Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.
Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.
Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.
"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."
Bab 24 Tumben Suamiku Perhatian
Renata mengembuskan napas panjang, menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut. "Eh... baru juga mau ngomong malah dimatiin. Dasar!" gerutunya pelan. Padahal, ia tadi ingin bilang kalau sudah sangat lapar dan mungkin tidak sanggup menunggu lebih lama lagi, tapi suaminya itu memang selalu merasa paling tahu segalanya.
Sementara itu, di dalam mobil, Reno kembali menginjak pedal gas saat lampu berubah hijau. Matanya melirik ke kiri dan kanan jalanan yang tampak lengang dari penjual makanan.
"Ini kita mau cari sarapan ke mana, Bar? Gue lihat-lihat di pinggiran nggak ada pedagang sama sekali dari tadi," tanya Reno heran.
Bara berdecak sambil menyandarkan sikunya di jendela mobil. "Lo emang bodoh, ya. Cari di tempat keramaian!." Tunjuknya ke arah jalan. "Noh, nanti di depan ada belokan, lo ambil kiri aja. Nah, nanti di situ banyak pedagang biasanya."
Reno menghela napas panjang, membayangkan keribetan memarkir mobil di area padat. "Aduh, Bar... masih harus nyari lagi? Kalau bawa motor mah nggak apa-apa bisa sat-set, lah ini bawa mobil, ribet bawanya kalau jalanan sempit."
"Ya sudah, nanti kalau ada gerobak bubur, berhenti. Kita sarapan sama bubur aja," putus Bara singkat.
Mendengar kata bubur, mata Reno sedikit berbinar. "Bubur? Wah, emang cocok sih pagi-pagi begini." Ia menjeda sejenak, lalu melirik Bara dengan senyum penuh arti. "Tapi bayarin, ya? Hitung-hitung uang jalan, Bar. Kan gue udah jadi sopir pribadi lo pagi ini."
Bara memutar bola matanya, sudah sangat hafal dengan kelakuan sepupunya yang satu ini. "Emang kebiasaan. Setiap gue jalan sama lo, gue pasti keluar duit."
Reno terkekeh puas, "Hehehe... mumpung lo lagi baik hati mau bawain sarapan buat istri lo, nah... sekalianlah sedekah sama sohib sendiri."
Mobil pun berbelok ke arah yang ditunjukkan Bara, menyisir trotoar untuk mencari gerobak bubur ayam yang dimaksud, sementara Bara mulai membayangkan apakah Renata akan suka dengan sarapan "sederhana" pilihannya kali ini.
Lima menit berputar-putar mencari kepulan asap dari panci besar, akhirnya mata elang Bara menangkap sebuah gerobak bubur ayam yang cukup ramai di pinggir jalan. "Tuh, Ren! Berhenti di situ!"
Reno segera membanting setir ke kiri, memarkirkan mobilnya dengan posisi yang agak menyerong agar tidak terlalu memakan bahu jalan. Begitu mesin mati, keduanya turun dari mobil dengan gaya yang sangat kontras dengan lingkungan sekitar. Bara turun sambil merapikan jas mahalnya yang sedikit kusut, sementara Reno menyisir rambutnya dengan jari, memastikan penampilannya tetap on point meski hanya di depan gerobak bubur.
Mereka melangkah bersamaan, menciptakan pemandangan unik bagi orang sekitar yang sedang sarapan. Dua pria tampan dengan pakaian kantoran berkelas kini berdiri di depan gerobak kayu tua.
"Pak, buburnya tiga ya," ucap Bara tegas.
Bapak penjual bubur itu mendongak, sedikit tertegun melihat penampilan pelanggannya sebelum tersenyum ramah. "Oke, Mas. Mau pakai apa aja?"
Reno langsung menyambar dengan antusias. "Satu punya saya, pakai telur puyuh satu, usus ayam dua, hati ampela dua juga. Terus ingat ya Pak, jangan kasih sambal. Saya nggak suka pedas."
Bara menyusul dengan perintah yang lebih detail. "Kalau saya, yang satunya jangan pakai sambal sama sekali. Satunya lagi—buat istri saya—kasih sambal satu sendok saja, jangan terlalu pedas. Terus isiannya samain, masing-masing pakai dua usus ayam sama hati ampela dua juga."
"Di bungkus semua, Mas?" tanya bapak itu sambil mulai menyiapkan styrofoam.
"Iya Pak, dibungkus," jawab Bara.
"Oke, silakan duduk dulu, Mas-mas ganteng."
Bara dan Reno pun duduk di bangku kayu panjang yang tersedia. Reno segera mengeluarkan ponselnya, mulai sibuk mengecek jadwal atau mungkin sekadar melihat media sosial untuk membunuh waktu.
