Kekasih Lyra tiba-tiba menghilang seminggu sebelum pernikahan, membuat Lyra frustrasi apalagi kedua keluarga sepakat mengganti pengantin pria demi mempertahankan keuntungan masing-masing.
Lyra ingin menolak apalagi pengantin prianya adalah Ares-Kakak kekasihnya yang terkenal arogan, licik, penuh tipu muslihat, orang-orang menyebutnya Pangeran kegelapan. Selain itu, Ares juga memiliki kekasih seorang model papan atas. Akan tetapi, baik perasaan Lyra ataupun Ares tidak penting di depan keuntungan kedua keluarga sehingga keduanya terpaksa menikah meski menjadi pernikahan rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Kuinginkan Darimu
Bercerai?
Sudah tak terhitung berapa kali Lyra memikirkan satu kata itu, meyakinkan diri sendiri bahwa satu-satunya jalan yang harus ia tempuh saat ini adalah bercerai. Akan tetapi, saat ini perusahaannya sangat bergantung pada perusahaan Ares.
Lyra tak takut melawan kekuasaan Ares tapi ia takut memutus hubungan dengan pria itu akan berdampak pada perkembangan perusahaan yang sedang berjalan dengan sangat baik yang pada akhirnya akan membuat semua orang yang berjuang di sana terkena dampaknya, terutama Sena.
Sahabatnya itu sudah menemani Lyra dari nol, meluangkan waktu, tenaga dan dana untuk membangun perusahaan. Jika sekarang perusahaanya harus kembali ke titik nol, itu sama saja melempar Sena ke dasar jurang setelah dengan susah payah mereka merangkak naik ke permukaan.
Namun, jika tak bercerai, Lyra sungguh tidak tahu harus menjalani hidupnya seperti apa. Tak mungkin ia berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Lyra membaca kontrak pernikahannya berulang kali berharap bisa mencari celah untuk membatalkan perjanjian dengan kerugian seminimal mungkin tapi ia tak menemukan celah itu sama sekali, membuatnya hanya bisa menghela napas berat apalagi ia sendiri yang Menyusun setiap kata dan menentukan syaratnya sejak awal,
“Lily?”
Lyra mendongak, ia menyambut kedatangan Ares dengan wajah dingin sementara pandangan Ares langsung tertuju pada berkas kontrak pernikahan di tangan Lyra. “Katakan, kamu mau bagaimana sekarang?” tanyanya yang langsung membuat Lyra tersenyum getir.
Ares seakan menantangnya untuk membuat Keputusan, membuatnya semakin merasa dipermainkan karena dianggap tidak berdaya.
“Mau cerai_”
Ares langsung terkesiap mendengar satu kata yang paling ia takutkat meski ia tahu dengan pasti Lyra tidak akan bisa menceraikannya, setidaknya untuk saat ini. “_Juga percuma.” Lyra melanjutkan diiringi helaan napas pasrah.
Ares tersenyum kecil karena yang Lyra katakan benar.
Lyra sendiri yang menulis di kontrak bahwa mereka akan menjalani pernikahan selama satu tahun, jika sekarang Lyra membatalkan kontrak maka Ares bisa saja menuntutnya.
Miris sekali, pikir Lyra, apalagi Ares bahkan enggan mencoba menjelaskan atau mengucapkan satu saja kata maaf meski hanya formalitas karena sudah mengacaukan hidupnya.
“Kita nggak bisa cerai sekarang tapi aku ingin meninggalkan rumah ini,” tegas Lyra yang membuat Ares terkesiap.
“Jangan lupa syarat yang kuajukan, Lyra.” Ares mengingatkan dengan nada datar tapi tatapan matanya tampak mengintimidasi, memojokkan.
