NovelToon NovelToon
Antagonis Milik Sang Duke

Antagonis Milik Sang Duke

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Transmigrasi / Fantasi Wanita
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rembulan Pagi

Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.

​Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 Bertemu Sellia

Suasana di aula agung itu mendadak terasa jauh lebih ringan bagi semua orang, kecuali Luvya. Ia masih mematung, mencerna rentetan kalimat yang baru saja keluar dari bibir Sang Kaisar. Penjelasan tentang bagaimana Kael mengumpulkan saksi, membongkar dokumen palsu Duke Vounwad, hingga menyeret rahasia menjijikkan dari balik tembok Kuil Penitensi terdengar seperti dongeng kepahlawanan yang mustahil. Namun, di sinilah ia sekarang, berdiri di hadapan penguasa tertinggi tanpa borgol di tangannya.

​"Begitulah ceritanya," kata Raja dengan nada puas, menutup narasi panjang tentang perjuangan Kael di ibu kota selama Luvya menghilang. "Aku benar-benar bangga punya orang sepertimu, Duke Grandwick. Kau memberikan keadilan yang bahkan hukum kerajaanku pun hampir melewatkannya."

​Kael menundukkan kepalanya dalam-dalam, sebuah gestur hormat yang sangat formal. "Hamba hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan, Yang Mulia," jawabnya singkat, tetap rendah hati namun auranya memancarkan otoritas yang tak terbantahkan.

​Luvya menunduk, merenung di tengah kemegahan aula yang mendadak terasa sunyi baginya. Ia tidak percaya semua ini benar-benar terjadi. Ternyata, plot ini masih memiliki benang merah dengan novel aslinya, Kael akan melakukan apa saja untuk Luvya. Namun, motifnya kini terasa jauh lebih dalam. Kael melakukan ini semua demi menebus rasa bersalahnya. Rasa bersalah karena telah membiarkan Luvya tersingkirkan dan menderita di bawah kekejaman keluarga Vounwad selama bertahun-tahun.

​Hanya saja, ada satu rahasia besar yang tidak diketahui siapapun di ruangan ini. Dia bukanlah Luvya yang asli. Dia bukan jiwa penuh kebencian yang ditulis dalam lembaran novel itu. Dia hanyalah jiwa lain yang entah bagaimana terjebak masuk ke dalam raga ini.

​Dalam diamnya, Luvya berbisik penuh syukur di dalam hati. Ia berterima kasih karena takdir kali ini telah berbelok. Setidaknya, Kael yang ada di hadapannya sekarang tidak seperti Kael di dalam novel. Pria yang hanya menuruti perintah jahat Luvya demi ambisi picik untuk menghancurkan Sellia. Kael yang sekarang adalah seorang pelindung, seorang pria yang membersihkan kotoran masa lalu alih-alih menambah noda baru.

​Kaisar berdeham pelan, memecah renungan Luvya. "Karena kalian sudah ada di sini, aku ingin mengundang kalian makan bersama di ruang jamuan pribadi. Ada beberapa hal penting yang harus kita bahas lebih lanjut."

​Luvya hanya bisa mengikuti langkah Kael, mencoba menata kembali hatinya yang masih bergejolak. Apa yang akan dibahas kaisar sekarang? Apakah ini awal dari babak baru yang lebih damai, atau justru tantangan lain yang tak kalah berat dari status antagonis yang dulu ia sandang?

Langkah kaki mereka bergema di sepanjang koridor terbuka yang menghubungkan aula agung dengan area luar. Mereka berjalan menuju taman kerajaan yang luar biasa asri, di mana sebuah gazebo megah dengan ukiran rumit telah disiapkan. Di atas meja marmer di tengah gazebo, berbagai camilan mewah dan teh harum sudah tertata rapi.

​Luvya berjalan dengan langkah pelan, sekilas melirik ke arah Arken yang berjalan di depannya. Putra Mahkota itu tampak dingin dan acuh tak acuh, raut wajahnya seolah menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak berminat untuk ikut dalam perbincangan ini.

​Dalam hati, Luvya mulai menerka-nerka garis waktu dunia ini. Apakah pertemuan Arken dengan Sellia sudah dimulai? Jika iya, mengapa Lucian tadi datang ke istana sendirian?

​Namun, jawaban itu datang lebih cepat dari yang ia duga. Dari balik rimbunnya tanaman hias, Lucian muncul kembali. Dan kali ini, sosok di sampingnya membuat jantung Luvya mencelos. Gadis itu adalah Sellia.

​Luvya tertegun, tubuhnya seketika kaku. Padahal ia sudah sering bertemu Sellia sebelumnya, namun melihat sang tokoh utama wanita berada di sini, di pusat kekaisaran bersama Arken dan Lucian, membuat Luvya sadar bahwa roda cerita sedang bergerak paksa menuju alur aslinya.

