Arga, seorang pemuda yatim piatu miskin yang berjuang hidup sebagai nelayan sampan, harus menelan pil pahit saat dihina habis-habisan oleh mantan teman-teman sekolahnya di sebuah acara reuni.
Merasa putus asa dan tidak terima dengan ketidakadilan takdir, ia melampiaskan emosinya dengan memancing di tengah malam, namun kailnya justru menarik sebuah umpan logam berkarat misterius yang menyerap darahnya dan membangkitkan Sistem Mancing Mania Mantap.
Berbekal sistem aneh yang menggunakan emosi sebagai umpan dan menunjukkan lokasi pancing yang tidak masuk akal, Arga tidak lagi sekadar memancing ikan biasa, melainkan menarik harta karun dimensi lain, pusaka kuno, hingga kekuatan gaib yang akan memutarbalikkan nasibnya dari pemuda rendahan menjadi sosok kaya raya yang ditakuti semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Taksi berhenti di depan sebuah bangunan tiga lantai yang terlihat mewah.
Bangunan itu adalah kos eksklusif tempat Arga akan tinggal mulai hari ini.
Arga turun dari taksi sambil menyandang tas pancingnya di bahu kanan.
Seorang pria penjaga kos yang sedang duduk di pos keamanan langsung berdiri menyambutnya.
"Malam, Mas Arga, baru pulang rupanya," sapa penjaga kos itu dengan ramah.
"Iya nih, Mas Yanto, jalanan lumayan macet tadi," jawab Arga sambil tersenyum.
Mata Mas Yanto melirik ke arah tas pancing besar yang dibawa oleh Arga.
"Wah bawa alat pancing baru nih, habis mancing di laut mana Mas?" tanya Mas Yanto penasaran.
"Bukan di laut, Mas, cuma iseng mancing di selokan daerah Pondok Indah tadi," jawab Arga santai.
Mas Yanto tertawa pelan mendengar jawaban Arga.
"Mas Arga bisa aja bercandanya, mana ada ikan di selokan perumahan elit," ucap Mas Yanto.
"Ya siapa tahu ada ikan lele nyasar dari kolam orang kaya, Mas," balas Arga ikut tertawa.
"Ya sudah, saya masuk ke kamar dulu ya, Mas Yanto."
"Silakan, Mas Arga, selamat istirahat."
Arga berjalan menyusuri lorong berpendingin ruangan menuju kamarnya di lantai dua.
Kamar kos seharga empat juta sebulan ini terasa sangat luas dan nyaman bagi Arga.
Kasurnya sangat empuk dan ada televisi layar datar besar menempel di dinding kamar.
Arga meletakkan tas pancingnya di atas karpet berbulu yang lembut.
Dia mengeluarkan koper perak misterius itu dan meletakkannya di atas kasur.
Koper itu memiliki kunci kombinasi angka digital yang terlihat sangat canggih.
Arga mencoba memutar beberapa angka secara acak untuk mengetesnya.
Layar kecil di kunci itu langsung berkedip merah dan mengeluarkan bunyi peringatan.
'Gue gak bakal bisa buka kunci digital rumit kayak gini,' batin Arga.
Arga menatap koper itu dan memanggil sistem di kepalanya.
"Sistem, lo bisa bantu gue buka koper ini gak?" tanya Arga dalam hati.
"Sistem dapat meretas kunci digital tingkat rendah dengan biaya sepuluh poin, Host," jawab suara mekanis itu.
Arga tersenyum puas mendengar fungsi sistem yang ternyata sangat serbaguna.
"Potong poin gue dan buka koper ini sekarang," perintah Arga tanpa ragu.
"Sepuluh poin berhasil dipotong dari saldo Host."
Terdengar bunyi tuas logam bergeser yang cukup keras dari arah koper tersebut.
Lampu indikator di kunci digital koper itu sekarang berubah menjadi warna hijau stabil.
Arga segera menarik tuas pembukanya dengan perasaan berdebar kencang.
Isi koper itu akhirnya terlihat jelas di depan mata Arga.
Hanya ada satu buah map plastik transparan berisi lembaran dokumen dan sebuah flashdisk berwarna hitam.
Di atas map dokumen itu terdapat sebuah kartu nama elegan beraksen tinta emas.
Arga mengambil kartu nama itu dan membaca barisan tulisan yang tercetak di sana.
