"Nikahi aku, Abang Tukang Bakso!"
Demi menyelamatkan warisan Rumah Sakit dari ibu tiri yang kejam, Dokter Airine Rubyjane nekat menikahi Nata, pria penjual bakso di depan RS-nya. Airine pikir Nata hanyalah rakyat jelata yang mudah ia kendalikan.
Namun, ia salah besar. Di balik celemek berminyak itu, suaminya adalah Arnold Dexter, Komandan Intelijen legendaris yang sedang dalam misi penyamaran mematikan.
Satu per satu musuh Airine tumbang secara misterius. Saat cinta mulai tumbuh, Airine menyadari bahwa pria yang ia anggap "miskin" itu adalah predator paling berbahaya di negara ini yang sedang mengincar rahasia gelap kakeknya.
"Aku bukan sekadar tukang bakso, Istriku. Aku adalah alasan musuhmu takut pada malam hari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Labirin Kematian
"Airine? Airine, tatap mataku! Jangan tutup matamu, itu perintah!"
Suara Arnold terdengar parau, beradu dengan suara deburan ombak yang menghantam karang tajam di bawah gua tersembunyi tempat mereka menepi. Ia baru saja menyeret tubuh Airine keluar dari air laut yang membeku. Jas hujan Airine sudah robek, dan pakaian taktisnya basah kuyup. Di bawah cahaya senter kecil yang dijepitkan di bahu Arnold, wajah Airine tampak seputih kertas. Bibirnya mulai membiru, dan tubuhnya bergetar hebat—bukan hanya karena takut, tapi karena reaksi alergi dingin yang mulai menyerang sistem pernapasan bawahnya.
"N-Nata... dingin... sesak..." Airine berusaha menghirup oksigen, namun paru-parunya terasa menyempit. Ia mulai bersin bertubi-tubi, sebuah reaksi autoimun yang diperparah oleh stres fisik yang ekstrem.
Arnold segera melepaskan rompi antipelurunya, lalu merobek kaos taktisnya yang masih kering di bagian dalam. Ia memeluk Airine dari belakang, menyalurkan panas tubuhnya langsung ke punggung wanita itu. "Sialan, aku lupa catatan medis kakekmu soal alergi dinginmu. Satya! Cari area kering di dalam gua ini! Siapkan pemanas darurat sekarang!"
"Siap, Komandan! Tapi sensor panas musuh sedang menyisir area luar, kita tidak bisa menyalakan api!" sahut Satya dari kegelapan gua.
"Gunakan selimut termal dan penghangat kimia! Cepat!" bentak Arnold.
Airine mencengkeram lengan Arnold yang kokoh. Napasnya pendek-pendek dan berbunyi wheezing. "Arnold... brankas itu... foto itu... Kakek dan Ayahmu..."
"Jangan bicara dulu, Airine. Hemat oksigenmu," bisik Arnold di telinga Airine. Ia menggosok-gosok lengan Airine dengan kasar untuk memicu aliran darah.
"Tidak... aku harus bicara," Airine bersin lagi, air mata mengalir bukan karena sedih, tapi karena iritasi hebat. "Ayahmu... kakekku yang membunuhnya, kan? Aku... aku membawa darah seorang pembunuh, Arnold. Bagaimana bisa kamu masih memelukku seperti ini? Aku... aku kelemahanmu... aku beban..."
Arnold memutar tubuh Airine agar menghadapnya. Ia menangkup wajah istrinya dengan tangan yang masih basah. "Dengarkan aku, Dokter Airine Rubyjane. Kamu bukan kakekmu. Kamu adalah wanita yang menyelamatkanku dari bom kemarin pagi. Kamu adalah istriku. Jika darah itu yang merisaukanmu, maka biarkan cintaku yang membersihkannya. Paham?"
Airine mencoba tersenyum, namun mendadak matanya membelalak. Bayangan masa lalu—saat ia menutup mata kakeknya yang ternyata palsu, saat ibunya meninggal dengan sisa racun di tubuhnya, dan kenyataan bahwa semua maut ini bermuara pada satu nama: Edward Jane—menghantam mentalnya sekaligus.