Lyra tertawa sumbang lalu berkata, “Kamu benar-benar nggak mau rugi, ya? Masih ingin aku melayanimu seperti pelacur bayaran_”
“LYRA!” sergah Ares dengan mata menyala, ia tidak terima Lyra merendahkan dirinya sendiri. Sementara Lyra terkesiap, terkejut dengan nada tinggi sang suami yang tak terduga, apalagi pria itu tiba-tiba saja memanggilnya Lyra.
Entah mengapa saat Ares memanggil nama aslinya justru membuat hati Lyra semakin tidak nyaman, seperti ada yang hilang darinya.
Mungkinkah karena ia sudah terbiasa dengan panggilan khusus dari suaminya itu?
“Aku nggak pernah memandangmu seperti itu, aku juga nggak pernah ingin mengambil keuntungan apa pun darimu, Lily. Percaya padaku.”
“Percaya?” Lyra memicingkan mata, sejak awal sampai detik ini, Ares masih dipenuhi kabut pekat yang bahkan bayangannya saja tak bisa Lyra temukan. “Kamu mau aku percaya bagian yang mana, Ares?”
Ares langsung menelan ludah dengan susah payah, sadar ia memang tidak membiarkan wanita itu mengenal dirinya dengan baik.
“Aku mencintaimu.” Ares berkata tanpa keraguan sedikit pun, matanya tertuju pada netra cokelat sang istri, berharap Lyra bisa menemukan cinta dalam hatinya dari tatapannya. “Yang kuinginkan hanya satu, Lily. Percaya padaku, percaya bahwa aku mencintaimu. Apa kamu nggak bisa melihat cintaku sama kamu, hm?”
Lyra menggeleng dengan tatapan kosong. “Yang aku lihat dalam dirimu hanya kabut, Ares. Sejak awal sampai detik ini aku nggak melihat cinta yang kamu maksud sedikit pun.”
“Apa maksudmu, Sayang?” Ares turun dari sofa lalu bersimpuh di depan Lyra, ia menggenggam tangan istrinya yang terasa dingin. “Aku mencintaimu, aku sungguh mencintaimu.”
Lyra menepis tangan Ares dengan kasar. “Semuanya sampai di sini saja.” Lyra beranjak dari tempat duduknya. “Aku akan pindah dari rumah ini dan kalau kamu memang nggak mau rugi, mau tidur sama aku, silakan datang cari aku.” Lyra tersenyum miring lalu menambahkan. “Lagi pula kita sama-sama dewasa dan punya kebutuhan biologis. Aku juga nggak mau rugi, kamu cukup mampu memuaskan hasratku.”
Saat Lyra hendak pergi, Ares langsung mendekap wanita itu dari belakang dengan sangat erat. Lyra menegang, jantungnya kembali berdetak sangat cepat, bahkan hati kecilnya berbisik, memintanya percaya pada Ares untuk kali ini saja tapi akal sehatnya memberitahu bahwa pria itu hanya pria licik, penuh tipu muslihat, satu kata darinya bisa saja menjadi racun seumur hidup.
“Lepas, Ares!” Lyra berusaha melepaskan tangan Ares tapi berakhir sia-sia.
Ares justru mengaitkan dagunya di pundak kecil Lyra, ia bersandar pada sang istri yang saat ini pasti sangat marah dan benci padanya. Ares bisa mengerti, bahkan ia bisa mengerti seandainya Lyra ingin membunuhnya untuk melampiaskan amarah di hati.
Ares bisa menerima apa pun yang akan Lyra lakukan kecuali satu hal, ditinggalkan.
“Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu percaya bahwa aku mencintamu dengan tulus, Lily?” lirihnya. “Akan kulakukan apa pun untukmu asal jangan tinggalkan aku. Kumohon, Sayang.”
Suara Ares bergetar dan rendah, seakan pria itu benar-benar sedang berputus asa dan ketakutan. Tapi Lyra tak lagi mau tak tertipu.