Nama yang tertera di kartu tebal itu adalah Haris Kusuma.
Jabatan di bawah namanya tertulis sebagai Direktur Utama Kusuma Land.
Arga menelan ludah membaca nama perusahaan properti raksasa di Jakarta tersebut.
Dia lalu mengambil dokumen di dalam map dan mulai membaca halaman pertamanya dengan teliti.
Dokumen itu berisi rincian proyek pembebasan lahan bernilai triliunan rupiah yang berstatus sangat rahasia.
Ada juga lembar bukti transaksi yang menunjukkan beberapa aliran dana besar ke pejabat daerah.
'Pantas koper ini dibuang ke selokan, ini dokumen yang bisa bikin orang masuk penjara,' batin Arga ngeri.
Layar biru sistem kembali muncul melayang di depan wajahnya.
"Misi Pilihan terdeteksi untuk Host," ucap sistem.
"Pilihan pertama, kembalikan koper ini kepada Haris Kusuma untuk mendapatkan hadiah uang tunai dan koneksi."
"Pilihan kedua, jual dokumen ini kepada perusahaan pesaing untuk mendapatkan hadiah alat pancing gaib."
Arga duduk di tepi kasur sambil menimbang-nimbang kedua pilihan berat tersebut.
Mendapatkan alat pancing gaib dari sistem memang terdengar sangat menggoda.
Tapi berurusan dengan musuh dari konglomerat besar bisa sangat membahayakan nyawanya saat ini.
Arga sadar dia baru saja menjadi orang kaya baru dan belum punya kekuatan apa pun di Jakarta.
Menjadikan Haris Kusuma sebagai sekutu jauh lebih masuk akal untuk rencana jangka panjangnya.
"Gue pilih pilihan pertama, Sistem," kata Arga mantap.
"Pilihan dikonfirmasi, silakan hubungi target sekarang juga, Host," balas sistem.
Arga mengambil ponsel dari saku celananya dan mengetikkan deretan angka dari kartu nama itu.
Nada dering terdengar beberapa kali sebelum panggilan itu akhirnya diangkat.
"Halo, dengan siapa ini?" sapa suara pria paruh baya dengan nada lelah di seberang telepon.
"Ini dengan Pak Haris Kusuma?" tanya Arga memastikan kembali.
"Benar, ini siapa dan dari mana kamu bisa dapat nomor telepon pribadi saya?" tanya Haris terdengar waspada.
"Nama gue Arga, dan gue rasa gue lagi pegang koper perak milik Bapak sekarang," ucap Arga tenang.
Terdengar suara kursi yang digeser dengan sangat kasar dari ujung telepon.
"Kamu bilang apa barusan?!" seru Haris dengan suara tinggi yang dipenuhi kepanikan.
"Santai Pak Haris, koper beserta dokumen dan flashdisknya aman di tangan gue," kata Arga.
Napas Haris terdengar berat dan memburu dari pengeras suara ponsel Arga.
"Berapa banyak uang tebusan yang kamu mau?" tanya Haris dengan nada setengah mengancam.
"Kalau kamu berani membocorkan isi koper itu ke media, nyawa kamu tidak akan selamat di kota ini."
Arga tertawa pelan mendengar ancaman klise dari pengusaha properti itu.
Peningkatan fisik dari sistem membuatnya merasa jauh lebih tenang menghadapi berbagai intimidasi.
"Gue bukan tukang peras, Pak Haris," jawab Arga dengan nada santai.
"Gue cuma kebetulan nemu koper ini dan niat mau kembaliin ke pemilik aslinya."
Haris terdiam selama beberapa detik mendengar jawaban yang tidak terduga dari Arga.
"Kamu mau mengembalikannya begitu saja tanpa syarat apa pun?" tanya Haris tidak percaya.
"Gue rasa kita perlu ketemu langsung buat bahas ini semua Pak," usul Arga.
"Tentu, kita harus bertemu malam ini juga," balas Haris cepat.
"Tentukan tempatnya dan saya akan datang sendiri menemui kamu tanpa pengawal."
"Gue kebetulan lagi pengen ngopi santai, kita ketemu di lobi Hotel Mulia Senayan satu jam lagi," kata Arga.
"Baik, saya berangkat ke sana sekarang, pastikan koper itu aman," ucap Haris sebelum memutuskan panggilan.