Suasana pagi yang riuh dengan suara klakson kendaraan dan denting sendok penjual bubur menjadi latar belakang mereka. Bara terdiam sejenak, matanya menatap kosong ke arah jalanan, tapi pikirannya melayang ke kamar rumah sakit. Ia teringat suara Renata di telepon tadi yang terdengar sedikit lebih ceria setelah mandi.
“Satu sendok sambal harusnya cukup,” batin Bara. Ia ingat dulu Renata pernah bilang kalau ia suka pedas, tapi dalam kondisi lelah seperti sekarang, ia tidak ingin istrinya malah sakit perut.
"Bar," panggil Reno tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. "Lo nggak merasa kita aneh banget ya? Pakai baju begini, nungguin bubur di pinggir jalan?"
Bara melirik Reno sekilas, lalu kembali menatap ke depan. "Yang penting kita bisa makan, Ren. Lagian, sekali-sekali merakyat. Emang masalah?"
Reno terkekeh pelan. "Bukan begitu, Bar. Udah jangan di bahas lagi. Tapi ingat ya, bubur gue jangan sampai ketukar sama punya bini lo. Bisa berabe kalau gue makan yang ada sambalnya."
Sepuluh menit menunggu di tengah hiruk pikuk pinggir jalan, bapak penjual bubur itu akhirnya mengangkat tiga kantong plastik yang mengepulkan uap hangat.
"Mas, buburnya sudah nih," sahut bapak itu ramah sambil menyodorkan pesanan mereka. "Jadi enam puluh ribu aja."
Bara dan Reno bangkit secara bersamaan. Dengan gerakan sigap, Bara merogoh dompet kulitnya dan mengeluarkan selembar uang seratus ribu yang masih baru. Ia menyodorkannya sebelum Reno sempat melakukan apa pun.
"Nih, Pak duitnya. Ambil saja kembaliannya," ucap Bara.
Mata bapak penjual bubur itu membelalak melihat lembaran merah di tangannya. "Waduh, Mas! Kebanyakan ini, saya nggak enak jadinya. Kembaliannya masih banyak sekali, Mas."
Bara hanya mengibaskan tangan pelan, wajahnya tampak datar namun berwibawa. "Tenang saja, Pak. Nggak seberapa buat saya. Simpan saja kembaliannya."
Bapak penjual bubur tampak sangat terharu, ia membungkukkan badannya berkali-kali. "Terima kasih banyak, Mas. Semoga dimudahkan setiap urusannya, dan selalu diberi kesehatan oleh Tuhan."
"Amin," jawab Bara singkat. Reno yang berdiri di sampingnya hanya tersenyum lebar sambil menepuk bahu sepupunya itu, seolah bangga dengan kemurahan hati Bara pagi ini.
Kemudian, mereka berdua kembali masuk ke dalam mobil. Aroma gurih kaldu dan sate usus seketika memenuhi kabin mobil yang mewah tersebut. Reno mulai menyalakan mesin, sementara Bara memegangi bungkusan bubur itu dengan hati-hati, memastikan milik Renata tidak tumpah atau tertukar.
"Gaya lo, Bar. Sekali bayar langsung buat bapak itu pengen sujud syukur," goda Reno sambil mulai menjalankan mobil.
"Bukan masalah gaya, Ren," jawab Bara sambil menyandarkan punggungnya, matanya menatap bungkusan bubur di pangkuannya. "Terus gue juga ngelakuin itu bukan karena haus pujian. Tapi biar si Bapak bisa cepat naik haji."
Reno seketika terkekeh mendengar alasan itu. "Oh ya? Jadi ingat sama sinetron Tukang Bubur Naik Haji."
"Nah, itu lo tahu. Cuma berapa ribu nggak bakal bikin gue miskin, Ren. Dan gue ikhlas sama apa yang gue kasih," lanjut Bara dengan nada yang terdengar sangat jujur, tanpa ada nada sombong sedikit pun.
Reno terdiam sejenak, menoleh sekilas ke arah sepupunya dengan tatapan tak percaya. Ia merasa salut; tidak ada angin, tidak ada hujan, Bara bisa bicara sebijak itu. Nih anak kesambet apaan ya pagi-pagi? batinnya.
Memang, kebaikan sering kali datang dari arah yang paling tidak terduga. Bagi Bara, nominal itu mungkin setara dengan segelas kopi di kafe langganannya, namun bagi si penjual bubur, itu bisa jadi tambahan untuk kebutuhan rumah tangganya. Ada kepuasan aneh yang menjalar di dada Bara—perasaan tenang yang jarang ia temukan di tengah angka-angka saham dan laporan keuangan perusahaan.
"Tumben lo, Bar. Sejak kapan lo berubah begini?" goda Reno, meski senyum di wajahnya menunjukkan rasa bangga.
