Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.
Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.
Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.
Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.
Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MISI RAHASIA "CURI PERHATIAN"
“Password WiFi-nya apa, Pak?”
Ardiah berdiri di ambang pintu ruang CEO, memegang laptop dengan erat. Wajahnya datar, tanpa ekspresi. Sejak insiden di lobi tiga hari lalu, ia membangun tembok tinggi antara dirinya dan Haikal. Profesionalisme adalah perisainya. Tidak ada senyuman, tidak ada obrolan basa-basi. Hanya kerja.
Haikal yang sedang duduk bersandar di kursi kulit mahalnya, menatap Ardiah dengan alis terangkat. Di dalam hati, dia menjerit frustasi. Ardiah terlalu dingin. Terlalu jauh. Dia butuh perhatian, sekecil apa pun. Bahkan jika itu berarti harus berpura-pura menjadi orang bodoh.
“Lupa,” jawab Haikal singkat. Wajahnya serius, seolah-olah masalah lupa password WiFi adalah krisis nasional.
Ardiah menghela napas panjang. “Pak, ini jaringan kantor. Semua karyawan tahu. Biasanya tertulis di belakang kartu identitas.”
“Kartu saya hilang,” bohong Haikal mulus. “Dan Roni sedang cuti. Kamu satu-satunya yang bisa saya percaya, Kak Ardiah. Tolong bantu reset routernya di ruang server kecil di samping sini.”
Ardiah menatap Haikal lama. Ada sesuatu yang janggal. Haikal Akram, pria yang hafal nomor telepon ratusan klien, tiba-tiba lupa password WiFi? Ini konyol. Tapi Ardiah tidak punya pilihan. Jika dia menolak, itu akan terlihat tidak profesional.
“Baik, Pak,” ucap Ardiah akhirnya. Ia masuk ke ruangan, meletakkan laptop, dan mengikuti Haikal ke ruang server kecil di sudut kantor.
Haikal membuka panel router, berpura-pura bingung menekan-nekan tombol. “Yang mana ya? Tombol merah atau biru?”
Ardiah mendekat, tanpa sadar tubuhnya hampir menyentuh lengan Haikal. Aroma parfum woody Haikal tercium kuat. Ardiah segera mundur selangkah, menjaga jarak. “Tahan tombol reset selama sepuluh detik, Pak. Lalu tunggu lampunya berkedip hijau.”
Haikal melakukan sesuai instruksi, namun matanya sesekali melirik Ardiah dari sudut pandang. Dia berharap Ardiah marah, atau setidaknya kesal. Reaksi emosional apa pun lebih baik daripada kebekuan ini.
“Sudah,” kata Haikal. “Sekarang coba sambungkan.”
Ardiah mengambil laptopnya, mengetik password default yang memang selalu sama di seluruh cabang Artha Design. Terhubung.
“Terima kasih, Kak,” kata Haikal dengan senyuman lebar yang terlalu cerah. “Kamu penyelamatku.”
Ardiah hanya mengangguk kaku. “Sama-sama, Pak. Jika tidak ada hal lain, saya kembali bekerja.”
Ia berbalik dan pergi. Haikal menghempaskan diri ke kursinya, mengeluh pelan. “Gagal total. Aku harus apa Ardiah, agar kau melihat diriku?" gumamnya, dengan mata yang mengarah ke kaca besar yang satu arah, pembatas ruangannya dan tempat karyawannya.
Siangnya, Haikal mencoba strategi lain. Makan siang.
Dia memesan makanan dari restoran favorit Ardiah dulu, sebelum menikah. Nasi goreng seafood spesial dengan level pedas 'neraka'. Haikal ingat Ardiah dulu suka tantangan rasa, tapi dia lupa bahwa setelah perceraian, selera makan Ardiah berubah menjadi sangat sensitif karena stres.
Roni mengantarkan kotak makanan ke meja Ardiah. “Dari Pak Haikal. Katanya, 'Untuk semangat kerjamu'.”
Ardiah menatap kotak itu curiga. Namun, karena lapar dan penasaran, ia membukanya. Aroma bumbu menyengat langsung menusuk hidungnya. Ia mengambil satu suapan.
