NovelToon NovelToon
Sistem Kekayaan Dan Kekuasaan

Sistem Kekayaan Dan Kekuasaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Scorpion's

Note: alur nya gak terlalu cepat, jadi buat yg enjoy ama alur yang meningkat sedikit demi sedikit aja ya guys

Hidup sebatang kara semenjak ia duduk di bangku sekolah menengah membuat Alvaro mau tak mau harus bisa terbiasa dengan yang namanya usaha dan kerja keras walaupun sering mengalami kegagalan.

karena ia tahu jika ia menyerah untuk berjuang maka itu berarti mengucapkan selamat tinggal bagi masa depannya dan berakhir hidup di bawah bayang bayang jembatan.

satu hal yang menjadi alasan mengapa dia tetap tak menyerah adalah karena ucapan almarhum ibunya ketika di ujung maut dahulu bahwa dirinya harus tetap berusaha dan tidak menyerah.

namun entah takdir mempermainkan dirinya atau apa, ia harus mengalami kejadian tragis ketika dalam perjalanan pulang selepas kerja..

bagaimana kelanjutan nya?, tetap ikuti cerita nya tak lain dan tak bukan hanya di novel saya "Sistem Kekayaan dan Kekuasaan"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scorpion's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Sahabat dan Rumor

Kelas masih ramai setelah bel istirahat berbunyi. Beberapa siswa langsung berlarian keluar, ada yang ke kantin, ada yang sekadar berdiri di koridor sambil mengobrol.

Alvaro duduk di bangkunya sambil menghela napas pelan. Kejadian kemarin masih terasa seperti mimpi buruk yang belum sepenuhnya berlalu. Ia menatap meja kayu di depannya, pikirannya melayang.

Tiba-tiba pintu kelas terbuka kasar.

"Brakk!"

"Lu gak papa kan?! Bajingan emang nih anak, mentang-mentang anaknya wakil kepala sekolah!" bentak seorang pemuda berbadan kekar dengan wajah memerah menahan amarah.

Semua kepala di kelas langsung menoleh. Alvaro yang sedang melamun pun tersentak. Di depannya, Leon berdiri dengan napas ngos-ngosan, tangannya mengepal kuat.

"Bentar-bentar, emangnya aku kenapa?" tanya Alvaro bingung sambil berdiri.

"Bukannya itu Leon ya? Kenapa tuh anak dateng-dateng marah gitu?" bisik salah satu siswa di belakang.

Leon mengerutkan keningnya dalam-dalam, matanya menyipit penuh emosi.

"Aku udah dapet kabar kalau kamu ada masalah sama Rudi. Apa yang udah dilakukan sama Rudi sama antek-anteknya?"

"Bisa-bisanya aku tinggal lomba ke luar kota beberapa hari aja, udah berani ngelakuin hal kayak gitu. Emang gak bisa dikasih ampun nih anak," geram Leon dengan suara yang semakin keras.

Alvaro mengangkat tangan mencoba menenangkan. "Eh bentar dong, tahan dulu emosimu. Aku gak papa, lihat aja sendiri. Emang kamu denger cerita apa sih?"

"Mungkin dia denger soal kekerasan yang dilakukan Rudi. Kan waktu itu video rekamannya disebar luas, makanya rame banget sampai sekarang," celetuk salah satu siswa, diikuti anggukan teman-temannya.

"Gak usah nahan aku," balas Leon dengan suara masih penuh amarah. "Aku gak peduli walau bakal dikeluarin dari sekolah ini. Yang penting, bakal gua hajar tuh anak."

"Eh eh, aduh nih anak gak bisa ngontrol emosi banget," gumam Alvaro sambil menggelengkan kepala tidak habis pikir.

"Tapi dia sama ayahnya lagi di penjara sekarang, emang mau hajar gimana?" tanya Alvaro tiba-tiba.

"Hah? Gimana?" Leon langsung berhenti melangkah, wajahnya berubah bingung.

"Hadehhh… udah masuk aja dulu, tuh gurunya mau masuk," potong seorang siswi sambil menunjuk ke arah lorong.

...----------------...

..."Ting… tung… ting… tung…"...

..."Waktunya istirahat."...