"Sejak gue sadar kalau hidup harus saling memberi," sahut Bara pendek. "Udah, lo fokus nyetir aja. Kasihan Renata, keburu dingin nanti buburnya."
Reno mengangguk, menambah kecepatan mobilnya membelah jalanan kota yang mulai padat. Di dalam kabin yang kini harum aroma sarapan itu, ada suasana yang terasa berbeda—lebih ringan, seolah-olah perbuatan kecil tadi baru saja meluruhkan sedikit ketegangan yang menyelimuti hati Bara selama ini.
Di dalam ketenangan kamar rawat inap yang hanya diisi oleh suara detak beraturan dari monitor jantung Om Baskoro, Renata tampak tidak bisa diam. Ia mondar-mandir dari ujung tempat brankar ke arah jendela, lalu kembali lagi ke sofa. Langkah kakinya yang pelan tetap terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu.
Sesekali ia melirik jam dinding yang jarumnya seolah melambat.
"Mas Bara lama banget kesininya," gumamnya pelan, wajahnya tampak gusar. "Ehm... apa jangan-jangan Mas Bara bohong? Dia nggak jadi kesini, atau tiba-tiba ada urusan mendadak soal kerjaan lagi?"
Renata menghentikan langkahnya, tangannya memegang perut yang mulai terasa perih karena terlambat diisi. Bunyi keroncongan halus mulai terdengar, mengingatkannya bahwa ia belum menyentuh makanan sejak semalam.
"Ah... mana perut harus diisi lagi. Laper banget," keluhnya sambil menghela napas panjang. Ia mencoba duduk di tepi sofa, mencoba menenangkan diri sendiri. "Huft... sabar, Ren. Istri sabar disayang suami."
Namun, sedetik kemudian ia mendengus sinis pada dirinya sendiri. Teringat di saat momen sikap Bara yang dingin dan di tambah sikap Mama Sarah yang meremehkannya semalam kembali melintas.
"Alah, bullshit!" umpatnya ketus. "Disayang suami dari mana? Dianggap ada saja sudah besyukur. Kalau bukan karena kasihan sama Papah, mungkin aku sudah pulang dari tadi malam."
Ia menyandarkan punggungnya ke sofa dengan perasaan dongkol. Rasa lapar dan rasa kesal karena merasa tidak berguna di mata keluarga suaminya itu bercampur menjadi satu, membuatnya merasa semakin kecil di ruangan yang mewah namun terasa mencekam ini.
Tepat saat ia hendak memejamkan mata untuk menahan rasa lapar, pintu kamar rawat itu terbuka pelan dari luar. Renata langsung menegakkan duduknya, berharap itu adalah sosok yang sejak tadi ia nantikan.
Bara melangkah masuk lebih dulu, diikuti oleh Reno yang membawa sisa bungkusan miliknya. Tanpa membuang waktu, Bara menaruh bungkusan bubur itu di meja dekat sofa. Namun, alih-alih langsung membuka makanan, ia justru berbalik dan menarik Renata ke dalam pelukannya.
Bara mengecup kening istrinya dengan lembut, sebuah gestur perhatian yang sangat kontras dengan sikap dinginnya selama ini.
Reno yang masih berdiri memegang plastik makanan hanya bisa mematung diam, terjebak dalam kecanggungan menonton kemesraan mendadak di depannya. Ia berdehem cukup keras untuk memecah suasana.
"Ehm... hargain orang jomblo di sini, woi!" gerutu Reno sambil memutar bola mata.
Bara perlahan melepas pelukannya, lalu menoleh ke arah sahabat sekaligus sepupunya itu dengan seringai mengejek. "Lagian, mau aja jadi jones—JOMBLO NGENES," sahutnya puas.
Renata yang wajahnya sempat memerah karena perlakuan Bara, tidak bisa menahan tawa melihat ekspresi Reno yang tampak tertekan. "Aduh, Mas, nggak boleh begitu sama sepupu kamu," ucapnya membela sambil menyeka sudut matanya yang berair karena tertawa. "Sudah-sudah, mending kita sarapan dulu. Sudah jam berapa ini, perut aku sudah nggak sabaran dari tadi."
Reno mendengus pasrah, lalu segera mendekat. Ia duduk di sofa, tepat berseberangan dengan sepasang suami istri itu. Bau gurih bubur yang hangat mulai memenuhi ruangan, sedikit mengikis ketegangan yang sejak semalam menghuni kamar rawat inap tersebut.
"Nah, ini punya kamu, Ren," ucap Reno sambil menggeser satu bungkusan ke arah Renata. "Spesial, pilihan suami kamu sendir."
"OH YA!" seru Renata antusias sambil meraih bungkusan bubur itu. Ia menatap Bara dengan binar penasaran di matanya. "Emang kamu tahu pilihan aku, Mas?" tanyanya manja sembari mulai membuka plastik dengan cekatan.
