Aku sudah mati sekali di hari kiamat.
Sekarang aku kembali—3 hari sebelum semuanya dimulai.
Aku tahu siapa yang akan mati.
Aku tahu monster apa yang akan muncul.
Aku tahu dunia ini tidak bisa diselamatkan.
Jadi kali ini…
aku akan mengubah semuanya.
Atau menghancurkannya dengan caraku sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizqi Handayani Mu'arifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manusia Super
Teriakan itu membuat suasana tiba-tiba hening, seakan menggema diudara.
Jantung berdebar, sekali lagi Reina melihat kejadian itu. Dikehidupannya yang lalu, pemerintahan dihancurkan oleh negara lain karena militer hancur.
Banyak manusia super bermunculan membuat antar negara saling serang demi kepentingan pribadi. "Akulah yang terkuat."
Mata menggenang, "jenderal." suaranya parau hampir tersendat ditenggokan.
"cepat, kondisinya sangat kritis meskipun telah menerima energiku." kata prisma.
Santo dan dandi bergegas membantu Andri dan kael mengangkat tubuh jenderal yanto daj dr isman.
Meskipun mereka telah menerima energi dari Andri tapi tetap saja tidak merubah apapun.
Tubuhnya penuh luka, tulang-tulang banyak yang patah. Energi spiritual tidak bisa menyembuhkan luka fisik.
Disisi lain, di berbagai negara juga sedang menghadapi krisis. Banyak manusia yang dipengungsian tanpa makanan.
Rumah-rumah mereka hancur lebur, harus memulai dari awal kembali untuk membangun.
Namun, dibalik krisis ini banyak manusia yang bermutasi.
Mendapatkan kekuatan spiritual, tubuhnya berubah menjadi manusia super.
Ada beberapa yang berhasil menaklukan energinya, namun ada juga yang tubuhnya hancur lebur karena tidak mampu menahan kekuatannya.
Dunia kiamat telah terjadi, manusia akan saling menghancur atas nama. KEADILAN.
Satu bulan berlalu, manusia mulai bangkit kembali.
Memulai membangun peradaban baru penuh tantangan.
Ada yang sedang berusaha mempertahankan lokasinya dari perampok yang memiliki energi super, ada juga yang saling membantu yang lemah.
Kondisi jenderal telah membaik berkat perawatan reina. Dikehidupan ini, Reina tidak akan membiarkan jenderal yanto dan dr isman mati demi menjaga kestabilan pemerintahan.
Sebentar lagi akan muncul manusia-manusia tamak yang ingin menguasai dunia dengan kekuatannya.
"Hei, ini diletakkan dimana?." teriak Prisma sambil membawa satu karung goni gandum persediaan.
Kael menoleh, "letakkan saja disana." katanya sambil membangun benteng pertahanan.
Mereka telah pindah dilokasi yang telah mereka rencanakan.
Beberapa mengolah persediaan makanan, beberapa membangun tembok yang akan dijadikan pertahanan dan yang lainnya memasak.
Anggota mereka hanya menyisakan 20 anggota termasuk Reina, Santo, Dandi, Andri dan Prisma.
Sedangkan Jenderal Yanto dan dr Isman sedang dalam masa pemulihan.
Sedangkan di Negaranya hanya menyisakan 200 orang.
Benar-benar punah, hampir jenazah mereka semua tidak ditemukan karena ada yang desanya masih dipenuhi air, dan ada yang tenggelam karena air laut ataupun tenggelam oleh tanah.
Termasuk keluarga besar Reina. Menurut keluarganya mereka tidak ingin mengubah sejarah ataupun takdir.
Karena mereka telah ditakdirkan akan mati karena gempa. Bukan pasrah, tapi bagi mereka inilah TAKDIR yang tidak perlu dirubah meskipun Reina sangat menyesalinya meskipun tidak bisa berbuat apa-apa.
Tiba-tiba tanah bergetar, "hahaha rupanya presiden kita bersembunyi disini." kata orang tersebut.
Semua orang menoleh kearah sumber suara, mereka terkejut melihat sosok itu.
"monster." kata salah satu anggota berjenis kelamin wanita.
"bukan sepenuhnya monster, dia manusia yang bermutasi." Kata Dandi tatapan matanya sangat tajam.
Langit dunia kiamat dipenuhi awan hitam yang bergerak perlahan seperti lautan gelap.
Di tengah hutan yang retak dan dipenuhi pohon tumbang, Prisma berdiri sambil menggenggam palu besarnya.
