Keluarganya di rampok oleh pemdekar Aliran hitam, ayah dan ibunya terbunuh sedangkan ia terjatuh di lembah Bangkai, Seekor Elang hitam raksasa menyelamatkan nya, di bawah asuhan Elang Hitam Dia tumbuh menjadi pendekar sakti dan menumpas kejahatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menumbangkan kekuasaan Suropati
Para prajurit yang terkena timpukan warga menjerit kesakitan, mereka dengan cepat mundur ke belakang. Namun, wajah mereka bukan lagi menampakkan kesombongan, melainkan ketakutan yang amat sangat. Mereka tak menyangka bahwa para warga yang selama ini dianggap "tikus pengecut" itu tiba-tiba berubah menjadi singa yang siap menerkam.
Di tengah kekacauan itu, Adipati Surapati yang masih duduk angkuh di atas keretanya mulai kehilangan kesabarannya. Senyum genitnya lenyap, digantikan oleh raut wajah bengis yang mengerikan. Ia melihat anak buahnya dipukul mundur oleh rakyat jelata dan satu pemuda asing yang berani menentangnya. Rasa malulah yang membakar amarahnya hingga ubun-ubun.
"Cukup! Kalian ini sekumpulan sampah tak berguna! Melawan rakyat saja tidak bisa!" bentak Adipati Surapati dengan suara menggelegar, berbeda dengan suaranya yang melengking-lengking sebelumnya.
Dengan gerakan yang jauh lebih lincah dan cepat dari perawakan tubuhnya yang gemuk, Adipati Surapati melompat turun dari kereta kuda itu. Wusss! Tubuhnya yang besar seolah terbang tanpa beban, mendarat di tanah dengan hentakan yang membuat debu berterbangan.
Warga yang melihat itu sontak mundur selangkah. Ada aura mengerikan yang tiba-tiba menyelimuti tubuh Adipati Surapati. Wajahnya yang bulat merah padam kini terlihat garang, matanya menyala-nyala menatap tajam ke arah Jaka.
"Dasar anak ingusan, kau pikir dengan mengobok-obok semut-semut ini kau sudah hebat? Kau tidak tahu dengan siapa kau berurusan!" ucap Adipati Surapati dengan nada rendah namun menekan. Ia merentangkan kedua tangannya, dan seketika itu pula, jubah kebesarannya berkibar tertiup angin yang seolah ditimbulkan oleh tenaga dalamnya.
Jaka yang berdiri tak jauh dari sana menyipitkan mata. Ia merasakan aliran tenaga yang kuat keluar dari tubuh lawannya.
"Pantas saja kau berani bertindak semena-mena. Ternyata kau menyimpan kekuatan yang lumayan," ucap Jaka santai, namun ia sudah bersiap siaga dengan satu tangan memegang gagang pedang di punggungnya.
Adipati Surapati tertawa mengejek. "Kau pikir aku mendapatkan jabatan ini hanya karena uang dan koneksi? Bodoh! Dua puluh tahun yang lalu, nama aku disegani di sepanjang hutan belantara! Aku adalah Raja Penyamun yang membuat pedagang gentar setengah mati!"
Warga yang mendengar itu saling berpandangan dengan wajah kaget. Selama ini mereka hanya tahu bahwa Surapati adalah kerabat pejabat tinggi di pusat, ternyata latar belakangnya jauh lebih hitam dari yang mereka bayangkan.
"Dulu aku dikenal dengan julukan Si Gendut Pembantai. Aku dan saudara angkatku menguasai jalur perdagangan. Hingga akhirnya, saudara angkatku berhasil menduduki jabatan tinggi di pusat kekuasaan. Lalu, aku dikirim kemari untuk 'membersihkan' tempat ini. Bahkan Adipati lama yang baik hati itu terpaksa menelan pahitnya kematian di tanganku saat itu! Aku memaksa menggantikannya dengan cara kekerasan, dan tak ada satu pun yang berani memprotes karena aku membawa surat jalan dari 'atas'!" cerita Adipati Surapati dengan bangga, seolah itu adalah prestasi yang membanggakan.
"Jadi ternyata kau merampok jabatan ini sama seperti kau merampok harta rakyat dan kehormatan wanita," potong Jaka dingin. "Dan saudara angkatmu itu pastilah pejabat tinggi yang melindungimu selama ini."
"Benar! Dan kekuatan yang kau rasakan ini adalah hasil latihan puluhan tahun di rimba belantara! Jangan kira aku hanya gembong uang dan wanita!" seru Adipati Surapati. Tanpa peringatan lagi, ia melesat bagai peluru meriam ke arah Jaka.
Wusss!
Gerakannya sangat kontras dengan bentuk tubuhnya yang gemuk. Ia bergerak cepat dan berat, mengandalkan tenaga dalam yang besar.
