NovelToon NovelToon
He Is My Imam, Not My Oppa

He Is My Imam, Not My Oppa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AQIQAH, KADO MEWAH, DAN KEMBALINYA SANG MASA LALU

Halaman utama Pesantren Al-Hidayah hari ini berubah menjadi lautan manusia. Tenda-tenda besar berwarna putih dan emas berdiri megah, menaungi ribuan santri dan tamu undangan yang hadir untuk merayakan acara Aqiqah Muhammad Zayan Al-Fatih. Aroma gulai kambing yang kaya rempah menyeruak dari dapur umum, bercampur dengan wangi bunga melati yang menghiasi pelaminan kecil tempat Zayan akan dicukur rambutnya.

Di tengah kesibukan itu, Bondan dan Fahma tampak mengenakan seragam panitia berupa batik seragam yang sebenarnya sedikit kekecilan di tubuh Bondan.

"Fahma! Gue bilang jangan ditaruh di situ kerupuknya! Nanti melempem kena uap gulai!" teriak Bondan sambil membawa nampan berisi berkat.

"Tapi Bon, kalau ditaruh di sana nanti dimakan sama kucingnya Abah! Tadi aja udah ilang satu toples!" balas Fahma panik sambil berlari mengejar seekor kucing yang lari membawa bungkusan emping.

Ritual Pencukuran Rambut

Di dalam masjid, suasana jauh lebih khidmat. Gus Zikri duduk memangku Zayan yang tertidur lelap, dibungkus kain sutra putih. Abah Kyai memimpin doa, diikuti oleh para asatidz. Saat prosesi pencukuran rambut dimulai, Mentari berdiri di samping Zikri dengan mata berkaca-kaca. Ia mengenakan gamis berwarna nude yang elegan namun sangat syar'i.

Setiap helai rambut Zayan yang dipotong kemudian ditimbang untuk disedekahkan senilai emas sebuah tradisi yang membuat Mentari menyadari betapa setiap detail kehidupan di sini selalu dikaitkan dengan ibadah.

"Zayan... jadilah anak yang rendah hati ya, Nak," bisik Mentari saat melihat rambut tipis putranya jatuh ke piring perak.

Zikri menoleh ke arah istrinya, memberikan senyuman penguat yang membuat Mentari merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia.

Acara sedang berada di puncaknya ketika sebuah mobil limousine hitam panjang berhenti di gerbang pesantren. Kehadiran kendaraan itu jelas mengundang perhatian. Bondan yang sedang mengatur parkir langsung siaga satu.

"Waduh, siapa nih? Mau kondangan atau mau beli pesantren?" gumam Bondan.

Pintu mobil terbuka, dan muncullah Reno. Ia tampil sangat kontras dengan lingkungan sekitar mengenakan setelan jas desainer seharga ratusan juta dan kacamata hitam. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak beludru merah yang cukup besar.

Reno berjalan masuk dengan percaya diri, melewati kerumunan santri yang menatapnya heran. Ia langsung menuju ke arah Mentari dan Zikri yang sedang menyalami tamu.

"Tari... _Congrats_," ucap Reno datar, mencoba bersikap tenang meski matanya tak bisa menyembunyikan rasa sesak melihat Mentari yang tampak sangat bahagia dengan suaminya.

Zikri berdiri tegak, matanya menatap Reno dengan tajam namun tetap menjaga adab sebagai tuan rumah. "Selamat datang, Saudara Reno. Silakan duduk dan nikmati hidangannya."

Reno mengabaikan tawaran Zikri. Ia membuka kotak beludru itu di depan Mentari. Isinya adalah sebuah mainan bayi yang terbuat dari emas murni 24 karat berbentuk kunci mobil sport. "Ini kado buat anak lo. Biar dia tahu kalau masa depannya bisa jauh lebih mewah daripada sekadar di pesantren ini."

Suasana mendadak dingin. Mentari menatap kado itu dengan dahi berkerut, sementara Zikri mengepalkan tangannya di balik kain sarungnya. Bondan yang melihat dari kejauhan sudah bersiap melempar piring kalau-kalau Reno berbuat macam-macam.

"Terima kasih, Reno," ucap Mentari dengan suara yang tenang namun tegas. "Tapi Zayan tidak butuh mainan emas untuk tahu masa depannya. Dia sudah punya doa-doa dari ribuan orang di sini. Itu jauh lebih berharga daripada emas manapun."

Zikri melangkah maju, menaruh tangannya di bahu Mentari. "Saudara Reno, kado ini sangat berlebihan. Di pesantren ini, kami mengajarkan kesederhanaan. Namun, karena Anda sudah berniat baik, kami terima. Tapi, izinkan kami melelang emas ini besok untuk biaya pendidikan santri yatim di sini. Atas nama Zayan, kami sedekahkan kado Anda."

Wajah Reno memerah padam. Niatnya untuk pamer dan merendahkan Zikri justru berbalik menjadi ajang amal bagi pesantren. Ia merasa sangat kecil di depan wibawa Gus Zikri yang begitu tenang.

"Terserah kalian!" sahut Reno ketus, lalu berbalik pergi meninggalkan keramaian dengan langkah cepat.

Setelah Reno pergi, Bondan langsung mendekat. "GILA! Gus Zikri keren banget! _Skakmat_ tingkat dewa itu namanya!"

Fahma ikut mengangguk. "Iya, lagian bayi mana bisa main kunci mobil emas? Emang mau dikunyah-kunyah? Nanti giginya copot gimana?"

Zikri menghela napas panjang, ia menatap Mentari dengan tatapan yang sedikit berbeda ada sisa-sisa api cemburu yang coba ia padamkan. "Mentari... Mas minta maaf jika tadi Mas terlalu keras."

Mentari justru menggenggam tangan Zikri dengan erat. "Mas nggak keras. Mas benar. Aku bangga punya suami kayak Mas. Reno itu cuma masa lalu yang nggak akan pernah bisa masuk ke dunia kita lagi."

Zayan yang tadinya tidur, tiba-tiba terbangun dan merengek kecil. Zikri segera mengambil putranya dari boks, menggendongnya dengan sangat luwes—hasil latihan berminggu-minggu.

"Lihat, Zayan. Abimu baru saja menyelamatkan tabungan akhiratmu," canda Mentari sambil mencium pipi Zayan.

Acara Aqiqah berlanjut dengan penuh suka cita. Malam harinya, saat tamu sudah pulang, Zikri dan Mentari duduk di teras sambil menatap bintang-bintang. Kado emas dari Reno tergeletak di meja, yang segera akan berganti rupa menjadi berkah bagi orang lain.

"Mas masih cemburu?" goda Mentari.

Zikri terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. "Mas hanya manusia biasa, Mentari. Melihat pria lain mencoba menarik perhatianmu masih membuat hati Mas terusik. Tapi melihat kamu begitu kokoh berdiri di samping Mas... rasa cemburu itu berubah jadi rasa syukur yang luar biasa."

Mentari menyandarkan kepalanya di bahu Zikri, sementara Zayan tertidur pulas di dalam pelukan hangat sang Abi. Di Pesantren Al-Hidayah, mereka belajar bahwa kemewahan sejati bukan terletak pada emas di tangan, melainkan pada ketenangan di hati dan keberkahan dalam berbagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!