"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: PENYERAHAN TAKHTA BAYANGAN
POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)
Sinar matahari pagi menembus celah gorden ruang kendali utama di mansion Vipera, menciptakan garis-garis cahaya yang menari di atas deretan monitor yang masih menyala. Di layar utama, data pasar modal klan Valerius menunjukkan grafik merah yang terjun bebas—sebuah visualisasi dari kehancuran absolut yang kami rancang semalam di galeri.
Aku menyesap susu cokelatku yang sudah mendingin, jemariku masih menari pelan di atas keyboard mekanik, menghapus sisa-sisa jejak infiltrasi sistem yang kugunakan untuk mematikan Bianca.
“Kak, kau sudah terjaga selama delapan belas jam. Secara fisiologis, kortisolmu sedang berada di level yang membahayakan pertumbuhan sel otak anak delapan tahun,” suara Lea berdesir di benakku melalui Shadow Talk.
Aku tidak menoleh. Aku tahu dia sedang berdiri di ambang pintu dengan gaun tidur sutra putihnya, memeluk boneka kelinci yang sebenarnya menyembunyikan alat perekam suara frekuensi tinggi.
“Tanggung jawab seorang Marsekal tidak berakhir saat musuh tumbang, Lea. Tapi saat medan perang sudah benar-benar steril,” balasku dingin. “Bagaimana variabel Mama? Apakah ada sisa trauma dari insiden Bianca?”
“Mama sedang tidur dengan tingkat kenyamanan 92%. Papa ada di sampingnya, meski dia hanya duduk di kursi sambil memegang tangan Mama sepanjang malam. Sangat tidak efisien untuk tulang punggungnya, tapi sangat efektif untuk stabilitas emosional Mama,” Lea melangkah masuk, duduk di kursi putar di sampingku.
Aku mematikan monitor pusat. Keheningan menyelimuti ruangan. Fase 1 telah selesai. Kami sudah masuk ke dalam benteng, menetralisir pengkhianat domestik, dan menghancurkan rival eksternal yang paling vokal. Sekarang, saatnya untuk mengonsolidasi kekuatan.
"Papa akan datang ke sini dalam lima menit," ucapku datar. "Dia membawa 'hadiah' yang kuminta."
“Cincin?” Lea menebak dengan binar jenaka di matanya.
"Bukan. Akses enkripsi tingkat lima untuk seluruh jaringan logistik Vipera global," jawabku. "Cincin itu urusan nanti. Tanpa keamanan finansial yang absolut, pernikahan hanya akan menjadi target serangan yang empuk."
Tepat pada menit kelima, pintu ruang kendali terbuka. Damian melangkah masuk. Dia tidak mengenakan jasnya. Hanya kemeja putih dengan kancing atas terbuka dan lengan yang digulung, memperlihatkan wajahnya yang tampak jauh lebih manusiawi—meski kelelahan tidak bisa menutupi aura predatornya.
Dia berhenti di depan meja kerjaku, menatap monitor yang kini hanya menampilkan logo kobra Vipera yang sedang melingkar.
"Bianca sudah dideportasi ke fasilitas penahanan rahasia. Valerius sudah tidak ada di papan catur," Damian bicara dengan nada yang... entah kenapa, terdengar seperti seorang prajurit yang sedang melapor pada komandannya.
"Itu hanya pion kecil, Papa," aku memutar kursiku, menatapnya lurus ke mata. "Masalah sebenarnya adalah klan Xavier pusat di Eropa. Mereka tidak akan senang melihat Papa membawa 'orang luar' ke dalam lingkaran inti, apalagi setelah keributan di galeri semalam."
Damian menarik napas panjang, lalu ia meletakkan sebuah flash drive berbahan titanium di atas meja. "Ini yang kau minta. Akses root untuk seluruh operasional Vipera. Termasuk unit taktis di luar negeri."
Aku menatap benda kecil itu. Ini adalah kunci kerajaan. Dengan ini, aku bisa mengubah seluruh struktur mafia ini menjadi organisasi yang jauh lebih bersih namun sepuluh kali lipat lebih mematikan.
"Papa sadar apa artinya ini?" tanyaku. "Papa baru saja menyerahkan mahkota Papa pada anak delapan tahun."
Damian tersenyum miring—senyum yang kini tidak lagi menyimpan ancaman, melainkan pengakuan. "Aku tidak menyerahkannya pada anak delapan tahun. Aku menyerahkannya pada Marsekal yang kebetulan memanggilku 'Papa'. Lagipula, aku mulai menyukai peranku sebagai 'otot' jika itu berarti aku punya lebih banyak waktu untuk mengajak Mamamu sarapan tanpa harus memikirkan pengkhianatan di pelabuhan."