​Di sisi lain, Sellia pun tampak sangat terkejut. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok Luvya yang duduk di gazebo mewah itu. Ekspresi Sellia berubah drastis. Matanya berkaca-kaca, memancarkan binar kerinduan yang mendalam. Seolah-olah bagi Sellia, Luvya adalah sahabat lama yang hilang, bukan musuh seperti di dalam buku.

​Luvya segera membuang muka, menatap lantai gazebo dengan perasaan tidak nyaman yang luar biasa. Sensasi sesak mulai menghimpit dadanya. Ia ingat betul betapa dulu, sebagai pembaca, ia sangat membenci karakter Luvya Vounwad. Dan sekarang, ia justru terjebak menjadi sosok itu, dihadapkan langsung dengan tatapan penuh rindu dari Sellia yang suci.

​Jangan menatapku seperti itu, Sellia, batin Luvya frustrasi.

​Luvya benar-benar tidak ingin berurusan dengan sang tokoh utama wanita. Baginya, Sellia adalah magnet masalah. Berada di dekatnya berarti masuk ke dalam radar Arken dan konflik-konflik besar novel yang ingin ia hindari seumur hidup. Ia tidak ingin menjadi bagian dari drama mereka, tidak ingin menjadi figuran, apalagi kembali menjadi antagonis.

​Luvya semakin menunduk, mencoba membuat dirinya sendiri tampak tak terlihat. Ia hanya ingin jamuan ini segera berakhir dan pulang bersama Kael ke tempat di mana takdir novel ini tidak bisa menyentuhnya. Namun, aura di gazebo itu kini telah berubah. Kehadiran Sellia telah menarik seluruh atensi ruangan, dan Luvya merasa terjebak di tengah.

Sellia dan Lucian melangkah maju, memberikan penghormatan paling rendah di hadapan sang penguasa. "Salam, Yang Mulia Kaisar," ucap mereka hampir bersamaan.

​"Wah, kita kedatangan tamu lagi," kata Kaisar dengan nada yang terdengar lebih hidup dari sebelumnya. "Sangat jarang kita bisa berkumpul lengkap seperti ini, terutama dengan kondisi penyakitku yang sering kambuh."

​Kaisar memberi isyarat tangan agar mereka segera duduk. Lucian mengambil tempat, dan sesaat sebelum duduk, matanya melirik tajam ke arah Luvya. Merasa diperhatikan, Luvya semakin menundukkan kepalanya, berpura-pura sangat sibuk dengan lipatan gaun di pangkuannya.

​Kaisar kemudian menatap Sellia dengan penuh minat. "Apakah ini penyihir yang kau ceritakan itu, Lucian? Yang mampu mengobati sakit Putra Mahkota dan memperbaiki mana yang kusut?" tanya Kaisar.

​Sellia tersenyum tipis, wajahnya memancarkan ketenangan yang murni saat ia mulai menjelaskan. "Saya dan Putra Mahkota tempo hari sempat bertemu secara tidak sengaja, Yang Mulia. Dan ketidaksengajaan itu ternyata membuat Putra Mahkota merasa sedikit lebih baik saat berada di dekat saya."

​Luvya yang mendengarkan itu hanya bisa membatin dalam diam. Ia sudah tahu persis arah pembicaraan ini. Pasti sebentar lagi Putra Mahkota akan terus membutuhkan Sellia, dan Sellia dengan sifat polosnya akan terus datang ke istana demi menolong pria itu. Persis seperti narasi yang dulu ia baca di balik layar ponselnya. Semuanya berjalan sesuai jalur pahlawan wanita yang suci.

​Namun, ketenangan Luvya untuk tetap menjadi pengamat yang tidak terlihat mendadak hancur ketika Lucian tiba-tiba membuka suara dan menyebut namanya.

​"Berbicara soal sihir," ucap Lucian seraya melirik ke arah Luvya lagi, "sebelumnya Putri Vounwad juga dikenal sangat ahli dalam perhitungan sihir saat bersama Profesor Hedelon. Itu terjadi sebelum... yah, sebelum akhirnya ada insiden itu."

Luvya mengepalkan tangannya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa sesak itu kembali datang, namun kali ini bercampur dengan kilatan kemarahan yang dingin. Ia mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah mereka dengan tatapan yang tak lagi menghindar.

​"Insiden?" tanya Luvya, akhirnya membuka suara. Suaranya terdengar datar, namun ada ketajaman yang terselip di sana.

​Melihat reaksi Luvya, Sellia tampak sangat terpukul. Wajahnya yang cantik terlihat mendung oleh rasa bersalah yang mendalam. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Luvya dengan tatapan memohon.

