NovelToon NovelToon
Balas Dendam Istri Yang Dianggap Buta

Balas Dendam Istri Yang Dianggap Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Setelah mengalami kebutaan selama bertahun-tahun, Samira Hadid justru mendapatkan kembali penglihatannya lewat kecelakaan jatuh yang melukai kepalanya.

Ia kembali melihat dunia yang dulu terasa gelap. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat ia melihat suaminya memeluk wanita lain di dapur rumah mereka.

Terkepung rasa sakit dan kemarahan, Samira memutuskan untuk tetap berpura-pura buta dan mengamati semua permainan licik sang suami.

Lalu, ia mulai memutuskan pembalasan dendam. Ia bertekad untuk mengambil kembali semua yang telah suaminya rebut dan mencari kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Siang itu, kamar rawat Samira dipenuhi aroma antiseptik dan cahaya pucat yang menembus tirai tipis jendela. Udara rumah sakit selalu terasa sama baginya, seperti tempat di mana semua emosi sengaja diredam. Hanya suara mesin infus dan detak monitor jantung yang menjadi pengingat bahwa tubuhnya masih bekerja, bahwa ia masih hidup.

Samira duduk bersandar di ranjang dengan selimut menutupi kakinya. Lengannya masih dibalut perban tipis, memar kebiruan terlihat samar di bawah kulit. Setiap kali ia bergerak, nyeri halus menjalar dari bahu sampai punggung. Namun rasa sakit fisik itu terasa kecil dibandingkan apa yang sudah ia lalui.

Baginya, luka-luka itu justru seperti bukti bahwa ia berhasil keluar dari neraka hidup-hidup.

Rayhan duduk di kursi samping ranjang, membaca laporan medis sambil sesekali meliriknya memastikan Samira tidak pusing atau mual. Sejak pagi ia tidak beranjak jauh.

“Kondisimu sudah lebih baik,” katanya memberitahu. “Tapi kau harus tetap melakukan pemeriksaan rutin meski sudah keluar dari rumah sakit.”

Samira mengangguk paham. “Kapan aku bisa pulang?” tanyanya mulai merasa tak nyaman berada di rumah sakit.

Rayhan meletakkan laporan medis itu, “Secepatnya, setelah dilakukan pemeriksaan, kita bisa kembali ke rumah. Kau sudah mulai tak nyaman, ya?”

Belum sempat Samira menjawab, suara ketukan pelan terdengar di pintu.

Rayhan menoleh lalu berteriak pelan, “Masuk.”

Pintu terbuka perlahan, dan dua sosok berdiri ragu di ambang pintu. Mereka menatap Samira dan Rayhan, seolah menunggu persetujuan untuk melangkah masuk.

“Ternyata kalian, masuklah. Kenapa hanya berdiri di sana? Kemarilah!” titah Samira ramah.

Mereka berdua masuk dan duduk di samping bed Samira. Untuk sepersekian detik, udara di ruangan terasa berubah. Canggung dna terasa berat, terutama bagi Larissa. Masa lalu mereka membuat Larissa merasa sungkan meski hanya untuk menatap Samira.

Larissa menggenggam tangan Alya erat-erat, seolah takut anak itu menghilang jika dilepas. Wajahnya terlihat pucat, matanya sembap seperti kurang tidur berhari-hari. Ia bukan lagi Larissa yang licik dan penuh perhitungan seperti dulu. Yang berdiri di sana hanyalah seorang ibu yang kelelahan.

“Bu Samira,” panggilnya pelan, suaranya terdengar bergetar.

Samira menatap mereka lama. Dulu, pandangannya ini mungkin akan membangkitkan amarah. Sekarang yang muncul justru sesuatu yang aneh, semacam kelegaan pahit.

“Syukurlah kalian baik-baik saja,” katanya memecah keheningan yang tercipta. Ia tersenyum tulus saat menatap wajah lugu Alya, ia sudah menganggap anak itu seperti putrinya sendiri.

Mata kecil Alya menatapnya balik. Tangannya yang kecil terulur meraih punggung tangan Samira yang terpasang selang infus. “Tante … apakah Tante baik-baik saja? Tante terlihat kesakitan.”

Samira tersenyum kecil. “Tante baik-baik saja, ini hanya luka kecil yang akan lekas sembuh,.” katanya pelan.

Alya mengangguk serius, seolah menerima jawaban itu sebagai kebenaran mutlak.

Larissa berdiri di samping ranjang, lalu tiba-tiba membungkuk dalam-dalam. Gerakan itu begitu cepat sampai Samira terkejut.

“Terima kasih,” bisiknya serak. “Jika bukan karena Ibu … aku dan Alya mungkin masih ….” Kalimatnya menggantung. Ia menelan ludah, mencoba menahan tangis. “Berkat Ibu, kami akhirnya bisa bersama lagi.”

Samira hanya tersenyum tipis, seolah tak mau lagi membahas hal itu lebih banyak.

Rayhan bangkit dan menepuk bahu Larissa pelan. “Kau juga sudah melakukan hal yang benar dengan membantu kami. Terima kasih banyak, Larissa.”

Larissa mengangguk, air matanya menitik pelan. “Aku berhutang banyak pada Bu Samira, apa yang kulakukan belum tentu bisa menebus semua kesalahan dan bantuan Bu Samira.”

Samira memperhatikan wajah perempuan itu. Tidak ada kepalsuan. Tidak ada sandiwara. Hanya rasa bersalah dan ketakutan yang nyata. Untuk pertama kalinya, mereka benar-benar berada di sisi yang sama.