"Tekan Raksasa Menggilas!" teriak Surapati.
Wuuuut
Tinjunya yang besar menghantam udara, membawa hembusan angin kencang yang seolah ingin meremukkan tubuh Jaka.
Jaka tidak berani meremehkan. Ia segera mengerahkan tenaganya ke kaki, lalu melompat ke samping menghindari serangan itu
Blaaar
Tanah tempat Jaka berdiri sebelumnya langsung retak dan berdebu terkena dampak pukulan kosong dari Adipati Surapati.
"Hoho, cukup lincah juga kau anak muda. Tapi lihat saja apakah kau bisa menghindari ini!" seru Surapati. Ia tidak berhenti menyerang. Kedua tangannya bergerak liar, memukul, menendang, dan menangkis dengan kecepatan yang mengejutkan.
Jaka terus mengelak dan membalas dengan tendangan atau pukulan jarak pendek. Namun, kulit tubuh Adipati Surapati ternyata sangat keras, seolah dilapisi kulit buaya. Saat pukulan Jaka mengenai bahunya, Surapati sama sekali tidak terpental, malah tersenyum mengejek.
"Kau kira pukulan kecil itu bisa melukai kulit batinku? Aku sudah melatih tubuhku bertahun-tahun memukul pohon dan batu! Rasakan ini!"
hiaaaat
Wuuut
Surapati mengangkat kakinya yang besar dan menghentakkan kaki ke tanah.
Duar!
Seketika itu, gelombang getaran menyebar ke segala arah, membuat tanah di sekitarnya retak. Jaka yang sedang melompat nyaris kehilangan keseimbangan.
Melihat kesempatan itu, Surapati segera mengerahkan kedua tangannya ke belakang, mengumpulkan tenaga dalam sekuat tenaga. Wajahnya memerah padam, urat-urat di lehernya menonjol.
"Gajah Liar Mengamuk!" teriaknya.
wuuuush
wuuuush
Dua bola energi berwarna merah tua melesat dari kedua telapak tangannya menuju arah Jaka yang sedang dalam posisi mengudara.
" Ternyata ilmunya tinggi juga" batin Jaka.
Jaka segera membalikkan tubuhnya di udara, lalu menarik napas panjang. Tangan kanannya mencengkeram gagang pedang di punggungnya. Mata Jaka menajam, memancarkan kilatan dingin yang menusuk jiwa.
Cling!
Swiiiing
Blaaaaar
Suara tarikan pedang terdengar nyaring di udara. Cahaya hitam menyambar membelah angin, menangkis dua bola energi merah itu hingga meledak di tengah jalan. Ledakan kecil itu menciptakan kepulan asap tebal yang memisahkan keduanya.
Adipati Surapati terhuyung mundur. Ia kaget melihat serangan pamungkasnya bisa dilumpuhkan dengan mudah oleh pemuda itu. Saat asap mulai menipis, ia melihat Jaka sudah mendarat dengan tegak, pedang Elang Hitam sudah terhunus dan menunjuk ke arahnya. Mata pedang itu berkilat tajam, seolah meminta nyawa.
"Pedang... itu Pedang Elang Hitam?!" gumam Surapati dengan mata terbelalak ketakutan. Ia pernah mendengar legenda tentang senjata pusaka itu di masa lalu saat ia masih menjadi perampok.
"Kau mengenalnya? Itu bagus. Berarti kau tahu kalau perlawananmu sudah sia-sia," ucap Jaka dingin.
"Tidak mungkin! Aku tidak boleh kalah di sini! Kalau aku kalah, hidupku tamat!" batin Surapati. Rasa takut dikalahkan membuatnya semakin kalap. Ia mengumpulkan sisa tenaga dalamnya, membuat tubuhnya terlihat sedikit membengkak. Ia mengerahkan seluruh sisa kekuatannya untuk satu serangan terakhir.
"Aku tidak akan menyerah pada bocah ingusan sepertimu! Mati saja kau!" teriak Surapati. Ia melesat lagi, kali ini kedua tangannya terbuka lebar seolah ingin mencengkeram tubuh Jaka dan meremukkannya.
Hiaaaaat
Wuuuuut
Jaka tetap tenang. Ia tidak bergerak dari tempatnya, hanya mengarahkan pedangnya ke arah datangnya musuh. Saat jarak mereka tinggal beberapa langkah, Jaka tiba-tiba memutar tubuhnya, mengayunkan pedang itu dengan gerakan yang sangat cepat dan halus namun mematikan.
Sreeet!
Sebuah cahaya melengkung membelah udara.