Dulu ia meremehkan Ares, menganggap pria itu hanya anak angkat keluarga Jatmika yang mungkin tidak mendapatkan kasih sayang, tersisih, diabaikan, menganggap pria itu hanya anak malang yang dipaksa menikah dengannya sebagai balas budi pada keluarga yang menghidupinya
Namun, nyatanya pria itu adalah pemburu kejam yang menyamar sebagai mangsa tak berdaya. Nyatanya ia adalah seorang pemain handal yang mengatur setiap bidaknya dengan sangat cermat dan tenang.
“Nggak ada yang kuinginkan darimu, Ares.”
Lyra menginginkan banyak hal dari pria itu sekarang, ingin bertanya mengapa ia harus dijadikan bidak catur dalam permainan balas dendamnya. Ingin bertanya apakah perhatian dan kepeduliannya selama ini hanya bagian dari langkah-langkah untuk balas dendam. Ingin bertanya, apakah sekarang pria itu sangat bahagia karena tujuannya sudah tercapai?
“Kamu boleh memukulku, memakiku tapi jangan tinggalkan aku.” Ares mengiba, dekapannya semakin erat seolah ia ingin memenjarakan Lyra dalam pelukannya. “Aku kehilangan semua orang yang kucintai satu persatu, hanya kamu yang kupunya sekarang. Hanya kamu yang tersisa, Lyra.”
Air mata yang Lyra tahan sejak tadi akhirnya tumpah, hatinya yang terluka tak bisa lagi menahan rasa sakit yang membuatnya hampir tak bisa bernapas.
Detik ini, Lyra menyadari bahwa ia benar-benar telah jatuh cinta pada Ares karena hanya cinta yang bisa melukainya sedalam itu.
Lyra telah gagal menjaga hatinya, ia gagal mempertahankan benteng perasaannya. Lyra merutuki dirinya sendiri yang selalu saja bisa dengan mudah jatuh cinta pada seorang pria.
“Tapi yang paling kuinginkan saat ini adalah kamu menghilang dariku, Ares.” Ia berkata dengan suara tercekat. “Melihatmu membuatku mual dan nggak bisa bernapas.”
Ares terhenyak, hatinya teriris pedih mendengar kata menusuk itu dari mulut sang istri. Perlahan, ia melepaskan tangannya dari Lyra, ia mengambil satu langkah mundur hingga menciptakan jarak dari istri tercintanya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Lyra melanjutkan langkahnya, meninggalkan Ares yang hanya bisa mematung di tempat dengan tatapan kosong dan perasaan yang tiba-tiba terasa hampa.
Ketika sang istri menghilang di balik pintu, Ares langsung terjatuh lemas ke lantai, napasnya tak beraturan, wajahnya pucat pasi dan pandangannya perlahan buram.
Saat ini, Ares merasa seakan berada di dasar jurang yang gelap dan sempit, terjebak di tengah lumpur yang membuatnya tak bisa bergerak.
Ares tahu, kehilangan Lyra akan membuatnya terluka tapi ia tak pernah menyangka, ternyata luka itu tak mampu ditanggungnya.
Sementara di sisi lain, Barga tertawa mendengar rekaman dari ponsel Ryan yang disadapnya, ia tertawa lebar dengan sangat bahagia seakan menemukan harta karun berusia ribuan tahun.
“Jadi ternyata Ares sudah menikah dan istrinya adalah calon adik iparnya?” Barga kembali tertawa sambil bertepuk tangan. “Dia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan calon adik iparnya sendiri berarti wanita itu sangat berarti untuknya.”
“Selama ini Ares menyembunyikan istrinya dengan sangat baik, Tuan. Kita nggak bisa menemukan petunjuk apa pun tentang keberadaannya, untung saja kita mengawasi setiap gerak-gerik Ryan selama ini yang akhirnya membawa kita menemukan titik kelemahan Ares.”
Barga kembali tertawa sambil bertepuk tangan lalu berkata, “Saatnya berburu.”
Ly mungkin cinta Ares salah tapi percayalah dia tulus mencintaimu dan dia lakukan itu untuk melindungi mu.