"Baiklah, kita akhiri pembelajaran hari ini. Semoga ilmu yang Ibu sampaikan bisa bermanfaat untuk kalian semua," ucap guru wanita itu sambil tersenyum sebelum keluar kelas.

"Aminnn…" jawab para siswa hampir bersamaan.

"Jadi gimana tadi?" tanya Leon langsung setelah bel istirahat berbunyi.

"Sabar sabar, ayo kita ke kantin dulu," balas Alvaro sambil menahan lengan Leon yang masih tegang.

"Hei, tungguin…"

......................

Lorong-lorong kelas sudah ramai dengan siswa yang berbondong-bondong menuju kantin atau sekadar jalan-jalan santai. Di antara keramaian itu, Alvaro dan Leon berjalan berdampingan menuju kantin sekolah.

"Hei, emang apa sih yang terjadi kemarin?" tanya Leon lagi, suaranya masih penuh emosi.

Alvaro mendesah pasrah. "Iya iya, aku jelasin. Tapi sabar dulu, kita ngobrol sambil makan. Aku laper nih, gak sempet sarapan tadi pagi."

Leon adalah satu-satunya sahabat Alvaro sejak SMP. Sahabat-sahabatnya yang lain sudah berbeda sekolah atau merantau ke luar kota. Karena itu, Leon selalu jadi orang pertama yang panik kalau ada apa-apa dengan Alvaro.

Setelah memesan makanan dan duduk di meja pojok kantin yang agak sepi, Alvaro menatap Leon yang masih kelihatan tegang. Ia tersenyum kecil.

"Pfftt."

"Apaan?" tanya Leon bingung.

"Habisnya kamu gampang banget emosinya. Muka kamu itu loh, hahaha," tawa Alvaro lepas melihat wajah Leon yang kebingungan.

"Akh, gak peduli. Aku mau tahu apa yang sebenarnya terjadi," desak Leon tetap serius.

"Hadehhh…" Alvaro mendesah panjang, lalu mulai menceritakan semuanya dari awal.

Ia ceritakan bagaimana ia ingin mengembalikan buku pinjaman, lalu bentrok dengan Rudi dan antek-anteknya, sampai masalah keesokan harinya ketika Wakil Kepala Sekolah menuntutnya habis-habisan. Leon mendengarkan dengan wajah semakin tegang.

"Sialan orang tua itu," umpat Leon pelan.

"Belum selesai, sabar dulu," tahan Alvaro melihat Leon mulai emosi lagi.

Alvaro melanjutkan ceritanya hingga akhirnya dibantu Nadine dan beberapa siswa yang pernah jadi korban Rudi.

"Si Ketua OSIS itu?" tanya Leon.

"Iya," jawab Alvaro singkat.

"Satu-satunya cewek yang bikin kamu senyum-senyum sendiri itu?" goda Leon dengan senyum nakal.

"Iy.. eh apaan tadi?!" Alvaro terkejut, pipinya sedikit memanas.

"Hahaha, yah intinya Rudi sama orang tuanya lagi diselidiki sekarang kan?" tanya Leon yang sudah mulai tenang.

"Iya," balas Alvaro sambil mengangguk.

"Nih pesanannya…" ucap seorang mas-mas kantin sambil menyodorkan dua porsi soto.

"Makasih, Mas," ucap keduanya hampir bersamaan.

...----------------...

Setelah makan, keduanya berjalan santai di lorong kelas yang masih ramai.

"Jadi kamu mau ke mana sekarang?" tanya Leon.

"Niatnya aku mau nemuin Nadine. Gimanapun dia udah bantuin aku banyak kemarin," jawab Alvaro.

"Gitu ya? Kayaknya aku pergi dulu deh," ucap Leon tiba-tiba.

"Emang kenapa?" tanya Alvaro kaget.

"Noh," tunjuk Leon ke arah taman samping kelas.

Alvaro mengikuti arah telunjuk Leon. Di sana, di bawah pohon rindang yang daunnya bergoyang pelan ditiup angin, seorang siswi berambut agak kelabu sedang duduk sendirian sambil membaca buku.

Angin pagi membuat rambutnya sedikit bergerak, wajahnya tetap tenang dan dingin seperti biasa.

"Itu kan.."

