Kata orang, cinta itu buta. Buat Kara Anindita, cinta itu bukan cuma buta, tapi juga bikin miskin mendadak.
Demi menikah dengan Rio Pratama—cowok biasa yang dia pikir tulus mencintainya apa adanya—Kara rela melakukan "prank" terbesar dalam hidupnya. Dia menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal Anindita Group, raksasa properti nomor satu di negeri ini. Kara menukar kartu kredit unlimited-nya dengan uang belanja recehan, menukar penthouse mewahnya dengan kontrakan petak yang atapnya bocor, dan menukar gaun desainernya dengan daster diskonan di pasar kaget.
Kara pikir, hidup sederhana asal penuh cinta itu indah.
Tapi ternyata, "tulus" itu ada masa kedaluwarsanya.
Tiga tahun menikah, setelah karier Rio menanjak (yang Rio nggak tahu, itu berkat koneksi "orang dalam" Kara), sikap suaminya berubah 180 derajat. Rio mulai sombong, gila hormat, dan menganggap pengorbanan Kara sebagai kewajiban istri yang tidak berpenghasilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27: Jejak Digital dan Pelukan di Tengah Badai
PLOK!
Suara telur busuk yang menghantam gerbang besi terdengar nyaring, disusul sorakan orang-orang di luar.
"Keluar lo, Pelakor!"
"Dasar orang kaya sombong! Makan tuh duit haram!"
"Justice for Rio!"
Kara duduk di lantai perpustakaan pribadinya yang luas. Lampu dimatikan. Hanya cahaya rembulan yang masuk lewat jendela besar yang tirainya tertutup rapat.
Di tangannya ada segelas wine yang isinya tinggal separuh.
Kara Anindita, wanita besi yang kemarin dengan gagah memecat suaminya, kini meringkuk seperti anak kecil. Dia tidak takut pada Rio. Dia tidak takut miskin. Tapi dibenci oleh jutaan orang yang tidak mengenalnya? Dihakimi sebagai wanita jahat padahal dia korbannya?
Itu melukai jiwanya.
"Mereka nggak tau apa-apa..." bisik Kara, suaranya serak. "Aku yang nemenin Rio dari nol. Aku yang bayar utangnya. Kenapa sekarang aku yang jadi penjahat?"
Kara memejamkan mata, air mata lolos membasahi pipinya.
Tiba-tiba, pintu perpustakaan terbuka pelan.
Kara tersentak. "Bi Inah? Aku bilang aku nggak mau makan."
"Bukan Bi Inah."
Suara bariton yang berat dan familiar itu membuat Kara menoleh cepat.
Di ambang pintu, berdiri sosok tinggi tegap mengenakan hoodie hitam dan topi yang ditarik rendah. Dia melepas topinya, memperlihatkan wajah tampan yang terlihat khawatir.
Damian Cakra.
"Damian?" Kara segera menghapus air matanya, berusaha berdiri tegak. "Kamu... ngapain di sini? Lewat mana? Di depan banyak wartawan..."
"Lewat pintu loading dapur. Satpammu yang kasih jalan," Damian berjalan mendekat, langkahnya panjang dan mantap.
"Kamu harusnya nggak ke sini, Dam. Kalau ada yang liat, gosip perselingkuhan kita makin jadi. Saham kamu bisa ikutan anjlok."
"Persetan sama saham," umpat Damian pelan.
Kini dia berdiri tepat di hadapan Kara. Dia melihat mata Kara yang bengkak, hidungnya yang merah, dan kerapuhan yang berusaha disembunyikan wanita itu.
Tanpa permisi, Damian menarik Kara ke dalam pelukannya.
Kara kaku sejenak. Dada bidang Damian terasa hangat dan kokoh. Aroma woody yang khas itu langsung menyelimuti indra penciumannya, mengusir bau stres dan ketakutan.
"Nangis aja, Ra," bisik Damian lembut, tangannya mengusap punggung Kara. "Nggak ada kamera di sini. Nggak ada investor. Cuma ada aku."
Pertahanan Kara runtuh.
Dia mencengkram hoodie Damian dan menangis. Menumpahkan segala rasa sakit, rasa tidak adil, dan rasa lelah yang dia pendam sendirian selama ini.
