Karya terbaru Gurania Zee yang menceritakan tentang gadis tidak peka dan cinta segitiga antara Aluna, Arsen dan Prasha Arzelio.
memiliki kisah yang sedikit rumit perihal rahasia misteri kematian ayahnya dan adanya permainan bisnis yang menjadikannya sebuah kunci utama dari misteri tersebut. dan Cinta yang mulai tumbuh perlahan. Aluna seorang gadis yang polos tanpa sadar menjadi pusat permainan dalam dunia bisnis mendiang ayahnya. yang jauh lebih besar dari semua intriks itu bahkan paling tidak menyadari akan hal yang paling sederhana yaitu, perasaannya sendiri. karena terkadang misteri dalam hidup, bukanlah rahasia dari kisah masa lalu melainkan hati yang terlambat menyadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Suasana dirumah Lola sedikit tegang diarea ruang tamu yang berukuran tidaklah besar itu. Hanya ada Lola, Arden dan bapak Lola yaitu bapak Santoso Adi Saputro.
Udara saat itu terasa begitu berat bukan karena cuaca yang sedang panas panasnya saat itu. Melainkan karena dihadapkan pada sebuah keputusan yang masih menggantung, antara keputusan terima atau tidaknya ataukah ia harus tetap mempertahankan harga dirinya saat itu.
Ketika ketiga orang yang sedang berdiri dalam suasana tegang mencekam, semua terdiam dalam pikiran masing masing
Pak Santoso menatap tas hitam yang dibawa Arden yang berisikan uang gepokan yang tidaklah sedikit jumlahnya bahkan sudah hampir mendekati angka miliaran pikirnya.
Tangannya sempat bergerak, namun tangannya seketika berhenti di udara begitu saja. Seolah ada sesuatu yang menahannya.
Bukan karena ragu pada uangnya akan tetapi pada harga dirinya yang begitu tinggi, ia dihadapkan antara gengsi dan harga diri yang menyatu padu menjadi satu dalam sembilu.
",Kamu pikir semua bisa diselesaikan dengan uang anak muda?." Ucap pak Santoso.
"Dan Om pikir semua akan bisa terjawab dengan mengorbankan anak Om?."
"Kamu!."
"Iya Om, karena tidak semudah itu Om bisa melepas itu semua, meski Om mengorbankan nyawa Lola sekalipun."
"Karena yang om hadapi orangnya bisa nekat pada siapapun kapanpun bahkan akan berimbas ke semuanya Om terutama seluruh keluarga Om." jelas Arden lagi.
Jika Om punya pilihan lain,..ya silahkan, saya akan mundur sekarang,..tapi jika tidak ada, jangan paksa Lola yang harus membayar mahal sesuatu yang bukan tanggung jawab dan kewajiban dia." tegas Arden.
Lola disudut ruangan hanya menunduk tangannya saja meremas ujung bajunya. Nafasnya PO untuk tersengal tak beraturan. Ia tahu kemana arah pembicaraan antara bapaknya dan Arden temannya yang kelewat nekat itu.
Bahkan Lola saja tidak menyangka Arden yang dikenalnya cuek tapi malah mengejutkannya sampai bertindak senekat dan seberani itu dalam menghadap ayahnya yang kelewat galak menurutnya. sesekali ia menatap Arden salut.
Lola menyadari begitu tipisnya antara sebuah keputusan dan sebuah penyesalan yang datang begitu bersamaan.
"Pak,..Lola capek!."
***
Disisi lain mobil yang membawa Prasha dan Aluna, Arsen dan juga Darto akhirnya sampai juga menuju bandara sudah semakin dekat dan terlihat dari kejauhan. Jalanan yang ramai meski malam sudah mulai larut saat itu.
Cahaya lampu lampu besar yang bersinar terang menerangi area bandara itu sudah semakin terlihat dari kejauhan. Aluna masih saja diam dikursi belakang dengan tangan yang yang ia tautkan.
"Mas" tanya Aluna lembut.
"Iya kenapa Lun?."
"Kenapa ya tiba tiba aja Luna jadi takut." satu tangan Prasha mengulurkan tangan ke belakang, ia raih tangan Aluna dan ia genggam erat. "Itu wajar Lun, tapi kamu harus berusaha yakin kakakmu bakal sembuh seperti sedia kala ya kita berdo'a sama sama."
Aluna hanya mengangguk faham, Arsen melirik sekilas ke arah keduanya. Lalu cepat mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
Sesampainya di Bandara.
Setelah berpamitan pada Arsen dan Darto, Prasha dan aluna pun berjalan beriringan. Prasha mendorong koper sekaligus membawa tas dirinya sendiri juga tas Aluna, ia tidak membiarkan Aluna yang membawanya.
Pengumuman Boarding terdengar membuat langkah Aluna berhenti sejenak. Ia menoleh pada Arsen menatap Arsen dengan sendu "Makasih ya mas." Arsen mengangkat tangannya singkat untuk melambai pada Aluna dengan lambaian ciri khasnya sendiri.
"Hati hati kalian ya, jangan lupa kabar kabarin ya. Prasha tidak banyak bicara ia hanya mengantar ke bandara lantaran Aluna yang menginginkannya agar tidak melupakan pekerjaannya.
Akan tetapi sebuah keputusan telak yang membuat Aluna hanya bisa menarik nafas pasrah. "Gue ikut."
"Mas."
"Emang gue bakal biarin elo sendiri Lun, enggak!, pokoknya titik no debat, urusan perusahaan kan kakek juga sudah bilang kemarin mau dia yang urus sama arsen."
"Yaudah." sahut Aluna hanya mengangguk singkat.