"biarkan saya saja yang mengatasi ini." kata Prisma dengan sorot mata yang tajam.
Tubuh pria itu dipenuhi luka dan debu hitam. Napasnya berat, namun matanya tetap tajam menatap sosok di depannya. Prisma.
Makhluk itu dulunya manusia.
Namun sekarang, tubuhnya telah berubah menjadi monster mengerikan setinggi hampir tiga meter. Otot-otot hitam membengkak tidak wajar, kulitnya dipenuhi retakan merah menyala seperti lava, dan salah satu lengannya berubah menjadi cakar raksasa penuh duri tulang.
Monster itu menyeringai.
“Manusia lemah sepertimu… masih mencoba melawan?” katanya. "saya mampu bertahan hidup dibawah jurang hampir satu bulan dan disana juga saya mendapatkan kekuatan super ini." lanjutnya.
"sepertinya dia berasal dari desa Babakan, desa itu masuk kedalam tanah akibat gempa bumi." kata Kael.
Suara beratnya terdengar seperti dua suara bercampur menjadi satu.
Prisma tidak menjawab.
Ia hanya mengangkat palunya perlahan.
Energi biru mulai mengalir di sepanjang senjata itu, membentuk retakan cahaya seperti kilat.
BOOOOM!
Tanah meledak ketika monster itu melompat maju.
Kecepatannya tidak masuk akal untuk tubuh sebesar itu.
Cakarnya menghantam ke arah kepala Prisma.
PRANG!!
Prisma menahan serangan itu menggunakan gagang palunya.
"Lumayan untuk manusia lemah sepertimu." monster itu menyeringai.
"belum tentu, kita buktikan siapa yang lemah."
Gelombang tekanan langsung menghancurkan beberapa bangunan yang sedang mereka bangun.
"gawat, pertarungan ini akan merusak bangunan kita." ucap kael membuat Prisma menoleh.
"Prisma bawa pergi ke kota yang tidak berpenghuni." teriak Dandi.
"ciih.!!" Prisma langsung melompat dengan kekuatan tinggi hingga kekota.
Tanah di bawah kaki Prisma retak.
Namun pria itu tidak mundur sedikit pun. "boleh juga." katanya saat mendarat dengan pukulannya saat mendarat.
“Berat…” gumam Prisma pelan menahan pukulannya.
Monster itu meraung marah lalu menekan lebih kuat.
Otot di lengan Prisma menegang. Pembuluh darahnya mulai membiru akibat energi yang dipaksakan keluar.
Kemudian—
DUAAAR!!
Puluhan paku energi muncul dari tanah di belakang Prisma dan menusuk tubuh monster itu.
“AARGHHH!”
Monster tersebut terpental beberapa meter sambil menghancurkan reruntuhan mobil.
Prisma segera maju.
Setiap langkahnya membuat jalanan bergetar.
Ia mengangkat palu raksasanya tinggi-tinggi.
“Impact Breaker.”
BOOOOM!!
Palu itu menghantam tanah.
Gelombang energi biru meledak ke segala arah seperti badai. Aspal jalan terangkat, bangunan runtuh, dan monster mutasi itu langsung terkena hantaman dari depan.
Tubuh besarnya terpental menghancurkan dinding gedung tua.
Namun…
Prisma menyadari sesuatu.
Monster itu masih hidup.
Dari balik debu, suara tawa pelan terdengar.
Kemudian sosok monster itu keluar perlahan.
Separuh tubuhnya hancur… namun daging hitam mulai bergerak dan beregenerasi dengan cepat.
“Menyenangkan…” Matanya berubah merah terang.
“Ternyata masih ada manusia sekuat ini.”
Tiba-tiba tubuh monster itu membesar lagi.
Duri-duri hitam muncul dari punggungnya, sementara aura merah pekat menyelimuti seluruh area.
Tekanan mengerikan memenuhi udara.
Prisma memicingkan mata.
Retakan energi mulai muncul di lengannya sendiri akibat penggunaan kekuatan berlebihan.
Namun ia tetap memutar palunya dan memasang posisi bertarung.
“Kalau kau tidak bisa mati…” Energi biru di tubuh Prisma mulai berubah menjadi lebih terang. “…maka aku akan menghancurkanmu sampai tidak tersisa.”
Tanah di bawah kakinya meledak.
Dalam sepersekian detik, Prisma dan monster itu menghilang dari tempat mereka berdiri-
Duuuaarrr..!!!
dan suara benturan berikutnya mengguncang seluruh kota mati itu.