''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."
Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.
Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.
Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.
Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Ruang rapat itu terasa seperti ruang kedap udara. Setiap kali aku menarik napas, ada rasa sesak yang mencoba merangkak naik ke tenggorokan. Di depanku, duduk laki-laki yang baru saja kucatat namanya di baris pertama notulensi: Bagaskara, Manajer Operasional Wira Pratama.
Laki-laki yang kemarin sore kulihat tertawa bahagia sambil merangkul Ayah.
Aku berdiri di depan layar proyektor, pointer di tangan kananku terasa begitu dingin. Aku menggunakan seluruh sisa kekuatanku untuk tetap tegak.
"Strategi rebranding untuk lini butik premium Wira Pratama harus difokuskan pada nilai eksklusivitas," ucapku dengan nada suara yang sangat stabil. "Kita tidak hanya menjual produk, kita menjual cerita di balik sebuah warisan."
Aku memaparkan grafik, analisis kompetitor, hingga proyeksi pasar dengan presisi yang mengerikan. Tak ada satu pun kata yang bergetar. Aku menggunakan profesionalisme ini sebagai baju zirah paling kuat agar tidak terlihat hancur di depan "keluarga sana".
Sepanjang presentasi, aku bisa merasakan tatapan Bagaskara. Namun, tatapannya berbeda dengan tatapan Farez yang penuh luka dan selidik. Tatapan Bagaskara adalah tatapan kekaguman yang murni dan tulus.
"Luar biasa," gumam Bagaskara setelah aku menutup presentasi. Ia bertepuk tangan pelan, diikuti oleh staf lainnya.
"Ibu Rana, jujur saya terkesan. Penjelasan Anda sangat mendalam, seolah Anda sangat memahami jiwa dari bisnis keluarga kami," ucapnya dengan senyum lebar yang begitu mirip dengan Ayah. "Sebagai Manajer Operasional, saya sering bertemu konsultan, tapi cara Anda memandang 'warisan' sangat sejalan dengan apa yang selalu Ayah saya tanamkan."
Mendengar kata 'Ayah' keluar dari mulutnya, ulu hatiku seperti dihantam palu godam. Ayahmu, Bagas. Bukan Ayahku. Dia hanya laki-laki yang mencuri hidup kami untuk diberikan padamu.
"Terima kasih, Pak Bagaskara. Saya hanya bicara berdasarkan data pasar," jawabku datar, mencoba memutus narasi personalnya.
"Jangan terlalu formal, panggil saja Bagas. Saya rasa sebagai sesama orang operasional, kita akan banyak bertemu di lapangan untuk proyek ini," sahutnya ramah.
Bagaskara terus menatapku dengan binar kagum. Ia bahkan beberapa kali mencatat poin-poin yang kusampaikan dengan antusias. Baginya, aku mungkin adalah asisten manajer yang brilian. Bagiku, dia adalah cermin dari segala pengkhianatan yang harus kutelan bulat-bulat.
Rapat akhirnya ditutup. Pak Hanan tampak sangat puas dan meminta kami segera mengatur jadwal survei lokasi.
"Rana, tolong antar Pak Bagas ke lobi," perintah Pak Hanan sebelum kembali ke ruangannya.
Aku tidak punya pilihan selain mengangguk. Kami berjalan beriringan menuju lobi kantor. Suasana di dalam lift terasa sangat sempit meski hanya ada kami berdua.
"Ibu Rana, boleh saya jujur?" tanya Bagas tiba-tiba saat lift mulai bergerak turun. "Melihat Anda bekerja, saya teringat pada seseorang yang sangat dirindukan Ayah saya. Dia selalu bilang, kalau saja dia punya anak perempuan, dia ingin anaknya menjadi hebat dan tegas seperti Anda."
Aku mengepalkan tangan di balik blazerku hingga kuku-kukuku menusuk telapak tangan. Rasa ingin berteriak menyatu menjadi gumpalan pahit di tenggorokan.
Ayahmu tidak perlu berandai-andai, Bagas. Dia punya anak perempuan. Dia hanya memilih untuk membuangnya demi kamu dan ibumu.
"Saya rasa Ayah Anda hanya terlalu banyak berandai-andai, Pak Bagas," jawabku dingin tepat saat pintu lift terbuka. "Selamat sore. Sampai bertemu di agenda operasional selanjutnya."
Aku segera berbalik bahkan sebelum ia sempat membalas, melangkah cepat menuju ruanganku. Aku butuh ruang sunyi sekarang juga, sebelum air mata yang kutahan sejak tadi pecah di hadapan orang yang paling tidak seharusnya melihatnya.