***
Ditempat lain
Kalimat yang terucap begitu saja walau kata katanya begitu sederhana tapi begitu menusuk hati pak Santoso bapak Lola saat itu.
Pak Santoso terdiam kaku beberapa detik. Wajahnya yang keras kini sudah mulai melunak meski hanya sedikit saja. Namun egonya pak Santoso sangatlah tinggi begitu sulit untuk melepas rasa gengsinya itu.
"Kamu Diam Lola!." bentaknya tiba tiba, membuat Lola tersentak dan reflek mundur beberapa langkah berada di belakang Arden dan Arsen pun demikian maju dengan sikap gentleman nya melindungi Lola saat itu.
"Om tolong jangan bentak Dia." ucap Arden. Tatapannya pak Santoso langsung berubah tajam. "Hey!, kamu berani ngatur saya dirumah saya sendiri hah!, berani sekali kamu anak muda!."
"Maaf Om saya bukan ngatur Om, tapi saya cuma,..ucap Arden terhenti ia menarik napas lebih dulu menahan emosinya, "Saya cuma enggak terima lihat Lola dipaksa dan ditekan terus."
Seketika suasana rumah Lola semakin menegang dan hening dalam sekejap. Perlahan pak Santoso langsung duduk dikursi plastik yang tadi kosong.
Menutup wajah dan mengusap kasar seperti orang yang frustasi dan kehabisan energi. "Kalian pikir saya enak hah!,..Enggak sama sekali!, saya sudah berusaha semampu saya sekuat tenaga yang saya bisa kepala jadi kak, kali jadi kepala untuk apa, untuk siapa hah!, untuk Lola adikmu, ibumu untuk keluarga kita La!."
"Untuk membayar utang piutang yang numpuk, tagihan rumah, tagihan sekolah rumah sakit semua saya yang pikirin lantas siapa lagi!."
"Adiknya Lola yang sakit, tagihan rumah sakit yang terus bertambah, tebus obat dan lainnya, emang saya enggak stress, kamu tau kan La, bapak tiap hari pulang jam berapa berangkat jam berapa!, tapi ikhtiar bapak tetap enggak mencukupi sama kebutuhan kita,"
"Tapi kenapa harus Lola pak yang bapak tekan, Lola kan masih sekolah, Lola pengen fokus sekolah kayak anak anak lain pak, kenapa bapak enggak minta bantuan ke bang Azrul Bang Riko, Meraka kan anak bapak juga anak laki lagi yang lebih wajib bukan Lola yang masih sekolah, apalagi mereka juga sudah pada kerja sudah pada mapan, kenapa bapak ngutamain gengsi ke anak sendiri bukan ke orang lain."
Ucapan itu akhirnya terucap juga setelah sekian lama ia pendam, pak Santoso pun langsung membeku.
Arden hanya terdiam melihat drama keluarga Lola, ia tau bukan saatnya ia ikut campur dalam hal ini. Sambil tangannya mengetik sesuatu dan merekamnya lalu mengirimnya pada Arsen tentang kondisi dan situasinya saat ini.
Pak Santoso Kemudian menarik nafas panjang seraya berpikir cepat untuk membuat keputusan saat itu. "kalau saya terima uang ini, apa mau kamu?." tanya pak Santoso pada Arden.
"Saya hanya ingin bebaskan Lola dari tekanan yang bukan seharusnya dilakukan oleh anak yang masih sekolah Om, biarkan Lola seperti anak remaja lainnya. Tapi jangan jadikan dia jalan keluar untuk semua masalah Om, karena resikonya sangat berbahaya untuk gadis seusia Lola bahkan untuk masa depan Lola."
"Apalagi Om sedang berurusan bukan dengan orang sembarangan dan dia tidak akan puas sampai semula keluarga kalian hancur, meskipun om sudah mengorbankan Lola sekalipun. Dia akan tetap memeras tenaga om maupun keluarga om yang lain." jelas Arden membuat pak Santoso tidak menyangka sampai Arden berkata sedetail itu, ia berpikir Arden meskipun berpenampilan memakan jaket ojol tapi ia yakin pria ini bukanlah pria sembarangan."
"Baik saya terima, tapi bukan karena saya kalah tapi karena saya tidak ingin kehilangan anak saya." keputusan telak bapak Santoso akhirnya yang membuat Arden menarik nafas lega, dan dalam batinnya "ah elah kenapa enggak dari tadi sih,."
Lola sampai menutup mulutnya, dan menangis pecah begitu saja tak bisa lagi ia tahan, dan semakin terisak hingga tubuhnya pun bergetar.
Arden langsung menarik Lola ke dalam pelukannya, Udah La, elo enggak sendirian lagi, semua selesai kita hadapin sama sama oke."
"Kalo om mau saya bisa temani om pada para penagih itu, Om jangan sendiri resikonya berbahaya."
"Baik bapak ngikut apa kata nak Arden saja."
"La, balik yuk, rumah catur nungguin elo."
"mas yakin?." ucapnya serak.
"Yakinlah."
"Tunggu!."
"Kalau kalian tinggal bersama dirumah itu, kenapa tidak kalian menikah saja."
Sontak saja langkah kaki Arden dan Lola langsung terhenti dan berdiri mematung keduanya saling menoleh dan menatap dengan kedua bola mata keduanya yang melotot saking terkejutnya.
"Degh!."
****
*Singapore*
Pintu ruang ICU terbuka perlahan. "Family of Mr Arden Maharana."
"Yess Doctor I'm family Mr Arden Maharana, he is my Son."
"How about condition my son Doctor?."
"Hm,..he regained brief response, but his condition is stil critical."
"What!."
Pria paruh baya itu luruh langsung terduduk lemah, mendengar hal itu.