Bara bersedekap, memasang wajah penuh percaya diri. "Iya dong, masa aku sama istriku sendiri nggak tahu kesukaan kamu itu apa."
Namun, begitu tutup styrofoam terbuka, binar di mata Renata seketika redup. Ia menatap sambal di pinggiran bubur yang tampak sangat sedikir. Membuat ekspresinya berubah menjadi kecewa berat.
"Tuhkan! Padahal aku kalau sudah lihat sambal, maunya yang banyak banget. Ehm... ini cuma sesendok doang, nggak bakal kerasa di perut aku, Mas," keluhnya sambil mengaduk-aduk buburnya dengan lesu.
Bara yang baru saja hendak menyuapkan bubur ke mulutnya sendiri langsung berhenti. Ia menoleh ke arah istrinya dengan tatapan protektif. "Sayang... no no ya. Makan pedas-pedas jam segini nanti kamu sakit perut lho. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa."
Tiba-tiba, Reno menyahut dengan mulut yang masih penuh separuh. "Alah, bilang aja nggak tahu! Masa gitu aja lo lupa kalau istri lo sendiri itu suka pedas?"
Bara mendelik tajam ke arah sahabatnya. "Kok... lo yang jadi rempong sih, Ren? Terserah gue lah!"
Reno tak mau kalah, ia menirukan nada bicara Bara tadi dengan gaya mengejek yang dibuat-buat. "No no... marah ya? Utututu," ledeknya sambil terkikih-kikih.
Renata yang tadinya sempat kecewa, kini malah tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah konyol Reno yang berani menggoda suaminya yang kaku itu. "Aduh, aduh... sudah-sudah! Tapi bener juga sih Reno, apa yang Mas Bara bilang. Kalau aku terlalu over makan pedas, nanti malah aku yang repot sendiri kalau sakit perut."
Bara langsung menunjuk ke arah Reno dengan dagunya, merasa menang telak. "NOH! DENGER NGGAK LO?!"
Reno hanya mengangkat bahu acuh tak acuh, memilih untuk mengabaikan teriakan kemenangan Bara dan kembali fokus menghabiskan usus ayamnya dengan nikmat. Pagi itu, ruangan rumah sakit yang biasanya suram terasa sedikit lebih hangat karena tawa mereka, sejenak melupakan beban yang sedang menanti di depan mata.
Baru saja mereka selesai sarapan, tiba sebuah nada dering nyaring memecah keheningan ruangan. Suaranya terdengar ke mereka.
"Ponsel siapa tuh yang bunyi?" tanya Bara sambil menyeka tangannya dengan tisu.
Renata tertegun sejenak, lalu merogoh saku dress-nya. "Eh, punya aku. Sebentar ya, aku angkat dulu."
Bara dan Reno mengangguk bersamaan. Sebelum menempelkan ponsel ke telinga, Renata menyempatkan diri untuk minum beberapa teguk air putih agar suaranya lebih jernih. Begitu layar digeser, suara tegas Mama Sarah langsung terdengar di ujung sana.
"Halo, Ren."
"Iya, Mah. Ada apa?" tanya Renata lembut.
"Itu suami kamu sudah di rumah sakit? Mamah cuma mau mastiin kalau dia benar ke sana dan nggak mampir ke tempat yang nggak jelas," tanya Mama Sarah, suaranya terdengar penuh selidik.
Renata melirik Bara yang sedang memperhatikannya dengan alis terangkat. "Sudah kok, Mah. Ini Mas Bara sama Reno sudah di sini, terus baru aja kita selesai sarapan."
"Ya sudah, itu saja sih. Terus nanti sampaikan ke Bara kalau Mamah sama Bi Sumi mau berangkat belanja bahan-bahan dapur ya. Jadi Mama mungkin agak telat ke rumah sakitnya," lanjut Mama Sarah.
"Oke, Mah. Nanti aku sampaikan ke Mas Bara," jawab Renata patuh.
Pip.
Panggilan terputus sepihak. Renata menurunkan ponselnya dan menghela napas panjang, sementara dua pria di depannya menatap dengan rasa penasaran yang sama.
"Tadi barusan Mamah?" tanya Bara singkat.
"Iya, Mas." Renata mengangguk. "Mamah cuma mastiin kamu beneran ke sini apa nggak. Terus katanya Mamah mau pergi belanja dulu sama Bi Sumi, jadi mungkin ke sininya agak siangan."
Bara hanya mendengus pelan, ia tahu itu hanyalah cara Mamanya untuk memantau keberadaannya. Namun, perhatian Bara teralih saat melihat wajah Renata yang tampak sedikit pucat meski sudah sarapan.