Detik berikutnya, wajah Ardiah memerah padam. Matanya berkaca-kaca. Pedasnya bukan main. Lidahnya terasa terbakar. Air mata secara refleks mengalir deras. Dia batuk-batuk, mencari-cari air minum, namun gelasnya kosong.
Di balik kaca kantornya, Haikal mengamati dengan teleskop kecil (yang sebenarnya mainan anak). Dia melihat Ardiah menangis. Jantungnya berhenti berdetak. "Oh tidak. Salah hitung."
Haikal panik. Dia keluar dari ruangan, berjalan cepat menuju meja Ardiah dengan wajah datar yang dipaksakan. Di tangannya, ada sekotak tisu mewah dan segelas es teh manis.
“Kenapa kamu menangis, Nona Ardiah?” tanya Haikal dengan nada datar, pura-pura tidak tahu. “Apakah desainmu ditolak klien?”
Ardiah mendongak, wajahnya basah oleh air mata dan keringat. Dia ingin marah, tapi mulutnya terlalu panas untuk berbicara. Dia hanya menunjuk nasi goreng itu, lalu menunjuk mulutnya.
Haikal menahan tawa yang ingin meledak. Dia melihat Ardiah, wanita yang selalu tegar, kini tampak rapuh karena kepedasan. Ada sisi lucu yang menggemaskan di sana.
“Wah, sepertinya makanannya terlalu berbumbu,” komentar Haikal sok polos. Dia menyodorkan tisu ke arah Ardiah. “Silakan bersihkan muka Anda. Jangan sampai noda air mata merusak kesan profesional Anda.”
Ardiah merebut tisu itu dengan kasar. Dia membersihkan wajahnya, lalu menyeruput es teh habis dalam satu tegukan. Napasnya masih tersengal-sengal.
“Pak Haikal,” suara Ardiah serak. “Apakah ini lelucon?”
Haikal mengangkat satu alis. “Lelucon? Saya tidak mengerti. Saya hanya peduli pada karyawan saya.”
“Anda sengaja,” tuduh Ardiah tajam, meski suaranya masih lemah. “Anda tahu saya tidak bisa makan pedas lagi sejak... sejak kejadian itu.”
Haikal terdiam. Senyumnya pudar sedikit. Dia lupa. Trauma Ardiah bukan hanya soal pernikahan, tapi juga perubahan fisik dan mental pasca-stres. Dia merasa bersalah. Sangat bersalah.
“Maaf,” bisik Haikal, kali ini tulus. Tidak ada nada menggoda. “Saya... saya lupa. Saya kira Anda masih sama seperti dulu.”
Kalimat itu menggantung. Seperti dulu. Ardiah menatap Haikal. Untuk pertama kalinya, dia melihat kerentanan di mata pria itu. Haikal tidak jahat. Dia hanya canggung. Dia hanya berusaha keras, dengan cara yang salah, untuk mendapatkan perhatian Ardiah.
Ardiah menghela napas, kemarahannya surut diganti kelelahan. “Tidak, Pak. Saya sudah berbeda.”
Haikal mengangguk pelan. “Saya akan mengingatnya. Mulai sekarang, tidak ada pedas. Hanya manis. Seperti...” Dia berhenti, menyadari hampir mengucapkan kalimat gombal. “Seperti teh manis ini.”
Ardiah hampir tertawa, tapi dia menahannya. “Terima kasih atas tehnya, Pak. Sekarang, izinkan saya kembali bekerja.”
Haikal mundur, memberi jalan. Saat Ardiah lewat, Haikal berbisik pelan, “Besok, saya traktir makan. Tempat yang Anda pilih. Tanpa pedas. Janji.”
Ardiah tidak menjawab, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit. Sangat tipis. Hampir tak terlihat. Tapi Haikal melihatnya. Dan itu cukup untuk membuatnya tersenyum sepanjang sore.
Misi "curi perhatian" mungkin kacau balau, tapi Haikal berhasil mencuri satu senyuman kecil. Itu adalah kemenangan kecil. Dan Haikal Akram adalah pria yang pantang menyerah, terutama saat mengejar wanita yang ia sukai, bahkan jika wanita itu membuatnya harus berpura-pura lupa password WiFi.
udah tak kasih kopi buat temen begadang...