​"Ah, Luvya... maafkan aku. Dan Yang Mulia Kaisar juga, saya hanya ingin meluruskan semuanya," ucap Sellia dengan suara bergetar. "Setelah kau dinyatakan jatuh dan hilang dari pegunungan itu, Profesor Ozon menyatakan bahwa kau telah meninggal dunia, Luvya. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa kau masih hidup. Sungguh, maafkan aku tidak bisa berbuat apa pun saat itu, semuanya ternyata hanya salah paham."

​Luvya terdiam, namun sebuah senyum pahit tersungging di bibirnya. Senyum yang tidak sampai ke mata. Di dalam hatinya, ia berbisik dengan pedih, "Pantas saja Luvya yang asli menjadi antagonis. Di dunia ini, benar-benar tidak ada yang berpihak padanya."

​Meskipun ia tahu dirinya adalah jiwa lain, entah mengapa ada rasa sakit yang nyata menghantam dadanya. Rasanya ingin sekali ia menangis saat itu juga. Sebuah rasa sakit dari masa lalu tubuh ini yang mendadak memukul telak harga dirinya. Namun, ia menahannya sekuat tenaga di hadapan orang-orang ini.

​Kaisar, yang tampaknya ingin mencairkan suasana yang mendadak melankolis, tertawa lagi. "Hahaha! Sungguh, pertemuan hari ini benar-benar tidak terduga. Takdir memang suka bercanda."

​Kaisar kemudian meraih cangkir porselennya, hendak meminum teh yang masih mengepulkan uap tipis itu. Namun, tepat sebelum bibir cangkir itu menyentuh mulut Sang Kaisar, Luvya bergerak secepat kilat.

​"Tunggu, Yang Mulia!" seru Luvya lantang, menghentikan gerakan tangan Kaisar di udara.

​Seluruh gazebo mendadak hening. Kael, Arken, Lucian, dan Sellia terpaku menatap Luvya. Luvya berdiri dari kursinya, matanya menatap tajam ke arah cairan di dalam cangkir itu dengan kilatan pengetahuan yang ia dapat dari riset panjangnya bersama Profesor Hedelon.

​"Jangan diminum. Ada racun di teh kita semua," ucap Luvya tegas.

​Pernyataan itu meledak seperti bom di tengah taman kerajaan yang tenang. Di saat identitasnya sebagai orang mati baru saja dibahas oleh Sellia, Luvya justru berdiri sebagai satu-satunya orang yang menyadari bahwa maut sedang mengincar mereka semua di meja itu.

1
Lauren Florin Lesusien
masa ini luvy udh 2 kali kehidupan mudah duhasut trhur💀
Rembulan Pagi: engga kokk, luvya langsung sadar kok ada yang aneh, nanti dia pura-pura makan umpan🤭
total 1 replies
kiu kiu
lanjut thor...semakin menarik..
kiu kiu
lucius teramat berambisi...jgn pernah mau luvya.istana bukan tempat yg nyaman utkmu luvya...
kiu kiu
hauo loh...si kael mulai bereaksi matanya mulai menajam...seolah olah luvya nggk boleh di sentuh siapapun...
za za
semangat thor ceritamu bagus
za za
cerita menarik
penulisannya sangat bagus
jayyyiee
cepet update ya thor
kiu kiu
lanjut thor....semangat berkarya...
za za
makin penasaran.
jayyyiee
malu maluin sumpah
ojaa.
menye-menye bet dah karakternya
Rembulan Pagi: kalau tidak suka, tidak usah berkomentar dan out saja dari ceritanya😍 toh masih ada banyak karya yang tidak menye-menye yang bisa kakaknya baca
total 2 replies
kiu kiu
lanjutkan thor...apakah luvya akan mengeluarkan kekuatannya...ketika dlm keadaan genting..klu bisa jangan thor.ingat pesan profesor hedelon
kiu kiu
arken ini tk tau terima kasih ya udah di tolong dari racun.masih saja membenci luvya.dan ak rasa luvya tk pernah jujur kepada arken.bagaimna kisah hidupnyabersama luvya.kenpa si author bikin cerita kesengsaraan bagi luvya.
kiu kiu
si profesor nggk tau malu datang hanya ingin mengacaukan pikiran luvya.kasihan luvya.lebih baik keluar dari negeri itu dan asuk ke kerajaan lain..
kiu kiu
kpn updatenya thor..
Fatimah Ima
lanjuuttt thor aku suja ceritanya
kiu kiu
lanjut thor...semangat..💪💪
kiu kiu
kurang ajar ini si lucius...apa thor emang menginginkan lucius jadi pria jahat utk luvya.klupun dia jahat pasti memanfaatkan luvya.kasihan dong thor si luvya tak pernah mendapat kebahagiaaan...
kiu kiu
lanjutkan thor... klupun kael sangat menyayangi luvya.dia tidak akan ragu utk melindunginya.
lexxa
apa kael tau tentang kehidupan sebelumny?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!