Damian tidak melepaskannya. Dia membiarkan kemejanya basah oleh air mata Kara. Dia menahan tubuh wanita itu, menjadi pilar yang menopang saat Kara merasa dunianya runtuh.
Satu jam kemudian.
Suasana sudah lebih tenang. Kara sudah mencuci muka, meski matanya masih sembab. Mereka duduk di sofa perpustakaan. Di meja, laptop Damian menyala menampilkan deretan data yang rumit.
"Jadi," Damian memulai mode seriusnya. "Kamu bener soal Clarissa."
Damian memutar layar laptop ke arah Kara.
"Tim IT aku melacak pergerakan Clarissa dua hari ini. Lihat ini."
Damian menunjuk sebuah foto resolusi tinggi yang diambil dari dashcam mobil yang kebetulan lewat (atau mungkin hasil hack CCTV jalan raya).
Foto itu memperlihatkan mobil Alphard putih Clarissa berhenti di pinggir kali Ciliwung—kawasan kumuh tempat Rio tinggal.
"Clarissa di kampung kumuh?" Kara mengerutkan kening. "Dia alergi debu. Ngapain dia ke sana kalau bukan buat nemuin Rio?"
"Tepat," jawab Damian. "Dan lihat ini. Mutasi rekening Clarissa. Dua jam sebelum Rio tampil di podcast, ada penarikan tunai sebesar 100 juta rupiah dari ATM prioritas."
Damian menggeser slide presentasinya.
"Lalu, tim aku juga berhasil masuk ke cloud backup HP Rio (karena Rio bodoh dan password-nya tanggal lahirnya sendiri). Ada chat log yang dihapus tapi bisa di-restore."
Di layar muncul screenshot chat WhatsApp dari nomor tak dikenal (Clarissa) ke Rio:
Clarissa: "Inget skripnya. Nangis pas bagian 'diusir'. Jangan sebut nama gue."
Kara membaca bukti-bukti itu dengan mata berbinar. Api semangatnya kembali menyala.
Ini bukan sekadar bukti. Ini amunisi nuklir.
"Mereka main kotor..." gumam Kara, senyum miringnya kembali. "Clarissa bayar Rio buat hancurin aku. Dan Rio, dasar pelacur, dia jual harga dirinya seharga 100 juta."
"Apa rencana kita?" tanya Damian. "Lapor polisi? Pencemaran nama baik?"
Kara menggeleng pelan. Dia menatap Damian dengan tatapan tajam.
"Terlalu lama. Polisi butuh proses. Sementara saham kita terus turun."
Kara berdiri, berjalan ke jendela, menatap gerbangnya yang masih dikerubungi wartawan di kejauhan.
"Mereka pakai media buat menghakimi aku. Maka aku bakal pakai media juga buat mengubur mereka."
Kara berbalik menatap Damian. "Dam, kamu punya saham di stasiun TV nasional kan?"
Damian tersenyum mengerti. "30 persen di TV One (fiksi) dan akses prime time kapan aja."
"Bagus," kata Kara. "Besok malam, kita adakan Konferensi Pers Eksklusif. Live. Di jam yang sama dengan sinetron rating tertinggi."
"Kita undang semua media. Kita undang Rio kalau dia berani datang. Kita putar bukti-bukti ini di layar raksasa biar satu Indonesia nonton."
"Kita telanjangi kebohongan mereka secara real time."
Damian menatap Kara dengan kagum. Wanita ini... benar-benar Ratu. Bahkan saat terluka, dia bisa menyusun strategi mematikan.
"Oke. Aku atur semuanya," Damian berdiri, merapikan hoodie-nya. "Tapi malam ini, kamu istirahat. Ada bodyguard tambahan yang aku taruh di depan. Nggak ada yang bisa nyentuh kamu."
Damian mengecup kening Kara sekilas—sebuah gestur yang manis dan hormat.
"Tidur yang nyenyak, Partner. Besok kita berperang."
Kara menyentuh keningnya bekas kecupan Damian.
Di tengah badai ini, dia merasa lebih kuat dari sebelumnya. Karena kali ini, dia tidak berjuang sendirian.
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️...
...****************...
kanjooot..
terus kemaren2 sblm kara pergi, ibunya tinggal dimana?
nanya lho thor, bkn menghujad.. 🤭🙏