"Udah sana, gak usah ngelamun. Aku balik ke kelas dulu," potong Leon sambil tersenyum nakal sebelum berbalik pergi.

Alvaro berdiri sebentar di tempat, jantungnya sedikit berdegup lebih cepat. Ia menghela napas pelan, lalu berjalan mendekati taman.

Nadine duduk di bangku batu dengan punggung tegak. Buku di tangannya terbuka, tapi matanya seolah tak benar-benar fokus ke halaman. Saat Alvaro mendekat, ia hanya melirik sekilas tanpa banyak ekspresi.

"Kamu," ucap Nadine datar, suaranya tetap dingin seperti biasa. "Masih hidup rupanya."

Alvaro tersenyum kecil, sedikit gugup. "Iya… masih hidup. Makasih ya, kemarin. Kalau nggak ada kamu dan Ervando, mungkin aku udah nggak sekolah lagi sekarang."

Nadine hanya mengangkat bahu pelan, tatapannya kembali ke buku. "Itu bukan karena aku peduli. Cuma… aku nggak suka liat ketidakadilan di depan mata."

Meski kata-katanya dingin, Alvaro melihat ada sedikit kelembutan di ujung suaranya. Angin pagi membuat rambut kelabu Nadine bergerak pelan, dan untuk sesaat, Alvaro merasa ada sesuatu yang hangat di dada.

Ia duduk di ujung bangku yang sama, memberi jarak yang sopan.

"Terima kasih tetap aja. Aku nggak aka lupain itu."

Nadine diam sebentar. Lalu, tanpa menoleh, ia berkata pelan,

"Jangan terlalu senang dulu. Masalahnya belum selesai."

Alvaro tersenyum tipis. Meski Nadine tetap dingin dan cuek seperti biasa, ia merasa ada sedikit perubahan kecil di antara mereka.

Sesuatu yang tipis, tapi cukup membuat hatinya sedikit lebih ringan hari ini.

...Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω...

1
Mona
👍👍👍👍
Scorpion's Caesar
tiba tiba teleport ke bab 15 ya 🤣🤣
M⃠☘💠Ɱιƚα⚖❀⃟⃟✵ᴮꜰ
semangat up nya
M⃠☘💠Ɱιƚα⚖❀⃟⃟✵ᴮꜰ
lanjuttt
M⃠☘💠Ɱιƚα⚖❀⃟⃟✵ᴮꜰ
lanjut
mary dice
bikin penasaran aja lanjut ya thor😉
Scorpion's Caesar: siap makasih kak dukungan nya
total 1 replies
Nenk putry
aneh tapi nyata ceritanya bikin males baca aja 😁😁
Scorpion's Caesar: hehe boleh saran atau kritik nya kak ya, aku masih belajar juga
total 1 replies
Jesa Cristian
bang ganteng terima kasih untuk saran untuk Novel ku
Scorpion's Caesar: iya sama sama saling support aj.
dan saya juga menerima kritik dan saran yang membangun kok
total 1 replies
Scorpion Monarch
di bab selanjutnya aku kasih pict motor sport Alvaro yak
Scorpion's Caesar
iya habis ini, aq update nya emang malem. minimal 1 bab per hari kok tenang hehe
Radit Panestu
woy Thor kapan update nya
Scorpion Monarch
..
Scorpion's Caesar
yok yok ramaikan guys
Gege
Thor..kalo system berbicara kasih dalam tanda [ xxxxx ] gitu thor
Scorpion's Caesar: makasih saran nya, tapi tanda [.] itu aku pake untuk yang lain yaa.
tapi makasih udah support saya💪💪
total 1 replies
Scorpion Monarch
maaf ya author cuman update waktu malam soalnya kalau pagi atau siang antara sibuk ataupun jujur aja MAGER wkwk
Yuuki Hakari
mampir thor
Scorpion's Caesar: siap makasih
total 1 replies
Scorpion Monarch
semoga rame yaa, biar aku semangat buat update😍😍😍
Scorpion Monarch
bantu ramaikan dong guyss
Scorpion Monarch
bantu ramaikan dong guys
Scorpion Monarch
bantu ramaikan dong para reader yang baik hati dan tidak sombong.
kritik dan saran boleh kokk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!