“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”
Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.
Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.
Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Susu 10
Lewat tengah hari Rizal dan Nadya baru kembali ke rumah, tawa kecil masih terselip di bibir keduanya saat mereka baru saja turun dari mobil. Namun, tawa mereka meredup saat melihat wajah masam Dewi yang menyambut di depan pintu.
Tatapan gadis berhijab itu langsung menjurus pada Nadya yang turun sambil membawa satu plastik jambu biji.
“Enak sekali kamu ketawa-ketiwi setelah bikin Mamah aku demam, dasar pembuat masalah.”
“Mamah demam?” sahut Rizal yang turun bersama Adam di gendongannya.
“Iya, pagi tadi pulang dari sini badan Mamah basah kuyup, sampe rumah langsung menggigil kedinginan, sekarang masih ngeringkuk itu di kasur.” ujar Dewi, tatapannya masih menjurus pada Nadya yang nampak tak peduli.
“Heh, Nadya, tanggung jawab kamu, gara-gara kamu mamahku sakit. Kalo sampe terjadi apa-apa sama mamah liat aja kamu,” imbuh Dewi, sinis.
“Kenapa saya yang salah?” sahut Nadya tanpa menghentikan langkahnya.
“Kamu yang nyiram mamah sampe basah kuyup, kok masih nanya. Amnesia kamu, atau pura-pura lupa?!” serbu Dewi yang terus mengikuti di belakang Nadya.
Nadya menghentikan langkahnya, berbalik badan seraya menatap tajam mata bulat Dewi. Suaranya datar, namun penuh penekanan. “Masih untung cuma air bekas mandi Adam yang saya pake buat nyiram bukan air comberan.”
Dewi meradang seketika, tangannya mengepal di sisi badan hingga buku-buku jarinya memutih, rahangnya mengetat. “Kamu bener-bener berani, ya, Nadya? Dasar—”
“Dew, sudah. Kamu tadi dateng kesini mau apa? Minta Abang anter mamah ke dokter atau bagaimana?” sergah Rizal.
Dewi mendengus kesal, kaki kirinya menghentak lantai. “Huh, untung ada Bang Rizal, kalo nggak, udah habis kamu aku jambak,” gumamnya, lalu berbalik menghadap sang Abang ipar yang berdiri di belakangnya. “Nggak, Bang. Tapi, itu … ehm tadi kan aku ke ATM mininya Yuk Yuli, tapi tutup, jadi …,” ucapan Dewi terputus saat Rizal sudah lebih dulu menyodorkan dua lembar uang seratus ribuan.
“Sudah pulang sana, belikan mamah obat. Nanti kalo belum baikkan kabari Abang, biar kita bawa ke dokter,” ujar Rizal, lalu kembali berjalan masuk ke dalam rumah.
Merasa sudah mendapatkan apa yang dicari, Dewi cepat-cepat keluar dari rumah Rizal. Tatapan sinisnya masih tertuju pada Nadya, tapi ada gurat mengejek di sudut bibirnya yang terangkat tipis.
“Enak betul, ya, dateng-dateng, laporan … dapet duit dua ratus ribu,” celetuk Nadya.
“Ya, begitulah setiap harinya. Kalo dikumpulin jadi utang, udah ratusan juta totalnya,” timpal Bu Harmi.
“Bu,” sela Rizal.
Bu Harmi menghela napas berat, matanya yang sayu menatap Rizal dengan raut muram. “Kamu itu harus mulai tegas ke mereka, Zal. Bukan kita nggak mau bantu, tapi kalau apa-apa selalu kamu kasih, mereka akan semakin mengandalkan kamu. Dan lagi …,” Bu Harmi menggantungkan ucapannya, berjalan pelan menuju pintu lalu menutupnya rapat.
Tatapan wanita berwajah lembut itu kembali tertuju sang putra, mengusap lembut punggung anak semata wayangnya, lalu kembali melanjutkan ucapannya. “Dan lagi, Sukma kan sudah nggak ada, Zal, mereka sudah bukan tanggung jawab kamu seharusnya.”
“Ibu, kita 'kan sudah membicarakan ini sebelumnya, dan Rizal juga sudah janji sama Almarhumah Sukma, ada atau tidaknya dia Rizal akan selalu membantu mamah dan Dewi,” sahut Rizal dengan suara sedikit bergetar.
“Ibu tau, Zal. Tapi, bukannya jatah bulanan yang kamu kasih harusnya cukup, belum lagi uang sekolah Dewi, jatah jajannya, mamahmu juga jarang masak, lebih sering kita antarkan masakan dari sini, apa itu masih kurang sampai mau berobat saja minta lagi ke kamu?” balas Bu Harmi.
“Ibu bukan ngelarang kamu peduli dengan mereka, Zal, tapi semua harus ada batasnya. Kamu kan nggak selamnya sendiri, Zal, bisa jadi akan ada pendamping baru. Sukur-sukur kalo pasangan kamu bisa menerima, kalo ndak? Sukma sendiri saja dulu sering merasa tidak enak dengan kita apalagi orang lain, Zal?” lanjut Bu Harmi.