POV: DAMIAN XAVIER
Aku menatap Leo yang sedang memasukkan flash drive itu ke dalam sistemnya. Cahaya biru dari monitor memantul di matanya yang abu-abu, memberinya kesan seperti entitas kuno yang terjebak dalam tubuh mungil.
Rasanya gila. Sebelas tahun aku membangun Vipera dengan darah dan air mata, merangkak dari bawah untuk menjadi Raja Mafia yang ditakuti. Namun, hanya butuh waktu dua minggu bagi putraku untuk meyakinkanku bahwa seluruh sistemku adalah 'sampah logistik'.
"Papa," suara Lea membuatku menoleh. Dia menarik ujung kemejaku, wajahnya yang imut tampak begitu tulus. "Papa sudah melakukan pekerjaan bagus semalam. Mama sangat bangga. Tapi... ada sesuatu yang Papa lupakan."
Aku berlutut di depannya, menyamakan tinggiku dengan putri kecilku yang genius ini. "Apa itu, Lea?"
"Surat di lobi," Lea menyerahkan sebuah amplop hitam tebal dengan segel lilin berwarna emas—lambang keluarga Xavier pusat. "Kurir diplomatik mengantarkannya sepuluh menit yang lalu. Aku sudah melakukan pemindaian termal dan kimia, tidak ada bahan peledak atau racun. Tapi isinya... secara psikologis akan sangat beracun bagi Mama."
Aku membuka amplop itu dengan firasat buruk.
Damian,
Keributan di Jakarta sudah terdengar sampai London. Seorang Xavier tidak membawa wanita jalanan ke atas panggung pameran. Kami akan tiba di Jakarta tiga hari lagi untuk melakukan 'pembersihan' dan membawa pewaris asli ke Eropa. Persiapkan dirimu.
- Ayah.
Tanganku meremas surat itu hingga hancur. Amarah yang selama ini kuberusaha tekan di depan Qinanti meledak di dalam dadaku. Mereka menyebut Qinanti 'wanita jalanan'? Mereka ingin mengambil Leo dan Lea dariku?
"Mereka pikir mereka siapa?" desisku, auraku berubah menjadi dingin yang mencekam.
"Mereka adalah variabel masa lalu yang merasa memiliki masa depan kita," Leo menyela, suaranya tetap tenang meski ia baru saja membaca isi surat itu melalui kamera sensor di ruangan. "Jangan marah, Papa. Kemarahan hanya akan merusak akurasi tembakanmu."
"Leo, mereka akan datang ke sini. Mereka akan mencoba mengambil kalian!" aku menatap putraku dengan panik yang jarang kurasakan.
Leo bangkit dari kursinya, berdiri dengan postur yang begitu tegak hingga ia tampak lebih tinggi dari fisiknya. "Biarkan mereka datang. Mereka ingin bermain dengan 'protokol keluarga'? Kita akan menjamu mereka dengan 'strategi kepunahan'."
Leo menekan sebuah tombol di meja, dan tiba-tiba seluruh dinding ruang kendali bergeser, memperlihatkan peta global dengan ratusan titik hijau.
"Mulai detik ini, klan Vipera secara resmi berada di bawah komandoku," ucap Leo, matanya berkilat tajam. "Papa, tugasmu adalah menjaga Mama agar dia tidak tahu bahwa kakek dan neneknya adalah musuh yang harus kita hancurkan. Biarkan dia tetap berada dalam dunianya yang hangat. Urusan Xavier pusat... itu adalah porsiku dan Lea."
POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)
Aku mengamati ekspresi Papa.
Analisis: Dia sedang mengalami transisi dari 'Alpha Boss' menjadi 'Guardian Alpha'. Perubahan ini sangat positif untuk stabilitas keluarga, namun secara taktis, dia terlalu emosional untuk menghadapi kakek—pria yang menurut profilku adalah sosiopat murni yang menganggap manusia hanya sebagai angka.
“Kak, kakek akan mendarat di bandara pribadi pukul 09.00 pagi, tiga hari lagi. Dia membawa unit 'Gorgon'—tentara bayaran yang tidak punya saraf rasa sakit. Ini bukan lagi soal mafia lokal,” lapor kuku lewat pikiran.
“Aku tahu. Aku sudah memesan tiga satelit tambahan untuk memantau pergerakan mereka sejak mereka lepas landas dari Heathrow. Lea, fokusmu adalah Mama. Dia tidak boleh mencium aroma peperangan ini,” balas Leo.
Aku berjalan keluar dari ruang kendali, menuju kamar Mama. Aku masuk dengan pelan dan melihat Mama sedang duduk di tepi tempat tidur, menatap ke jendela dengan senyum kecil di bibirnya. Dia tampak sangat bahagia, seolah-olah beban sembilan tahun pelariannya telah terangkat.
"Mama..." panggilku lembut.