Adipati Surapati yang sedang melesat kencang tiba-tiba berhenti di tempat. Matanya melotot lebar, napasnya tersendat. Di dadanya yang gempal, terlihat garis tipis merah yang perlahan melebar. Tenaganya seolah tersedot habis dalam sekejap. Kekebalan kulitnya yang ia banggakan ternyata tak ada artinya di ujung Pedang Elang Hitam yang merupakan pusaka tingkat tinggi.
Bugh!
Aaaaaargh
Tubuh besar Adipati Surapati ambruk ke tanah dengan wajah pucat pasi. Ia masih bernapas, namun kakinya sudah tak bisa digerakkan lagi. Serangan Jaka melumpuhkan otot-otot kakinya agar ia tak bisa kabur atau melawan lagi, tanpa membunuhnya seketika. Jaka sengaja melakukan itu agar penjahat ini bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum di Kerajaan, sekaligus menangkap petinggi yang manejadi pendukungnya
"Ampun... ampun..." rintih Adipati Surapati, keberaniannya hilang seketika berganti keputusasaan.
Para prajurit yang tersisa melihat tuannya sudah dikalahkan, mereka segera menjatuhkan senjata dan berlutut memohon ampun. Rakyat bersorak gembira, berteriak histeris menyambut kemenangan itu. Beberapa bahkan menangis haru karena akhirnya penindasan itu berhenti.
"Hidup pendekar muda!"
Suara sorak sorai bergema di seluruh penjuru alun-alun.
Jaka menghunus kembali pedangnya, lalu berjalan mendekati Adipati Surapati yang tergeletak lemah. Ia menatap warga yang mulai mendekat dengan wajah marah, seolah ingin menghajar Adipati itu sampai mati.
" saudara sekalian! Tenanglah! Biarkan dia hidup untuk diadili secara adil di Kerajaan Wijaya Kesuma! Biarkan hukum yang menghakiminya, bukan kita di sini," ucap Jaka lantang.
Warga pun mengangguk paham, meski masih ada yang menatap penuh kebencian.
Jaka memerintahkan beberapa pemuda yang berani tadi untuk mengikat tangan dan kaki Adipati Surapati dengan tali yang kuat agar tidak kabur. Setelah itu, Jaka meminta bantuan warga untuk membawanya kembali ke rumah Pak Atmo untuk sementara waktu agar situasi di alun-alun bisa kondusif kembali.
Malam harinya, suasana di Kadipaten Jagabaya sudah jauh lebih tenang. Jaka duduk di ruang tengah rumah Pak Atmo. Di hadapannya, Adipati Surapati yang sudah terikat duduk tertunduk lesu, sementara beberapa warga kepercayaan menjaganya.
Jaka mengambil selembar kertas dan tinta. Ia mulai menulis surat laporan untuk Raja atau pejabat tinggi di Kerajaan Wijaya Kesuma. Ia menuliskan secara rinci tentang kondisi Kadipaten Jagabaya, kejahatan-kejahatan yang dilakukan Adipati Surapati, latar belakangnya sebagai mantan perampok, hingga fakta bahwa ia menduduki jabatan itu secara paksa dan dengan bantuan orang dalam.
Dalam surat itu, Jaka juga menyebutkan nama-nama pejabat tinggi yang menjadi pendukung dan pelindung Surapati, termasuk nama saudara angkatnya yang ia sebutkan saat bertarung tadi. Jaka tahu bahwa akar masalahnya bukan hanya di Surapati, tapi juga orang-orang di atasnya yang korup.
"Nah, ini sudah selesai," gumam Jaka setelah melipat surat itu. ia menghunus pedangnya dan mengalirkan tenaga dalamnya pada bagian tertentu di gagang pedang itu
Kwaaaaaahk
Tak lama kemudian, terdengar suara lengkingan elang Hitam di sertai kepakan sayap yang kencang dari atas langit. Bayangan besar turun perlahan, mendarat di depan Jaka
" Kakak Elang, aku minta bantuanmu, bawa orang ini ke kerajaan Wijaya Kesuma" ucap Jaka sambil mengelus kepala burung besar itu.
Kwaaaaak
Elang itu memekik pelan tanda mengerti
jaka mengikat surat yang ditulisnya tadi di kaki Elang Hitam
Jaka memberi isyarat pada warga untuk membawa Adipati Surapati yang masih terikat itu keluar. Dengan tenaga Elang Hitam yang luar biasa, meski tubuh Surapati berat, burung itu mampu membawanya terbang dengan bantuan tali dan dudukan sederhana yang disiapkan Jaka.
"Pergilah, dan kembalilah dengan kabar baik," bisik Jaka.
Elang Hitam mengepakkan sayapnya dengan dahsyat, menciptakan angin kencang di sekitar sana, lalu terbang tinggi menembus awan, membawa si penjahat besar dan bukti-bukti surat itu menuju pusat Kerajaan Wijaya Kesuma.