Rizal diam sejenak, tatapannya nanar pada photo yang tergantung di dinding ruangan itu. Ada gurat kesedihan di sorot matanya.
Merasa canggung berada di antara perdebatan kecil itu, Nadya melangkah mengambil Adam dari gendongan Rizal yang masih bergeming.
“Biar saya bawa Adam ke kamar, Bang,” gumamnya nyaris tanpa suara.
Tidak ada jawaban dari laki-laki tampan itu, tatapannya masih terpaku pada photo pernikahannya. Nadya buru-buru membawa Adam masuk ke kamar, namun belum sempat ia menutup pintu, suara lembut Bu Harmi menghentikannya.
“Kalo sudah beres ngurus Adam, langsung makan, Nad. Kamu pagi tadi ndak sempet sarapan 'kan? Cuma makan ubi rebus sama minum teh hangat,” seru wanita paruh baya itu.
Nadya mengangguk seraya menjawab dengan suara pelan. “Iya, Bu.”
Sepeninggal Nadya, Bu Harmi kembali malanjutkan obrolannya dengan Rizal yang sudah duduk di sofa. Tangannya dengan lembut mengusap punggung anaknya yang merosot, raut sedih terpancar di wajahnya yang sedikit keriput.
"Kamu sudah mulai harus memikirkan itu, Zal. Ibu nggak ngelarang kamu membantu mereka, Ibu cuma minta kamu kasih batasan biar mereka nggak seenaknya. Pikirkan juga masa depan mu," ujar wanita itu paruh baya itu.
Helaan napas berat berembus dari hidung mancung Rizal, satu tangannya mengusap wajahnya kasar.
“Ibu ndak bermaksud menyuruhmu cepat-cepat mencari pengganti Sukma, Zal, tapi hidup terus berjalan. Kamu ndak bisa terus-terusan tenggelam dengan rasa bersalahmu. Apalagi Adam sudah semakin besar, Adam butuh kasih sayang seorang Ibu, ya … meskipun sekarang dia sudah dapat semua itu dari Nadya, tapi—”
“Bu,” sergah Rizal, tatapanya nanar ke netra sayu sang Ibu. “Sukma belum ada seratus hari, apa pantas kita membicarakan ini sekarang? Lagi pula, Rizal sudah menganggap Nadya seperti adik Rizal sediri, sama halnya dengan Dewi,” lanjut laki-laki itu.
Bu Harmi menunduk sejenak, ada rasa bersalah di hati kecilnya, namun ia juga tidak tega melihat putranya yang terus menyalahkan diri sendiri tiap kali berada di dalam kamarnya. Di luar Rizal memang nampak tegar, tapi kenyataanya laki-laki itu selalu meneteskan air mata tiap kali sunyi mendekapnya.
Ia kemudian kembali menatap sang putra, mengusap lembut punggung tangan laki-laki berusia tiga puluh tahun itu.
"Bukan begitu maksud Ibu Zal, Ibu hanya tidak tega melihat kamu larut dalam kesedihan,” ujarnya pelan.
Rizal menoleh pelan, menatap lekat netra teduh sang Ibu. “Rizal bukan belum bisa menerima kepergian Sukma, Bu, tapi semua ini terlalu cepat, Rizal hanya butuh waktu,” sahutnya, sendu.
“Ibu mengerti, Nak. Maaf kalau Ibu terlalu berlebihan. Sudah sekarang kamu panggil Nadya, kita ajak makan. Kasian dia pagi tadi belum sempat sarapan sudah di semprot fitnahan sama mamahmu,” pungkas Bu Harmi seraya beranjak dari tempatnya.
Dengan helaan napas yang masih terdengar berat, Rizal beranjak dari duduknya, berjalan pelan menuju kamar sang putra. Alis laki-laki berwajah tampan itu mengerut saat melihat pintu kamar yang sedikit terbuka, ia lalu mengintip sedikit, netranya tertegun sejenak saat melihat Nadya sudah tertidur sambil mendekap Adam.
Ia kemudian berjalan pelan, menutup jendela lalu menghidupkan AC kamar itu dan berniat langsung pergi, namun langkahnya terhenti saat gendang telinganya menangkap lenguhan kecil Nadya.
Senyum hangat terulas di bibir laki-laki itu, tatapannya teduh ke arah ibu susu bayi kecilnya, untuk beberapa saat ia terpaku pada sosok gadis galak, namun berhati lembut yang tertidur tenang bersama putranya. Ada jeda panjang yang terasa canggung pada detak jantungnya yang sedikit tak beraturan.
Rizal mengusap wajahnya kasar, mencoba mengusir gelayar aneh di hatinya, sampai suara parau Nadya mengejutkannya.
“Abang kenapa senyum-senyum sendiri?”
Bersambung.
Apakah hati Bang Rizal sudah mulai tumbuh benih-benih lope?
Semangat 🔥