total 1 replies
Elnata
kerenn😍
Elnata
merinding 😭
Elnata
🤭🤭
Elnata
ceritanya bagus, semangat terus kak🥳
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!