Rayhan kemudian berdehem pelan, suaranya berubah lebih serius. “Sebenarnya, ada satu hal lagi yang perlu kau lakukan, Larissa. Itu pun jika kau bersedia. Bantuan ini akan sangat membantu kami.”

Larissa langsung menoleh. “Apa itu, Dok? Apa saja akan aku lakukan agar bisa menebus rasa bersalah ini, Dok. Bahkan jika Bu Samira memintaku untuk menjadi pelayannya seumur hidup pun akan aku lakukan.”

Samira menggeleng pelan, “Larissa, kau terlalu berlebihan. Aku tidak akan melakukan itu padamu.”

Rayhan ikut tersenyum tipis lalu berkata, “Begini, kemungkinan polisi akan datang. Mereka mungkin akan menanyai dan meminta pernyataan darimu.”

Rayhan menatapnya tajam, memastikan setiap kata yang ia ucapkan akan dipahami dengan baik. “Kalau itu terjadi, katakan bahwa pada malam kebakaran yang menimpa Arga. Samira ada di rumah. Bersamamu dan Alya.”

Larissa terdiam sejenak, bukan karena ragu. Tapi karena Larissa paham betul arti permintaan itu. Itu bukan sekadar kebohongan kecil, melainkan alibi sederhana yang bisa menyelamatkan Samira dari tuduhan sekaligus pengikat tak terlihat di antara mereka.

Larissa menarik napas panjang, lalu mengangguk mantap. “Aku mengerti. Aku akan bersaksi begitu. Ibu Samira tidak ke mana-mana. Kami bersama di rumah.”

Matanya berkaca-kaca saat menatap Samira. “Aku akan melakukan apa pun untuk melindungi Ibu.”

Samira merasakan dadanya menghangat. Aneh, bagaimana musuh bisa berubah menjadi sekutu hanya karena satu pria yang sama-sama menghancurkan hidup mereka?

Tak lama kemudian, seperti dipanggil oleh takdir, ketukan pintu terdengar lagi. Kali ini benar-benar polisi yang datang.

Dua petugas masuk dengan wajah formal yang terlihat datar. Mereka meminta keterangan tambahan, sekaligus memberikan informasi bahwa jasad Arga sudah ditemukan dan akan dilakukan identifikasi.

Rayhan berdiri di sisi Samira layaknya pelindung sementara Larissa terus-menerus menggenggam tangan Alya.

Satu per satu pertanyaan dilontarkan pada Larissa dan ia menjawabnya dengan baik tanpa membuat polisi curiga padanya ataupun Samira dan Rayhan.

Lalu, mereka menoleh pada Samira. “Kalau begitu, bagaimana Anda bisa dirawat di rumah sakit?”

Samira tersenyum kecil, wajahnya sengaja dibuat lemah. “Saya terpeleset di tangga saat mencoba turun dan berakhir seperti ini,” jawabnya sedih. “Saat tahu kabar bahwa suami saya mengalami … maaf, saya terlalu emosional. Tanpa pikir panjang, saya berlari turun.”

Polisi itu terlihat mencatat alibi Samira. Setelah beberapa menit, mereka menutup buku catatan itu dan berpamitan, tapi mengatakan mungkin akan kembali jika diperlukan.

Baru saat itulah Samira dan Rayhan sama-sama menghela napas panjang, seolah baru selesai menahan napas selama berjam-jam.

“Kita aman untuk sekarang,” gumam Rayhan, sekaligus merasa lega.

Larissa memeluk Alya lebih erat, seakan dunia baru saja memberi mereka kesempatan kedua. “Semuanya sudah berakhir, kita bisa hidup dengan tenang mulai sekarang,” gumamnya pada Alya. Keduanya tersenyum bahagia.

Samira pun tersenyum seraya menatap jendela, cahaya siang menyentuh wajahnya. Untuk sementara, badai sudah lewat. Tapi jauh di dalam hatinya, ia tahu ini belum benar-benar akhir. Ia kemudian menatap wajah Rayhan dan tersenyum penuh arti.

“Kita akan melewatinya bersama-sama.”

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sekarang hanya kebahagiaan yg akan menghampirimu Samira 😔
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
omooo.. sejak kapan ray?
HK: Sejak ...
total 1 replies
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
karepmu
HK: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Astiana 💕
baru 20 bab masa dah tamat, cerpen kah🙏
HK: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
cinta semu
jgn bilang kayak film India ,,setelah musuh ny mati ,,,polisi ny datang 🤣🤣
HK: Kak 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
cinta semu
q lebih suka cepat tamat .. daripada lama sampai bab ny banyak tamat kagak malah di gantung iya ...🤣🤣yg penting kn happy. ending 💪
HK: Betul 🤭🤭🤭
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
lanjut dong 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semoga berjodoh dengan Rayhan 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kisah Wanita hebat 👍🏻👍🏻👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
itu karmamu 😔
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
apa mereka akan mati bersama..?
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
terlambat 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Good job Samira 👍🏻
Siti Siti Saadah
pertarungan yg cukup tegang samira punya dokter reyhan kenapa ngga bantu cari cara melawan arga
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kamu yg akan tertipu 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dasar orang gila 😏
Rosmayanti 80
dikit se x update nya trs LM pula update 🙏😄🤭
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
dikit ihh
HK: Ngejar target Nyak 🤣
total 1 replies
Siti Siti Saadah
arga ternyata sungguh terlalu
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
jahat sekali kamu Arga 😣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!