Mama menoleh dan merentangkan tangannya. Aku berlari ke pelukannya. Aroma melati dari sabunnya selalu berhasil membuat jiwaku yang lelah sebagai profiler merasa damai.
"Lea, semalam terasa seperti mimpi," bisik Mama, mencium pucuk kepalaku. "Papa... dia benar-benar berubah, ya? Dia membela Mama di depan semua orang."
"Papa mencintai Mama, itu sebabnya dia berubah," jawabku, menyembunyikan kenyataan bahwa di ruang sebelah, Papa sedang bersiap untuk perang saudara yang berdarah.
"Mama ingin membuatkan sarapan spesial untuk kalian hari ini. Nasi goreng dengan telur mata sapi yang sempurna, seperti yang biasa kita buat di apartemen dulu. Mau?" tanya Mama dengan binar mata yang jernih.
Aku mengangguk semangat. "Mau sekali, Ma! Tapi Papa bilang dia ingin membantu Mama di dapur hari ini."
"Benarkah? Damian di dapur?" Mama tertawa, suara tawa yang sangat indah. "Itu akan menjadi pemandangan yang aneh sekaligus manis."
Aku tersenyum dalam pelukan Mama. Di duniaku yang dulu, aku belajar bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang sangat mahal dan seringkali palsu. Tapi di sini, melihat Mama bahagia, aku bersumpah akan menggunakan seluruh kemampuan manipulasiku untuk menjaga senyum ini tetap ada.
Jika klan Xavier pusat ingin menghancurkan kedamaian ini, mereka harus melewati mayat seorang jenderal perang dan seorang profiler ulung terlebih dahulu.
POV: QINANTI (Mama)
Dapur mansion pagi ini terasa begitu hangat. Sinar matahari masuk melalui jendela besar, memantul di peralatan masak yang mengilap. Damian benar-benar datang ke dapur. Dia melepaskan kemeja mahalnya, mengenakan kaus hitam santai, dan mencoba memotong bawang dengan konsentrasi yang lebih besar daripada saat dia memegang senjata.
"Kau memotongnya terlalu tebal, Damian," godaku sambil mengaduk nasi di penggorengan.
Damian berhenti, menatap bawang itu dengan serius seolah-olah itu adalah musuh besar. "Ini jauh lebih sulit daripada melakukan negosiasi di dermaga, Qin."
Aku tertawa, mendekatinya, dan memperbaiki cara dia memegang pisau. Tangan kami bersentuhan, dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak merasa ingin lari. Aku merasa... nyaman.
"Terima kasih sudah membawaku kembali ke sini, Damian. Bukan sebagai tawanan, tapi sebagai... diriku sendiri," ucapku lirih.
Damian meletakkan pisaunya, berbalik menatapku, dan menarikku ke dalam pelukannya. Dia menyandarkan dagunya di kepalaku. "Aku yang berterima kasih, Qin. Tanpamu, dan tanpa anak-anak ajaib itu... aku mungkin sudah mati karena kedinginan di atas takhta ini."
Tiba-tiba, Leo dan Lea masuk ke dapur dengan langkah kompak. Leo membawa tabletnya, sementara Lea membawa vas bunga mawar yang baru dipetiknya.
"Papa, Mama, romansa di dapur meningkatkan risiko makanan gosong sebesar 45%," celetuk Leo tanpa mengangkat wajah dari layarnya.
"Tapi meningkatkan rasa cinta sebesar 100%!" sambung Lea sambil tertawa riang.
Kami semua sarapan di meja makan besar itu. Sebuah keluarga yang utuh. Dari luar, kami tampak seperti keluarga kaya biasa yang sedang menikmati pagi yang cerah. Tidak ada yang tahu bahwa di bawah meja, Leo sedang mengatur pertahanan satelit, dan Damian sedang mengepalkan tangannya di bawah meja saat teringat surat ancaman dari ayahnya sendiri.
Aku melihat anak-anakku. Leo yang dingin tapi protektif, dan Lea yang ceria tapi memiliki ketajaman yang tidak wajar. Aku tahu mereka berbeda. Aku tahu mereka bukan anak-anak biasa. Tapi bagi seorang ibu, asal-usul mereka tidaklah penting. Selama mereka bisa tertawa seperti ini, aku akan memberikan hidupku untuk mereka.
"Checkmate, Papa," bisik Leo tiba-tiba saat Damian kalah dalam perdebatan kecil tentang merk es krim yang akan dibeli sore nanti.
Damian tertawa, merangkul kami semua. "Ya, anak-anak. Checkmate. Papa kalah total."
Fase 1 telah usai. Kemenangan sudah di tangan. Namun, di kejauhan, di atas langit samudera, sebuah jet pribadi dengan logo elang emas Xavier pusat sedang melaju menuju Jakarta.
Permainan yang sebenarnya baru saja akan dimulai.