Panic attack.
Napas Airine mendadak berhenti. Matanya menatap kosong ke langit-langit gua. Tangannya mencengkeram lehernya sendiri seolah sedang tercekik oleh tangan tak terlihat.
"Airine! Bernapas! Ikuti hitunganku!" Arnold panik. Ia tahu tanda-tanda serangan panik karena ia sering melihatnya pada prajurit yang trauma pasca perang. "Satu... dua... buang... tiga... empat... tarik!"
Airine menggeleng histeris, air matanya tumpah deras. "Dia masih hidup, Arnold... dia menonton kita... dia membunuh Ibu... dia membunuh Ayahmu... kita akan mati di sini..."
"Lihat aku!" Arnold mencium bibir Airine dengan paksa. Bukan ciuman romantis yang lembut, tapi ciuman yang menuntut kesadaran, sebuah kejutan sensorik untuk memutus sirkuit kepanikan di otak Airine.
Airine tersentak. Oksigen masuk kembali ke paru-parunya dalam satu tarikan napas panjang yang menyakitkan. Ia tersedan, menyandarkan kepalanya di ceruk leher Arnold, menangis sejadi-jadinya sementara tubuhnya masih menggigil kedinginan.
"Bagus... teruslah bernapas," bisik Arnold, membelai rambut basah Airine. "Aku di sini. Tidak ada yang akan menyentuhmu selama aku masih bernapas. Bahkan Edward Jane sekalipun."
"Kenapa dia melakukan ini, Arnold?" tanya Airine dengan suara serak di sela isakannya. "Kenapa dia memalsukan kematiannya hanya untuk menciptakan neraka ini?"
"Karena bagi pria seperti kakekmu, manusia hanyalah statistik, Airine. Dia terobsesi menjadi Tuhan melalui Cobra-9," Arnold menyelimuti tubuh Airine dengan selimut termal perak yang baru saja diberikan Satya. "Dan dia butuh kamu. Dia butuh genetikmu untuk menyempurnakan formula terakhir. Itulah kenapa dia memancing kita ke sini."
Airine merapatkan selimutnya, rasa hangat mulai menjalar meski bersinnya belum berhenti sepenuhnya. "Dia menginginkanku? Sebagai kelinci percobaan?"
"Hanya melewati mayatku," desis Arnold. Matanya berkilat menatap lorong gelap gua yang mengarah ke bagian dalam pulau. "Satya, status?"
"Jammer musuh melemah di sektor ini, Komandan. Tapi ada pergerakan di pintu masuk lift bawah tanah, sekitar lima ratus meter dari sini."
Arnold berdiri, menyampirkan senjatanya. Ia menatap Airine yang masih terduduk lemas namun sudah mulai tenang. "Bisa jalan, Dokter? Atau aku harus menggendongmu sambil menembak?"
Airine menghapus air matanya dengan punggung tangan, lalu meraih tas medisnya yang basah. Ia berdiri dengan kaki goyah, namun tatapannya kembali tajam. "Aku seorang dokter bedah, Arnold. Aku tidak butuh digendong untuk membedah kebenaran. Ayo pergi. Aku ingin melihat wajah pria yang berani mempermainkan kematian di depanku."
Arnold menyeringai tipis, rasa bangga terpancar di wajahnya. "Itu baru istriku. Tetap di belakangku, jangan lebih dari satu meter. Jika gas dilepaskan, kamu tahu apa yang harus dilakukan."
"Aku tahu," sahut Airine. Ia meraba saku pakaian taktisnya, memastikan botol penawar racun yang ia buat masih utuh. "Dan Arnold?"
"Ya?"
"Terima kasih... karena tidak membiarkanku tenggelam dalam pikiranku sendiri tadi."
Arnold tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya menggenggam tangan Airine sekilas sebelum memberi isyarat pada timnya untuk bergerak masuk ke dalam labirin bawah tanah yang gelap. Di depan mereka, pintu baja besar dengan lambang Cobra yang melingkar menanti untuk dibuka—gerbang menuju sarang sang monster yang sebenarnya.
...****************...